Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Mbah Fattah. Show all posts
Showing posts with label Mbah Fattah. Show all posts

Teori Tasawuf Memproduksi Ulama

*KH Abdul Qoyum (Lasem) :* pada acara Haul KH Abdul Fattah Hasyim, 9 Pebr 2017 Tema "Teori Tasawuf Memproduksi Ulama":
Cara-cara mencetak anak Soleh":
1. Teori ruang persalinan.  Yaitu memilih tempat yang mulia dan Islami untuk melahirkan. Contoh Rumah Sakit Islam baik RSNU/ Muhammadiyah. Bisa juga perkampungan muslim,  daerah yang pemimpin/ pejabatnya adil, atau rumah yang di dalamnya sering dibacakan Al Quran.

Contoh kasus
a. Sahabat nabi yang bernama Hakim al hisyam.  Lahir di dalam ka'bah.  Ibunya yaitu Fakhitah melahirkan Hakim didalam Ka'bah mulai dari proses pendarahan sampai persalinan. Ketika dewasa Hakim al Hisyam dikenal sebagai dermawan.  Saking dermawanya ia pernah menjual kantor pribadinya yang bernama Darun Nadwah kepada Sulthon Muawiyah seharga 1.000 Dirham, hasil penjualan itu seluruhnya disedekahkan.

b. Menurut riwayat yang kuat Sayiddina Ali juga dilahirkan di dalam ka'bah.  Kita mengenal Sayiddina Ali sebagai sahabat yang cerdas. Seorang peneliti India bernama Husyamuddin al Hindi,  menulis dalam kitabnya Kanzul Ummal bahwa Sayiddina Ali pernah berpidato secara spontan sebanyak 5 halaman tanpa huruf alif.

c. Cerita itu seperti kisah Kiai Maksum yang mengalami uqdah sehingga sulit melafadkan huruf ro'. Beliau pernah mengirim surat kepada Kiai Hamid Pasuruan tanpa menggunkan huruf ro'. Sebaliknya Kaia Hamid membalas surat tersebut dengan mengunakan lafat per lafadznya yang menggunakan e huruf ro'.

d. Orang Jepang kalau memiliki janin berusia 4 bulan biasanya dikenalkan lagu.  Teori psiologi menjelaskan anak lahir condong dari apa yang didengar sejak usia 4 bulan dikandungan. Kalau sering dibacakan Al Quran maka akan menjadi anak yang suka dengan Al Quran. 

e. Pengaruh Keluarga. Keluarga dalam bahasa arab sering disebut Aliy, Alu, Alla.  Didalam Al Quran keluarga disebut sebanyak 26x dengan perincian keluarga Ibrahim 2x "Alla Ibrahim". Keluarga Luth 4x.  Yang terbanyak disebutkan adalah tipologi keluarga firaun/ Allu Firaun, atau keluarga Firaun. Seorang ustadz pun bisa mempunyai tipologi keluarga seperti Fir'aun.

2. Teori Seks dalam Tasawuf.  Ali Al Khawas adalah ulama yang buta huruf.  Semua ilmunya ladduni.  Beliau memiliki teori imajinasi atau pengaruh khayalan.  Yaitu kalau mau mengumpuli istri (jima') siapa yang diimajinasikan. Kalau sebelum seks yang dibayangkan adalah Imam Syafii, nantinya putranya akan sholeh/ alim seperti Imam Syafii.  Kalau yang dikhayalkan adalah Imam Syuyuthi maka putranya akan Alim seperti Imam Syuyuthi. Suami dan Istri boleh membayangkan Mbah Hasyim,  Mbah Wahab,  Mbah Bisri.  Proses berkhayal mulai dari pra seks dan selama melakukan seks.

Rujukanya terori ini adala kisah Nabi Zakariya yang mengaggumi Siti Maryam. Setiap kali Nabi Zakariya menengok kamar Siti Maryam,  beliau melihat banyak buah-buahan.  Maka memori otak dari Nabi Zakariya adalah tentang Siti Maryam.  Sampai ketika beliau melakukan seks dengan istrinya yang terbayang adalah ke istimewaan istimewaan Siti Maryam.

Hasilnya Putra dari Nabi Zakariya yaitu Nabi Yahya memiliki kesamaan dengan Siti Maryam yaitu sama-sama tidak menikah.

Teori seks dalam tasawuf adalah mengkhayalkan orang-orang Soleh ketika pra sampai proses melakukan seks.  Teori Ali Al Khawas ini banyak ditiru.

Dr. Ali Fikri dalam kitab as samirul muhazim menceritakan tentang Napoleon Bonaparte pemimpin Prancis. Yang ketika bepergian dab berpapasan dengan nenek, maka dia akan turun. Setiap ada nenek ia turun.  Sampai suatu ketika ada nenek lewat dan dia turun sambil mengangkat topi tanda hormat. Ketika ditanya mengapa engkau melakukannya wahai Napoleon?.  Beliau menjawab: "Sebab aku membayangkan nenek itu seperti wajah ibuku. Apa yang dilakukan oleh Napoleon ini dinamakan dengan transformasi. Napoleon menjadi karakter yang memiliki Kasih sayang karena transformasi dari sifat kasih sayang ibunya. 

Teori transformasi tersebut jika diaplikasikan seperti ketika akan seks membayangkan karakter kiai,  maka jadinya akan ditransfer Alloh menjadi anak soleh seperti kiai. Kalau kita ingin mencintai Rasulluah maka yang harus kita bayangkan adalah karakter Rasulluah yang diangan-angan oleh otak dan direnungkan oleh jiwa.  Maka yang tumbul salam hati adalah cinta dan rindu terhadap Rasul sehingga bisa tertular sifat-sifat Rasulluah. 

Ada perempuan dihukum penjara dan tidak dikasih makan agar dia mati kelaparan. Suatu hari anaknya menjenguk. Ketika akan masuk anaknya dilarang membawa makanan. Putrinya terus menjenguk. Dan ibunya yang kelaparan belum juga mati. Karena penasaran petugas yang menjaga melihat apa yang dilakukan si anak kepada ibunya. Ternyata putri dari ibu yang dipenjara itu menyusui ibunya.  Anak menyusui ibu.  Kasih sayang anak kepada ibunya.  Dan Kasih sayang ibu kepada anaknya.  Karena menyaksikan itu berkali-kali sang penjaga tertular sifat welas-asih. Kemudian ibu tersebut dibebaskan. 

Kalau kita hanya mengetahui cerita saja tidak akan tertular oleh sifat-sifat baik kiai. Jika ingin memiki sifat seperti kiai harus tapi cinta kepada para wali.  Kalau sejarah tidak bisa Cinta.  Jika kita hanya mengetahui itu berarti kita hanya tahu ilmunya sebagai sejarawan. Cerita harus  dicerna oleh pikiran, diangab oleh hati sehingga timbul rasa Cinta. 

3. Tahniq:  Transformasi Ilmu melalui ludah.  Kalau punya anak kecil mintalah tahniq kepada kiai-kiai alim yang Soleh.  Contohnya tahniq dengan kurma. Yaitu kurma ditahniqkan kepada kiai (dikunyah) nanti di suruh makan putranya.

Ada ulama Yang bernama sa'dudin al sataftazani.  Beliau mondok tidak alim-alim. Sehari di datangi sesorang untuk diajak keluar.  Karena merasa belum alim maka menolak sampai 3x.  Orang yang mengajak pun berkata "kamu harus ikut karena ini yang mengundang adalah Rasulluah.  Ketika Iamam al Sataftazani bertemu rasul,  rasuk berkata "Aku iku Rasulluah, ngenteni awakmu kok gak teko-teko". Lalu Imam Sataftazani matur kepada Rasulluah: Saya ini mondok bertahun-tahun ndak bisa ngaji ya Rasulluah.  Akhirnya Rasuk menyuruh untuk membuka mulut. Kemudian di idoni. Setelah itu Imam Sataftazanu mendadak menjadi Alim. Sampai-sampai mengarang kitab yang sulit dimengerti orang.. Karena beliau pernah merasakan sulitnya mencari ilmu.

Syekh Yasin di ijazahi Mbah Wahab disaksikan oleh Mbah Bisri di madrasah Darul Ullum.  Mbah Wahab berpidato dan mengijazahi kitab-kitab kepada Syekh Yasin. Peristiwa ini terjadi berkali-kali ketika musim haji.  Cerita ini ditulis didalam kitab karangan Syekh Yasin. Padahal pada saat itu status beliau adalah salah satu musnid dunia. Syekh Yasin adlah contoh kiai yang Tawadlu'.

Imam Ahamad ibn Hambal di Bagdad suatu saat ingin pergi ke Basrah (kota terbesar kedua setelah Bagdad).  Ternyata keinginan beliau ke Basrah didorong-dorong istigfar seseorang yang dalam hidupnya bercita-cita bertemu Imam Hambali.  (Tentang keutamaan istigfar) 

Ada tulisan Imam Qurtubi (Kordoba) yang membahas tentang akhirat berjudul at tadzkirat fi umuri al akhirat.  Di kitab itu di jelaskan. Bahwa dikonstantinopel ada pejabat yang ketika akan dikuburkan selalu ada ular. Kejadian itu terulang samapai 30x.  Akhirnya mau tidak mau jenazah sang pejabat dikubur bersama ular.

Ibnu Ashir menulis bahwa di daerah itu juga ada makamnya Abu Ayub Al Ansori (sahabat nabi). Kalau daerah itu paceklik dan kemarau panjang tidak ada hujan, biasanya masyarakat cukup melubangi makam Abu Ayub. Maka turunlah hujan.

Ternyata salah satu tempat yang baik adalah daerah yang pejabatnya Soleh.  Yang berkuasa sebenarnya bukanlah kiai tapi penguasa dan Quran.  Kiai itu hanya bisa mengimami.  Puncak tasawuf yang tinggi adalah menjadi khalifah.
Kholifah yang dimaksud adalah Soleh bathinahnya serta memilki jabatan. 

Putra mahkota emir dubai punya orang kepercayaan namanya Abu Dzar. Abu Dzar adalah sahabat baik saya.  Pemyaksian dari Abu Dzar bahwa Putra mahkota tersebut sekolahnya di Kanada. Sekarang banyak dari orang yahudi yanh diislamkan oleh sang Putra mahkota.

Raja Katar sekarang juga sering mengajak dakwah. Artinya yang dimaksud dengan Khalifah itu adalah pejabat yang ulama. Kalau dipadukan keduanya itulah kesempurnaan. 

4. Syekh Rojab Dieb ulama penulis kitab tafsir Ar Rohim, bercerita di masjid Omamiah Syria ada kiai yang mengajar ngaji selama 40 tahun. Tapi kiai tersebut ketika BAB pintu wc nya dibiarkan terbuka.  Ditegur oleh para kiai lainya, dia hanya menjawab bahwa "apa yang aku keluarkan dan kamu keluarkan adalah sama.  Ternyata kiai tersebut adalah seorang yahudi. Terkadang yang tidak islam itu lebih alim dari orang Islam sendiri.  Yang Islam malah tidak tafaquh. 

Rasyid Bawazir saudara dari Fuad Bawazier pernah mendapat cerita dari Quraish Baharun. Bahwa Quraish Baharun pernah melakukan perjalanan dari afrika bersama seorang perempuan asal Kanada.  Ditanya namanya Nafisah.  Selama perjalanan mereka berdiskusi tentang tafsir-hadis dan perempuan itu mengaku pernah membaca kitab ikhyak sebanyak 50x.  Kemudian bulpenya jatuh. Ketika menunduk mengambil bulpen, ternyata kalung salibnya keluar.  Kamu nasrani?.  Bukan ibu saya yang nasrani, saya atheis. Lalu perempuan itu mengaku kalau pemgetahuanya tentang Islam dibayar oleh Kanada.  "Saya dibayar oleh kanada untuk mensetting perpecahan antara islam dengan islam."

Mbah Hasyim walaupun ke Wc tidak cepot songkok.  Kalau zaman sekarang Mbah Hasyim itu konservatif. Beliau plek meniru sunah Rasulluah. Tapi kenapa kita lebih tertarik yang liberal?.  Padahal kita memiliki ulama seperti Mbah Abdul Karim,  Mbah Wahab,  Mbah Hasyim?.  Saya menyebutnya ini adalah perang Neokortek.

Ijazah :
Doa mbah Hasyim:
ijazah Gus Qoyyum dr Abahnya dr Mbah Hasyim Asy'ari  :
Nek Meh turu ngrekso awak lan jiwa, ngucapo :
"Tahasshontu Bihisni Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasuulullah"

Pertama ngidu k kanan, kdua kkiri, ktiga kdepan keempat k belakang.

0 comments

Biografi Singkat KH. Abdul Fattah Hasyim Tambakberas Jombang

Mengenang
KH. Abdul Fattah Hasyim Idris (Bapak Pendidikan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang)
(Wafat: Kamis Pon malam Jum’at Wage, 28 April 1977 M)

Disalin dari KH. Abdul Nashir bin Abdul Fattah. Beliau mendengar dari KH. Salim Azhar Paciran

Tauladan Bagi Kita Dalam Mahabbahnya Pada Al Quran

     Saya pada saat nyantri di PP Bahrul Ulum 1966 - 1973 setiap bulan Romadlon selalu mengaji puasaan di Pondok tersebut .
     Banyak kitab-kitab yang di khatamkan dengan dibaca lafadz dan ma'nanya oleh para Pembalah, antara Lain mbah KH Abd Wahab Hasbulloh, mbah KH Abd Fattah Hasyim, Yai Soleh Hamid, Yai Malik Hamid, Yai Jamaluddin Ahmad, Yai Amanulloh AR, Yai Asy'ari Muhsin, serta para Kiyai dan Ustadz Pembalah yang lain.
     Ada satu yang pernah menyentuh hati saya ketika saya memandang, sehingga menjadi perhatian saya dan selalu memperhatikannya pada setiap bulan Puasa, yaitu Khadlratul mukarrom mbah KH Abd Fattah Hasyim. Beliau selalu rutin / istiqomah pada setiap ba'da sholat Asar duduk di serambi muka rumah Beliau menghadap ke arah Pondok untuk membaca Al Qur'an, saya perhatikan kadang-kadang dari pintu majid sebelah selatan, kadang-kadang saya jenguk dari jerambah Khash Pangeran Diponegoro, kadang-kadang sambil agak sembunyi saya lihat dari jalan sebelah barat muka Madrasa MI BU, subhanalloh membacanya cepat betul (lanyah betul), saya tau hal itu bukan dari suara Beliau tetapi dari kepala Beliau yang bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti mata Beliau melihat tulisa mushaf serta komat kamit mulut yang tampak cepat / lanyah.
     Beliau tidak dikenal sebagai hafidz / hafal Al Qur'an tetapi lanyah betul dan selalu ingat. Jika ada bacaan Al Qur'an oleh qori' santri yang keliru, Beliau bisa mengikatkan dan membenarkan.
Walaupun tidak hafal secara urutan ayat-ayat tetapi karna mahabbah dan kelanyahan serta perhatian Beliau terhadap ma'na ayat yang dbaca maka setiap ada mas'alah apa saja Beliau mendahulukan membaca dalil ayat Al Qur'an selagi mas'alah tersebut terdapat Nash dalam Al Qur'an.
     Saya yaqin bahwa Beliau membaca Al Qur'an di bulan Romadlon maupun di luar bulan Romadlon tidak hanya pada waktu ba'da Asar saja sehingga mungkin dalam dua hari atau tiga hari Beliau menghatamkan Al Qur'an, cuma saya tidak melihat secara langsung.
     Semoga kita bisa meniru mahabbah Beliau terhadap Al Qur'an walaupun tidak dapat 100 % dan semoga Al Qur'an selalu menyertai Beliau di alam Barzakh serta memberi syafaat kepada Beliau dan kepada kita pula di alam akhirat nanti. (Oleh: KH. Salim Azhar Paciran)

     Rutinitas KH Abd Fattah Hasyim yang termasuk mahabbat Beliau pada Al Qur’an ialah mengaji Al Qur’an bil ma’na.
     Selama saya belajar di PP Bahrul Ulum belum pernah kosong dari jadwal pengajian tahunan (bukan Romadlonan) asuhan Hadlrotu Mukarrom Mbah KH Abd Fattah Hasyim berupa pengajian Al Qur’an bil ma’na yaitu Al Qur’an dima’nani (bukan Tafsirnya) setiap ba’da jama’ah sholat Asar.
Sistim Beliau dalam mengaji Al Qur’an bil ma’na adalah Beliau baca seluruhnya ayat-ayat yang akan diberi ma’na, setelah itu mulai dibaca per kalimat dan diberi ma’na sesuai dengan tafsir yang masyhur. Setiap ada ayat yang berhubungan dengan Asbabun Nuzul mesti Beliau menceritrakan Asbabun Nuzulnya. Para santri ada yang diam mendengarkan dan memperhatikan ceritra Asbabun Nuzul tersebut, ada pula yang mendengarkan, memperhatikan sambil mencatat ringkasan-ringkasannya untuk di catat dengan lengkap ketika sudah kembali ke kamar masing-masing . Beliau betul-betul menarik perhatian para santri, jika menceritrakan pertempuran antara para sohabat dengan orang-orang kafir seolah-olah kelihatan sungguhan gerak dan langkah mereka, sehingga semua terkesima dengan ceritra tersebut. Biasanya pengajian Al Qur’an bil ma’na itu di akhiri dengan membaca sholawat Badar yang dipimpin oleh Kang Ali Masri, santri tuhu dari Jawa tengah.
     Beliau sosok Kiai Pengasuh yang betul-betul mendalami arti serta sebab-sebab turunnya ayat sekaligus menghayati arti ayat-ayat yang dibaca. Jika kebetulan ayat-ayat ni’mat Beliau menerangkan dengan wajah yang berseri-seri menggembirakan para santri, kadang-kadang juga agak berkelakar, Jika kebetulan membaca ayat-ayat yang menerangkan adzab siksaan Beliau tampak sedih dan mencucurkan air mata, sehingga suasana masjid yang penuh dengan santri yang mengaji tersebut menjadi sunyi, sepi, mengharukan, walaupun jarang dari mereka yang meneteskan air mata, sehingga yang terdengar hanya suara Beliau yang walau tanpa loud speaker bisa didengar oleh santri yang ada di serambi masjid.
     Subhanalloh, Bukan hanya ketika mengaji dengan para santri, Beliau menangis ketika menerangkan ayat-ayat siksaan, bahkan hampir tidak pernah Beliau tidak menangis pada saat ber Khutbah Jum’ah ketika membaca dan menerangkan ayat-ayat atau hadits yang menceritrakan siksaan.
     Jika ada hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah kalau berkhutbah كأنّه منذر جيش, ya mbah Yai Fattah itulah yang mempraktikkan. Kami para santri sulit meneladani Beliau.
     Kita berdo’a mudah-mudahan ilmu yang telah Beliau berikan kepada kita bermanfaat dan barokan dan semoga kita nanti di hari akhir dikumpulkan oleh Alloh bersama para Kiai yang alim-alim, yang mukhlishiin, serta para anbiya’, syuhada’ dan sholihin, termasuk Hadlrotu Mukarrom Mbah KH Abd Fattah Hasyim. (Oleh: KH. Salim Azhar Paciran)

KH Abdul Fattah Hasyim Gemar Mengkaji Hadits

     Di antara amaliyah yang digemari oleh Hadlrotul Mukarrom Mbah KH Abd Fattah Hasyim adalah mengaji HADITS.
     Pada saat saya mencari ilmu di Bahrul Ulum , Beliau mempunyai wiridan setiap selesai jamaah solat Subuh mengaji Hadits Sohih Bukhori dan Ihya’ ulumiddin Al Ghozali diikuti oleh para santri yang besar- besar, umumnya yang sudah belajar di Madrasah Muallimin Muallimat. Saya sering mengikuti pengajian ini sebagai mustami’in ketika waktu itu saya belum mempunyai kitab yang dikaji tersebut. Beliau mengaji di serambi masjid yang muka, dan selalu menghadap qiblat sedang para santri yang mengaji kebanyakan berada di belakang Beliau juga menghadap qiblat di samping ada beberapa yang mengambil tempat di sebelah kanan dan kiri Beliau.
     Mbah KH Abd Fattah dalam memberi ma’na Kitab Hadits Bukhori dan Ihya’ ulumiddin memakai metode cepat tanggap. Biasanya Beliau menerangkan prihal yang penting-penting saja sekiranya agak sulit difahami, selebihnya Beliau hanya membaca dan memberi ma’na dengan metode cepat tanggap, namun saya merasakan bahwa Beliau setiap memberi ma’na kitab apapun kitabnya itu betul-betul memahamkan walaupun tanpa di jelaskan ulang. Jadi ketika Beliau membaca kitab Bukhori dan Ihya’, walaupun hanya dibacakan ma’nanya, para sntri telah faham apa lagi yang mengaji adalah santri yang sudah senior, sudah biasa dilatih memahami kitab di Madrasah Muallimin Muallimat.
     Termasuk kehebatan Beliau dalam mengaji Hadits , saya pernah ikut mengaji Romadlonan di ndalem, Beliau membaca kitab Hadits TAJRIDUS SHORIH (pethikan dari hadits shohih Bukhori). Kitab yang sekian tebalnya bisa khatam selama 17 hari dalam waktu yang tidak terlalu memayahkan para santri. Subhanalloh Beliau membacanya cepat betul tetapi jelas, tidak terkesan nerecel , bahkan kadang-kadang diselingi dengan intermezo yang membuat santri tertawa Gerrr sehingga tidak jenuh dan santri-santri masih bisa menulis ma’nanya dengan sempurna, Subhanalloh jarang kita bisa menemukan pembalah kitab seperti Beliau.
     Pada saat selesai mengkhatami kitab ini semua santri putra berjabat tangan dengan mencucup tangan kanan Beliau teriring rasa haru, puas dan cinta kepada Kiai . Sebagian mencucurkan air mata lantaran terbuai dengan suasana khataman yang dibacakan do’a oleh Beliau dengan penuh konsentrasi mendoakan para santri agar ilmunya bermanfaat dan barokah.
     Semoga Alloh menempatkan Beliau di haribaan sifat Rohman RohimNya, melimpahkan kasih sayang dan pengampunan kepada Beliau di alam Barzakh dan mengangkat derajat Beliau di hari akhir nanti bersama para Anbiya’, Auliya’, Syuhada’ dan Sholihin, juga menyertkan kita pada golongan mereka.

KH Abdul Fattah Hasyim Penyayang Para Santri

     Kasih sayang seseorang kepada anaknya itu ada yang diwujudkan dengan memanjakan anak, seperti halnya membelikan apa saja yang anak minta tanpa ada filter, atau meng iya kan apa saja yang dimaui oleh anaknya tanpa dibatasi, ada pula yang diwujudkan dengan mendidik anaknya untuk berbuat sesuatu yang manfaat untuk masa depan mereka, mungkin berupa pendidikan kedisiplinan, keberanian, tawadlu’, tirakat, dan sebagainya.
     Mbah KH Abd Fattah selalu memikirkan agar masa depan para santri itu cemerlang, Beliau sepertinya tidak rela kalau santri-santri sudah lama di pondok, sudah menghabiskan beberapa kendil nasi liwet, sudah banyak makan dan minum air intip, sudah menghabiskan beberapa ratus ribu uang bekal, sudah menghabiskan beberapa buku pelajaran yang diterima, kemudian mereka tidak bermanfaat bagi ummat, Beliau sepertinya tidak rela kalau ilmu para santri tidak manfaat dan barokah, maka kasih sayang Beliau kepada santri-santrinya diwujudkan dengan pendidikan kedisiplinan, keberanian, tawadlu’ dan tirakat agar mereka nanti pulang ke rumah, hidup bersama masyarakat menjadi orang yang berguna dan mulya.
     Beliau melatih para santri untuk disiplin sholat pada awwal waktu. Setiap hari membangunkan para santri pada waktu menjelang jamaah Subuh tanpa bosan, kendatipun kadantg-kadang ada santri yang menipu, bergaya seolah-olah sudah siap jamaah dengan pakaian sarung baju dan kopyah padahal belum wudlu, jika mbah Fattah telah lewat, dia tidur kembali, mbah Fattah juga mengetahui hal itu, tetapi tetap Beliau datangi tiap-tiap kamar untuk membangunkan mereka, kadang-kadang pada saat mengaji Al Qur’an bil ma’na Beliau intermezzo, menceritrakan ada santri yang bergaya seolah-olah sudah siap jamaah dengan pakaian sarung baju dan kopyah padahal belum wudlu, dia tidur kembali. Kadang-kadang Beliau menceritrakan pada saat mondok di Mojosari, kalau pagi mbah Yai membawa gombal dibasahi air lalu ditarik di atas wajah santri-santri yang masih tidur.
     Dorongan untuk berjamaah sholat setiap awal waktu adalah pelatihan kedisiplinan sekaligus model tirakat bagi santri Bahrul Ulum. Dimulai dari disiplin dan tirakat dengan melakukan jamaah sholat, lalu disiplin dan tirakat dengan melakukan kepatuhan terhadap peraturan pondok pesantren, Ro’an bersama, serta mengikuti kegiatan-kegiatan wajib yang lain.
     Beliau melatih para santri untuk berani dan lancar berbicara dalam menghadapi birokrasi di masyarakat dengan membiasakan mereka untuk berbahasa Indonesia. Mbah Fattah selalu menggunakan bahasa Indonesia kepada para santri. Saya berfikir, hal ini disamping melatih para santri untuk berani dan berjiwa nasionalisme serta berkebangsaan adalah juga wujud tawadlu’ Beliau, dimana dengan memakai bahasa tersebut menjadi tidak ada beda antara Beliau dan santrinya dalam drajat bahasa. Para santri tidak harus boso atau kromo inggil yang dapat membedakan drajat antara atasan dan bawahan.
     Semoga amal jariyah Beliau mendidik para santri diterima ole Alloh serta dikaruniai pahala yang agung oleh-Nya dan kita yang pernah diasuh bisa meniru perjalanan Beliau, kelak kemudian hari dikumpulkan bersama Beliau dan para alim ulama’ mendapat ridloNya.

KH Abdul Fattah Hasyim Sangat Peduli Terhadap Jam’iyah
Nahdlatul Ulama’ Dan Kemaslahatan Ummat

     Sebagian dari rutinitas Mbah KH Abdul Fattah adalah mengisi pengajian rutin yang dilakukan oleh warga NU Ranting Tambakberas pada setiap malam Ahad dengan sistim giliran, bepindah pindah dari satu musholla ke musholla yang lain.
     Saya kadang-kadang ikut gabung dan mendengarkan pengajian Beliau mana kala tempat pengajian tersebut dekat dari pondok (tidak di luar batas-batas yang ditentukan oleh peraturan).
     Pengajian Beliau yang banyak adalah menerangkan tentang keagamaan dan kemashlahatan ummat, tidak banyak menerangkan perkembangan Jam’iyah NU, (memang hal tersebut bukan tugas Beliau melainkan tugas Bagian Tanfidyiah). Beliau menerangkan ke NU an secara tuntas apa bila berhubungan dengan hal-hal yang rawan perpecahan bagi warga NU seperti masalah Aqidah, Syari’ah, Pemilu, dan ketika akan mu’tamar memohon do’a agar NU selamat dari pertengkaran antar tokoh-tokoh NU.
     Saya mendengarkan sebagian pengajian Beliau bahwa kita adalah ummat Islam. Nama-nama harinya adalah Ahad Senen Selasa dan seterusnya, maka kita jangan menyebut bahwa pengajian ini adalah pengajian Mingguan, tetapi istilahkan dengan nama pengajian rutin malam Ahad.
     Subhanalloh, menurut saya, itu adalah ke pekaan Beliau untuk membentengi masyarakat muslim terhadap budaya yang bukan produk Islam, walaupun sekecil ujung jarum.
     Seperti halnya Beliau sangat peduli berteman dan memayungi seorang Pastur yang berpindah agama dari Keristen menjadi Islam. Santri-santri menyebut Beliau adalah Kamus berjalan sebab sangat menguasai bahasa, ahli kesenian, ahli berfikir tentang kehidupan yang tenang, namanya M.Tasir. Saya juga sempat dituliskan oleh Beliau pada buku Kesan dan Kenangan detik-detik akan mengakhiri belajar di Bahrul Ulum , Beliau menulis: “Manusia yang baik adalah manusia yang bisa mengalahkan hawa nafsunya”, dengan bigron gambar sinar bintang.
     Subhanalloh, sampai pada detik-detik terakhir akan pulang ke Rahmatulloh, (kata istri saya yang dia juga masih ada di pondok Al Fathimiyyah Bahrul Ulum waktu itu) Mbah KH Abd. Fattah masih menanyakan Pak Tasir.
     Subhanalloh, sungguh lembut hati Mbah KH Abd. Fattah , di tengah-tengah men tarbiyah para santri, Beliau masih menyempatkan diri untuk membimbing ummat dan memelihara mereka menuju jalan yang benar agar tidak masuk pada golongan orang-orang yang dimurkai Alloh dan orang-orang yang sesat.
     Semoga kita semua dikumpulkan bersama Beliau, ditunjukkan jalan benar , jalan orang-orang yang diberi ni’mat oleh Alloh, bukan jalan orang-orang yang dimurkai Alloh dan orang-orang yang sesat. Amiiin.

KH Abdul Fattah Hasyim Berjasa Bagi NU Lamongan.
Beliau Marah Karena Ke “NU” an Santrinya Diusik Orang

     Kisah mbah Zubair Umar ketika mondok di Bahrul Ulum. Pada sa’at mbah Zubair Umar sekolah di Paciran Karangasem bersama 3 temannya dari Sendangduwur (mbah Syafi’i Ali, mbah Husnan Mansur, mbah Abdulloh Ihsan / Pak Dulah). Mereka semua bersekolah dengan pakaian seragam celana pendek (kathok biru baju kuning) yakni seragam pandu HW, tetapi boleh tidak sragam, termasuk Mbah Zubair tidak pernah sragam. Beliau selalu membawa sarung yang dilipat dan dimasukkan dalam celana pendek.
     Ketika ada rapat Masyumi di sebelah selatan pasar Blimbing, para murid diaja’ mendatangi rapat tersebut dan mampir sholat Asar di Dengok (masjid utara jalan), anak-anak disuruh sholat dengan pakaian seragam celana pendek. Selesai sholat mereka diceramahi oleh Pak Qur’ani Weru yang isinya antara lain: Kita tidak mamang sholat dengan pakaian celana pendek sebab menurut Imam Syafi’i aurat laki-laki itu: “ما بين السرّة والركبة“  Maka udel dan dengkul tidak aurat, apa lagi ada kata-kata “maa” maka hanya “maa” itu yang harus ditutup. Sama halnya dengan kata-kata “Dengok adalah desa antara Blimbing dan Paciran” Jika ada pemilihan Kades Dengok maka orang Paciran dan Blimbing tidak boleh ikut.
     Ketika itu Ustadz Fathur Rohman dari Sugihan dengan membawa kitab “Um” ia berkata bahwa Imam Syafi’i mengatakan وَيَكْرَهُ بِمُؤَذِّنٍ غَيْرِ وَاحِد ini diartikan: Imam Syafi’i tidak setuju jumatan dengan adzan dua, Kira-kira dia tidak faham bahwaمُؤَذِّنٍ  itu mestinya bukan pekerjaan adzan melainkan orang yang adzan, sebagaimana praktik di Masjidil Haram, dulu ada empat menara, setiap menara ada yang adzan (bergantian).
     Sejak itu Mbah Zuber tidak krasan bersekolah di Karangasem. Sering mbolos dan mengajak 3 orang temannya tersebut untuk mbolos. Kiai Ridlwan datang ke rumah orang tua Mbah Zubair dan bertanya “Mengapa mbolos” ?.
     Mbah Zuber lalu mengajak 3 temannya untuk mondok.
     Mbah Syafi’i Ali dan Mbah Abdulloh Ihsan ke Langitan, dan beliau bersama mbah Husnan Mansur ke Rejoso Peterongan, tidak lama kemudian Yai Baqir Adlan nyusul dan mengajak keduanya pindah ke Tambakberas.
     Di Sendang Masyumi dipimpin oleh orang-orang yang dipengaruhi oleh faham-faham yang tidak seperti dulu, mereka semua sudah tidak mau selamatan dan tahlilan.
     Pada suatu hari, Seorang pengurus Masyumi kirim surat kepada mbah Zubair yang masih mondok di Tambakbersa, isi suratnya berbunyi: KOWE POK MULIH, YU BIK (mbah Robi’ah kakak mbah Zuber, istri KH Muhtadi) KANDANI OJO GAWE SLAMETAN 1000 DINANE K. MUHTADI, MERGO WONG SENDANG WIS GELEM TAK JAK GAK SLAMETAN, SURAT IKI ATURNO NANG KIAIMU, TAKOKNO, KOYO OPO HUKUME NYLAMETI MAYIT. (Kamu pulanglah, Mbakyu Bik bilangi jangan membuat selamatan 1000 harinya K. Muhtadi, Sebab orang Sendang sudah mau saya aja’ tidak selamatan. Surat ini haturkan pada Kiaimu, Tanyakan, Bagimana hukum menyelamati orang mati).
     Surat dihaturkan kepada Mbah KH Abdul Fattah Hasyim. Beliau membacanya lalu menangis, marah, dan bilang: INI WAHABI, PULANGLAH DAN MAMPIR KE RUMAH KH ABD KARIM GERSIK. BILANGI BELIAU ! Sampai di Gersik, Mbah Zuber haturkan surat itu kepada Yai Abd Karim. Setelah membaca, KH ABD KARIM bilang: YO, AKU SISOK TAK NANG SENDANG KARO YAI SHOLEH (Ya , besuk saya ke Sendang dengan K. Soleh).
     Mbah Zubair pulang, disambut oleh mbah K. Hasan, dan tokoh-tokoh Masyumi. Mereka bertanya kabar lalu dibilangi bahwa besuk Yai Abd. Karim datang di Sendang. Mereka agak kecewa dan penuh tanda tanya.
     Betul sekali mbah Yai Sholeh dan Yai Abd. Karim hadir dengan 2 dokar yang dipenuhi dengan beras dan lauk pauk serta ikan bandeng untuk acara slamatan 1000 harinya mbah KH Muhtadi bin Mushthofa.
     Mbah Zubair kembali ke Tambakberas dan tokoh-tokoh Sendang bergolak mendirikan Jam’iyah NU Ranting Sendang, lalu tokoh-tokoh kota Lamongan bergolak pula mendirikan Jam’iyah NU Cabang Lamongan. Subhanalloh. Semoga Riwayat-riwayat ini semogaa bermanfaat.

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger