Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Sufi. Show all posts
Showing posts with label Sufi. Show all posts

Akhlak Dua Ulama' (Abu Ishaq al-Shirazi dan Syekh Sahlaki)

Ketika Syekh Abu Ishaq bertemu Sufi

Ini sejumput cerita tentang seorang ulama besar bernama Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi (393–476 H/1003–1083 M). Nama lengkap ulama besar mazhab Syafi’i ini adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdillah Asy-Syirazi Al-Fayruzabadi.

Kitab Al-Muhazzab karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah salah satu kitab rujukan utama dalam mazhab Syafi’i sampai abad ke 6 hijriah.

Al-Muhazzab banyak menjadi bahan kajian ilmiah bagi para ulama, sehingga muncul banyak karya ilmiah yang didasarkan darinya baik berupa Syarah dan Hasyiah. Yang paling termasyhur tentu saja kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi.

Suatu ketika Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi menjadi utusan Khalifah ke Bastam dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi antara Sultan Malik Syah dengan ‘Amid Abu al-Fath bin Laits, seorang pejabat di Iraq. Demikian dikisahkan dalam al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283). Ini artinya Khalifah al-Muqtadi sangat mempercayai Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi.

Nama besar Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, sebagai utusan Khalifah, menjadi magnet tersendiri. Para ulama keluar menemui beliau, termasuk Syekh Juwaini yang dikenal sebagai Imam al-Haramain, guru dari Imam al-Ghazali. Rakyat juga berbondong-bondong menyambut sambil membawa roti dan buah-buahan.

Dikisahkan seorang Syekh Sufi bernama as-Sahlaki mendatangi Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ibn al-Atsir menyebut Sahlaki ini sebagai “Syaikhun Kabirun”. Abu Ishaq yang diberitahu kedatangan Syekh as-Sahlaki ini langsung keluar menemuinya dengan berjalan kaki.

Syekh as-Sahlaki segera turun dari kendaraannya dan mencium tangan Syekh Abu Ishaq. Syekh Abu Ishaq membalas penghormatan ini dengan mencium kaki Syekh as-Sahlaki, lantas menempatkan Syekh as-Sahlaki di kursinya, sementara Syekh Abu Ishaq memilih duduk di bawah di antara kedua tangan Syekh as-Sahlaki.

Jelas tampak kedua orang ulama besar berbeda disiplin ilmu ini saling menghargai. Yang satu ahli fiqh; satunya lagi seorang sufi. Syekh as-Sahlaki memberi hadiah, yang disebut-sebut merupakan perbendaharaan dari masa Syekh Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi agung generasi sebelumnya. Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi menerimanya dengan gembira.

Syekh as-Sahlaki ini, hasil pelacakan saya, nama lengkapnya adalah Abu al-Fadl Muhammad bin Ali bin Ahmad as-Sahlaki. Beliau mengumpulkan berbagai pernyataan dan ujaran Syekh Abu Yazid al-Busthami.

Itulah contoh pertemuan antara seorang faqih dengan seorang sufi. Contoh ini menjadi penting karena seringkali terjadi pertentangan antara ahli Hadits dengan ahli Fiqh, dan juga antara ahli Fiqh dengan ahli Tasawuf. Maka jauh-jauh hari Imam Malik sudah mengingatkan:

“Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka dia zindiq. Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf maka dia fasik. Barang siapa menggabung keduanya maka dia akan sampai pada hakikat.”

Para ulama, apapun disiplin keilmuannya, bila bertemu akan saling menghormati. Bahkan kalaupun mereka saling berbeda pandangan. Tidak ada caci-maki yang keluar dari lisan mereka. Itulah akhlak yang diwariskan kepada kita semua. Maukah kita meneladaninya? Insya Allah.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Rujukan: Ibn al-Atsir, al-Kamil fit Tarikh (8/283)

‎ذِكْرُ مَسِيرِ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ إِلَى السُّلْطَانِ فِي رِسَالَةٍ.
‎فِي هَذِهِ السَّنَةِ، فِي ذِي الْحِجَّةِ، أَوْصَلَ الْخَلِيفَةُ الْمُقْتَدِي بِأَمْرِ اللَّهِ الشَّيْخَ أَبَا إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيَّ إِلَى حَضْرَتِهِ، وَحَمَّلَهُ رِسَالَةً إِلَى السُّلْطَانِ مَلِكْشَاهْ، وَنِظَامِ الْمُلْكِ، تَتَضَمَّنُ الشَّكْوَى مِنَ الْعَمِيدِ أَبِي الْفَتْحِ بْنِ أَبِي اللَّيْثِ، عَمِيدِ الْعِرَاقِ، وَأَمَرَهُ أَنْ يُنْهِيَ مَا يَجْرِي عَلَى الْبِلَادِ مِنَ النُّظَّارِ. فَسَارَ فَكَانَ كُلَّمَا وَصَلَ إِلَى مَدِينَةٍ مِنْ بِلَادِ الْعَجَمِ يَخْرُجُ أَهْلُهَا بِنِسَائِهِمْ وَأَوْلَادِهِمْ يَتَمَسَّحُونَ بِرِكَابِهِ، وَيَأْخُذُونَ تُرَابَ بِغْلَتِهِ لِلْبَرَكَةِ.
‎وَكَانَ فِي صُحْبَتِهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَعْيَانِ بَغْدَاذَ، مِنْهُمُ الْإِمَامُ أَبُو بَكْرٍ الشَّاشِيُّ وَغَيْرُهُ.
‎وَلَمَّا وَصَلَ إِلَى سَاوَةَ خَرَجَ جَمِيعُ أَهْلِهَا، وَسَأَلَهُ فُقَهَاؤُهَا كُلٌّ مِنْهُمْ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَلَمْ يَفْعَلْ، وَلَقِيَهُ أَصْحَابُ الصِّنَاعَاتِ، وَمَعَهُمْ مَا يَنْثُرُونَهُ عَلَى مِحَفَّتِهِ، فَخَرَجَ الْخَبَّازُونَ يَنْثُرُونَ الْخُبْزَ، وَهُوَ يَنْهَاهُمْ، فَلَمْ يَنْتَهُوا، وَكَذَلِكَ أَصْحَابُ الْفَاكِهَةِ، وَالْحَلْوَاءِ، وَغَيْرُهُمْ، وَخَرَجَ إِلَيْهِ الْأَسَاكِفَةُ، وَقَدْ عَمِلُوا مُدَاسَاتٍ لِطَافًا تَصْلُحُ لِأَرْجُلِ الْأَطْفَالِ، وَنَثَرُوهَا، فَكَانَتْ تَسْقُطُ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ، فَكَانَ الشَّيْخُ يَتَعَجَّبُ، وَيَذْكُرُ ذَلِكَ لِأَصْحَابِهِ بَعْدَ رُجُوعِهِ، وَيَقُولُ: مَا كَانَ حَظُّكُمْ مِنْ ذَلِكَ النِّثَارِ؟ فَقَالَ لَهُ بَعْضُهُمْ: مَا كَانَ حَظُّ سَيِّدِنَا مِنْهُ، فَقَالَ: [أَمَّا] أَنَا فَغُطِّيتُ بِالْمِحَفَّةِ، وَهُوَ يَضْحَكُ، فَأَكْرَمَهُ السُّلْطَانُ وَنِظَامُ الْمُلْكِ، وَجَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَ إِمَامِ الْحَرَمَيْنِ أَبِي الْمَعَالِي الْجُوَيْنِيِّ مُنَاظَرَةٌ بِحَضْرَةِ نِظَامِ الْمُلْكِ، وَأُجِيبَ إِلَى جَمِيعِ مَا الْتَمَسَهُ، وَلَمَّا عَادَ أُهِينَ الْعَمِيدُ (وَكُسِرَ عَمَّا كَانَ يَعْتَمِدُهُ) ، وَرُفِعَتْ يَدُهُ عَنْ جَمِيعِ مَا يَتَعَلَّقُ بِحَوَاشِي الْخَلِيفَةِ.
‎وَلَمَّا وَصَلَ الشَّيْخُ إِلَى بِسِطَامٍ خَرَجَ إِلَيْهِ السَّهْلَكِيُّ، شَيْخُ الصُّوفِيَّةِ بِهَا، وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ، فَلَمَّا سَمِعَ الشَّيْخُ أَبُو إِسْحَاقَ بِوُصُولِهِ خَرَجَ إِلَيْهِ مَاشِيًا، فَلَمَّا رَآهُ السَّهْلَكِيُّ أَلْقَى
نَفْسَهُ مِنْ دَابَّةٍ كَانَ عَلَيْهَا، وَقَبَّلَ يَدَ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ، فَقَبَّلَ أَبُو إِسْحَاقَ رِجْلَهُ، وَأَقْعَدَهُ مَوْضِعَهُ، وَجَلَسَ أَبُو إِسْحَاقَ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَأَظْهَرَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ تَعْظِيمِ صَاحَبِهِ كَثِيرًا، وَأَعْطَاهُ شَيْئًا مِنْ حِنْطَةٍ ذُكِرَ أَنَّهَا مِنْ عَهْدِ أَبِي يَزِيدَ الْبِسْطَامِيِّ، فَفَرِحَ بِهَا أَبُو إِسْحَاقَ.

0 comments

Ngalap Berkah Air Hujan DI Kabah

Ngalap Berkah Air Hujan DI Kabah

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin–ulama Wahabi kontemporer yang sangat populer–mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahabi. Meskipun Syaikh Ibnu Sa’di, termasuk ulama Wahabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda Abuya al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjid al-Haram bersama halaqah pengajiannya. Sementara di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk. Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah shalat dan tawaf yang mereka lakukan. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung yang menggelantung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan airnya dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut, dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah SWT. Akhirnya para polisi pamong praja itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu,

“Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik.”

Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera berhamburan menujuhalaqah al-Imam al-Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dan menanyakan perihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk melakukannya. Akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi baduwi tersebut. Bahkan mereka berkata kepada para polisi baduwi itu,

“Kami tidak akan memperhatikan teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”

Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi baduwi itu pun segera mendatangi halqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka. Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit menghampiri halqah Sayyid ‘Alwi dan duduk di sebelahnya. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Dengan penuh sopan dan tata krama layaknya seorang ulama, Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi:

“Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?”

Sayyid ‘Alwi menjawab:

“Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”

Syaikh Ibnu Sa’di berkata:

“Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Sayyid ‘Alwi menjawab:

“Karena Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:

وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ مُّبَرَكًۭا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50:9).

Allah SWT juga berfirman mengenai Ka’bah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍۢ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًۭا وَهُدًۭى لِّلْعَلَمِينَ ﴿٩٦﴾

“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3:96).

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi:

“Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”

Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di:

“Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi Baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan orang dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang yang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu, lalu ambillah air di situ di depan para polisi baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”

Akhirnya mendengar saran Sayyid ‘Alwi tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tingkah laku Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Baduwi itu pun pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.

Semoga Allah SWT merahmati Sayyidina al-Imam ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani. Amin.

Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya).dan kisah ini sudah mendunia. Beliau termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.

Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim

sumber http://www.shofwatuna.org/2013/12/cerita-ngalap-berkah-sayyid-alwi-bin-abbas-al-maliki/

0 comments

SYEIKH ABDUL DJALIL MUSTAQIM

SYEIKH ABDUL DJALIL MUSTAQIM

Hadratusy Syaikh Abdul Djalil Mustaqim sangat sarat dengan kesejatian seorang Sufi. Beliau selalu akrab menyambut tamu- tamunya, tutur katanya halus dan santun, disertai senyum yang menyejukkan. Hampir setiap hari beliau menerima tamu, tak pernah tampak lelah pada raut mukanya. Setiap kali beliau memasuki ruangan yang terletak tak jauh dari rumahnya, puluhan tamu serentak berdiri menghormati sembari berebut ingin menyalaminya. "Jadi Sufi itu harus banyak senyum. Dan jangan merasa terbebani persoalan-persoalan berat." Katanya.

Beliau lahir di Tulungagung 20 juni 1943. Putra dari Syaikh Mustaqim bin Husain yang juga seorang mursyid dan seorang pejuang kemerdekaan. Sejak masa kanak-kanak, beliau belajar agama pada Ayahandanya sendiri. Begitu lulus Sekolah Rakyat, beliau merobek ijazahnya, dan membuangnya ke sungai. Ayahnya kaget, lalu menegurnya. "Bah, ijazah kan benda mati yang tidak bakal dibawa ke liang kubur." Kata Syaikh Djalil kecil saat itu.

Sejak itu, beliau bertekad menuntut ilmu agama dari pesantren ke pesantren. Beliau pernah nyantri di pondok Pesantren Mojosari, Desa Loceret, Nganjuk-Jatim (1959-1970), kemudian di Ponpes Ploso, Desa Mojo, Kediri-Jatim. Tekadnya yang besar untuk menuntut ilmu, mendorongnya mengembara dari pesantren ke pesantren di seluruh Jawa, walaupun hanya mampir satu dua hari atau sampai dua minggu. Bisa dipahami jika beliau punya banyak guru. Ada kejadian lucu ketika beliau suatu saat berguru kepada seorang Kyai. kawan- kawannya sering memanggilnya "Mbah" karena perilaku dan sikapnya sudah seperti orang tua. Pernah suatu ketika ada seorang pelacur menemuinya, minta doa agar 'Bisnis' nya laris. Dengan baik Syekh Djalil menerima tamu istimewa itu seperti beliau menerima tamu-tamu yang lain. "Dia datang minta doa penglaris, ya.. saya beri," Katanya enteng. Tapi tentu saja doa sang Sufi bukan sembarang doa, apa yang terjadi setelah itu? Beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi sambil menangis, perempuan itu bertobat.

Syeikh Djalil punya hobi bersedekah. "Ayah saya sangat memanjakan anak-anaknya (7 anak; 4 putra, 3 putri). Dulu beliau sangat sengsara mencari makan (profesi Mbah Mustaqim adalah tukang Sol sepatu). Karena itu beliau berpesan supaya anak-anaknya harus suka bersedekah, karena sedekah merupakan bagian salah satu cara untuk keluar dari kesengsaraan." Tuturnya. Maka, baginya bersedekah merupakan bagian dari Tirakat, sebuah upaya untuk memenangkan perang batin antara kehendak menyimpan benda (untuk diri sendiri) dan memberi benda yang kita miliki (untuk orang lain).

Dan sebagai Sufi, beliau tidak terlalu mementingkan uzlah atau menyepi untuk merenung. Menurutnya, mengamalkan tarekat sebagai seorang sufi bukan hanya memegang tasbeh, berdzikir di masjid, atau melakukan zawiyah/uzlah tanpa mempedulikan kehidupan duniawi dan kepentingan masyarakat. Menurutnya, shalat 5 waktu dengan disiplin, mencari nafkah dengan jujur, menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh, merupakan kehidupan bertarekat. "Tapi ingat, jangan sampai semua itu menyebabkan kita melupakan Allah SWT. Enggak ada larangan berbisnis bagi pengikut tarekat. Bisnis tidak menghalangi seseorang untuk masuk surga. Sebab ada berjuta jalan menuju Allah," Katanya.

Dan kini, Jumat 7 januari 2005, Syeikh Djalil yang penyabar telah menghadap Allah SWT. Pesan-pesan yang saya pernah dengar langsung dari beliau, antara lain:

Belajar tarekat itu wajib bagi manusia yang imannya tipis, karena sepersekian detik pun manusia tidak pernah lepas dari pikirannya akan dunia (istri, anak, finance, pekerjaan, studi, dll).Saya ini selalu sabar menjalani cobaan, meskipun disakiti orang-orang dekat dan teman sejawat. Tapi hati ini selalu saya tata untuk tetap tenang tanpa emosi walau berhadapan dengan model/karakter orang yang berbeda-beda, sekalipun yang menemuiku seorang penjahat.Tarekat itu anti maki-maki, tapi menyelesaikan masalah dengan musyawaroh, karena wong tarekat itu ahli dzikir bukan dengan akal pikiran yang selalu ditumpangi hawa nafsu.Wong Syadziliyyah itu kendel, harus berjuang untuk rakyat. Musti mendahulukan kepentingan-kepentingan umum seperti membuat madrasah, membuat masjid, atau dengan rajin puasa.Kondisi dan situasi negara ini sulit di prediksi oleh akal rasional, karena negeri ini adalah negeri yang paling banyak Waliyullahnya.Saya ini banyak mengkader murid, tapi tetap saja tidak resah meskipun tidak ada yang jadi. Dan lain-lain.

KISAH SYEIKH ABDUL DJALIL MUSTAQIM

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (01)
Tanpa diduga mbah Jalil lansung masuk ke pondok dan berbicara dihadapan santri senior yg barusan selesei dari makam.
"kowe penak, sisok ndek oro-oro mahsyar iso lansung budal (kumpul bersama rombongan) nek aku gak iso lansung budal.."
mbah Jalil melanjutkan dawuhnya lagi "gusti Allah nakoni aku, Jalil ...endi pertanggung jawabanmu nang santri-santrimu ..."
terlihat para santri senior mulai mandi keringat mendengar dawuh mbah Jalil, "aku ngereni, aku bakalan ngenteni kabeh santri-santriku kabeh,"
* masya Allah....ngapunte mbah Jalil, pangestune....

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (02)

Ditengah - tengah dzikir santri ini terlelap dan bermipi, dalam mimpinya ia didatangi seorang wanita yg mengaku sebagai nyai ratu roro kidul,
"kamu kepingin apa...?" tanya ratu
"aku gak minta apa2..." jawab santri
ratu nyai roro kidul lalu mengambil emas batangan dan diperlihatkan kepada santri
"mau ini...." rayu ratu
"tidak..." jawab santri
lalu ratu nyai roro kidul mengambil banyak sekali emas batangan berkarung-karung menawarkan kepada sisantri, tapi santri ini tetap tidak mau dan tidak goyah sedikitpun.
"apa kamu minta masjid dari emas?...itu lihatlah.."kata ratu sambil menunjukkan kpd santri. terlihatlah masjid besar terbuat dari emas berkilauan, santri ini takjub dan hatinya menjadi goyah. santri ini mulai mendekati masjid dan berkeinginan masuk, setelah dekat tiba-tiba santri ini mendengar orang bertepuk-tepuk sambil memanggilnya.
"ojok...ojok.... ojok gelem, iku mbujuk'i..."
santri ini menoleh melihat siapa yg memanggilnya dan melarangnya masuk masjid emas dilihatnya sosok gurunya mbah Jalil melambaikan tangan memanggilnya, ternyata mbah jalil yg telah menyelamatkannya dari godaan ratu nyai roro kidul. nyai ratu begitu ketakutan melihat kedatangan mbah Jalil,
"ngapunten mbah Jalil, kulo mboten semerap nek niki santri panjenengan.... " ucap nyai ratu sambil berjalan pergi.

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (03)
Diserambi pondok tampak mbah Jalil dan santri sepuh mbah soleh sedang duduk bersila sambil bercengkrama. Tidak begitu lama datang seorang tamu wanita yang tampak modis sekali. Dilihat dari cara memakai kerudungnya kelihatan kalau wanita ini tidak terbiasa berbusana muslimah,
"assalamu'alaikum...pak kiyai Jalil ada ?" sapa wanita itu.
"wa'alaikum salam...iya saya sendiri...." jawab mbah Jalil, rupanya wanita ini tidak pernah bertemu mbah jalil sehingga tidak tahu kalau prang didepanya ini mbah kiai jalil. Setelah duduk dihadapan mbah Jalil tanpa malu-malu wanita ini lansung berkata kpd mbah jalil.
"begini kiai, saya ini seorang pelacur, minta didoakan biar saya ini laris seperti dulu lagi, sudah beberapa minggu ini langganan saya sepi..."
Mbah Jalil tersenyum, beliau berkata :
"iya akan saya doakan" Mbah Jalil mengangkat tangannya dan berdoa, sedang wanita pelacur ini dg khusuk mengamini. Tampak mbah sholeh yang duduk disamping mbah jalil mengerutkan keningnya merasa penasaran melihat sikap mbah Jalil Setelah wanita itu pergi, mbah sholeh lansung bertanya kpd mbah jalil.
"ngapunten kyai, kok didoakan laris, itu kan pelacur kyai, semakin laris semakin banyak kemaksiatan yang terjadi.."
dengan santainya mbah jalil menjawab,
"aku jg ngerti leh...., biarpun wanita td minta doa penglaris aku tidak mendoakan itu..."
"Trus mbah kyai tadi doa bagaimana?" tanya mbah sholeh.
"aku doakan biar wanita td diberi hidayah oleh Allah dan diberi rizqi yang halal" jawab mbah Jalil.
Setelah dari mbah Jalil wanita pelacur ini lansung laris lagi, dulu sewaktu masih laris biasanya dia menerima langganan 5 orang tiap hari tapi sekarang bisa mencapai sepuluh 10 orang, orang jawa bilang "kebacut larise"
Pertama wanita ini tampak begitu senang karena sangat laris tapi lama-lama kewalahan karena begitu banyak pelanggan yang mengantri pada dirinya, wanita ini sangat tersiksa dg kondisi sangat larisnya ini, tubuhnya terasa capek dan tulangnya serasa copot semua.

Dimalam-malam berikutnya wanita ini mulai sering teringat dg mbah Jalil dg keampuhan doanya, wanita ini tetap mengira mbah Jalil mendoakan penglaris pd dirinya padahal tidak begitu. Wanita ini berhari-hari merenungi dirinya, wanita ini merasa bahwa Tuhan masih mengasihinya, dg bukti bahwa mbah jalil yang seorang kyai masih mau menerima dan mendoakan dirinya walau dirinya seorang pelacur. Wanita ini mulai malu kepada Allah, membalas kenikmatan Allah dg kemaksiatan, ia akhirnya bertekad untuk tobat dg nyantri kepada mbah jalil. Ketika mbah jalil melihat kedatangan wanita ini, cepat-cepat beliau memanggil mbah sholeh untuk mendampinginya Wanita pelacur ini akhirnya ikrar tobat dihadapan mbah Jalil dan nyantri kpd beliau, mbah Jalil lalu memberi aurod kpdnya. Setelah wanita ini berpamitan mbah Jalil berkata kpd mbah sholeh
"kamu kenal wanita tadi....?"
"mboten yi..." jawab mbah sholeh
"itu wanita yang dulu pernah kesini minta doa penglaris..." kata mbah Jalil
"masya Allah jd wanita td yang pelacur dulu, kok sekarang jd beda ..." kata mbah sholeh heran
"iya dia sekarang memangg sudah tobat..." jawab mbah jalil

*) mbah sholeh adalah santri sepuh PETA, disebut sepuh bkn berarti mondoknya sudah sangat lama tapi sewaktu masuk nyantri di pondok mmg sdh sepuh hehehe...

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (04)
Dulu sewaktu mbah Djalil pergi menghadap Allah banyak para murid yang tidak bisa serta merta menerima kenyataan tersebut. Seperti para sahabat yang ditinggal Nabi Muhammad kala itu, banyak para murid kyai Djalil yang tiba-tiba jadzab, ada juga murid kyai Djalil yang dalam jadzabnya berkata ingin sekali menyusul kyai Djalil krn ingin tetap berdekatan dg mbah Djalil, alhamdulillah murid tsb seminggu kemudian menyusul kyai Djalil. Ada peristiwa yang menurutku bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita, karena apa yang kita kita kira baik itu belum tentu menjadi benar karena sebab lain. Yaitu ketika ada salah satu murid kyai Djalil yang berdo’a :
"ya Allah ampunilah dosa-dosa kyai Djalil dan terimalah amal baik beliau"
Berhari-hari murid ini larut dalam dzikir dan selalu mendoakan kyai Djalil seprti doa tsb diatas Sewaktu murid ini pergi ke pondok PETA, dia bertemu ibu nyai Djalil, ibu nyai lansung menegur murid ini.
"kang nek ndungo ojok ngunu gak sopan, ojok ndungo dusone dingapuro amale diterimo, gak pantes, ndungoho njaluk pangestu ngunu ae...."
Murid ini kaget mendengar apa yang disampaikan ibu nyai, padahal selama ini ia berdoa sendirian tidak ada yang mendampingi dan itu dilakukan dirumahnya tidak dipondok PETA. Maksud ibu nyai Djalil mengatakan itu adalah apa yang dilakukan murid ini sama seperti orang miskin mendoakan orang yang kaya raya supaya bisa membeli makan pakaian dll, murid ini bagaikan si miskin dan mbah kyai Djalil orang yang kaya raya. Dan ini jg membuktikan ibu nyai Djalil jg bukan orang sembarangan, tidak bisa dibuat main-main dan di fitnah macam- macam.

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (05)
Di waktu haul PETA beberapa tahun yang lalu, yang kebetulan waktu itu yang ceramah adalah habib umar al muhtohar dari semarang. Ditengah2 ceramah ada santri yang disuruh keluarga ndalem untuk membagikan nasi kotak kepada para hadirin yang berada didepan pondok, serta merta habib umar merasa terganggu ceramahnya, beliau menegur santri tsb supaya membagi nasinya nanti saja
"weh...weh...la po iku..."
Tapi beberapa saat kemudia habib umar berkata lagi
"oh yo terusno wes gak po po....."
Usat punya usut ternyata ketika habib umar menegur santri tersebut, habib umar melihat mbah Djalil ikut membantu santri membagikan nasi (insya Allah mbah Djalil waktu itu sudah satu tahun berpindah tempat dari dunia ke akhirat) Dan setelah habib Umar melihat mbah Djalil yg ikut membantu membagikan nasi beliau mempersilahkan santri untuk terus membagikan nasi. Ini pelajaran yang berharga bagi kita semua didalam menghadiri haul nanti, kita harus bersikap sopan santun, berpakaian yang rapi, jangan bersikap urakan karena beliau mbah Djalil sendiri yang menyambut dan menjamu kedatangan kita, walau kita tidak bisa melihat kehadiran beliau.

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (06)
Tiba-tiba mbah Djalil mendatangi muridnya seorang santri senior sewaktu santri ini melakukan wirid.
"ayo ikut aku...." kata mbah Djalil "pegang tanganku, dan ikutilah apa yang aku baca" kata mbah Djalil lagi.
Santri ini memegang tangan mbah Djalil, dan mengikuti membaca dua kalimat Thoyyibah yang dibaca mbah Djalil.
"pejamkan matamu jangan kau buka sampai aku menyuruhmu..." pesan mbah djalil.
Tidak begitu lama mbah Djalil menyuruh santri ini membuka matanya, dan beliau berdua sudah berada dimakkah.
"mari kita thowaf...." ajak mbah Djalil.
Setelah melakukan thowaf mbah Djalil menyuruh santri ini memegang tangannya kembali dan berpesan seperti semula. Walau bagaimana santri ini jadi penasaran dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi, tanpa bisa dicegah beliau membuka matanya. Seketika itu juga beliau terpisah dg mbah Djalil, beliau celingak-celinguk berada disuatu daerah yang beliau tidak mengenalnya, setelah tanya kesana-kemari beliau tahu kalau dirinya berada didaerah sekitar Jakarta. Beliau berpikir bagaimana caranya pulang, karena beliau tidak membawa duit sama sekali, beliau memandangi dirinya yang bersarung, berpeci dan tidak memakai alas kaki, beliau tersenyum mengingat pengalamannya barusan, utunglah beliau teringat kalau mempunyai teman di daerah beliau terdampar. Setelah bertemu temannya beliau meminjam duit buat ongkos pulang, sejak itu sampai sekarang beliau selalu menyelipkan uang di peci / songkok hitamnya, buat jaga- jaga kalau peristiwa itu terulang kembali hehehehehe.....

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (07)
Ketika kyai Saladin masih dalam kandungan, mbah Djalil sudah dawuh :
"inilah yang kelak jadi penggantiku (sesuai petunjuk)"
Dan sewaktu mas kyai Saladin masih kecil, mbah Djalil berkomentar :
"kelak Saladin ini kedudukannya melebihi kedudukanku, jauh berada diatasku..."
Sebelum mbah Djalil wafat beliau memberi gambaran dg jelas,
"besok di jaman Saladin banyak santri yang terkaget-kaget (dg kebijakannya), terjadi kegaduhan, dan banyak santri yang tidak percaya kepadanya..."

SELAMAT DATANG DI PONDOK PETA SEMOGA SELALU DIBERI KETETAPAN IMAN, HATI YG LAPANG DAN BERCAHAYA, SELAMAT DI DUNIA DAN DI AKHIRAT DAN DI BERI APA SAJA YANG HAROKAH DUNIA AKHIRAT.

Oleh: Damar Kasaenan
Sumber: http://sufiallusiy.blogspot.co.id/2016/05/syeikh-abdul-djalil-mustaqim.html?m=1

1 comments

Perdebatan Dasar Hukum Amaliah Nishfu Sya’ban



Perdebatan Dasar Hukum Amaliah Nishfu Sya’ban
(Moh. Dliya’ul Chaq)
Bag. 1 

Perdebatan mengenai amaliah nishfu Sya’ban dikalangan ulama’ tidak menemukan titik temu. Berbagai pendapat muncul di kalangan ulama’:
1.    Sebagian menyatakan bahwa amaliah itu memiliki dasar yang jelas dari hadits, sehingga boleh bahkan dianjurkan untuk dilaksanakan.
2.    Sebagian menyatakan bahwa amaliah tersebut tidak berdasar dari hadits ataupun qur’an secara tegas tetapi boleh untuk melakukannya sebab bulan Sya’ban adalah bulan istimewa
3.   Sebagian menyatakan bahwa amaliah tersebut tidak memiliki dasar dari hadits maupun al-Qur’an sehingga amaliah ini tergolong bid’ah yang dilarang oleh agama.
Golongan yang tidak memperbolehkan amaliah nishfu Sya’ban cenderung menetapkan segala hukum harus berdasarkan pada al-Qur’an atau hadits yang secara tegas menerangkan amaliah ibadah tersebut. Amaliah ibadah yang tidak pernah diungkapkan atau dilakukan oleh rasulullah saw tidak boleh dilakukan karena tergolong bid’ah.
Sementara golongan yang memperbolehkan / menganjurkan amaliah nishfu Sya’ban lebih cenderung menetapkan hukum berdasarkan al-qur’an, hadits, factor pendorong lain yang memungkinkan amaliah ibadah dilaksanakan serta malakukan interpretasi terhadap syariah. Sehingga amaliah ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah menurut golongan ini dapat dilaksanakan asalkan memiliki dalil pendukung dari qur’an maupun hadits baik secara langsung maupun tidak langsung selama masih dalam koridor tidak menyalahi syariah / nash yang lain yang lebih spesifik melarangnya.
Model berfikir para ulama’ Islam seperti ini sudah ada sejak masa Sahabat Rasulullah saw pasca rasulullah saw wafat. Sayyidina Umar bin Khattab sering menetapkan hokum yang secara eksplisit terlihat bertentangan dengan nash qur’an maupun hadits namun ketetapan hukumnya memiliki dasar lain, atau bahkan hanya bersandar pada mashlahat ummat. Berlanjut pada masa itu, terdapat dua golongan yakni ahli hadits (ulama’ daerah hijaz) dan ahli ra’yu (ulama’ daerah jauh dari Hijaz, misalnya Iraq). Ahli hadits cenderung menetapkan hokum selalu berdasar hadits, sementara ahli ra’yu cenderung lebih pada penggunaan nalar yang dipadukan dengan nash (qur’an / hadits).
Melihat fenomena seperti ini, masyarakat muslim seharusnya tidak perlu untuk menghukumi kelompok muslim lain yang berbeda pandanganya. Hal ini karena sebenarnya sama-sama memiliki dasar. Selain itu, kontruksi pengetahuan yang dimiliki seseorang tentunya dipengaruhi oleh informasi ilmu yang diperolehnya ketika belajar. Maka, ketika informasi ilmu yang diperolehnya berasal dari golongan A, maka pasti akan berbeda dengan orang yang golongan B. Transmisi keilmuan yang berbeda pastinya akan membentuk pola pikir yang berbeda juga. Maka tidaklah salah berbeda menurut agama Islam. Dalam salah satu kaidah dijelaskan bahwa apapun hasil ijtihad (mengerahkan kemampuan berfikir untuk menemukan sesuatu) tidaklah boleh disalahkan dengan ijtihad yang lain. Bahkan dalam sebuah hadits, ijtihad hakim jika benar akan mendapat dua pahala, sedangkan jika salah tetap akan mendapat pahala walaupun cuma satu pahala. Dalam al-Qur’an juga ditegaskan bahwa manusia diciptakan Allah memang berbeda-beda. Artinya, perbedaan adalah sunnatulloh yang tidak mungkin dihindari. Yang salah adalah berselisih/bertengkar sampai menuduh kafir terhadap muslim lainnya.
Terkait masalah amaliah ibadah nishfu Sya’ban, golongan yang memperbolehkan dan golongan yang menganjurkan diantaranya adalah Imam al-Ghazali, Ibnu Taymiyah, Imam Syafi’I, dan lain sebagainya. Dasar yang digunakan oleh golongan ini adalah beberapa hadits:
1.      Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi)
2.      Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ibnu Majah, Musnad Imam Ahmad hadits no.24825)
3.      Rasulullah saw bersabda,: “Allah mengawasi dan memandang hamba hamba Nya di malam nisfu sya’ban, lalu mengampuni dosa dosa mereka semuanya kecuali musyrik dan orang yg pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn Hibban hadits no.5755)
4.      Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (Sunan Ibn Majah 1:445; Al-Targhib 2:118; Musnad Ahmad 2:368, h.6604)
5.      Nabi bersabda: Tatkala datang malam Nisfu Sya’ban Allah memberikan ampunanNya kepada penghuni bumi, kecuali bagi orang syirik (musyrik) dan berpaling dariNya (HR Ahmad).
6.      Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah)
7.      Diriwayatkan dari Abu Umamah al Bahili, Bersabda Rasulullah SAW : Lima malam yang tidak akan ditolak doa didalamnya, Malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya'ban, Malam Jumat, Malam Idul Fitri dan Malam Idul Adha. (Hadits Marfu' dalam Tarikh Dimasyqi Ibn Asakir)
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ لَيَالٍ لا تُرَدُّ فِيهِنَّ الدَّعْوَةُ : أَوَلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ ، وَلَيْلَةُ النَّحْرِ

8.      Rasulullah Saw bersabda, :”Apabila sudah datang malam Nisfu Sya’ban, maka berdirilah untuk salat di malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena Allah swt turun ke langit dunia pada Nisfu Sya’ban sampai tenggelam matahari pada hari itu. Ia berfirman: Siapakah yang memohon ampunan untuk aku ampuni, siapa yang memohon rezeki untuk aku beri, siapa yang mendapat musibat untuk aku sembuhkan, dan seterusnya, sampai terbit fajar”. (Sunan Ibn Majah, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1: 444, nomor hadis 1388; Al-Targhib 2:119; Taj al-Jami’ al-Ushul 2:93)
9.      Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “Bulan Sya’ban itu bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal oleh Tuhan. Aku menginginkan saat diangkat amalku aku dalam keadaan sedang berpuasa (HR Nasa’I dari Usamah).
10.   Ibn Ishak meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pernah Rasulullah memanggil isterinya, Aisyah dan memberitahukan tentang Nisfu Sya’ban. “Wahai Humaira, apa yang engkau perbuat malam ini? Malam ini adalah malam di mana Allah yang Maha Agung memberikan pembebasan dari api neraka bagi semua hambanya, kecuali enam kelompok manusia”.
11.   Dari Ummu Salamah: Aku tidak melihat Nabi saw berpuasa dua bulan terus menerus kecuali Sya’ban dan Ramadhan (Al-Taj al-Jami’ al-Ushul 2:93)
12.   Dari “Aisyah: Aku tidak melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasanya sampai sebulan kecuali di bulajn Ramadhan, dan aku tidak melihatnya paling banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban (Al-Taj al-Jami’ al-Ushul 2:93)
13.   Nabi saw bersabda: Apabila datang malam Nisfu Sya’ban, salatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya (Sunan Ibn Majah 1:444)
14.   Nabi saw bersabda: Siapa yang berpuasa pada hari Nisfu Sya’ban, ia memperoleh pahala seperti berpuasa dua tahun: tahun yang lalu dan tahun yang akan datang (Kanz al-‘Ummal 14:178, h. 38293)
15.   Sehubungan dengan hal itu Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah ra.” lam yakunin Nabiyi sha mim yashumu aksara min sya’baana finnahu kaana yashumuhu kulluhu kaana yashumuhu illa qalilan. Maksud Aisyah dalam periwayatan ini bahwa Nabi Muhammad SAW paling banyak berpuasa pada bulan Sya’ban.

Dari beberapa hadits terkait keistimewaan bulan sya’ban serta hadits yang secara tegas menyatakan nishfu sya’ban, beberapa ulama’ berpendapat bahwa nishfu sya’ban dengan mengamalkan beberapa amaliah ibadah diperbolehkan, di antara beberapa pendapat ulama’-ulama’ tersebut adalah:
1.      Syaikh‘Abdul Qadir al-Jailaniy berkata, “Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling mulia setelah Lailatul Qodr.” (Kalaam Habiib ‘Alwiy bin Syahaab)
2.      Berkata Imam Syafii rahimahullah : “Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319).
3.      Dalam  al-Fawaaidul Mukhtaaroh Diceritakan bahwa Ibnu Abiy as-Shoif al-Yamaniy berkata, “Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan sholawat kepada Nabi saw, karena ayat Innallaaha wa malaaikatahuu yushalluuna ‘alan Nabi … diturunkan pada bulan itu. (Lihat Kitab Ma Dza Fiy Sya’ban)
4.      Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karena pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
5.      Ibnu Taimiyyah menghidupkan Nishfu Sya’ban dengan amalan khusus. Ibnu Taimiyah, (Ulama Besar yang selalu menjadi rujukannya wahabi/salafy) mengkhususkan amalan sholat pada nishfu Sya’ban dan memujinya: Dalam karyanya Majmu’ Fatawa pada jilid 24 halaman 131 mengenai amalan Nishfu Sya’ban sebagai berikut: “Apabila seorang itu menunaikan sholat pada malam Nishfu Sya’ban secara individu atau berjamaah secara khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebilangan masyarakat Islam maka hal itu adalah Baik”. Pada halaman 132 di kitab yang sama itu, Ibnu Taimiyyah mengakui adanya hadits yang mengkhususkan untuk ibadah sholat malam Nishfu Sya’ban, “(Berkenaan malam Nishfu Sya’ban) maka telah diriwayatkan mengenai kemuliaan dan kelebihan Nishfu Sya’ban dengan hadits-hadits dan atsar, di nukilkan dari golongan Salaf (orang-orang dahulu) bahwa mereka menunaikan sholat khusus pada malam Nishfu Sya’ban, sholatnya seseorang pada malam itu secara perseorangan sebenarnya telah dilakukan oleh ulama Salaf dan dalam perkara tersebut terdapat hujjah/dalil maka jangan di-ingkari, manakala sholat secara jama’ah (pada malam nishfu sya’ban) adalah dibina atas hujah/ dalil kaedah pada berkumpulnya manusia dalam melakukan amalan ketaatan dan ibadat”. Sedangkan dalam karyanya Iqtido’ As-sirot Al-Mustaqim pada halaman 266 beliau mengatakan, “(Malam Nishfu Sya’ban) telah diriwayatkan mengenai kemuliaannya dari hadits-hadits Nabi dan pada kenyataan para sahabat telah menjelaskan bahwa itu adalah malam yang mulia dan dikalangan ulama As-Salaf yang meng- khususkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan sholat khusus padanya dan berpuasa bulan Sya’ban, ada pula hadits yang shohih. Ada dikalangan Salaf (orang yang terdahulu), sebagian dari ahli Madinah dan selain mereka sebagian dikalangan Khalaf (orang belakangan) yang mengingkari kemuliannya dan menyanggah hadits-hadits yang diriwayatkan padanya seperti hadits: ‘Sesungguhnya Allah swt. mengampuni padanya lebih banyak dari bilangan bulu kambing bani kalb’. Akan tetapi disisi kebanyakan ulama ahli Ilmu atau kebanyakan ulama Madzhab kami dan ulama lain adalah memuliakan malam Nishfu Sya’ban, dan yang demikian adalah kenyataan Imam Ahmad bin Hanbal dari ulama Salaf, karena cukup banyak hadits yang menyatakan mengenai kemuliaan Nishfu Sya’ban, begitu juga hal ini benar dari kenyataan dan kesan-kesan ulama As-Salaf, dan telah dinyatakan kemuliaan Nishfu Sya’ban dalam banyak kitab hadits Musnad dan Sunan”.
6.      Al-Qasthalani dalam kitabnya, Al-Mawahib Alladunniyah jilid 2 halaman 59, menuliskan bahwa para tabi’in di negeri Syam seperti Khalid bin Mi’dan dan Makhul telah berjuhud (mengkhususkan beribadah) pada malam nishfu sya’ban. Maka dari mereka berdua orang-orang mengambil panutan. Selanjutnya Al-Qasthalany berkata perbedaan pendapat para ulama Syam hanya dalam bentuk cara ibadah pada malam nishfu Sya’ban. Ada yang mengamalkan dimasjid secara berjama’ah yaitu pendapat Khalid bin Mi’dan, Luqman bin ‘Amir dan disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih. Ada lagi yang mengamalkan sendiri-sendiri dirumah atau ditempat lainnya, pendapat ini disetujui oleh Al-Auza’i dan para ulama Syam umumnya.
7.      Dr Wahbah al-Zuhaily menulis dalam Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, menulis, “Disunnahkan menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fithri dan Idul Adhha) serta malam-malam sepeuluh terakhir di bulan Ramadhan untuk Laylatul Qadr, sepuluh malam Dzul Hijjah, malam Nisfu Sya’ban dengan melakukan ibadah seluruh malam atau sebagain besar malam itu, berdasarkan hadis-hadis yang shahih yang menetapkannya” (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh 2:47).
Bersambung....
0 comments

Taushiyah Syekh Abdul Qadir al-Jaylani Melalui Syekh Dr. Muhammad Fadhil Al-Jaylani



Taushiyah Syekh Abdul Qadir al-Jaylani
Melalui
Syekh Dr. Muhammad Fadhil Al-Jaylani
 (Pengumpul Materi: Moh. Dliya’ul Chaq)[1]



Syekh Dr. Muhammad Fadhil Al-Jaylani berasal dari Istambul Turki adalah cucu keturunan Syekh Abdul Qadir al-Jaylani. Beliau adalah peneliti dan Muhaqqiq terhadap karya-karya Ulama’ Islam Dunia. Bermula dari perintah kakeknya (Syekh M. Shiddiq al-Qadiri al-Jaylani) untuk hidup di Madinah sejak berusia belasan tahun, beliau akhirnya menetap di Madnah tanpa mengetahui alas an dan rahasia perintah kakeknya tersebut. Kakeknya adalah mursyid Thariqah Qadiriyyah.
Keseharian Syekh Dr. M. fadhil al-Jaylani di Madinah sering membaca buku di Perpustakaan Masjid. Suatu hari saat berusia 24 tahun, beliau menemukan katalog dan keterangan bahwa kakek buyutnya, Syekh Abdul Qadir al-Jaylani, pernah menulis karya Tafsir. Berawal dari itulah Syekh Dr. Muhammad Fadhil al-Jaylani berniat untuk mencari keberadaan tafsir tersebut.
Melalui izin dari kakeknya dan ayahnya (Syekh Wafiq al-Jaylani), akhirnya beliau mulai melakukan pencarian tafsir tersebut. Bahkan ayah beliau juga ikut berusaha untuk meneliti, sehingga akhirnya kemursyidannya (thariqah qadiriyyah) di Istambul diberikan kepada murid ayahnya.
Selama puluhan tahun keluar masuk perpustakaan muslim dan non muslim di seluruh dunia, akhirnya beliau menemukan manuskrip tafsir tersebut. Pada saat pencarian tersebut, beliau bahkan juga menmukan banyak manuskrip Sykeh Abdul Qadir al-Jaylani yang berada di tangan sbeberapa orang non muslim dan perpustakaan non muslim. Bahkan puluhan-ratusan ribu manuskrip ulama’ Sufi dan ulama’ muslim lainnya yang berada di tangan non Muslim. Dan saat ini, di tangan beliau sudah 40.000 manuskrip yang mayoritas terkait tentang tasawwuf.
Akhirnya pada sekitar tahun 2009/2010, Dr. Rohimuddin (dari Indonesia) ketika berada di Mesir sempat melihat tafsir al-Jaylani yang dijual di bursa buku di Mesir pada waktu itu. Dr. Rohimuddin bertanya kepada penjual, “apakah ini tafsir Syekh Abdul Qadir al-Jayalani ataukan al-Jaylani yang lainnya?”, Penjual buku itu menjawab, “Ini Shulthonul Awliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jaylani”. Ternyata di samping took itu terdapat kerumunan orang yang ditengah-tengahnya adalah Syekh Dr. Fadhil al-Jaylani. Akhirnya Dr. Rohimuddin memperjelas pertanyaan pada Syekh Dr. Fadhil, “Apakah Syekh Abdul Qadir benar-benar memiliki karya tafsir? Selama ini saya todak pernah tahu.”. Beliau menjawab, “Para ulama’ saja tidak tahu. Dan inilah tafsir beliau yang saya temukan selama puluhan tahun”. Akhirnya terjadi kesepakatan bahwa beliau akan diundang ke Indonesia. Tiga bulan sejak pertemuan itulah, Syekh Dr. Muhammad Fadhil pertama kali datang di Indonesia.
Syekh Dr. Muhammad Fadhil menyampaikan taushiyah di Tambakberas yang isinya:
1.         Thoriqh, doa, wirid, dan ibadah lainnya hendaklah diamalkan secara terus menerus (‘ala thariqati al-dawam wa al-istimrar). Segala sesuatu yang baik harus diamalkan secara langgeng, terus menerus dan Ikhlas (Kullu Sya’in Bi al-Dawan wa al-Istimror wa al-Ikhlash). Termasuk wirid setelah sholat maktubah, yakni membaca sholawat, istighfar, al-Fatihah, Surat al-Ahad, Ayat Kursi, Subhanalloh (33x) wa al-Hamdulillah (33x) wa Allohu Akbar (34x) dan Kalimah Laa Ilaaha Illalloh (33x). Inilah keterangan yang saya kutup dari manuskrip Syekh Abdul Qadir al-Jaylani.
2.         Wirid adalah amal ibadah yang dilakukan secara terus menerus (didawamkan). Oleh karenanya, dalam keadaan apapun jangan meninggalkannya, baik dalam keadaan duduk, berdiri ataupun kegiatan lainnya. Ucapkan terus kalimah Laa Ilaaha Illalloh.
3.         Selain wirid thariqah qadiriyah, Syekh abdul Qadir al-Jaylani juga melaksanakan wirid berupa shalat tahajjud, Shalat di waktu Isyraq, Shalat Dluha, dan ibadah badaniyah lainnya. Insya Allah, bagi yang mengamalkannya akan mendapatkan rizqi berupa ketetapan iman, hati bersih, rizqi berupa anak yang sholeh, dan rizqi lainnya termasuk rizqi yang kesekiannya berupa harta benda yang halal. Rizqi yang halal sangatlah penting bagi kita karena akan menghasilkan dzurriyah (keturunan) yang sholihin.
4.         Bacalah surat al-Mulk (Tabarok) dan al-Waqiah sebelum tidur, bukan karena fadhilahnya, tetapi saya sampaikan ini karena wirid ini adalah wirid Syekh abdul Qadir al-Jaylani yang lainnya yang saya temukan dalam beberapa manuskrip.
5.         Thoriqah Qadiriyah akan saya ijazahkan dalam forum ini secara ‘ammah (umum). Tata cara baiat / ‘ahdu terdapat banyak keterangan di manuskrip Syekh Abdul Qadir al-Jaylani yang saya temukan berjudul al-Futuhat.
6.         Thoriqah Syekh Abdul Qadir al-Jaylani adalah Tharoqah yang sampai kepada Sayyidina Ali kw, suami Sayyidah Fathimah binti Rasulullah. Sayyidina Ali menerima wirid tersebut dari Rasulullah SAW dengan keduanya duduk bersila sambil mempertemukan kedua lutut dan bermalaman. Rasul Bersabda, “Bagi pengamal thoriqoh ini, selama matahari berjalan di langit, maka pahalanya akan sampai padanya”
7.         Selama ini, saya (Sykeh Dr. Muhmmad Fadhil al-Jaylani) telah menrima thariqah wirid qadiriyyah dari ayah dan kakek. Setelah saya melakukan penelitian, ternyata wirid yang saya peroleh adalah sama dengan manuskrip syekh Abdul Qadir al-Jaylani yang saya temukan.[2]
8.         Terdapat sholawat Bahsair / bashoir (penulis tidak jelas teksnya karena pengungkapan orang turki terkadang bashoir dibaca basair) yang berasal dari Syekh Abdul Qadir al-Jaylani. Fadhilahnya banyak sekali, di antaranya sebagai obat kelemahan faham, hafal, atau fikir.
Terakhir, Syekh Dr. Muhammad Fadhil menyampaikan, “Saya wasiat kepada kalian untuk membaca Tafsir al-Jaylani” (Ushikum Bi Qira’ati Tafsir al-Jaylani). Wallahi akan banyak sekali faidahnya. Saya telah menyasikan sendiri beberapa orang membaca tafsir itu setiap waktu dengan mendapat banyak faidah. Apalagi dibaca dalam halaqah (majelis ilmu) secara rutin.

Itulah beberapa Taushiyah Syekh Abdul Qadir al-Jaylani melalui Syekh Dr. Muhammad Fadhil Al-Jaylani. Stelah memberikan taushiyah tersebut, Syekh Dr. Muhammad Fadhil Al-Jaylani mengijazahkan kepada semua hadirin:
1.    Thariqah Qadiriyyah
2.    Shalawat Bashair
3.    Tafsir al-Jaylani.






[1]Dirangkum oleh penulis yang menghadiri acara “Forum silaturrahim dan Ijazah” yang dihadiri dan disampaikan oleh Dr. Muhmmad Fadhil al-Jaylani pada Rabu 11 Juni 2014 (10.00 WIB s.d selesai) di Aula Yayasan PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Forum silaturrahim. Acara ini dihadiri oleh Para Pengasuh Pondok Tambakberas dan Dewan Guru dan Dosen di Lingkungan Tambakberas. Rombongan Dr. M. Fadhil di antaranya adalah Dr. Dhiyauddin dan Dr. Rohimuddin.
[2]Dr. Rohimuddin pernah mengkoreksikan wirid thariqah qadiriyah yang didapatkan dari Syekh Dr. Fadhil kepada Habib Luthfi Pekalongan. Ternyata Habib Luthfi menyatakan bahwa wirid itu kurang. Ketika beliau menyampaikan pada Dr. Fadhil, menurut beliau tidak kurang melainkan terkadang beberapa mursyid terdahulu menambahkan (melalui pengalaman spiritualnya) beberapa lafadz. Dan itu diperbolehkan. ArtinyaThariqah Qadiriyyah sangat mungkin berbagai versi. Namun berdasarkan manuskrip yang ditemukan Syekh Dr. Muhammad Fadhil, wirid thariqah qadiriyyah yang beliau peroleh adalah orisinil dari Syekh Abdul Qadir al-Jaylani didukung dengan bukti manuskrip yang beliau temukan.
3 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger