Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Puasa. Show all posts
Showing posts with label Puasa. Show all posts

Puasa Arofah dan Tarwiyah

Ngaji Hikam Tentang Sejarah Hari Arafah

(Catatan Pribadi 20/08/2018)

Malam ini adalah malam Arafah. Siang tadi adalah hari Tarwiyah. Kalau tepat dan bersamaan antara Indonesia dan Mekkah, maka besok adalah waktu wukuf di Arafah. Sekarang, Mekkah Saudi Arabia ada badai pasir sehingga Kiswah Kabah menyingkap. Sejumlah tenda di Mina roboh dan hancur. Semoga semua Jamaah Haji diberikan keselamatan. Amin.

Di dalam surat al-Saffat disebutkan :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ[١٠٢] فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ [١٠٣] وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ [١٠٤] قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ [١٠٥] إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ [١٠٦] وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ [١٠٧] وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ [١٠٨] سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ [١٠٩]

Di dalam kitab tafsir Marokhi Lubaid yang ditulis oleh Syekh Nawawi bin Umar Banten, diterangkan pada waktu Nabi Ismail AS berusia sudah mampu untuk berusaha (فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ), oleh Ahli Tafsir, ditafsiri usia 13 tahun. Ayahnya bernama Nabi Ibrahim AS, bermimpi diperintah menyembelih putranya yaitu Nabi Ismail. Jika diterapkan seperti sekarang, waktu Nabi Ibrahim bermimpi adalah tadi malam yaitu malam senin pada tanggal 8 Dzulhijah.

Paginya Nabi Ibrahim berpikir, apakah mimpi tersebut berasal dari Allah atau berasal dari Syetan. Jika diterapakan dalam hitungan saat ini, waktu ketika Nabi Ibrahim berpikir adalah siang tadi pada tanggal 8 Dzulhijah. Isi dari "mikir-mikir" nya Nabi Ibrahim adalah apakah impian tadi malam berasal dari Allah atau berasal dari Syetan. "Mikir-mikir" ini, di dalam bahasa Arab artinya Tarwiyah. Berasal dari kata Rowa-Yurowi-Tarwiyan- Tarwiyatan.

Kemudian malam tanggal 9 Dzulhijah, Nabi Ibrahim bermimpi lagi, persis seperti malam sebelumnya yaitu pada tanggal 8 Dzulhijah. Karena isi mimpinya sama persis, maka Nabi Ibrahim (عرف انها من الله). Nabi Ibrahim mengtahui bahwa impian itu berasal dari Allah. Maka, tanggal 9 disebut hari Arafah yaitu hari ketika Nabi Ibrahim mengerti bahwa impiannya berasal dari Allah.

Malam tanggal 10 Dzulhijah, Nabi Ibrahim bermimpi lagi bahwa beliau menyembelih putranya, dinamakan dengan "Yaumul Nahr" atau hari penyembelihan. Pagi harinya Nabi Ibrahim AS, berkata kepada putranya :
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ-

Artinya : Wahai anakku yang masih kecil, sungguh tadi malam aku bermimpi menyembelih kamu. Maka coba pikirkan bagaimana pendapatmu?.

Kalimat diatas menunjukan bahwa Nabi Ibrahim adalah contoh seorang ayah yang bijaksana (karena sebelum memutuskan sesuatu bertanya/ bermusyawarah dulu kepada putranya).

Kemudian Nabi Ismail menjawab :
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ-

Artinya : Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Ayah InsyaAllah akan membuktikan bahwa saya tergolong orang-orang yang sabar.

Ini adalah ujian yang sangat berat. Sebelum cerita Nabi Ibrahim diteruskan, ada pertanyaan, sebenarnya kenapa Nabi Ibrahim sampai diuji untuk menyembelih anak?. Itu kalau di dalam kitab al-Hikam, pembahasanya masuk dalam bab Mahabah atau "MahabatuAllah" atau cinta Allah.

Allah itu, tidak suka "Mahabah Mustarakah". Mahabah itu tidak boleh dimadu. Jangan sampai dimadu dengan cinta yang lain. Ini adalah tingakatan orang-orang Ahli Hakikat atau orang-orang Muqarabun. Bukan tingkatannya kita yang masih tingkatan Syariat dan belum sampai kepada hakikat.

Orang Ahli Hakikat itu, kalau cinta tidak boleh dimadu. Mengaku cinta Allah, tetapi juga cinta kepada bidadari, itu tidak boleh. Dalam pandangan tingkatan hakikat itu sudah syirik. Cinta Allah, tetapi juga cinta bidadari, juga cinta kepada surga, bagi orang hakikat ini tidak boleh. Tapi kalau orang Syariat, yang seperti ini dimaafkan oleh Allah.

Orang-orang Muqarabun itu, ukuran hukumnya bukan ukuran hukum Syariah. Tapi dengan ukuran mahabah. Ada contoh para nabi memiliki sifat shidiq, amanah, tabligh, fatonah, maka muhkhal bagi para rosul mulai lahir, sampai diangkat menjadi rosul sampai wafat untuk bermaksiat (maksum).

Tapi di dalam Quran, ada penyebutan bahwa rosul melakukan maksiat?.
وعصى آدم ربه فغوى
Artinya : dan durhakalah Adam kepada Tuhannya.

Padahal Nabi Adam adalah Rosul, tapi kenapa Al-Quran menyebutnya bermaksiat?. Ini dulu cukup menjadikan bingung saya, karena waktu itu saya di Mualimin menjadi Guru Ilmu Akidah, atau Ilmu Teologi. Kitabnya mengunakan "Ummul Barohin". Disana diterangkan bahwa Rasul memiliki empat sifat wajib, empat sifat mukhal, dan satu sifat jaiz. Shidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah.

Contoh dari sifat Amanah adalah tidak pernah maksiat, karena kalau melakukan maksiat namanya khianat. Tapi Al-Quran menyebutkan Nabi Adam dengn "wa Asho Adamu Robahu Fa Ghowa". Kemudian saya mubeng, bertanya kepada para Kiai, saya tanya, ini artinya apa, Rosul itu amanah, tapi kok maksiat?.

Kemudian, bertemu Kiai Abu Bakar Bandar Kidul, ketika sowan didawuhi "Le, maksiate Nabi Adam itu bukan maksiatnya orang Abror, tapi maksiatnya orang-orang Muqarabun (mahabah)". Kalau orang Abror ukuranya adalah hukum syariat, nah yang dimaksud di dalam Tauhid bahwa Rosul mustahil melakukan maksiat, adalah maksiat menggunakan hukum syariat tingkatan orang Abror. Dan memang tidak ada Rosul yang maksiat (melanggar) hukum syariat.Maksiatnya orang Muqarabun atau orang-orang yang dekat dengan Allah adalah menggunakan ukuran Mahabah.

Nabi Adam dan Ibu Hawa itu dialarang mendekati sebuah pohon :
ولا تقربا هذه الشجرة فتكونا من الظالمين-

Artinya : Adam dan Hawa, jangan (kalian berdua) mendekati pohon ini, kalau kamu berdua dekat dengan pohon ini, akan menjadi orang dzolim.

Setelah itu Ibu Hawa mengelilingi surga. Kemudian di tempat yang jauh di sana, ada pohon yang sama, seperti pohon "hadzihi" yang dilarang dalam ayat tersebut. Lalu digoda oleh Iblis:
Iblis : "Hawa, tahukah Kamu ini pohon apa?.
Hawa : Tidak, aku tidak tahu!.
Iblis : ini adalah pohon khuldi, kalau anda makan buah ini, Kamu, suamimu, anak turunmu akan kekal di surga.

Ucapan Iblis ini menarik hatinya Ibu Hawa. Ketika itu bu Hawa tidak bersama Nabi Adam, akhirnya Ibu Hawa memakan buah khuldi, kemudian Nabi Adam mencari dan bertemu Ibu Hawa sudah memakan buah khuldi. Akhirnya Nabi Adam dirayu oleh Ibu Hawa agar ikut memakan buah khuldi. Lalu Nabi Adam ikut makan.

Setelah makan, kemudian ingin buang air besar. Lari kesana kemari untuk mencari tempat buang air besar. Sampai pakaiannya dilepas, Nabi Adam dan Ibu Hawa menyambung dedaunan untuk digunakan menutup aurat. Lalu Malaikat Jibril bertanya, "ada apa kok lari-lari?". Mereka menjawab "Mau buang air besar". Malaikat Jibril berkata, "Luh, di surga tidak ada tempat buang air besar, kalau mau buang air besar ya harus turun ke bumi, karena tempat membuang air besar di bumi". Akhirnya keduanya turun ke bumi. Nabi adam turun di Srilangka, Ibu Hawa turun di Jiddah.

Maka makna dari "وعصى آدم ربه فغوى", adalah Nabi Adam memang salah tapi tidak sampai berdosa. Nah, tapi kenapa di dalam Al-Quran lafadznya "وعصى", itu artinya adalah dosa menurut derajat orang muqarabin atau orang yang dekat dengan Allah. Yang dikatakan bahwa Rasul tidak berdosa adalah ukuran hukum syariat.

Sebabnya apa?. Karena yang dilarang (untuk didekati oleh Nabi Adam dan Ibu Hawa adalah "هذه", sedangkan yang dimakan adalah "تلك" , yang berada disana. Saya diterangkan panjang lebar oleh Kiai Abu Bakar, bahwa yang dimakan bukan yang "هذه" , tapi yang "تلك". Tapi tetap salah karena pohon yang berada di sana, adalah pohon yang sejenis dengan ini. Dan bukan yang dilarang. Ini namanya "Asho" tapi "Asho" menurut Ahli Muqarabin.

Orang Muqarabin itu kalau melakukan salah, walaupun tidak sampai berdosa tapi sanksinya berat. Nabi Adam, tidak sampai berdosa tapi diturunkan dari Surga ke Bumi. Nabi Zakariya ketika berdakwah sampai akan dibunuh oleh umatnya. Sampai beliau dikejar-kejar, kemudian berdiri di samping pohon lalu berdoa kepada Allah. Pohon terbuka kemudian masuk ke dalam pohon.

Umatnya mencari, akhinya Iblis turun tangan dengan menyamar sebagai orang tua dan bertanya "Kamu mencari siapa?". Umatnya berkata, "Kami sedang mencari Zakariya". Iblis bertanya, "apakah Kamu tidak tahu?". Umat Nabi Zakariya menjawab "tidak tahu". Lalu Iblis mengatakan, "di sini, di dalam pohon ini". Kemudian pohon yang di dalamnya ada Nabi Zakariya dipotong dan digergaji ke bawah. Ketika digergaji, mengenai ubun-ubun dari Nabi Zakariya, sampai beliau menjerit "Ah"/ "Aduh". Berteriak "Ah"/ "Aduh" Itu, secara syariat tidak berdosa. Tapi karena Rosul, yang begitu sudah dianggap salah oleh Allah. Karena salah sangsinya berat.

Lalu Allah berkata kepada Jibril, "Jibril, temui Zakariya, sekali lagi dia berteriak "Aah" / "Aduh", akan kucabut ke Rosulan dari dirinya". Akhirnya beliau hanya diam. Ketika dipotong menjadi dua, beliau sekali tidak berteriak, sampai akhirnya Beliau meninggal. Padahal kita sehari-hari sering mengtakan aduh. Terkena bencana aduh, kesandung batu aduh, sakit kepala aduh. Hal semacam Ini memang tidak dosa bagi orang Abror, tapi suatu kesalahan bagi orang Muqarabun.

Kembali ke kisah Nabi Ibrahum, Kenapa Nabi Ibrahim diuji menyembih putranya?. Karena Mahabah Mustarokah. Nabi Ibrahim ini, pernah berikrar mahabah (mencintai) Allah. Pada suatu saat Nabi Ibrahim melihat putranya yaitu Nabi Ismail, karena memang putra satu-satunya, Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Saroh sampai usia 120 Tahun tidak punya putra. Akhirnya menikah dengan Siti Hajar, dan memiliki putra Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim melihat Nabi Ismalil timbul rasa suka terhadap putranya. Nah ikrar mencintai Allah tapi kok suka terhadap anaknya ini namanya Mahabah Mustarakah. Ini namanya Allah dimadu, maka Allah tidak ridla. Akhirnya Nabi Ibrahim diuji oleh Allah, dengan perintah untuk menyembelih anaknya. Tujuannya agar Nabi Ibrahim kembali cinta hanya kepada Allah. Dan tidak cinta kepada anak.

Padahal kita, ya mengaku cinta kepada Allah tapi ya suka uang, rumah, istri dan anak. Kalau otang Muqarabun tidak boleh.

Ketika telah sampai pada tanggal 10, Nabi Ibrahim berkata kepada putranya:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ-

Nabi Ismail menjawab :
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ-

Artinya : Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Ayah InsyaAllah akan membuktikan bahwa saya tergolong orang-orang yang sabar.

Nabi Ibrahim sudah tunduk dan patuh secara Ikhlas memisahkan anaknya dengan dirinya, padahal putranya baru satu. Nabi ismail, taat dan patuh dipisah antara jasad dan rohnya. Dua-duanya telah sama-sama Ikhlas. Kemudian Nabi Ibrahim membawa pedang dan dadung serta mengajak Nabi Ismail.

Nabi Ibrahim berkata "Ayo anakku!". Nabi Ismail bertanya kemana Bapak "ke Sibbi Safir (lereng gunung Safir) disanalah aku akan menyembelimu". Ketika sudah sampai di Sibbi Safir, maka :
فَلَمَّا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
Nabi Ismail telah dibaringkan, pedang telah dihunuskan, kemudian Nabi Ismail berkata "Ayahku tolong, aku ikat yang kuat-kuat supaya aku tidak bergerak, Ayah tolong, ketika Ayah menarik dan mendorong ledang supaya cepat, agar aku tidak lama-lama merasakan sakit, Ayah tolong, baju Ayah disingkap (dilipat) supaya terkena darah, jika terkena darah nantinya akan menjadikan Ibu susah, ayah tolong sampaikan salamku kepada Ibu, dan bajuku berikanlah kepada Ibu, sekedar untuk kenang-kenangan".

Kemudian Nabi Ibrahim memulai menyembelih, ditarik-didorong, ditarik-didorong, ditarik-didorong, pedangnya tidak mempan untuk menyembelih Nabi Ismail. Pada saat itu malaikat yang mendampigi Nabi Ibrahim ikut menangis sambil bertakbir :
اَللهُ أًكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر

Nabi Ibrahim mencucurkan air mata begitu juga Nabi Ismail yang mencucurkan air mata. Malaikat bertakbir
اَللهُ أًكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر
Disambung dengan Nabi Ismail :
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَر
Kemudian Nabi Ibrahim menyambung :
اَللهُ أَكْبَر وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Ketika pedang dihunuskan, ditarik-didorong, ditarik-didorong ke leher Nabi Ismail, tidak mempan. Kemudian ada panggilan dari Allah :

أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ, [١٠٤] قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ [١٠٥] إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ [١٠٦] وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ [١٠٧]

Nabi Ibrahim mendapat panggilan dari Allah, "Kamu telah melaksanakan tugasku, menyembelih anakmu, Kemudian saya ganti dengan Kambing". Maka ketika ditarik keluarlah darah. Nabi Ibrahim berprasangka bahwa Nabi Ismail telah meninggal. Ternyata ketika dilihat yang disembelih adalah kambing gibas. Sedangkan Nabi Ismail duduk disebelahnya. Kemudian Malaikat bertakbir, disambung dengan Nabi Ismail, lalu dilanjutkan dengan Nabi Ibrahim.

Hari Arofah itu ada penamaannya karena sejarah dari Nabi Ibrahim yang mengerti impian dari Allah. Tapi kalau tanah Arafah, itu sejarahnya berkaitan dengan Nabi Adam As bukan berkaitan dengan Nabi Ibrahim. Jadi ada hari Arafah dan ada tanah Arafah.

Dulu Nabi Adam ketika diturunkan ke bumi jatuh di Srilangka. Di sana ada gunung namanya gunung Adam's Peak di Colombo. Di atas tempat itu sering terjadi hampa udara. Dulu Jamaah Haji kalau lewat di atas gunung Adam's Peak itu, tahun berapa itu pernah sampai jatuh sehingga banyak korban yang paling banyak dari Blitar. Tahun 1981, saya masih lewat di atas itu, hampir jatuh, pramugari menerangkan, "al-Hamdulillah kapal terbang kita selamat, kapal terbang kita sudah 10 KM tapi tidak sampai ke bumi". Kemudian sudah tidak lagi dilewati kapal terbang. Jadi tempat jatuhnya Nabi Adam itu, sering hampa udara.

Nabi Adam setiap tahun jalan kaki pergi ke mekah dan mengitari Ka'bah. Ibu Hawa setiap tahun pergi ke Arofah (pada saat itu belum ada namanya). Sebetulnya jarak antara Mekkah dan Arofah hanya kurang lebih 25 KM. Tapi selama 200 Tahun tidak bertemu. Jadi bisa bayangkan betapa kangennya antara Nabi Adam dan Ibu Hawa yang berpisah selama 200 Tahun.

Pada detik-detik pertemuan antara Nabi Adam dan Ibu Hawa, Nabi Adam sedang melaksanakan Towaf. Setelah Towaf jalan kaki ke arah utara dan ke timur. Kira-kira 6 KM, Nabi Adam mencium aroma. Kemudian Nabi Adam mengigat-ingat aroma tersebut, "Aku pernah memcium aroma seperti ini, tapi aku lupa ini aroma apa?". Ketika diingat-ingat, kemudian ingat bahwa itu adalah aroma dari Istirnya Hawa. Akhirnya kalau Hawa masih ada aromanya, berarti masih hidup. Kalau Hawa masih hidup berarti ada harpan untuk bertemu. Harapan dalam bahasa arab adalah "Muna", maka daerahnya disebut Muna, kita menyebutnya Mina.

Kalau tentang melempar Jumroh, Ula, Wustho, dan Aqabah, itu berkaitan dengan sejarahnya Nabi Ibrahim. Jadi ketika pergi ke Sibbi Sabil, Siti Hajar diganggu, Nabi Ismail diganggu kemudian dilempari batu. Tapi kalau Muna, adalah riwayat dari Nabi Adam.

Aroma itu dibawa angin, kemudian diturut oleh Nabi Adam sampai 7 KM, sampai ke sebuah tanah. Di tanah itu aromanya semakin menguat, aroma kalau itu kalau bertambah kuat berarti bertambah dekat. Dekat bahasa arabnya "Zulfa", bertambah dekat bahasa arabnya "Muzdalifah". Sehingga tanah itu kemudian dinamakan tanah Muzdalifah.

Terus diturut lagi, sampai ke sebuah tanah yang sejauh pandangan mata hanya ada gunung-gunung, batu, pasir, krikil dan tidak ada tumbuhan sama sekali. Kemudian Nabi Adama menoleh ke arah kanan kiri, karena mencium aroma yang semakin kuat. Ternyata di atas gunung ada sesosok perempuan. Diperhatikan sosok tersebut ternyata adalah Ibu Hawa. Peristiwa ini terjadi setelah berpisah selama 200 tahun. Qaul yang lain mengatakan 100 tahun.

Setelah diperhatikan ternyata Ibu Hawa,
عرف آدم أنّها هواك
Nabi Adam mengetahui bahwa dia adalah Hawa. Mengeri bahasa arabnya Arafa. Oleh karena itu tanah tersebut dinamakan Arafah.

Kemudian dipanggil "Hawa......". Ibu Hawa mendengar kemudian Hawa melihat kebawah, ada seorang laki-laki yang gagah perkasa ternyata Adam. Kemudian dipanggil oleh Hawa, "Adam............". Saling memanggil, "Hawa.........", "Adaaam.......". Kemudian Nabi Adam mendaki gunung disanalah Nabi Adam dan Ibu Hawa sambil berdiri, saling memeluk untuk melepaskan kerinduannya, mencurahkan kasih sayangnya. Ditempat itulah kemudian dibangun tugu, kasih sayang dalam bahasa Arab artinya "Rohmah". Maka dinamakan sebagai gunung kasih sayang atau "Jabal Rohmah".

Jadi kalau hari Arafah berhubungan dengan Hikayah Nabi Ibrahim, tapi kalau tanah Arafah berkaitan dengan Hikayah Nabi Adam AS.

Diterangkan oleh Nabi Muhammad yang ditulis oleh Imam Ghazali, di dalam kitab Mukasafatul Qulub, al-Muqaribu 'ala Alami al-Ghuyub, Nabi Dawuh: Siapa yang berpuasa hari Tarwiyah diberi pahala oleh Allah seperti pahalanya Nabi Ayub didalam kesabaran menerima ujian. Barangsiapa yang berpuasa pada hari Arofah, Allah memberi pahala seperti pahalanya Nabi Isa AS. Selain itu puasa Arafah menghapus dosa 2 tahun. Satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang. (*)

0 comments

Download Kitab Kitab Tentang Hukum dan Fadhilah Puasa Romadlon

Empat Belas Kitab Tentang Bulan Romadlon dan Fadhilahnya Beserta Hukum dan Fadhilah Puasa

💚 *أربعة عشر ( 14 ) كتاباً في (شهر رمضان وفضائله ، والصوم وأحكامه وأسراره وفضائله، وصلاة التراويح)*

1- [الصيامُ في المذاهب الأربعة من الفقه الإسلامي : فلسفتُه - فقهُه - أحكامهُ - أسرارهُ] للشيخ الدكتور عبد اللطيف صالح الفرفور
رابط التحميل:
https://archive.org/download/rsmrsm/smafi.pdf

2- [الصومُ : فقهُه - أسرارهُ] للشيخ الدكتور محيي الدين ديب مستو
رابط التحميل:
http://www.archive.org/download/rsmrsm/sfa.pdf

3- [الصومُ] لفضيلة الشيخ أسعد محمد سعيد الصاغرجي الحنفي (رحمه الله تعالى)

رابط التحميل:
https://archive.org/download/rsmrsm/saums.pdf

4- [التراويح أكثر مِن ألفِ عامٍ في مسجدِ النبي ] للشيخ عطية محمد سالم (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/FP56164/56164.pdf

5- [إتحافُ أهلِ الإسلام بخصوصياتِ الصيام] للإمام الحافظ أحمد بن علي ابن حجر الهيتمي الشافعي (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/FPiaiks/iaiks.pdf

6- [فقهُ الصيامِ] للشيخ الدكتور محمد حسن هيتو
رابط التحميل:
https://archive.org/download/FP71648/71648.pdf

7- [إسعافُ أهلِ الإيمان بوظائف شهر رمضان] للعلامة الشيخ حسن محمد المشاط (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/FP97286/97286.pdf

8- [مَقاصدُ الصومِ] للإمام شيخ الإسلام سلطان العلماء عز الدين بن عبدالسلام الشافعي (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/sesasesa/mksa.pdf

9- [إتحافُ الأنام بأحكام الصيام] للدكتور زين بن محمد بن حسين العيدروس
( دراسة فقهية مقارَنة - مع ذكر المسائل المعاصرة بالدليل والتعليل وأسلوب معاصر )
ومعه أربع رسائل:
1- تأملات في آيات الصيام
2- الدرر الحسان من فوائد ختم القرآن
3- الدعاء في رمضان
4- أسماء شهر رمضان

رابط التحميل:
http://archive.org/download/Ithaf-Alanam/%20الأنام%20بأحكام%20الصيام.pdf

رابط بديل:
https://www.mrkzgulf.com/do.php?id=530291

10- [مِن أحوالِ رَمضانَ وليلتهِ المبارَكة] للشيخ السيد عباس السيد فاضل الحسني السامرائي (حفظه الله)
رابط التحميل:
http://www.mediafire.com/download/uw1wr3tgl82w4o3

11- [البضائعُ الغاليةُ الأثمانِ فى التزودِ لشهر رمضان] جمع وترتيب وتعليق الشيخ سقاف بن علي العيدروس
رابط التحميل:
https://archive.org/download/10908/10908.pdf

12- [كتابُ الصيامِ] إعداد: دار الإفتاء المصرية
رابط التحميل:
http://www.mediafire.com/download/w8nlul84aj1v3h2

13- [شهرُ رمضان] للشيخ الدكتور عبدالحليم محمود الأزهري (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/abdelhalimmahmoud/ramadane.pdf

14- [الصيامُ : آدابهُ - مطالبهُ - فوائدهُ - فضائلهُ] للمحدث الشيخ الإمام عبدِالله سراج الدين الدين الحسيني (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/sirajeddine/siyam.pdf

0 comments

Khutbah Akhir Ramadlan



Khutbah Akhir Ramadlan 
إنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِناَ مَنْ يَهْدِاللهَ فَهُوَ اْلمُهْتَدُ وَمَنْ يُظْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِياًّ مُرْشِدًا أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا  مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ. (إِتَّقُوْا اللهَ)2 حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم ﴿يٰاۤ أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ﴾ (البقرة: 183)

Telah beberapa hari kita dipertemukan dengan Ramadlan. Maka, kami mengajak ummat muslimin, khususnya kepada pribadi kami untuk selalu menambah ketaqwaan kepada Allah SWT karena Ramadlan adalah media untuk bertaqwa kepada Allah (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ).
Ma’asyrol Muslimin…
Seorang lelaki Arab badui (Arab pedalaman/desa) datang menghadap kepada Nabi SAW dan bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang mengurus hisabnya seluruh mahluk?" Nabi menjawab, “ALLAH”. "Apakah hanya sendirian?," Tanya si badui lagi. Rasul menjawab, "Ya". Orang badui tersebut tersenyum, sepertinya ia senang sekali. Melihat senyumannya, Nabi SAW bertanya, "Mengapa engkau tersenyum, hai Orang Badui?"  Badui itu menjawab, "Dzat yang pemurah, jika menghisab pasti akan banyak memaafkan…!!". Jawaban membuat Nabi SAW ganti tersenyum, dan berkata, "Engkau benar, tidak ada yang lebih pemurah dibanding Allah SWT, Dialah Dzat yang Paling Pemurah dan dan Paling Pemaaf…." . Setelah mengucap terima kasih kepada Nabi SAW, orang badui tersebut berlalu dengan riangnya. Nabi SAW berkata tentang dirinya, "Ia sungguh pandai…!!"
Ma’asyirol Muslimin….
Kemurahan dan kasih sayang Allah tidak hanya pada saat hari perhitungan amal, tidak hanya di hari qiyamat, tetapi kemurahan Allah telah ditunjukkan kepada kita sejak kita berada di Dunia saat ini. Bulan Ramadlan yang kita hadapi saat ini adalah salah satu bentuk kemurahan Allah SWT kepada kita semua. Betapa Allah menunjukkan kemurahan dan kasih sayangnya melalui bulan ramadlan dengan menjanjikan ampunan bagi orang yang orang berpuasa di bulan Ramadlan:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Betapa Allah menjanjikan kasih sayangnya dalam bentuk pengampunan bagi mereka yang melakukan ibadah apapun di bulan ramadlan:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Ma’asyirol Muslimin…. Betapa kemurahan dan kasih sayang Allah, pada hari ini, pada bulan ini benar-benar diberikan kepada orang yang melaksanakan ibadah di Bulan Ramadlan dalam bentuka ampunan dari Allah SWT. Dengan ampunan itulah kita semua benar-benar akan kembali fitrah selama ibadah yang kita lakukan di bulan ramadlan memenuhi kriteria “إِيمَانًا” dan “احْتِسَابًا”. Maka, marilah kita benar-benar memanfaatkan momentum Ramadlan kali ini sebagai media untuk menggapai maghfiroh dari Allah SWT, dengan melaksnakan shalat fardlu, puasa, shalat tarwaih, shalat tahajjud, zakat, shodaqoh, berbuat baik pada orang lain, menjaga hati dari buruk sangka dan lain sebagainya. Semua ibadah layak kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, karena manusia tidak tahu mana ibadahnya yang terpilih sebagai media ampunan dari Allah. Sebab tidak sedikit dari ibadah kita yang tidak memenuhi syarat Ikhtisaban. artinya tujuan amal kita hanya karena mengharap balasan dari allah. Itulah amal yang akan terpilih menjadi media untuk menggapai maghfiroh Allah. Namun, tidak sedikit ibadah kita yang tujuannya tidak karena Allah, tetapi karena ingin disebut sebagai orang shaleh, karena ingin di sebut sebagai orang baik, karena ingin disebut orang yang pandai dan karena tujuan-tujuan duniawiyah yang lainnya. Maka kita tidak layak bangga terhadap amal yang telah kita lakukan, tapi seharusnya kita selalu mengharap agar amal kita menjadi amal yang dapat diterima oleh Allah dengan tetap menjalankan berbagai amal ibadah sebanyak-banyaknya disertai usaha ikhlas. Serta selalu bersyukur karena Allah masih memberikan hidayah kepada kita sehingga kita mau beramal ibadah kepada Allah.
Diriwayatkan oleh Abu Harayrah dalam hadits Qudsi yang panjang,  Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Orang yang pertama di hisab di hari kiamat adalah Orang yang mati syahid. Lalu Allah bertanya kepadanya, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?’, lelaki itu menjawab, ‘Aku berperang untuk-Mu hingga aku syahid’; Allah menjawab, “Kamu berdusta, (akan tetapi sesungguhnya) engkau berperang agar orang menyebutmu pemberani, dan (orang – orang) telah menyebutkamu demikian, kemudian orang itu dimasukkan ke neraka”. Dan (selanjutnya adalah) Orang alim yang mengamalkan ilmunya serta membaca al-Quran, kemudian Allah bertanya, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat – nikmat itu?’ lelaki itu menjawab, ‘Aku mencari ilmu dan mengamalkannya/mengajarkannya, dan aku membaca al-Quran karena-Mu’. Allah berfirman, “kamu berdusta, (akan tetapi) kamu mencari ilmu itu agar disebut sebagai orang ‘alim (orang yang berilmu), dan kamu membaca al-Quran agar orang menyebutmu qari’, dan kamu telah disebut demikian itu di dunia” kemudian orang itui di bawah ke neraka” Dan (selanjutnya) adalah orang yang diluaskan (rizkinya) oleh Allah. Dan dikaruniai berbagai harta kekayaan. Kemudian Allah bertanya, “Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat – nikmat itu?”, lelaki itu menjawab, “Aku hanya menginfakkan hartaku untuk-Mu”; Allah berfirman, “Kamu berdusta, tetapi kamu melakukan itu semua agar orang menyebutmu dermawan, dan kamu telah disebut demikian”. Kemudian orang itu di bawa ke neraka. (HR. Muslim dan begitu juga at-Tirmidzi dan an-Nasai)
Ma’asyirol Muslimin….
Ada orang yang setelah mendengar hadits ini kemudian mengurangi atau bahkan tidak beramal karena sulitnya ikhlas. Itu adalah pemahaman yang salah. Hadits ini mengajak kita untuk selalu berusaha ikhlas dalam setiap amal ibadah kita. Hadits ini mengajak kita agar tujuan amal itu murni mengharap imbalan Allah, bukan imbalan dari makhluk berupa pujian dan junjungan. Dengan hadits ini, maka kita seharusnya malah menambah banyak amal ibadah karena berharap agar di antara sekian amal ibadah kita, terdapat amal yang memiliki kualitas yang memenuhi persyaratan sebagai media menggapai ampunan dari Allah SWT.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ وَأَبْيَنَ النِّظَامِ، كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ الْعَلاَّمِ، وَاللهُ يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِ الْمُهْتَدُوْنَ، مَنْ عَمِلَ صَالحِاً فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا، وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِىْ الْقُرْأَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنىِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرَّاءٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الخطبة الثانية
اَلْحَمْدُ ِللهِ شكرا علي ما أنعم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ كَمَا أَمَرَ وَألزم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شهادة من أمن به وأسلم وحاد من كفر وأرغم ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ، اتَّقُوْا اللهَ إن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه ، وثنى بملائكته وأيه بالمؤمنين من عباده. وقال عز من قائل: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى مَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَأَنْبِيَائِكَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وارحمنا بِرَحْمَتِكَ يَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا مَا قَدَّمْنَاهُ، وَمَا أَخَّرْنَاهُ، وَمَا أَسْرَرْناَهُ، وَمَا أَعْلَناَّهُ، وَأَحْصَيْتَهُ وَنَسِيْناَهُ، وَعَلِمْتَهُ وَجَهِلْناَهُ، وَلاَتَدَعْ لَنَا أَمَلاً إِلاَّ بَلَّغْتَنَاهُ، وَلاَسُؤْلاً إِلاَّ سَوَّغْتَناَهُ، وَلاَخَيْرًا إِلاَّ أَعْطَيْتَنَاهُ، وَلاَ شَرًّا إِلاَّ كَفَّيْتَنَاهُ.رَبَّناَ اغْفِرْلَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، رَبَّناَ أَتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِىْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُواْ اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

0 comments

Khutbah Akhir Ramadlan Dalam Mempersiapkan Idul Fitri



Khutbah
Akhir Ramadlan di Masjid Babul Jannah sememi Benowo
(30 juni 2016)
Oleh Moh. Dliya’ul Chaq, M. HI.

إنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِناَ مَنْ يَهْدِاللهَ فَهُوَ اْلمُهْتَدُ وَمَنْ يُظْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِياًّ مُرْشِدًا أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا  مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ. (إِتَّقُوْا اللهَ)2 حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم ﴿يٰاۤ أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ﴾ (البقرة: 183)

Telah beberapa hari kita dipertemukan dengan Ramadlan. Maka, kami mengajak ummat muslimin, khususnya kepada pribadi kami untuk selalu menambah ketaqwaan kepada Allah SWT karena Ramadlan adalah media untuk bertaqwa kepada Allah (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ).
Ma’asyrol Muslimin…
Dalam riwayat Abu Hurayrah dikatakan bahwa suatu saat Rasulullah keluar untuk shalat di bulan Ramadlan. Lalu banyak dari sahabat yang mengikuti Rasulullah. Ulama’ mengatakan itu adalah shalat tarawih. Setelah shalat, Rasulullah bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Sabda Rasulullah ini menunjukan kemurahan dan kasih saying Allah di bulan Ramadlan dalam bentuk pengampunan dosa bagi mereka yang beribadah di bulan Ramadlan yang memenuhi kriteria “إِيمَانًا” dan “احْتِسَابًا”. Imanan artinya meyakini tentang adanya Allah dan kebenaran ibadah. Sedangkan ikhtisaban artinya mengharap Allah atau mengharap balasan ukhrowi dari Allah SWT.
Maka, marilah kita benar-benar memanfaatkan momentum Ramadlan ini sebagai media untuk menggapai maghfiroh dari Allah SWT, dengan melaksnakan shalat fardlu, puasa, shalat tarwaih, shalat tahajjud, zakat, shodaqoh, berbuat baik pada orang lain, menjaga hati dari buruk sangka dan lain sebagainya. Semua ibadah layak kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, karena manusia tidak tahu mana ibadahnya yang terpilih sebagai media ampunan dari Allah. Sebab tidak sedikit dari ibadah kita yang tidak memenuhi syarat “إِيمَانًا” dan “احْتِسَابًا”.  Semoga ibadah kita di bulan Ramadlan benar-benar terpilih sebagai media ampunan Allah kepada Kita. Karena dengan ampunan itulah kita semua benar-benar akan kembali fitri. Oleh karenanya seremonial berakhirnya bulan suci ramadlan disebut dengan Idul Fitri.
Ma’asyirol Muslimin….
Idul Fitri terkadang ada yang menyambutnya dengan duka cita karena terasa berat berpisah dengan Ramadlan. Ada yang merasa telah lulus ujian selama Ramadlan sehingga menyambutnya dengan suka cita, seperti membeli baju baru, takbir keliling, menabuh bedug untuk memeriahkan bulan Ramadlan, memberikan sodaqoh pada orang lain dan anak-anak. Apapun bentuknya, semua itu adalah ajaran Islam. Terdapat beberapa hadits dan hikmah ulama’ tentang tuntunan menyambut idul fitri walaupun sebagian hadits tuntunan idul fitri tergolong dloif. Namun menurut kesepakatan ulama’, hadits dloif tetap dapat dijadikan pedoman selama berhubungan dengan fadloilul a’mal (keutamaan amal).
1.        Dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di malam idul fitri, sebagaimana hadits dalam Sunan Ibnu Majah, Syuabul Iman karya Imam al-Bayhaqi, al-Adzkar karya Imam Nawawi, dan Jamiul Ahadits karya Imam Suyuti:
عن أبي أمامة  : - عن النبي صلى الله عليه و سلم قال (مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدِ لِلَّهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ حِينَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ)
“Barang siapa yang beribadah pada malam hari raya idul fitri dan idul adha dengan ikhlas maka hatinya tidak akan mati di saat banyak hati yang mati”.
Menurut beberapa ulama’, pada malam hari raya dianjurkan untuk menghidupkannya dengan diisi beragam ibadah kepada Allah SWT, Abdullah bin Umar bin Khattab selalu melakukan ini. Walaupun haditsnya dloif tapi menurut akal, hal ini sangat logis mengingat malam itu adalah malam perpisahan dengan bulan Ramadlan. Maka layak jika dipenuhi dengan ibadah. Bahkan Imam Syafi’I mengatakan, bahwa pada malam itu doa-doa akan diijabahi oleh Allah sebagaimana keterangan dalam kitab Syuabul Iman karya Imam al-Bayhaqi:
قَالَ الشَّافِعِىُّ : وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ : إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِى خَمْسِ لَيَالٍ فِى لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةِ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
2.        Dianjurkan membaca tahlil dan takbir dengan suara lantang. Sebagaimana hadits dalam sunan al-bayhaqi, shahih Ibnu Huzaymah,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَخْرُجُ فِى الْعِيدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ ، وَعَبْدِ اللَّهِ ، وَالْعَبَّاسِ ، وَعَلِىٍّ ، وَجَعْفَرٍ ، وَالْحَسَنِ ، وَالْحُسَيْنِ ، وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، وَزِيدِ بْنِ حَارِثَةَ ، وَأَيْمَنَ ابْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ فَيَأْخُذُ طَرِيقَ الْجَدَّادِينَ حَتَّى يَأْتِىَ الْمُصَلَّى. وَإِذَا فَرَغَ رَجَعَ عَلَى الْحَذَّائِينَ حَتَّى يَأْتِىَ مَنْزِلَهُ.
“Rasulullah keluar rumah saat hari raya idul fitri dan idul adha bersama fadhal bin Abbas, Abdullah, Abbas, Ali bin Abi Thalib, Sayyid Hasan, Sayyid Husain, Usamah bin Zayd, Zaid bin Haritsah dan Ayman bin Umi Ayman. Mereka melantangkan suara membaca tahlil dan takbir menuju masjid / tempat shalat”.
Selain dengan takbir yang lantang, Rasulullah memperbolehkan Memeriahkan idul fitri dengan menabuh alat music yang halal. Seperti rebana dan bedug. Sebagaimana hadits dalam Shahih Bukhari dan Muslim, riwayat Siti Aishah bahwa pada malam hari raya dirinya bersama dua budak wanita di mana dua budak itu menabuh rebana. Lalu Rasulullah datang dan tidur disampingku. Lalu Abu Bakar masuk dan marah kepada budak-budak itu. Lalu Rasuulullah berkata pada Abu Bakar: Tinggalkanlah mereka hai Abu Bakar karena hari ini adalah hari raya.
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِى أَيَّامِ مِنًى تُغَنِّيَانِ وَتَضْرِبَانِ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُسَجًّى بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْهُ وَقَالَ « دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ ».
3.        Pada pagi harinya dan saat berkumpul dengan masyarakat, dianjurkan memakai pakaian yang bagus dan wangi walaupun tidak baru. Sebagaimana hadits dalam Mustadrok Imam al-Hakim dan Syuabul Iman karya al-Bayhaqi:
عن الحسن بن علي قال : « أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نلبس أجود ما نجد ، وأن نضحي بأسمن ما نجد ، البقرة عن سبعة ، والجزور عن عشرة ، وأن نظهر التكبير ، وعلينا السكينة والوقار »
“Dari Sayyid Hasan bin Ali bin Abi Thalib, berkata: Kami diperintah Rasulullah SAW untuk memakai pakaian yang paling bagus, menyembelih qurban yang gemuk ketika idul adha, melantangkan takbir, bersikap tenang dan berwibawa”
Dalam hadits Imam Bukhari dan Muslim dinyatakan bahwa suatu saat Umar bin Khattab membeli jubbah tenunan dari sutera di pasar. Lalu membawanya pada Rasulullah SAW dan berkata “Wahai Rasulullah belilah jubbah ini untuk hari raya dan menerima utusan raja”. Lalu Rasul bersabda, “Ini adalah jubbah orang yang tidak mendapat bagian di akhirat (karena terbuat dari sutera)”.
حَدَّثَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ وَجَدَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ حُلَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ بِالسُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ فَتَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَلِلْوَفْدِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ ». قَالَ فَلَبِثَ عُمَرُ مَا شَاءَ اللَّهُ. ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِجُبَّةِ دِيبَاجٍ فَأَقْبَلَ بِهَا عُمَرُ حَتَّى أَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ « إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ ». أَوْ « إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ ». ثُمَّ أَرْسَلْتَ إِلَىَّ بِهَذِهِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَبِيعُهَا وَتُصِيبُ بِهَا حَاجَتَكَ ».
Hadits ini menunjukkan bahwa tradisi memakai baju yang baik saat hari raya adalah tradisi sejak masa Rasulullah SAW.
4.        Diwajibkan mengeluarkan zakat sebelum shalat idul fitri sebagaimana hadits shahih yang diriwayatkan Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam al-Hakim:
عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: - فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - زَكَاةَ اَلْفِطْرِ; طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اَللَّغْوِ, وَالرَّفَثِ, وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ, فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ, وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ اَلصَّدَقَاتِ. - رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم
Rasulullah bersabda: Zakat fitri bagi orang yang berpuasa adalah pembersihan dari perilaku sis-sia, perkataan kotor serta suguhan bagi orang miskin. Barang siapa yang memberi makanan pada orang miskin maka akan diberi Allah buah-buahan dari Surga, sebagaimana hadits dalam Sunan Abu Daud:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ, عَنِ اَلنَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: - أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ كَسَاهُ اَللَّهُ مِنْ خُضْرِ اَلْجَنَّةِ, وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اَللَّهُ مِنْ ثِمَارِ اَلْجَنَّةِ, وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اَللَّهُ مِنْ اَلرَّحِيقِ اَلْمَخْتُومِ
Dalam firman Allah, orang yang zakat pasti akan menemui kebahagiaan dan keberuntungan. “قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى”.
5.        Disunnahkan memakan makanan ringan sebelum berangkat shalat idul Fitri, sebagaimana hadits hasan dalam sahih bukhari, bahwa Rasulullah pada pagi hari idul fitri memakan beberapa kurma.
عَنْ أَنَسٍ - رضي الله عنه - قَالَ: - كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - لَا يَغْدُو يَوْمَ اَلْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ
Kesunnahan ini untuk memperjelas bahwa pada hari raya puasa diharamkan. Dalam hadits lain yang sahih riwayat Imam Ahmad, Imam Turmudzi dan Ibnu Hibban:
عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ, عَنْ أَبِيهِ قَالَ: - كَانَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - لَا يَخْرُجُ يَوْمَ اَلْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ, وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ اَلْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ
6.        Dianjurkan mengajak seluruh ummat untuk hadir ditempat shalat hari raya, walaupun gadis-gadis belia, wanita yang sedang haid serta wanita yang menutup seluruh auratnya. Wanita yang sedang haid tidak ikut shalat melainkan ikut mendengarkan khutbah.
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ».
7.        Diwajibkan atau difardlukan secara fardlu kifayah untuk Shalat idul Fitri.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ
Shalat idul fitri memiliki keutamaan sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud dalam kitab Nashoihul Ibad, bahwa ketika umat Muhammad puasa Ramadlan lalu keluar untuk shalat idul fitri. Maka Allah berfirman “Wahai para malaikatku, semua orang yang beramal menginginkan balasan dariKu. Dan hamba-hambaku yang berpuasa sebulan Ramadlan lalu keluar menuju Shalat idul Fitri untuk mengharap imbalan dariKu, maka saksikanlah bahwa aku telah mengampuninya. Lalu ada suara berkata, “Wahai Umat Muhammad, kembalilah ke rumah kalian karena aku telah mengganti kesalahanmu dengan kabikan. Lalu Allah berfirman, “Wahai hamba-hambaku, kalian berpuasa dan berbuka karenaKu, maka berdirilah dalam keadaan dosa-dosa terampuni”.
عن أَبن مسعود رضي الله عنه عن النبي عليه الصلا ة وَلسلام أَنه قال اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى يَا مَلَـئِكَتِىْ كُلُ عَامِلٍ يَطْلُبُ اَجْرَهُ وَعِبَادِىَ اللَذِيْنَ صَامُوْا شَهْرَهُمْ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَطْلُبُوْنَ اُجُوْرَهُمْ اِشْهَدُوْا أَنىِ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ ، فَيُنَادِىْ مُنَادٍ يَا اُمَةَ مُحَمَدٍ اِرْجِعُوْا اِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِئَاتِكُمْ بِالْحَسَنَاتِ، فَيَقُوْلُ اللهُ تعالى يَا عِبَادِىْ صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas
عَنْ إِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا يَرْفَعُهُ:  إِذَا كاَنَ يَوْمَ عِيْدِ اْلفِطْرِ هَبَطَتِ اْلمَلاَئِكَةِ إِلَى اْلأَرْضِ فِى كُلِّ بَلَدٍ فَيَقِفُوْنَ عَلَى أَفْوَاهٍ السِّكَكِ يُنَادُوْنَ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ جَمِيْعُ مَنْ خَلَقَ اللهُ إِلاَّ اْلجِنَّ وَاْلإِنْس. ياَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ أَخْرَجُوْا اِلَى رَبٍّ كَرِيْمٍ يُعْطِى اْلجَزِيْلَ وَيَغْفِرُ الذَّنْبَ اْلعَظِيْم فَإِذَا بَرَزُوْا إِلَى مُصَلاَّهُمْ قاَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ  : يَا مَلاَئِكَتِىْ مَا جَزَاءَ اْلأَجِيْرِ إِذاَ عَمَلَ عَمَلَهُ فَيَقُوْلُوْنَ إِلَهَناَ وَسَيِّدِناَ أَنْ تُوَفِّيَهُ أَجْرَهُ
Riwayat lain dalam kitab Kanzul Ummal dan
عن سعيد بن أوس الأنصاري عن أبيه إذا كان يوم الفطر وقفت الملائكة في أفواه الطريق فنادوا يا معشر المسلمين اغدوا إلى رب كريم رحيم يمن بالخير ويثيب عليه الجزيل لقد أمرتم بقيام الليل فقمتم، وأمرتم بصيام النهار فصمتم، وأطعتم ربكم فاقبضوا جوائزكم، فإذا صلوا العيد نادى مناد من السماء: ارجعوا إلى منازلكم راشدين فقد غفر لكم ذنوبكم كلها، ويسمى ذلك اليوم في السماء يوم الجوائز
8.        Dianjurkan bersedekah setelah shalat idul fitri sebagaimana hadits sahih bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah melaksanakan shalat Hari Raya 'Idul Fitri dua rakaat dan tidak shalat sebelum atau sesudahnya. Lalu beliau mendatangi para wanita dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka para wanita memberikan sedekah hingga ada seorang wanita yang memberikan anting dan kalungnya:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَجَعَلَتِ الْمَرْأَةُ تُلْقِى خُرْصَهَا وَتُلْقِى سِخَابَهَا.


إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ وَأَبْيَنَ النِّظَامِ، كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ الْعَلاَّمِ، وَاللهُ يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِ الْمُهْتَدُوْنَ، مَنْ عَمِلَ صَالحِاً فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا، وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِىْ الْقُرْأَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنىِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرَّاءٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الخطبة الثانية
اَلْحَمْدُ ِللهِ شكرا علي ما أنعم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ كَمَا أَمَرَ وَألزم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شهادة من أمن به وأسلم وحاد من كفر وأرغم ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ، اتَّقُوْا اللهَ إن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه ، وثنى بملائكته وأيه بالمؤمنين من عباده. وقال عز من قائل: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى مَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَأَنْبِيَائِكَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وارحمنا بِرَحْمَتِكَ يَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا مَا قَدَّمْنَاهُ، وَمَا أَخَّرْنَاهُ، وَمَا أَسْرَرْناَهُ، وَمَا أَعْلَناَّهُ، وَأَحْصَيْتَهُ وَنَسِيْناَهُ، وَعَلِمْتَهُ وَجَهِلْناَهُ، وَلاَتَدَعْ لَنَا أَمَلاً إِلاَّ بَلَّغْتَنَاهُ، وَلاَسُؤْلاً إِلاَّ سَوَّغْتَناَهُ، وَلاَخَيْرًا إِلاَّ أَعْطَيْتَنَاهُ، وَلاَ شَرًّا إِلاَّ كَفَّيْتَنَاهُ.رَبَّناَ اغْفِرْلَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، رَبَّناَ أَتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِىْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُواْ اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger