Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Khutbah Peran Orang Tua Dalam Pendidikan


Khutbah
Peran Orang Tua Dalam Pendidikan
Oleh Moh. Dliya’ul Chaq, M. HI.
Di Masjid Babat Jerawat Benowo 23 Maret 2018

إنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِناَ مَنْ يَهْدِاللهَ فَهُوَ اْلمُهْتَدُ وَمَنْ يُظْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِياًّ مُرْشِدًا أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا  مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ. (إِتَّقُوْا اللهَ)2 حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم ﴿ لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾

Ma’asyirol Muslimin Rahmakumulloh…
Dalam kesempatan yang berharga ini, marilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mengingat Allah, untuk beribadah kepada Allah, untuk intropeksi diri agar ketaqwaan dalam diri kita dapat lebih berkualitas, karena mulia tidaknya kita dihadapan Allah tidak ditentukan dengan seberapa banyak harta kita, seberapa tinggi jabatan kita, seberapa banyak orang yang menghormati kita, seberapa banyak murid kita. Tetapi mulia tidaknya kita dihadapan Allah hanya ditentukan dengan kadar ketaqwaan kita kepada Allah SWT. (Inna Akromakum Indallohi Atqokum). Dan tentunya, bukan hanya saat ibadah sholat jumat saja kita bertaqwa, tetapi di luar shalat jumat pun marilah kita semua termasuk pribadi kami untuk menjaga aktifitas kita agar jauh dari larangan Allah dan selalu berada pada garis perintahNya sehingga setiap aktifitas kita, setiap langkah kita dapat bernilai ibadah. Karena kita dihadirkan ke dunia ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. (Wa Ma Kholaqtul Jinna wal Insa Illa Liya’budun).
Ma’asyirol Muslimin Rohimakumulloh…
Terdapt satu kisah menarik yang diabadikan didalam al-Qur’an, yaitu kisah Nabiyulloh Musa AS bersama dengan Nabiyulloh Khidlir AS. Kisah yang diabadikan dalam surat al-Kahfi ayat 60-82. Dalam masa perjalanan bersama Nabi Khidlir, Nabi Musa dihadapkan pada kejadian-kejadian di luar nalarnya yang membuat Nabi Musa mempertanyakan hal itu. Pertama, Nabi khidlir melubangi perahu bagus yang baru saja ditumpanginya. Kedua, Nabi Khidlir membunuh anak kecil yang sedang bermain. Dan kejadian yang ketiga, saat itu Nabi Khidlir dan Nabi Musa telah berjalan yang sangat jauh, rasa haus dan lapar sudah hampir tidak bisa ditahan. Tiba-tiba beliau berdua dipertemukan oleh Allah dengan sebuah desa kecil. Akhirnya beliau berdua memasuki desa itu mengetuk tiap pintu rumah untuk meminta segelas air dan sesuap makanan. Tetapi tidak satupun penduduk yang memberinya. Namun saat beliau berdua sampai di sebuah rumah yang dindingnya hamper roboh, nabi Khidlir malah mengajak Nabi Musa untuk membenahi dinding itu. Setelah dinding sudah diperbaiki, Nabi Khidlir tidak meminta uph kepada pemilik rumah dan malah mengajak Nabi Musa meneruskan perjalanan, padahal keduanya dalam kondisi membutuhkan makan dan minum. Nabi Musa pun protes meminta Nabi Khidlir untuk meminta upah, tetapi ditolak oleh Nabi Khidlir. Dan inilah akhir kebersamaan beliau berdua. Sebelum berpisah, Nabi Khidlir menjelaskan kejadian-kejadian itu. Dilubanginya perahu itu karena akan dirampas oleh raja yang dlolim jika perahu itu kelihatan bagus sebagamana dalam ayat:
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
Sedangkan dibunuhnya anak kecil itu atas perintah Allah karena anak itu jika hidup sampai dewasa maka akan menjadi mengajak orangtuanya kepada kesesatan. sebagamana dalam ayat:
وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا
Dan yang ketiga sebagaimana dalam ayat:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
Adapun dinding yang akan roboh itu milik dua anak yatim yang masih kecil. Yang mana di bawah dinding itu terdapat harta simpanan orang tuanya di mana orang tuanya adalah orang yang Sholih. Dan Allah ingin memberikan harta itu pada kedua anak yatim itu kelak ketika keduanya dewasa.
Ma’asyirol Muslimin Rohimakumulloh…
Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita semua untuk menapaki kehidupan saat ini.
1.    Sepandai apapun kita, sehebat apapun kita, tidak boleh kita meninggalkan belajar. Sebagaimana hebatnya nabi Musa yang tergolong Rasul Ulul Azmi tetapi tetap belajar kepada Nabi Khidlir.
2.    Belajar tidak hanya mencari pengetahuan, tetapi belajar juga menjadi media untuk melatih kepribadian, melatih hati agar tidak mudah sombong, tidak mudah memposisikan diri lebih pandai dari orang lain, dan melatih agar mudah menerima pendapat atau pengetahuan orang lain. Sebagaimna Nabi Musa menerim penjelasan dari Nabi Khidlir.
3.    Sebagai seorang guru, sebagai orang tua, kita harus mengajak pada kebaikan tanpa pamrih, bahkan memberi contoh adalah cara yang tepat untuk mengajak pada kebaikan. Sebagaimana Nabi Khidlir mengajak dan memberikan contoh membenahi dinding yang akan roboh kepada muridnya, Nabi Musa AS.
4.    Kesholehan dan ketaqwaan orang tua, menjadi jalan rahmat dan rizqi dari Allah bagi anak dan keturunannya.
5.    Kesholehan dan ketaqwaan orang memiliki pengaruh luar biasa terhadap dirinya sendiri, bahkan terhadap anak dan keturunannya. Taqwa ibarat pohon yang ditanam oleh seseorang. Pohon itu, tidak hanya bermanfaat bagi pribadi orang itu, tetapi pohon itu juga bermanfaat bagi anak dan keturunannya, bahkan bermanfaat bagi orang lain dan alam sekitarnya. Pohon durian dan mangga misalnya, yang menanam orang tua, yang menikmati ya orang yang menanam itu dan anak turunnya bahkan para tetangga pun ikut menikmatinya. Bukan hanya untuk dimakan saja manfaat yang diambil dari pohon itu, tetapi untuk berteduh pun bisa, untuk dijual buahnya pun bisa bahkan untuk menjaga ekosistim dan alam yang ada.
Begitulah orang yang bertaqwa. Janji-janji Allah tentang pahala orang yang bertaqwa luar biasa dahsyartnya. Diantaranya:
لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (QS. Aali ‘Imran (Ali ‘Imran) [3] : ayat 198)
لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raaf (Al-A’raf) [7] : ayat 96)
Dan banyak lagi janji-janji Allah selain ayat-ayat di atas tentang pahala bagi orang yang bertaqwa. Selain kebaikannya kembali kepada pribadinya, ketaqwaan atau kesholehan seseorang bisa berpengaruh terhadap kehidupan anak dan keturunannya. Sebenarnya tidak perlu dalil al-Qur’an dan hadits yang muluk-muluk untuk membuktikan bahwa kesholehan/ketaqwaan orang tua dapat berpengaruh terhadap kehidupan sang anak. Cukup sebenarnya dengan logika-logika serta pembuktian-pembuktian empiris (pembuktian dalam kenyataan yang telah terjadi):
1.    Orang yang sholeh / orang yang bertaqwa pasti memiliki akhlaq yang bagus sehingga hubungan sosialnya sangat bagus. Maka, orang lain akan memulikan dan menghormati dirinya bahkan anak dan keturunannya. Lihatlah anak kyai, walaupun orang tuanya sudah meninggal, sang anak tetap dihormati. Berbeda dengan orang yang suka menyakiti orang lain yang pastinya tidak bisa digolongkan sholeh atau taqwa. Perilakunya membahayakan dirinya, bahkan orang lain bisa saja melampiaskan ketidaksukaannya bukan hanya pada diri orang itu, tetapi anak dan keluarganya pun ikut menanggung akibatnya.
2.    Orang tua yang sholeh/orang tua yang bertaqwa dalam mendidik anaknya pun dipenuhi dengan nilai-nilai kesalehan dan ketaqwaan. Orang tua yang sholeh mudah membentuk anaknya yang sholeh karena pengalaman keshalehannya. Dan sang anak pun sering merekam aktifitas sholeh sang orang tua sehingga mudah untuk menirukan. Berbeda dengan orang tua yang tidak sholeh maka sang orang tua tidak memiliki pengalaman kesholehan dan sang anak pun lebih sering disuguhi perilaku yang tidak sholeh sehingga rekaman otaknya penuh dengan ketidaksholehan dan akhirnya perilakunya tidak sholeh. Dan orang tualah memang yang menjadi lingkungan terdekat sang anak yang dapat membentuk kepribadian sang anak. Sebagaimana hadits (al-waladu yuladu ‘alalfithroh. fa inna abawahu yuhawwidanihi aw yunashshironihi aw yumajjisanihi).
3.    Orang tua yang sholeh / taqwa intensitas doanya melebihi orang yang tidak sholeh sebab intensitas ibadahnya lebih banyak orang sholeh. Dan seringnya orang berdoa setelah beribadah. Sehingga orang yang sholeh lebih sering berdoa daripada orang yang tidak sholeh. Termasuk mendoakn anaknya, maka lebih banyak doanya orang tua yang sholeh. Dan doa adalah bagian dari cara orang muslim untuk menyelesaikan segala masalah karena orang muslim selalu meyakini bahwa Allah selalu turut serat dalam penyelesaian masalah. Di samping itu, doa orang tua bagi sang anak sangat mustajabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Ada tiga macam doa yang tidak diragukan bahwa doa itu mustajabah (akan terkabulkan): doa orang yang dizalimi, doa orang safar, dan doa orang tua atas anaknya.” (Shohih HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka sejatinya kunci kehidupan dan kemakmuran dunia adalah para orang tua. Sistem pendidikan bagaimanapun tidak akan berhsil membentuk pribadi yang mulia jika tidak disertai dukungan orang tua. Percuma pendidikan mahal, tetapi orang tua tidak memberi contoh kebaikan, orang tua malah sering memaki, mengolok atau ngerasani guru dihadapan anaknya. Maka sang anak akan merasa mendapat dukungan untuk tidak menuruti guru melihat omongan dan sikap orang tuanya terhadap guru. Percuma pendidikan mahal jika orangtuanya tidak mendoakan anaknya. Maka jika ingin merubah dunia menjadi lebih baik, mulailah dari para orang tua yang harus berubah menjadi pribadi yang sholeh, pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Dan wahai orang tua, jika ingin mengetahui bagaimana anakmu kelak, bagaimana nasib keturunanmu kelak, maka lihatlah dirimu, lihatlah keshalehan dan ketaqwaan dirimu. Dan ingatlah, siapa yang menanam dilah yang akan memetiknya. (فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ).

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ وَأَبْيَنَ النِّظَامِ، كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ الْعَلاَّمِ، وَاللهُ يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِ الْمُهْتَدُوْنَ، مَنْ عَمِلَ صَالحِاً فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا، وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِىْ الْقُرْأَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنىِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرَّاءٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الخطبة الثانية
اَلْحَمْدُ ِللهِ شكرا علي ما أنعم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ كَمَا أَمَرَ وَألزم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شهادة من أمن به وأسلم وحاد من كفر وأرغم ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ، اتَّقُوْا اللهَ إن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه ، وثنى بملائكته وأيه بالمؤمنين من عباده. وقال عز من قائل: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى مَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَأَنْبِيَائِكَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وارحمنا بِرَحْمَتِكَ يَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا مَا قَدَّمْنَاهُ، وَمَا أَخَّرْنَاهُ، وَمَا أَسْرَرْناَهُ، وَمَا أَعْلَناَّهُ، وَأَحْصَيْتَهُ وَنَسِيْناَهُ، وَعَلِمْتَهُ وَجَهِلْناَهُ، وَلاَتَدَعْ لَنَا أَمَلاً إِلاَّ بَلَّغْتَنَاهُ، وَلاَسُؤْلاً إِلاَّ سَوَّغْتَناَهُ، وَلاَخَيْرًا إِلاَّ أَعْطَيْتَنَاهُ، وَلاَ شَرًّا إِلاَّ كَفَّيْتَنَاهُ.رَبَّناَ اغْفِرْلَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، رَبَّناَ أَتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِىْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُواْ اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

0 comments

Ceramah Pertemuan Alumni

Ini hanya contoh bagi yang belajar jadi muballigh

Muqoddimah: Innalhamda lillah.... dst....

Sahabat2 sekalian yang berbahagia, wa bil khusus shohibul baiyt, ukhtina indah suci R.
Alhamdulillah pagi stengah siang ini kita diberi rahmat dan inayah Allah dalam bentuk kesehatan kekuatan dan kemauan sehingga kita dapat bermuwajahah dalam majelis yang insya Allah penuh barokah. Amiin....
Mugo2 kabeh sing hadir diparingi tetepe iman, padang atine lan rizkine lancar tur barokah. Amiiin...
Sing nduwe utang mulih teko silaturrahim iki langsung iso nyaur...
Sing nduwe anak, mugo2 anake sholeh lan sholehah...
Sing nduwe drung nduwe anak, mugo2 mulih langsung gawe anak... maksude ndang diparingi anak...
Sing durung rabi, mugo2 ndang diparingi jodoh....
Amiin Allohumma Amiinnn...

Dulur2 kabeh, nuwun sewu nek saiki aku macak dadi kyai, mergo iki mau di kongkon tuan rumah. Ngowoso sak karepe lambemu, mergo segoe drung mateng. Dadi, karo ngenteni sego mateng, aku di kongkon ngowosh...

Dulur2ku kabeh, alhamdulillah... tak terasa sudah 20 tahun yang lalu kita duduk di bangku sekolah madrasah ibtidaiyah. Dan sekarang kita dipertemukan kembali dengan wajah2 dan kondisi yang berubah. Sing biyen umbelen, nangisan, ngandaknoan nang wong tuo, njambak'an, nyelatuan, saiki ketok seger2, ayu2, ganteng2,... subhanalloh....
Dan trnyta tak terasa kita telah menjadi orang tua... kewajiban dan tanggung jawab bertambah saat predikat "orang tua" melekat pada diri kita. Dan hampir semua wong tuo sing mbeneh, cita2e mung siji, yo opo anak iki iso bener2 dadi investasi dunia lebih2 investasi akhirat. Nek ono wong tuo kok gak nduwe cita2 ngunu, iku jenenge wong tuo telo!

Jempalikan direwangi encel2 pitik, direwangi panas2 nang ngareoe open, direwangi bengi2 masuk kerjo, direwangi riwa riwi ngeterno ngalor ngidul, iku kabeh mung gawe anak. Malah kadang ono sing konco wes wayahe muleh, jek marekno penggawean drung mari2. Bahkan kadang ono sing dibelani utang tonggo ngalor ngidul. Kabeh digawe anak. Mergo wes podo sadar nek anak iki investasi luar biasa. Nek anak mbeneh, mbesok nek kulo lan sampean kabeh wes tuwik, insya Allah anak bakal bekti nang wong tuo. Meh ndanio senenge ati wong tuone. Wong tuo wes gak nyambut gawe, anak sing bekti yo ngeramut wong tuwone. Wong tuo wes mati, anak sing mbeneh yo ben dino dungakno, ben kemis disambangi nang kuburan di dungakno. Nek pas anak dungakno wong tuo, langsung gusti Allah kirim nikmat nang wong tuone di alam barzakh. Oleh bungkusan teko lazada, shopee.... ttd pengirim anakmu tersayang.
Tapi nek anak gak mbeneh, wong tuo bakal ngenes. Wong tuo wes remek jek dijaluki duwek ae. Nek gak ngunu, bener ngeramut wong tuo, tapi lambhene gak mari2 olehe ngomel. Ancen sampean iki wes tuwek mak, ojo kakean model. Wes tuwek atek kepingin iwak kepiting, gak yo ta kolestrole mundak.... ngene iki sing repot sopo? Wong tuwek kakean model. Pas tuwek diumbreng2 anak, eh pas matek gak didungakno. Gak disambangi kuburane. Opo maneh nek anake maksiat terus, yo wong tuone nang alam barzakh oleh kiriman, tapi gak teko lazada utowo shopee. Sing teko koncoe anita koncoe apit, pak wes rong ulan sepedae drung di bayar cicilane, nek gak iso ngelunasi, sepedae tak gowo. Artine, nikmat2 orang tua nang alam barzakh lan akhirot bakal terkurangi atau tidak bertambah karena perilaku sang anak yang masih hidup di dunia.
Dadi, anak iku investasi yang luar biasa bagi orang tua. Dawuhe Rosulullah:
Idza mata ibnu adama inqotho'a amaluhu illa min tsalatsin, shodaqotin jariyatin aw ilmin yuntafa'u bihi, aw waladin sholihin yad'u lah...
Jika anak adam telah mati, semua amal akan terputus kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yg bermanfaat, anak sholeh yg mendoakan orang tua.
Ketiganya adalah investasi yg luar biasa. Tetapi tidak semua manusia memiliki kesempatan bersedekah mungkin karena terlalu banyak kebutuhan, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengajarkan ilmu2nya, tetapi semua orang memiliki kesempatan untuk mendidik anak2nya menjadi anak yang sholeh hingga kelak mau mendoakan orang tuanya. Bukan mendidik anak menjadi anak kaya, bukan mendidik anak menjadi anak pinterr otakny, tapi mendidik menjadi anak sholeh. Boleh mengarahkan anak agar kaya dan pinterr tapi jangan lupa yang paling utama adalah mendidik anak menjadi anak sholeh.
Nek anak sholeh mesti mbeneh. Minterno wong mbeneh iku gampang, tapi mbenehno wong pinterr iku angelll!! Buktine paling gampang koruptor2 iku wong puinterr, tapi mbenehno wong koyok ngunu iku angell!! Coba nek ono wong pinter kandanono, awakmu iku gak mbeneh!! Lak di tabok koen. Wani2ne ngarani aku gak mbeneh. Tapi coba wong mbeneh omongono, awakmu iku gak mbeneh, lak njawab iyo ancene aku gak mbeneh, dungakno aku yo ben aku dadi wong mbeneh... mangkakno aku belajar mbeneh...

Intine, nek pingin urip enak nang dunyo, nek pingin urip enak di masa tua kita atau saat kita telah dipanggil oleh Allah, maka didiklah anak kita menjadi anak sing sholeh! Mbene!

Carane ono nang qur'an surat al jumah:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ (2)

1. Membacakan ayat2 Allah (al-Quran).
Anake diwacakno qur'an. Dibiasakno kerungu qur'an. Berarti sopo sing moco qur'an? Wong tuone. Berarti wong tuone sing sering moco qur'an.

2. Membelajari akhlaq agar bersih
Diwuruki totikromo disek. Ojo kesusu diwuruki liyan2ne. Nek ketemu wong tuone cium tangan, ketemu gurune ajari cium tangan, kepada teman yang baik. Itu diajarkan sejak dini.

3. Mengajari al-Quran
Baru nek wes usaha mbelajari sikap yang baik, belajar membaca qur'an. Iki sangune anak gawe macak2no wong tuone nek wes mati. Sangune anak gawe sholat bendino iku iso moco qur'an. Nek gak iso mbelajari, gowoen nang omahq tak wurukine.

3. Mengajari ilmu pengetahuan lainnya
Tahapan terakhir adalah pengajaran intelektual anak terkait ilmu pengetahuan yang luas. Berhitung, masak, macak.....

Insya Allah nek tahapane koyok nang al qur'an, anak dadi sholeh. Selain usaha sebagaimana ayat tadi, ojo lali dungo "Allohummaj'alna wa ahlana wa awladana wa dzurriyatana min ahlil ilmi wa ahlil khoir" ben mari sholat.
Nek iso, anake ben mari sholat difatehai. Fatehah iku ampuh karena terpilih sebagai surat yg wajib dibaca dalam sholat.

Trakhir, mumpung ktemu, tak wehi dungo ben rizkine lancar. Iki dungo wes umum tapi mungkin akeh sing drung eroh:
Allohu lathifun bi ibadihi yarzuqu mayyasya'u wahuwal qowiyul aziz (x 7 ben mari sholat)
Nek gelem ditambahi shollolloh ala muhammad (x 100 ben mari sholat)
Nek gelem ditambahi alamnasyroh (x 7 ben mari sholat)

Terakhir wiridane ben cepet nyaur utang. Terbukti ampuh. Nek gak ampuh, paranono aku! Iling2en:
1. Surat al ikhlas ping telu
2. Surat al falaq ping telu
3. Surat al nas ping telu
4. Surat tanah gadekno, duwike gawe'en nyaur utang.

Wes ngunu ae yo. Wiridan sing nyaur utang iki mau guyon. Sing sakdurunge serius.
Nyuwun agunge pangapunten, ihdinashshirotol mustaqim, wal afwa minkum, wassalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh.

0 comments

Ketika Murid Tidak Sesuai Harapan

#Ketika Murid Tidak Sesuai Harapan#

Ada satu kisah dari Waliyulloh Agung dari Pasuruan, Kiai Hamid, tentang bagaimana seharusnya seorang guru menghadapi murid yang tidak sesuai dengan harapannya seperti di atas.
Suatu hari di sekitar tahun 60-an, salah seorang santri beliau yang menjadi pimpinan GP Ansor Cabang Pasuruan nyaris putus asa dalam kaderisasi di ranting-ranting. Pasalnya, dari 100 lulusan pelatihan, paling hanya ada 3-5 orang kader saja yg betul-betul bisa diandalkan. Dalam kegalauannya ini, si santri memutuskan sowan pada Kiai Hamid dahulu untuk konsultasi.
Saat dia sowan, sembari menunjuk pada pohon-pohon kelapa yang berbanjar di pekarangan rumah, Kiai Hamid berkata panjang lebar.
"Aku menanam pohon ini, yang aku butuhkan itu buah kelapanya. Ternyata yang keluar pertama kali malah blarak, bukan kelapa. Setelah itu glugu, baru setelah beberapa waktu keluar mancung. Mancung pecah, nongol manggar, yang (sebagian rontok lalu sisanya) kemudian jadi bluluk, terus (banyak yang rontok juga dan sisanya) jadi cengkir, terus (sebagian lagi) jadi degan, baru kemudian jadi kelapa. Lho setelah jadi kelapa pun masih ada saput, batok, kulit tipis (yang semua itu bukan yg saya butuhkan tadi). Lantas, ketika mau diambil santannya, masih harus diparut kemudian diperas. Yang jadi santan tinggal sedikit. Lha itu sunnatulloh. Lha yang 95 orang kader itu, carilah, jadi apa dia. Glugu bisa dipakai untuk perkakas rumah, blarak untuk ketupat."
Kalau inginnya mencetak orang 'alim, tidak bisa diharapkan bahwa semua murid di kelas itu bakal jadi 'alim semua. Pasti ada seleksi alam, akan ada proses pengerucutan. Meski begitu, bukan berarti pendidikan itu gagal. Katakanlah yang jadi hanya 5 %, tapi yang lain bukan lantas terbuang percuma. Yang lain tetap berguna, tapi untuk fungsi lain, untuk peran lain.
(dari buku Percik-percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan)
Semoga bermanfaat

0 comments

Quo Vadis Madrasah Dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia Di Era Tuntutan Global

Mini Proseding Seminar

Quo Vadis Madrasah Dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia Di Era Tuntutan Global
(Seminar Nasional Dalam Rangka 1 Abad Madrasah PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada 28 Mei 2016)

Jika madrasah dikatakan harus mampu bersaing dan berkontribusi dalam sekup internasional, pertanyaannya adalah apa nilai tambah madrasah dan pondok pesantren? Pertanyaan yang dilontarkan Prof. Dr. Abdul Haris, M. SI.

Menurut penulis, Nilai tambah tentunya bukanlah tujuan/orientasi dalam pendidikan pesantren/madrasah, tetapi nilai tambah hanyalah wasilah untuk mencapai tujuan. Ini prinsip penting, sebab lembaga pendidikan madrasah atau pondok pesantren mulai banyak mengalami deorientasi karena menjadikan nilai tambah sebagai tujuan.

Ide penulis ini sejalan dengan Prof Abdul Haris yang menggambarkan bahwa MAK berbeda dengan MA Umum. MAK lebih menyiapkan kader ulama', sementara MA umum lebih menyiapkan sarjana yang memiliki kemampuan khusus layaknya SMU hanya saja ada muatan agama.

Prof Mudjia (Rektor UIN Malang) menyatakan kehadirannya di Madinatu Nahdlotul Ulama' (sebutan prof Mudji untuk pondok tambakberas). Untuk menghadapi globalisasi, perlu:
1. Menguasai bahasa internasional (Inggris-Arab) sebab untuk go internasional perlu bahasa.
2. HAM. Artinya semua alumni pesantren harus tau tentang HAM
3. Demokratisasi. Artinya alumni pesantren harus memiliki sikap demokrasi.
4. IPTEKS. Perkembangan ipteks selama 350 tahun terakhir ini lebih cepat daripada ribuan tahun sejarah manusia sebelumnya.
5. Gender.
6. Teknologi Informasi. Pesatnya teknologi informasi menjadikan ketergantungan pada TI. Ibarat kita menghadiri pertemuan tapi hp tertinggal maka lebih bingung daripada istri tertinggal. Saat ini ada 320juta jiwa penduduk indonesia, semntara jumlah hp yg tersebar 350juta berarti ada 1 orang memiliki lebih dari satu hp.
7. Isu Lokal
8. Penyalahgunaan Obat-obatan.

Spriritualitas tetap menjadi prinsip utama. Agama itu beragam. Misal di Brasil agamanya adalah sepakbola.

Ketika prof mudjia diutus keliling dunia, beliau bertanya pada ulama' rusia, turki, mesir dan islam ASEAN dan lain-lain, jawab mereka "Kami menggantungkan Islam pada Indonesia karena Islam Indonesia menerapkan Islam Ramah". Inilah NU.

Kesimpulan beliau, model pendidikan pesantren tidak perlu dirubah karena pesantren adalah pendidikan hati, bukan pendidikan otak. Nah saat ini mungkin pendidikan otak mulai perlu ditambahkan.
Artinya, spriritualitas itu harus diutamakan di pendidikan pesantren. Penguasaan intelektualitas diberikan sebagai pelengkap, bukan orientasi. Barulah menjadi generasi yang mampu bersaing (ulul albab)

Oleh: Moh. Dliya'ul Chaq

0 comments

KEMULIAAN SANG GURU

KEMULIAAN SANG GURU

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili, Rasul SAW bersabda :
إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جِحرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Sesungguhnya Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, beserta penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada dalam sarangnya, demikian pula dengan ikan-ikan; Semuanya berdo’a untuk orang-orang yang mengajarkan kebajikan pada manusia.” [HR Tirmidzi]

Catatan Alvers

Syeikh Az-Zarnuji mengatakan : Kendati para penuntut ilmu telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, namun banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya. Ini dikarenakan kesalahan dalam cara menuntut ilmu, dan diabaikannya syarat-syarat dalam menuntut ilmu karena barangsiapa salah jalan, tentu akan tersesat dan tidak akan mencapai tujuan. [Ta’limul Muta’allim]

Diantara syarat yang sering diabaikan oleh para penuntut ilmu sekarang adalah kurang bahkan tidak menghormati guru. Dalam kitab Taysirul Khallaq disebutkan seorang penunut ilmu haruslah meyakini bahwa guru mempunyai kedudukan seperti orang tua, bahkan bisa lebih tinggi, karena orang tua memelihara jasadnya, tapi guru berusaha memelihara jiwanya. Orang tua memperhatikan urusan dunia kita, sementara guru memperhatikan urusan akhirat kita.

Coba kita perhatikan. Kita mengenal Allah, para Nabi, bahkan kita bisa membaca Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran islam sehingga bisa menggali lebih dalam syariat islam namun terkadang kita lupa dari manakah kita mengenal semua itu? Tidaklah mungkin kita kenal semua itu tanpa bimbingan guru. Maka benarlah perkataan ulama :
لولا المربي، ما عرفت ربي
Seandainya tidak ada guru, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku [Kitab Hikmatul Isyraq]
Betapa mulianya seorang guru hingga Sayyidina Ali yang digelari sebagai kotanya ilmu berkata:
أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق
Aku adalah hamba sahaya dari seseorang yang mengajariku satu huruf, jika ia mau maka ia boleh menjual dan jika ia mau maka ia boleh menjadikan aku sebagai budaknya. [Ta’limul Muta’allim]

Imam Ahmad banyak mengambil ilmu dari Imam Syafi’i hingga ia berkata: Jika dalam suatu permasalahan tidak aku temui haditsnya maka aku memutuskan hukum dengan perkataan Imam Syafii. [Siyar A’lamin Nubala’] Maka sebagai balasannya Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
إِنِّيْ لأَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِيِّ فِيْ صَلاَتِيْ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً، أَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ
Aku mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Aku berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” [al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i]

Suatu ketika Habib Umar Bin Abdurrahman Al-Atthas (Penyusun Ratib Al-Atthas) sedang duduk bersama para santrinya dan salah satunya bernama Ali Barash yang sedang memijit kaki beliau. Beliau berkata kepada para santri : "Kita kedatangan tamu istimewa Nabi Khidir dan sekarang beliau sudah berada di gerbang pondok". Maka serentak para santri berhamburan untuk menyambut kehadiran Nabi Khidir kecuali Ali Barash, ia tetap tenang memijit gurunya. Habib Umar bertanya kepada Ali: "Yaa Ali, kenapa kau tidak ikut santri yang lain?" Ali menjawab: "Wahai guruku, Nabi Khidir datang untuk menemuimu, untuk apa aku lepaskan tanganku dari kakimu karena kedudukanmu sebagai guru di mataku jauh lebih mulia dibandingkan Nabi Khidir". Mendengar jawaban ini, Habib Umar sangatlah ridlo kepada muridnya ini dan beliaupun berkata: "Tidak akan kuterima hadiah fatihah dari siapapun kepadaku kecuali disertai dengan nama Ali Barash".

Subhanallah! Lantas bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memuliakan guru kita dimana kita banyak mengambil ilmu dari mereka? Sudahkah kita memposisikan guru seperti yang dilakukan syeikh Ali Barash? Sudahkah kita mendoakan mereka seperti yang dilakukan oleh Imam Ahmad kepada As-Syafi’i? Astagfirullah...Betapa bakhilnya penuntut ilmu zaman ini jangankan memuliakan guru, merekapun enggan menyebut nama guru sebagai sumber ilmunya, padahal disitulah letak keberkahan ilmu. Jalaluddin Abdrurrahman bin Abu Bakar mengatakan :
ومن بركة العلم وشكره عزْوُه إلى قائله
Di antara keberkahan ilmu dan wujud mensyukurinya ialah menisbatkan setiap perkataan kepada orang yang mengatakannya.[ Kitab Al-Muzhir]

Hilangnya keberkahan itu diakibatkan seorang penuntut ilmu telah menjadi pendusta, Simak sabda Nabi SAW :
الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلاَبِسِ ثَوْبَىْ زُورٍ
“Orang yang berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian kedustaan”.  [HR Bukhari] Bahkan ada ulama yang menilai bahwa perbuatan tersebut termasuk sariqah (pencurian) karena ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya . Ia juga dianggap sebagai penipu karena ia menipu orang lain dengan pembentukan opini bahwa perkataan itu adalah hasil dari jerih payahnya sendiri. Wallahu A’lam. Semoga kita menjadi orang yang memuliakan guru-guru kita dan ilmu mereka sehingga setiap kita berhak mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Mari kita doakan guru-guru kita semoga mereka senantiasa mendapat perlindungan dan rahmat dari Allah swt, Lahumul Fatihah.

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger