Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post

Dasar Hukum Tahlilan

Silahkan dibaca mas Jupri Bagus

TAHLILAN ITU ADA DALILNYA,BUKAN BID'AH SEPERTI YANG DITUDUHKAN WAHABI KEPADA KITA ASWAJA.

Inilah Dalil Tahlilan 3,7,25,40,100, & 1000 Hari Yang Wajib Anda Tahu

23 Januari 2018 Abdul Wahab

Tak henti-hentinya Wahabi Salafi menyalahkan Amaliyah Aswaja, khususnya di Indonesia ini. Salah satu yang paling sering juga mereka fitnah adalah Tahlilan yang menurutnya tidak berdasarkan Dalil bahkan dianggap rujukannya dari kitab Agama Hindu. Untuk itu, kali ini saya tunjukkan Dalil-Dalil Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, Setahun & 1000 Hari dari Kitab Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan kitab dari agama hindu sebagaimana tuduhan fitnah kaum WAHABI

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪفن ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”
Berkata Umar: “shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan???

Berkumpul ngirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎﻡ، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ

Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib:

Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.

Referensi: [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:

ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ

Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻳﻔﺘﻦ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻣﻨﺎﻓﻖ , ﻓﺎﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺳﺒﻌﺎ ﻭﺍﻣﺎﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺻﺒﺎﺣﺎ

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir2 nya beliau berkomentar lagi

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ

bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil.…dst.”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.

Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:

ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:

ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ

Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ اَفْضَلَ ) المجموع جز 5 ص 258(

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ. (ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺟﺰ 5 ص 258 )

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.

Referensi : (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺮﺍَﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّـﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺍِﺫﺍَ ﺩَﺧَﻠْﺘﻢُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺍِﻗْﺮَﺋُﻮْﺍ ﺍَﻳـَﺔَ ﺍْﻟﻜُـْﺮﺳِﻰِّ ﺛَﻼَﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﺣَﺪٌ ﺛُﻢَّ ﻗُﻞْ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍِﻥَّ ﻓَﻀْﻠَﻪُ ِﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ .

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.

Referensi : (al-Mughny II/566)

Dalam al Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﺍَﺣْﻤَﺪُ ْﺑﻦُ ﺣَﻨْﺒَﻞٍ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓـِﻌﻰ ﺍِﻟﻰَ ﺍَﻧـَّﻪُ ﻳَـﺼِﻞ

0 comments

Kisah Inspiratif

Abu Ibrahim bercerita:
.
Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang…
...
Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
.
Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…
.
Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yg mengurusinya? atau isteri yang menemaninya? ternyata tak ada seorang pun…
.
Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”
.
“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” Tanyaku.
.
“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? Lanjutku.
.
“Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” Jawabnya.
.
“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” Ucapku.
.
“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” Tanyanya.
.
“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu.” Kataku.
.
“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?
.
“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.
.
“Iya benar.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Jawabnya.
.
“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” Katanya.
.
“Banyak juga…” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
.
“Bukankah Allah memberiku lisan yg dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” Tanyanya.
.
“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yg bisu tidak bisa bicara?” Tanyanya.
.
“Sangat banyak.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.”  Jawabnya.
.
“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” Tanyanya.
.
“Iya benar.” Jawabku. Lalu katanya, “Padahal berapa banyak orang yg menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”
.
“Banyak sekali.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
.
Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…
.
Betapa banyak orang sakit selain beliau, yg musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yg lumpuh, ada yg kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yg kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yg menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…
.
pak tua mengatakan:

“Bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?”
.
“Iya.. apa permintaanmu?” Kataku.
.
Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya…”
.
Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…
.
Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…
.
Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.
.
Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yg mengerumuni sesuatu, Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.
.
Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…
.
Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…
.
Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam…
.
Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?
.
Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?
.
Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”
.
Namun kataku, “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”
.
“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.
.
“Lantas siapakah di antara kalian yg lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.
.
“Tentu Ayyub…” jawabnya.
.
“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.
.
Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata, “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.
.
Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yg ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya…
.
Maka kudapati ada tiga orang yg mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…
.
Kukatakan, “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yg mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”
.
“Iya..” Jawab mereka.
.
Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak, “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”
.
Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…
.
Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…
.
Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yang hijau… maka aku bertanya kepadanya:
.
“Hai Abu Qilabah… apa yg menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”
.
Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali
.
Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.
.
Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: ‘Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.

0 comments

Akhlaq

"OJO NGERASANI GURUMU SENAJAN GURUMU NDUWE KHILAF.
DAN PAKSALAH DIRIMU BERSIKAP DAN BERAKHLAK SEBAIK MUNGKIN PADA GURUMU, MESKIPUN ITU BERAT"

Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan seorang murid yang tak menjaga akhlak pada gurunya, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali

A. KH. ABDUL KARIM MENERIMA GURUNYA; MBAH KHOLIL APA ADANYA SERTA TUNDUK PATUH TAK BERANI SUUDZON

Syaikhina KH. Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. Semasa beliau mengaji kepada Syaikhina Kholil Bangkalan, beliau adalah murid yang sangat ta’dhim dan khidmah kepada gurunya.

Alkisah, suatu hari Mbah Abdul Karim muda bekerja memanen padi di sawah milik warga kampung sekitar Pesantren. Dari sana beliau mendapatkan upah berupa beberapa ikat padi yang bakal digunakannya untuk biaya hidup di Pesantren. Namun, sesampai di kediaman sang guru (Mbah Kholil), justru Mbah Kholil meminta padi muridnya itu untuk diberikan kepada ayam-ayam Mbah Kholil. Karena ini dawuh sang guru, KH. Abdul Karim langsung menyerahkan padinya. Ia didawuhi Mbah Kholil untuk selama mondok cukup memakan daun pace (mengkudu).

Demikianlah kisah mondoknya Mbah Abdul Karim, sehingga akhirnya beliau diijinkan sang guru untuk boyong, karena semua ilmu Mbah Kholil telah diwariskan kepadanya. Sesampai di kampung halaman, Mbah Abdul Karim mulai merintis Majlis Ta’lim, hingga akhirnya berdirilah Pondok Pesantren Lirboyo. Mbah Abdul Karim mengajarkan ilmu yang ia timba dari kedalaman samudera ilmu Mbah Kholil.

B. PASRAH BONGKOKAN PADA AJARANYA GURU

Satu hal yang unik, setiap membacakan (mengajar) kitab di depan para santri, ketika beliau bertemu dengan ruju’ (tempat kembalinya maksud dari sebuah kata), beliau tidak pernah menyebutkan ruju’nya secara gamblang. Beliau menyebutkan dengan ‘iku mau’, atau ‘mengkono mau’ (yang tadi atau “sebagaimana tadi”). Tentu ini membingungkan bagi para santri baru. Hingga pernah suatu ketika pada saat pengajian bulan Ramadhan, atau dikenal dengan istilah ‘posonan’, seorang santri dari luar daerah mengikuti pengajian Mbah Abdul Karim. Karena setiap mengajar kitab, Mbah Abdul Karim jarang menjelaskan ruju’annya, santri baru ini ‘nggerundel’; “Ini bagaimana, katanya seorang kyai ‘alim, kok setiap ada ruju’an tidak pernah dijelaskan?”, gumamnya dalam hati.

Dengan izin Allah, Mbah Abdul Karim ‘perso’ (mengetahui) perihal keluhan sang santri ini. Di tengah suasana mengaji, Mbah Abdul Karim dhawuh; “Laa ya’rifu al dhomir illa al dhomir, fa man lam ya’rif al dhomir fa laisa lahu al dhomir” (tidak akan pernah mengetahui makna dhomir kecuali hati (dhomir), maka apabila seseorang tidak mengetahui dhomir, itu artinya dia tidak punya hati). Lalu beliau menjelaskan kepada para santri, bahwa demikianlah (dengan tidak menjelaskan ruju’nya dhomir) pengajian yang diajarkan oleh gurunya, Mbah Kholil. Sehingga ketika mengajar kepada santrinya, Mbah Abdul Karim tidak berani mengubah apa yang diajarkan sang guru kepadanya.

C. OPENONO AKHLAKMU MARANG GURUMU

Kesuksesan murid (peserta didik) dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat, tidak hanya ditentukan oleh lembaga pendidikan, metode mengajar guru, atau sarana prasarana fisik dalam belajar, tapi yang paling dominan justru ditentukan oleh akhlak murid (peserta didik) kpd guru (pendidik).

Al Imam an Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, " Ya Allah, tutuplah dariku dari kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku ". (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155)

Al Imam an Nawawi juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الاستاذين لا يمحوه شيء البتة

" Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya ".

Al Habib Abdullah al Haddad mengatakan " "Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali ". (Adaab Suluk al Murid : 54)

D. OJO KAKEHAN TAKON, LAN OJO GAMPANG NJALUK IJAZAHAN ATAUPUN AMALAN

Al Habib Abdullah al Haddad juga berkata, " Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, " perintahkan aku ini, berikan aku ini !", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya ". (Ghoyah al Qashd wa al Murad : 2/177)

Dikisahkan, bahwa seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba2 Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khudhir. Maka nabi Khidhir berkata, " Tidakkah kau mengenalku ?. Murid itu menjawab, " ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir "
Nabi Khidhir, " kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?".
Murid itu menjawab, " Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu ". (Kalam al Habib Idrus al Habsyi : 78)

Para ulama ahli hikmah mengatakan, " Barangsiapa yang mengatakan " kenapa ?" Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya ". (Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan :

ان المحصول من العلم والفتح والنور اعني الكشف للحجب، على قدر الادب مع الشيخ وعلى قدر ما يكون كبر مقداره عندك يكون لك ذالك المقدار عند الله من غير شك

" Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu ".(al Manhaj as Sawiy : 217)

Para ulama ahli haqiqat mengatakan,"mayoritas ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan baik antara murid dengan gurunya".

E. GURU IKU TERMASUK WONG TUWO ING DUNYO LAN AKHIROT,
MERGO GURUMU NAFAQOHI RUH-MU DENGAN ILMU AGAMA.

Didunia kita harus tunduk dan patuh, dan di akhiratpun status mereka tetap sebagai guru kita yang akan menuntun kita pada guru-guru seatasnya hingga Nabiyyullah Muhammad saw. untuk mendapati pengakuan sebagai ummatnya hingga bisa memperoleh syafaatnya.

F. DI ALAM KUBURPUN KITA BISA REUNI BERTEMU GURU KITA

Hal ini sangat jelas diterangkan dalam beberapa kitab ulama' bahwa :
Dalam kitab Musnad Imam Ahmad ada hadits shohih yang bersumber dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu:

إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات، فإن كان خيراً استبشروا به، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا
“Sesungguhnya amal perbuatan kalian (yang masih hidup didunia ini) di tampilkan kepada kerabat kerabat dan keluarga kalian yang telah mati. Jika amal perbuatan kalian itu BAGUS, maka mereka turut senang dan bahagia, dan jika BURUK, mereka berkata/berdoa:”Ya Allah ya Tuhanku, jangan Engkau cabut nyawa mereka sehingga Engkau memberikan Hidayah kepada mereka seperti halnya kepada kami”.

Bebrapa kalangan ulama'  yang diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah di tanya tentang yang hidup menziarahi yang mati (ziarah kubur) itu apakah yang mati (didalam kubur) mengetahuinya? Dan apakah yang mati mengetahui jika ada kerabatnya atau yang lain ada yang mati?
Beliau menjawab:

الحمد لله، نعم قد جاءت الآثار بتلاقيهم وتساؤلهم وعرض أعمال الأحياء على الأموات، كما روى ابن المبارك عن أبي أيوب الأنصاري قال: إذا قبضت نفس المؤمن تلقاها الرحمة من عباد الله، كما يتلقون البشير في الدنيا، فيقبلون عليه ويسألونه فيقول بعضهم لبعض: أنظروا أخاكم يستريح، فإنه كان في كرب شديد، قال: فيقبلون عليه ويسألونه: ما فعل فلان وما فعلت فلانة، هل تزوجت

Segala Puji bagi Allah, ya benar.
Telah ada sebuah Atsar yang menjelaskan tentang perjumpaan mereka dan percakapan mereka (yang baru mati dgn kerabatnya yang sudah lama mati) dan juga ditampilkan amal perbuatan yang hidup kepada yang telah mati seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mubarok dari Abu Ayub Al Al Anshori. Beliau menuturkan:
Jika seorang mukmin meninggal dunia, maka mereka hamba hamba Allah yang beriman mendapati rahmat Allah, yaitu mereka saling bertemu satu sama lain (di alam ruh). seperti halnya manusia di dunia.

Mereka saling menyambut dan bertanya satu sama lain.
Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain:”Lihatlah saudara kalian itu… dia sekarang bisa beristirahat dari kesedihan yang sangat dari kebisingan dunia.

Mereka (yang lama mati) menyambutnya (yang baru mati) dan mereka bertanya (kepada yang baru mati): mereka bercakap-cakap dengan obrolan “apa yang dikerjakan si A sekarang didunia?
mereka babercakap-cakap dengan kalimat “bagaimana kabar si wanita itu? apakah dia sudah menikah? Wa ghoiru dzalik...

Maka, jagalah aklhakmu pada guru, sebab kau akan tetap bertemu gurumu baik di dunia, di alam kubur, dan juga di akhirat hingga bisa berkumpul bersama-sama di surga.

Wallahu a'lam bish showab

0 comments

Diantara Alasan Mahallul Qiyam Saat Sholawat

Karenanya, dalam mahalul Qiyam, sangat dianjurkan berdiri untuk memulyakan Kehadiran Rasulullah SAW.

Suatu hari turun Malaikat Jibril menemui Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam dan bercerita, "Di langit ada seorang malaikat yang duduk di atas singgasana dengan dikelilingi 70.000 malaikat lain sebagai pelayannya.

Dari setiap hembusan nafas malaikat tersebut, Allah menciptakan lagi seorang malaikat. Jadi tidak terhitung banyaknya malaikat yang kemudian menjadi pelayannya.

Namun saat ini kulihat dia sedang berada di gunung Qaf dengan kedua sayapnya yang patah, tanpa seorang malaikat pun yang mendampinginya. Ketika melihatku, ia berkata, "Wahai Jibril, adakah engkau mau menolongku?" Aku bertanya, "Apa salahmu?"
·
Ia menjawab, "Pada malam Mi'raj ketika Nabi Muhammad lewat di depan singgasanaku, aku tidak berdiri untuk menyambutnya. Kemudian Allah menghukumku dengan keadaan yang kau lihat sekarang ini."
·
Jibril melanjutkan ceritanya, "Kemudian aku menghadap kepada Allah dan memohonkan ampun untuknya. Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Wahai Jibril, katakanlah kepadanya agar membaca Sholawat kepada Muhammad."
·
Malaikat itu lalu membaca Sholawat untukmu, dan Allah mengampuninya serta mengembalikan kedua sayapnya juga mendudukannya kembali di singgasananya.

Mukasyafatul Qulub bab XIX hal. 143 karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali

0 comments

Meraih Bintang Versi Arab

الحلم حان

كُلِّ لحظة، كل ثانية
Setiap waktu setiap saat
كلّ تَعب يَهون عليّ
Keletihan tidak masalah bagi saya
كلّ صبر مرّ بي
Setiap rintangan ku anggap biasa
هِي ذى الفرصة هِي
Kini kesempatan itu telah tiba
أكثر مِن مَجد وَ أَكثر
Bukan hanya sekedar kemenangan yg aku kejar
وأنا عندي أملٌ و بِأقدر
Saya punya harapan dan saya yakin bisa
هِي ذى الفرصة هِي
Kini peluang itu telah tiba
كل ذا من تَعْب لديّ
Semua ini hasil jerih payahku
الوقت ذا غير السّما
Inilah waktunya tidak bisa ditunda
أنت وأنا ذا حِلْمِنا
Ini mimpi kita ayo kita wujudkan bersama.
الوقت ذا الحلم حان
Sekarang saatnya mimpi itu terwujud
و الدنيا شاهدة
Dan dunia menjadi saksi
Yo yo ayo...
وكل تعب مر بيّ
Keletihan saya anggap biasa saja
وهي ذي الفرصة هي
Kini peluang itu telah tiba
كل عين تَشُوف النصر
Semua orang menatap kemenangan
و قلبُك يوْصل إليّ
Harapanmu sampai kepadaku.

0 comments

Matinya Kepakaran Di Era Milenial

DI PONDOK INDAH MALL, Jakarta Selatan,  pekan lalu, menjelang tutup tahun 2018, empat “pinisepuh” ngumpul dan ‘kongkow’ di TB Gramedia, toko buku yang kini menyediakan cafe, kami dihadang oleh pajangan buku menarik. Judulnya “Matinya Kepakaran  - The Death of Expertise: Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya” karya Tom Nichols (2017).

Bersama kami ada Judi Kristianto, Mas Dwi dan Wina Armada SA, senior saya. Langsung saya ingatkan kepada Mas Wina tentang topik itu, yang pernah dibawakan oleh Bre Redana, wartawan ‘Kompas’, pengamat budaya, cerpenis dan novelis dalam workshop kritik film beberapa bulan lalu. 

Bre Redana menyatakan, di era internet ini, kepakaran sudah tidak diperlukan, karena wacana publik sudah dikuasai oleh kaum awam yang menggunakan media sosial. 

Pengamat politik, kritikus film, dan pengamat olahraga sudah kalah oleh netizen.

“Sekarang ini kalau di stadion ada 50 ribu penonton sepakbola, maka sebanyak 50 ribu itu pakar sepakbola. Semua bisa bikin opini dan menyebarluaskannya, “ kata Bre Redana, wartawan senior, lulusan School of Journalism and Media Studies, Darlington, Inggris.

Lewat buku ‘The Death of Expertise’ Tom Nichols  menyampaikan keresahannya untuk publik Amerika Serikat, namun kondisi yang sama ternyata dialami oleh masyarakat secara global. ‘Matinya Kepakaran’  tampaknya, kini sudah mendunia. Khususnya di AS.

Pengetahuan dasar rata rata orang Amerika saat ini sangat rendah, katanya. Bahkan, sampai menembus lantai “tak dapat informasi”, meluncur ke arah “salah informasi” dan sekarang terempas ke “ngawur secara agresif”. 

Di era informasi seperti sekarang ini, justru banyak melahirkan apa yang dia sebut ‘ignorance’ atau kedunguan di kalangan publik di AS. Kegandrungan pada literasi instan tersebut menggejala demikian masif – hingga kepakaran terancam mati. Orang hanya memerlukan informasi tambahan untuk menguatkan keyakinannya ketimbang kebenaran itu sendiri.

“Saya khawatir kita sedang menyaksikan ‘matinya ide ide kepakaran itu sendiri’ : kehancuran pembagian antara kelompok profesional dan orang awam, murid dengan guru, dan orang yang tahu dengan yang merasa tahu gara gara Google, Wikipedia, dan blog – dengan kata lain, antara mereka yang memiliki pencapaian di sebuah bidang dan mereka yang tidak memiliki pencapaian sama sekali. (hal 3)

Dicontohkan, pada tahun 2014 ‘Washington Post’ melakukan jajak pendapat dengan warga, apakah AS harus terlibat dalam intervensi militer, setelah Rusia melakukan invasi ke Ukrania. Mayoritas warga AS setuju intervensi, namun setelah disurvei,  hanya satu  dari enam dari warga AS yang tahu dimana lokasi Ukrania berada.

Di sini, contoh paling valid dengan “matinya kepakaran” adalah ketika netizen lebih percaya kepada Neno Warisman ketimbang Dr. Sri Mulyani, lebih percaya kepada artis Rachel Maryam daripada Gurubesar UI, Prof. Dr. Reinald Kasali, dan puas dengan paparan Rocky Gerung ketimbang penjelasan Prof. Dr. Mahfud MD.

Bahkan dalam kasus operasi plastik Ratna Sarumpaet, yang heboh beberapa waktu lalu,  ada yang lebih percaya Fadli Zon dan Fahri Hamzah, ketimbang dr.Tompi, yang secara profesional menggeluti bedah plastik kecantikan. Dia langsung mencium kecurigaan hanya dengan melihat jenis perban dan kerutan di dahi RS, yang kemudian ternyata benar.

“Dalam hal agama juga demikian, “ kata Mas Dwi, teman baru kami, pensiunan TNI yang kini aktif di partai nasional.

“Sekarang orang mudah sekali mengaku diri sebagai ustadz, habaib, sebagai ulama, padahal.....” katanya dengan mendesah, “ Saya muslim, tapi terus terang saya tidak percaya mereka...” katanya, lirih.

Dia tak habis pikir bagaimana para kyai besar yang menekuni ilmunya puluhan tahun dan mendalami kitab kuning serta mewarisi pesantren besar dan berpengaruh - bisa kalah populer oleh anak anak muda yang mengaku (atau disebut) sebagai  ‘ustadz’, ‘habaib’ dan mendadak jadi seleb di teve.  ***

Catatan Dimas Supriyanto

0 comments

Sholawat

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَنَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِيْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِكَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ
اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ نُوْرًا وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرَحًا وَسُرُوْرًا
اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَكُوْنُ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً وَلِكُلِّ عِلَّةٍ شِفَاءً وَتَدْفَعُ عَنَّا كُلَّ مِحْنَةٍ وَبَلَاءً
اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاة تَكُوْنُ لِكُلِّ عُسْرٍ يُسْرًا وَلِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً وَلِكُل سَقَامٍ شِفَاءً وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Beruntunglah QT krn Allah "mengadili" kita dg Rahmat Nya, klau saja Allah mengadili kita dg amal kita, niscaya kita akan binasa karena amal kita jauh dari keikhlasan dan kesempurnaan.

0 comments

Alasan Logis Belajar Pada Guru

Selamat mengaji dan tetap ingat pesan Syaikh Ihsan Jampes, Kediri

وقد اجمع العلماء على فضل التعلم من أفواه المشايخ على التعلم من الكتب خلافا لمن شذ فيه وذلك لوجوه منها وصول المعانى من النسيب خلاف وصولها من غير النسيب والنسيب الناطق أفهم للتعليم وهو المعلم وغير النسيب له جماد وهو الكتاب ومنها أن المتعلم إذا استعجم عليه مايفهم من لفظه نقله إلى لفظ آخر والكتاب لاينقل فالمعلم فى ايصال العلم أصلح للتعليم من الكتاب ومنها أنه يوجد فى الكتاب أشياء تعوق عن العلم وهي معدومة عند المعلم كالتصحيف العارض من اشتباه الحروف وقلة الخبرة وسقم النسخ ورداءة النقل وإدماج القارئ مواضع المقاطع وخلط مبادى التعليم وذكر ألفاظ مصطلح عليها فى تلك الصناعة فهذه كلها معوقة عن العلم وقد استراح المتعلم من تكلفها عند قراءته على المعلم وإذ كان الأمر على هذه الصورة فالقراءة على العلماء أجدى وأفضل من قراءة الإنسان لنفسه.

"Para ulama telah sepakat atas keutamaan belajar dengan mendengar keterangan dari para masyayikh dari pada mempelajari keterangan yang ditulis dikitab-kitab, meskipun ada juga ulama yang berpendapat lain. Keutamaan tersebut ditinjau dari beberapa faktor, antara lain :

1. Datangnya pemahaman ilmu dari guru yang mempunyai NASAB kepada murid yang mempunyai NASAB jelas berbeda dengan murid yang tidak mempunyai nasab. Sebab guru yang mempunyai garis nasab itu keterangannya akan lebih bisa memahamkan. Sedangkan murid yang tidak mempunyai nasab, senantiasa selalu bersama dengan benda yang tak bernyawa (kitab) yang tidak bisa untuk di ajak bercakap-cakap.

2. Ketika santri kesulitan memahami pengertian suatu lafadz, akan dialihkan oleh guru pada lafadz lain yang lebih mudah dipahami. Kelebihan ini tak bisa didapatkan hanya dengan membaca. Dengan demikian jelas bahwa seorang guru lebih efektif didalam penyampaian ilmu.

3. Kendala-kendala berupa kesalahan dan distorsi pemahaman baik berupa kemiripan huruf, kurangnya ketelitian, kesalahan naskah atau kutipan, atau penggabungan pengertian yang tidak semestinya, kerancuan penerimaan pemahaman bagi tahap pemula ataupun penyebutan istilah-istilah yang belum dikenal dalan suatu fan, semuanya bisa dihindari dengan penjelasan yang disampaikan oleh guru.

0 comments

Di Sini Tidak Ada Penyesalan, Yang Ada Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya

Bagi jamaah PETA yang sering atau pernah ke Pondok PETA Tulungagung, sangat familiar dengan tulisan besar di dinding tembok pondok PETA

"DI SINI TIDAK ADA PENYESALAN,
YANG ADA CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA. DISAMPING MENGERTI HAKNYA SEBAGAI HAMBA DAN HAKNYA TERHADAP SESAMA"

Ketika ada seorang Habaib dari Surabaya menanyakan tentang maksud kalimat tersebut, maka Syekh Abdul Djalil Mustaqim menjelaskan dengan perincian berikut :

1. DI SINI TIDAK ADA PENYESALAN
Yang dimaksud DI SINI adalah Di Dunia Ini. Beliau mengatakan bahwa penyesalan yang akan benar benar terjadi adalah besuk ketika DI SANA (Akhirat)
Bahkan ketika jasad seseorang akan dimasukkan ke liang lahat maka ruh orang tersebut akan didatangi "teman-teman" mereka semasa hidup di dunia.
Teman itu adalah amal perbuatan yang mereka lakukan selama hidup di dunia

Amal yang baik akan datang dalam bentuk yang menyenangkan dan berbau harum.

Amal yang buruk akan datang dalam bentuk yang menjijikkan, menakutkan, dan berbau busuk.

Maka pada saat itulah seseorang akan merasakan penyesalan yang sesungguhnya.

Oleh karena itu sebenarnya PENYESALAN DI DUNIA ini adalah semu adanya.

2. YANG ADA CINTA ALLAH DAN RASUL-NYA.
Senyampang kita hidup DI SINI (dunia) kita diajarkan agar kita pergunakan untuk belajar dan berusaha cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Segala bentuk peribadatan yang kita lakukan supaya didasari rasa cinta kepada Allah SWT.

Sedangkan cinta kepada Rasul-Nya dibuktikan dengan mengikuti sunah sunah Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan memperbanyak membaca sholawat atas Beliau SAW.

3. DI SAMPING MENGERTI HAKNYA SEBAGAI HAMBA.
Selain kita berupaya untuk cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kita juga dituntut mengerti hak kita sebagai hamba Allah SWT.

HAK KITA sebagai hamba Allah SWT adalah :
- MENGABDI (beribadah)
- RIDHO atas ketentuan ketentuan-Nya

4. DAN HAKNYA TERHADAP SESAMA
Hak kita terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya :
- Kita diwajibkan berinteraksi dengan sesama manusia sesuai dengan tuntutan agama
- Kita juga harus mengerti bahwa mereka sebagai hamba Allah juga memiliki hak untuk menapaki garis nasib dan jalan hidup mereka masing-masing

* Copas dari ustad murid
   Dari ustad abd aziz
   Dari yuliana muchtar
   Kiriman nizam azabani

0 comments

Mutiara Hikam Makam Tajrid dan Makam Sebab

ارادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من السهوة الخفية، وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العالية - ابن عطاء الله

"Keinginganmu untuk bertajrid (meninggalkan urusan duniawi, hanya beribadah) sementara Allah menempatkanmu dalam posisi asbab (mengikuti proses, menyelenggarakan aktifitas dunia seperti bekerja), termasuk syahwat terselubung. Sebaliknya, keinginanmu menempati asbab sementara Allah menempatkanmu dalam posisi tajrid, adalah penurunan dari cita-cita luhur" - Ibn Athaillah.
Dalam maqolah yg kedua ini, seolah-olah Ibn 'Athoillah hendak menyindir kesalahan kita dalam memahami posisi manusia, sebagai abdullah yang hanya beribadah (tajrid), meninggalkan urusan duniawi atau sebagai khalifah yang harus mengikuti serangkaian proses demi terciptanya keselarasan di muka bumi.
Pada satu kesempatan, mengenai maqolah ini, KH. Imron Jamil menjelaskan, kita jangan sampai terjebak dengan mengkonfrontasi dua pilihan posisi ini, tajrid dan asbab. Kita tidak perlu terjebak dengan mempertanyakan manakah yang lebih utama antara tajrid dan asbab? Karena dua posisi ini merupakan fasilitas yang disediakan Allah yang sama baiknya untuk mendekatkan diri pada-Nya, tentu saja sesuai dengan waktunya dan pada posisi apa Tuhan menempatkan kita.
Sebenarnya, yang hendak dikritik oleh Ibn 'Athoillah dalam maqolah ini adalah munculnya keinginan untuk menempati satu posisi. Keinginan-keinginan inilah yang sering tanpa disadari menjadi tunggangan kepentingan pribadi, sehingga menghilangkan adab tata krama terhadap Tuhan. Munculnya keinginan yang bertolak belakang dengan pilihan yang sudah ditentukan Tuhan, menyebabkan kita terjatuh pada syahwat khofy atau penurunan dari himmah yang luhur. Sebab, bagaimanapun juga, pilihan Tuhan tentu lebih baik dari pada keinginan kita dalam memilih satu posisi tertentu.
Ketika Tuhan menempatkan seseorang pada maqom asbab, yakni mengikuti proses, menjalankan mekanisme duniawi, sementara orang tersebut justru memaksakan diri untuk bertajrid - mengesampingkan urusan duniawi -, maka sebenarnya yang demikian ini termasuk bagian dari syahwat yang terselubung. Mengenai hal ini, KH. Imron Jamil mengilustrasikan, ketika seorang abdi ndalem diberi tugas sang majikan
menggarap sawah, namun ia justru meninggalkannya dengan harapan agar bisa bercengkrama dengan sang majikan, karena anggapan kalau ia bisa bercengkrama dengan sang majikan maka hubungannya dengan majikan akan lebih dekat. Tentu saja keinginannya itu termasuk ke-lancang-an pada majikan.
Sementara itu, ketika Tuhan memposisikan seseorang pada maqom tajrid, meninggalkan urusan duniawi, namun ia malah berkeinginan untuk asbab, bergelut dengan duniawi, maka hal ini menyebabkan ia terperosok dari himmah mulia. Sebagaimana ketika seorang abdi dipanggil sang majikan untuk diajak bercengkrama, tapi ia malah menghindar demi mengerjakan urusan yang sebenarnya tidak perlu ia kerjakan. Tentu saja, ini berarti ia telah menyia-nyiakan kesempatan istimewa untuk berdekatan dengan sang majikan.
Oleh karena itu, keinginan-keinginan yang muncul itu hendaknya direduksi semaksimal mungkin, untuk lebih bisa memahami dimanakah posisi kita, lantas menjalankan tugas-tugas yang menjadi konsekwensi logis dari posisi itu. KH. Imron Jamil menjelaskan, ada dua cara untuk memahami posisi apa yang harus kita jalankan.
1) Dengan memahami ayat-ayat syar'i, seperti yang terdapat dalam surat al-jum'ah, perintah untuk bertahajjud di malam hari, dll.
2) Dengan memahami serangkaian peristiwa yang dialami oleh seseorang.
Terkait dengan keinginan, saya jadi teringat salah satu lirik yang dibawakan oleh musisi kondang tanah air, iwan fals, "keinginan adalah sumber penderitaan".

wallahu a'lam
semoga kita diberi kemampuan untuk memahami dimana posisi kita. Aamiin

0 comments

Adab Murid Kepada Gurunya

*SETETES EMBUN PAGI*

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan:

ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ

Memperoleh ilmu, futuh & cahaya (maksudnya terbukanya hijab² batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu".
(al Manhaj as Sawiy 217)
Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan & berdoa, "Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tdak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yang menyampaikan kekurangan guruku kepadaku".
(Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah 155).
Dalam kitab At Tahdzibnya, Beliau juga pernah menyampaikan:

ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ
.

Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya.
Habib Abdullah al Haddad berkata :
"Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali".
(Adaab Suluk al Murid 54)
Seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba-tiba datang Nabi Khidir as. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khidhir. Maka nabi Khidhir berkata, " Tidakkah kau mengenalku ?.
Murid itu menjawab, "ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ".
Nabi Khidhir, " kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?".
Murid itu menjawab, " Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu ". (Kalam al Habib Idrus al Habsyi: 78)
Al Habib Abdullah al Haddad berkata, " Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, " perintahkan aku ini, berikan aku ini...!", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yang memandikannya". (Ghoyah al Qashd wa al Murad 2/177)
Para ulama ahli hikmah mengatakan,
"Barangsiapa yang mengatakan "kenapa?" Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya"
(Al Fataawa al Hadiitsiyyah 56)
Para ulama hakikat mengatakan," 70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan (bathin, adab dan baik sangka) antara murid dengan gurunya".

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين

0 comments

Humor Madura

Pesawat Garuda tujuan Surabaya - Jakarta tadi pagi bersiap take-off tapi tertunda gara2 Saridin (Asal madura yg baru pertama kali naik pesawat) dg tiket ekonomi, tapi ngotot pengen duduk di kelas bisnis.

Alex (pemilik kursi bisnis): “Maaf pak... Ini kursi saya.”

Saridin:
” sampean siapa ?”

Alex:
”Saya penumpang yang duduk di sini pak..!”

Saridin :
”Penumpang..? Aku penumpang juga, sama2 bayar..! sama2 penumpang, gak usah ngator-ngator"

Alex lapor ke pramugari.

Pramugari :
“Maaf pak Saridin.. bapak mestinya duduk di belakang.”

Saridin :
“Sampean siapa.?”

Pramugari :
“Saya pramugari.”

Saridin :
“Pramugari itu apa?

Pramugari :
“Pramugari itu yang melayani penumpang.”

Saridin :
“ Oh, babu? Tak kira siapa, sudahlah tak osah ros-ngoros oreng lain, cuci piring saja di belakang. Pokoknya aku enak duduk di sini saja. Sampeyan mau apa ?!!”

Pramugari habis akal, dia memanggil pilot.

Pilot:
“Maaf pak, mestinya bapak duduk di belakang..!!”

Saridin :
“Sampean siapa ?”

Pilot :
“Saya pilot pak.”

Saridin :
“Pilot itu apa?”

Pilot :
“ Pilot itu yg mengemudikan pesawat ini”

Saridin :
“ Oh sopir...?” Tak kira siapa, bajunya seperti seragam LLAJ, pake topi, e taunya sopir. Pokoknya aku tak mau pindah. Sekarang sampeyan mau apa ?

Mattali orang asli madura juga yang baru masuk pesawat mendengar ribut² bertanya pada pilot, kemudian dia manggut² & mendekati Saridin sambil membisikkan sesuatu di telinganya, Saridin tiba2 bangkit sambil mel ngomél :

“ Dasar sopir gila, babu tak punya otak, untung ada bapak Mattali ini yg ngasih tau sengkok. Klo ndak, aku ndak sampe jakarta.

Saridin pun pindah ke belakang,
Pilot merasa takjub, dia bertanya pada Pak Mattali :
“Apa sih yg bapak bisikkan, koq tiba² dia sukaréla pindah kursi?”

Mattali :
“ Saya tanya, bapak mau kemana? Dia jawab mau ke JAKARTA.
Saya bilang anda salah duduk ... kalau mau ke JAKARTA duduknya harus di BELAKANG.....  yang di
_DEPAN itu tujuannya ke Jember"😂😂😂😂😛😛😛

0 comments

Pembawa Acara Walimah Nikah Tahlil

Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdulillahilladzi amarona bittiba'i millati ibrohima hanifa
Wassholatu wassalamu ala sayyidina muhammadinil mustofa
Wa ala alihi wa sohbihi wa ahli baytihi  ahli shidqi wal wafa
Qola ta'ala fi kitabhil karim. Audzubillahi minassaythonirrojim:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَأَيَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

Wa qolannabiyu shollollohu alayhi wasallam:
النكاح سنتي فمن رغب عن سنتي فليس مني.
وقال أيضا أولم ولو بشاة.

HAdrotal afadhil ulama'anal kirom, poro alim, poro kyai, poro sesepuh pinisepuh.
Wabilkhusus panjenenganipun Romo Kyai Haji........ ugi romo kyai haji.....
Lan poro kyai sanesipun ingkang tansah kawulo ta'dzimi lan kulo ajeng2 nasehatipun.
Poro rawuh sedoyo ingkang minulyo...
Shohibudda'wah, panjenenganipun bapak....

Monggo sareng2 kito muji syukur dumateng ngarsanipun Allah swt kantu waosan alhamdulillahirobbil alamin, ingkang sampun paring rahmat, taufiq lan inyahipun dumateng kito sedoyo sehinggo kito saget ngerawuhi undangan saking shohibud da'wa / shohibul walimah panjenenganipun bapak..... dalam rangka walimatul aqiqoh ananda.....  Sesarengan kalean walimatul Arusy ananda ....... Pikantuk tiyang jaler paring asmo.... saking......  Ingkang bade ngelampahi aqdunnikah benjang dinten.... . Bapak askandar sekeluarga Ngadong dungo dumateng panjenengan sedoyo, Mugio aqdunnikah benjang puniko keparingan lancar lan barokah, utamanipun dumateng kemanten kekaleh. Lan mugio acara dalu puniko ngantos benjang reaepsi keparingan lancar lan barokah. Ala hadzihinnniyah wa kulli niyatin sholihah, alfatihah......

Kaping kaleh, sholawat lan salam mugio tetepo katuraken dumateng junjungan kito nabi agung sayyidina wa habibana Muhammad saw. Mugio kito angsal safaatipun benjang ten akhiroh. Amiiin ya Robbal alamin.

Kaping tigo, mewakili shohibudda'wa shohibul walimah, atas kerawuhan panjenengan estu2 ngaturaken syukur dumateng Allah, maturnuwun sanget dumateng panjenengan sedoyo, mboten saget ngaturi punopo2 namung saget matur jazakumulloh ahsanal jaza', mugio kerawuhan panjenengan sedoyo dicatet kalean Allah dados amal sholeh lan diwales kanti sak sae2nipun piwales. Lan mugio kito sedoyo ingkang rawuh angsal barokahipun majelis dzikir puniko keranten Rasulullah dawuh:
وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَأَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ لاَ يَقعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهِ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)
Rasulullah Saw bersabda: Tidak ada sekelompok kaum pun yang berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, ketenangan akan datang pada mereka,dan Allah akan menyebutnya di dalam orang-orang dekatnya" (HR Muslim)
Mugio estu2 angsal barokahipun majelis dzikir puniko. Amin Ya Robbal Alamin.

Kaping sekawan, mewakili shohibudda'wa shohibul walimah, sejatosipun acara puniko sampun dipersiapaken awit dangu. Nanging pasti wonten banyak kekuranganipun. Pramilo meniko bilih wonten papan panggenan lan pasugatan ugi punopokemawon ingkang kirang nyeceki dumateng manahipun panjenenengan sedoyo, mewakili bapak asyim, nyuwun agunging samudro pangaksami.
أنا أريد وأنت تريد ولكن الله يفعل ما يريد
Kita sebatas berusaha. Dan Allah lah yang menentukan segalanya.

Atas nami pembagi acara, kawulo bade matur bilih susunan acara dulu puniko inggih puniko pembukaan, dilanjutaken kalean waosan tahlil, dilajengaken kalean waosan sholawat Nabi, lan kapungkas kelawan doa.

Monggo kito awali acara puniko kelawan surotul fatihah. Liridloillah wa lisyafa'ati rosulillahi shollollohu alayhi wa sallam,  wa ala niyatina wa niyati syekh abdul qodir jilani rodliyallohu 'anhu.   Alfatihah...

Poro hadirin ingkang minulyo, acara saklajengipun ingggih puniko waosan tahlil ingkang bade kapimpin kalean panjenenganipun ......... kalanjutaken kalean waosan sholawat nabi ingkang bade kapimpin kalean panjenenganipun ustadz......... lan kapungkas kelawan doa ingkang bade kapimpin kalean ........
Wakdal kawulo sumnggga'aken kanti urut.

Atas nami pembagi acara, bilih wonten kalepatan lan kirang prayuginipun, kawulo nyuwun agunging samudro pangapunten.
Wabillahi taufiq wal inayah warridlo wal inayah wal afwa minkum. Wassaalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

0 comments

Pembawa Acara Akad Nikah

(Jika menjadi pembawa acara merangkap sebagai pembaca khutbah nikah)

Bismillahirrohmanirrohim

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى أَحَلَّ لَنَا النِّكَاحَ وَاَبْغَضَ السِّفَاحَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ المَلِكُ الْفَتَّاح. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى سَبِيْلِ النَّجَاحِ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلىٰ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِيْ الفَلَاحِ. لا حول ولا قوة إلا بالله.
قال الله تعالى في كتابه الكريم. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم.
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُوْنُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ.
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا وَاللهِ إِنِّى لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لٰكِنِّى أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّي.
وَقَالَ أَيْضًا يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
.

HAdrotal afadhil ulama'anal kirom, poro alim, poro kyai-ibu nyai, poro sesepuh pinisepuh, poro ustadz-ustadzah..
Wabilkhusus panjenenganipun Romo Kyai Haji ..........
Lan poro kyai sanesipun ingkang tansah kawulo ta'dzimi lan kulo ajeng2 nasehatipun.
Poro bapak lan sederek sedoyo tamu undangan ingkang minulyo...
Keluarga pengantin putra saking....
Shohibudda'wah, panjenenganipun bapak...... lan ibu......... .
Soho sedanten keluargo agung ingkang sanubagiyo, khususipun calon kemanten kekaleh mas.......  Kalean mbak......

Monggo sareng2 kito muji syukur dumateng Allah SWT bilih punopo, injing puniko kito tase dipun paringi iman, islam, rohmat, hidayah lan inayah sehinggo kito saget ngerawuhi aqdunnikah mas...  kalean mbak....

Sholawat soho salam mugio tetep katuraken dumateng junjungan kito nabi agung Muhammad SAW.

Poro rawuh sedoyo ingkang minulyo. Kawulo pembagi acara ugi wakil saking shohibudda'wa, ngaturaken maturnuwun sanget atas kerwauhan panjenengan sedoyo, estu2 ngadong dungo panjenengan sedoyo nyuwun persaksian penjengan sedoyo atas terlaksananya aqdunnikah, estu2 bungah atas kerawuhan panjenengan sedoyo, syukur dumateng Allah, mboten saget khurmat punopo2 namung saget matur jazakumulloh ahsanal jaza', jazakumulloh khoiron katsiro. Mugio kerawuhan panjenengan sedoyo dipun wales kanthi sak sae2ipun piwales.

Poro rawuh sedoyo ingkang minulyo. Sakdrenge acara kito laksanaaken, Monggo sareng2 kito wiwiti acara puniko kanthi waosan surotul fatihah, mugio aqdunnikah puniko keparingan lancar lan barokah. Ala hadzihinniyah wa ala kulli niyatin sholihah, wa ila hadroti.....  Al-Fatihah.

Adicoro Aqdunnikah puniko
-diwiti kelawan pembukaan,
-kalajengaken waosan ayat2 suci al-Qur'an ingkang bade dipun waos kalean al-ustadz...
-Adicoro saklajengipun inggih puniko khutbah nikah ingkang bade katuraken dumateng al-ustadz....
-Adicoro saklajengipun inggih puniko taukil wali (bila ada)
-Kalajengaken prosesi aqdunnikah ingkang bade dipun pimpin kalean yang terhormat bapak penghulu utawi petugas ingkang mewakili
-Adiciro dipun tutup kalean doa ingkang bade dipun pimpin kalean al-mukarrom.....

Kawulo atas nami pembagi acara, bilih wonten kirang prayuginipun kawulo nyuwun agunging samudro pangaksami. Monggo sareng2 adicoro dipun laksanaaken kanthi khidmat lan urut.

Akhirul kalam wabillahittaufiq wal hidayah warridlo wal inayah, wassaalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger