Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Ramadlan. Show all posts
Showing posts with label Ramadlan. Show all posts

Keistimewaan Romadlon 1

Moh. Dliya'ul Chaq bin Basuni Manaf

Malam ini, selasa 12 juni 2018, saya terjadwal sebagai imam sholat isya' dan tarawih di salah satu masjid di kelurahan Sememi Kecamatan Benowo Kabupaten Surabaya. Seperti biasa, setelah tarawih rampung sebelum witir, saatnya kultum. Katanya sih kultum, tapi prakteknya ada sampai 30 menit. Wauw kan...

Akupun mengikuti tradisi itu. Kultum maksudnya, bukan kultipulum. Sebenarnya tema pembahasan baru ketemu saat tengah2 tarawih. Aneh bukan? Seorang Imam tidak khusyu' karena "angen-angen" materi kultum. Ya tapi inilah yang terjadi. Karena aku bukan ustadz dan tidak pernah ingin ngustadz.

Yah..
Ramadlan adalah bulan yang paling istimewa dan luar biasa. Di dalam bulan ini, ummat muslim begitu mudah dan ringan untuk melakukan kebaikan yang tidak akan bisa dilakukan di luar ramadlan. Di antaranya, ummat muslim berbondong-bondong menuju masjid untuk sholat 20 rakaat (tarawih), yang menurut dugaan saya hal ini tidak akan bisa diadakan di luar bulan ramadlan. Entah kenapa, yang jelas Ramadlan benar-benar luar biasa. Rasulullah pun bersabda:
"seandainya ummatku tahu (sejatinya) apa yang ada dalam bulab ramadlan, maka pasti mereka menginginkan seluruh bulan dalam satu tahun adalah Ramadlan".

Kita pun sering kali tidak sadar melakulan kebaikan di bulan ramadlan. Saat datang ikut shalat tarawih, ada pengumandangan ajakan sholat oleh "bilal"  tarawih. Bilal tarawih ini benar2 tidak pernah ada di zaman Rasulullah. Tetapi secara subtantif sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam manapun sebab bacaan-bacaannya lebih mengajak pada jamaah untuk berdoa, baik itu sholawat atau taradli.  Dan tanpa sadar, para jamaah telah berdoa / membaca shalawat dan taradli beberapa kali. Shalawat adalah berdoa untuk Rasulullah agar diberi rahmat, salam dan barokah oleh Allah. Sedangkan taradli adalah berdoa untuk sahabat Rasulullah agar diberi ridlo oleh Allah swt. Intinya mendoakan orang lain. Tapi pertanyaannya adalah, kenapa kita mendoakan Rasulullah yang jelas2 mendapatkan rahmat dan apapun dari Allah. Dan juga kenapa kita mendoakan sahabat Rasul yang pastinya lebih baik dari kita, ummat saat ini karena banyak dari sahabat yang telah dijamin masuk surga. Padahal kita lebih buruk dari mereka.

Jawabannya mungkin kita bisa melihat hadits Rasulullah saw yang
diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dari Shafwan, ia adalah Ibnu ‘Abdillah bin Shafwan, dan umur ad-Darda’ di bawahnya, beliau berkata: “Aku pergi ke Syam dan mendatangi Abud Darda’ Radhiyallahu anhu di rumahnya, tetapi beliau tidak ada di rumah, yang ada hanyalah Ummud Darda’ رَحِمَهَا اللهُ تَعَالَى, ia berkata: ‘Apakah tahun ini engkau akan pergi haji?’ ‘Ya,’ jawabku. Dia berkata: ‘Do’akan kami dengan kebaikan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”

‘Abdullah berkata: “Lalu aku pergi ke pasar dan bertemu dengan Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, lalu beliau mengucapkan kata-kata seperti itu yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Hadits ini menunjukkan bahwa berdoa untuk orang lain selain mustajabah juga sejatinya adalah mendoakan dirinya sendiri. Karena ketika berdoa untuk orang lain, Malaikat mengamini dan juga berdoa agar Allah memberikan sesuatu yang sama (dengan doa untuk saudaranya) pada orang yang berdoa.

Maka mendoakan rahmat dan salam bagi Rasulullah sejatinya adalah berdoa untuk diri sendiri agar mendapatkan rahmat dan salam dari Allah. Mendoakan para sahabat rasul dengan radliyallohu 'anhu sejatinya adalah doa kepada diri orang yang berdoa sendiri agar mendapat Ridlo dari Allah. Itulah yang sejatinya. Begitupun saat ziarah makam para wali dan ulama', seperti makam wali songo, kita  selalu berdoa allohummaghfir lahu (ya Allah berilah ampunan padanya).

Jadi berdoa untuk Rasulullah, para sahabat dan para wali bukan berarti Rasullah belum mendapatkan keselamatan dari Allah sehingga kita memintakannya, bukan berarti Allah belum meridloi para sahabat Rasul, bukan berarti para wali masih banyak dosa yang butuh kita mintakan ampunan, bukan. Tetapi sejatinya doa2 kita itu kembali kepada kita sendiri sebagaimana hadits di atas.

Kita adalah makhluk yang lebih buruk dari mereka sehingga tak pantasalah kita mendoakan mereka. Bahkan yang pantas adalah mereka mendoakan kita karena mereka lebih dekat dengan Allah.

Maka sekalipun tidak pernah ada pada masa Rasulullah, taradli dianjurkan oleh ulama'. Para perawi hadits selalu melakukan ini. Hanya saja saat menyebut nama sahabat Ali bin Abi Thalib, beberapa ulama' khususnya ulama' tasawuf menggunakan redaksi karromallohu wajhah,  bukan radliyallohu 'anhu. Kenapa? Karena sahabat Ali selama hidupnya tidak pernah melihat aurotnya sendiri, lebih-lebih orang lain. Dan ini pernah dibuktikan oleh para sahabat.

Saat perang shifin (kelompok muawiyah vs kelompok ali) terjadi, saat pasukan sudah berhadap-hadapan, sudah menjadi tradisi dilangsungkan duel satu lawan satu.  Saat itu sahabat Ali yang maju lebih dulu untuk menantang muawiyah. Tetapi muawiyah tidak berani, digantikan oleh 'Amr bin' Ash.  Sahabat Ali memang jago duel dan terkenal dengan pedangnya yang namanya dzulfiqor (zulfikar). Dan dalam duel itu, sahabat ali menang dan pedang telah berada di leher 'Amar bin' Ash. Namun 'Amr ingat betula bahwa sahabat Ali adalah oramg yang pantang melihat aurat, sehingga kehebatan sahabat Ali tersebut ternyata di hadapan' Amar bin 'Ash menjadi kelemahan. Dalam kondisi yang demikian, sahabat' Amr bin 'Ash membula bajunya sehingga aurotnya terlihat. Sontak sahabat Ali berpaling untuk menghindar dari melihat aurat, sehingga' Amr bin Ash dapat menyelamatkan diri.

Karena kehebatannya dalam menjaga pandangan mata dari aurat, maka para ulama' bedoa dengan karromallohu wajhah untuk sahabat Ali. Berharap agar yang berdoalah yang mendpatkan kemuliaan itu. Maka berdoa untuk orang lain sejatinya adalag berdoa untuk sendiri.

Maka, pelajaran penting yang dapat kita ambil pada malam ini adalah marilah kita berdoa kebaikan untuk orang lain karena sejatinya doa itu adalah untuk diri kita, dan mistajabah. Sekali kita berdoa keburukan pada orang lain, maka keburukan akan menimpa kita. Maka damaikanlah hati kita agar mudah melihat sisi baik orang lain sehingga mudah mendoakan kebaikan untuk orang lain. Dan ketika kita berdoa kebaikan untuk orang lain, maka kebaikan akan menghampiri kita. Dan jika kita selalu berdoa kebaikan untuk orang lain maka hidup kita akan sangat bahagia dan sukses karena kita akan dihampiri banyal kebaikan. Maka sukses kita, tergantung pada kita melihat orang lain. Su'udzon dan khusnudzdzon itulah yang alan menentukan lebahagiaan dan kesuksesan kita.

Dan di malam ke 27 ini, marilah kita lestarikan dan istiqomah menjaga aurat sebagaimana sahabat Ali. Serta istiqomah dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan di luar bulan ramadlan, sebab 11 bulan itu penilaian yang lebih lama dari Allah serta ujian apakah Ramadlan kita benar2 media pembelajaran amal untuk masa-masa di luar ramadlan. Mugi kito sedoyo angsal keistimewaan ramadlan. Sebab rasulullah dawuh:
"Rugilah seorang hamba yang bertemu Ramadlan tetapi dosa-dosanya tidak diampuni Allah".


0 comments

Sam'un Al Ghozi

KELEMAHAN  PRIA ADALAH WANITA
DAN KELEMAHAN WANITA ADALAH HARTA
KISAH SANG SUPER POWER
يِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَسَبَبُ نُزُوْلِ هَذِهِ السُّوْرَةِ (القَدْرِ) عَنِ ابْنِ عَبّاَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُماَ أَنَّهُ قاَلَ ؛ ذَكَرَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدًا يُقاَلُ لَهُ شَمْعُوْنْ الغاَزِى وَهُوَ غَزاَ الكُفاَرَ أَلْفَ شَهْرٍ وَكاَنَ سِلاَخُهُ لَحْىُ جَمَلٍ وَلَيْسَ لَهُ غَيْرُهاَ مِنْ آلَةِ حَرَبٍ وَكُلَّماَ ضَرَبَ الكُفاَرَ بِهَذاَ اللَّحْيِ قَتَلَ ماَلاَيُحْصَى عَدَدُهُمْ

Sebab turun surat Al-Qodr ialah sebagaimana riwayat Ibnu Abbas, beliau berkata ;
Suatu hari malaikat Jibril bercerita kepada Nabi Saw, tentang kisah seorang hamba yang memiliki kekuatan super, namanya Sam’un Al-Ghozy, seorang pembela agama, berperang melawan kaum kafir selama 1000 bulan, hanya berbekal tulang dagu unta sebagai senjata, tidak memiliki senjata lain. Setiap kali menghantam kaum kafir dengan janggut untanya, terbunuhlah banyak kaum kafir dalam jumlah yang tidak terhitung.

فَإِذاَ عَطَسَ يَخْرُجُ مِنْ مَوْضِعِ الأَسْناَنِ ماَءُ عَذَبٍ فَيَشْرِبَهُ , وَإِذاَ جاَعَ يَنْبُتُ مَنْهُ لَحْمٌ فَيَأْكُلَهُ , فَكاَنَ عَلَى هَذاَ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى مَضَى مِنْ عُمْرِهِ أَلْفَ شَهْرٍ وَهِىَ ثَلاَثُ وَثَمَانُوْنَ سَنَةً وَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ , فَعَجَزَ الكُفاَرُ عَنْ رَدِّهِ , فَقاَلُوْا ِلإِمْرَأَتِهِ وَهِىَ كاَفِرَةٌ إِنّاَ نُعْطِيْكِ أَمْواَلاً كَثِيْرَةً إِنْ قَتَلْتِ زَوْجَكِ , قاَلَتْ أَناَ لاَأَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ

Jika ia merasa haus maka keluar air tawar dari tempat giginya, untuk ia minum, jika ia lapar maka dari tempat itu pula tumbuh daging dan ia memakannya. Demikianlah keadaan Sam’un sang super power dalam hari-harinya, sehingga usianya sampai 1000 bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan. Kaum kafir tetap tidak mampu mengalahkannya. Dia suatu kesempatan Kaum kafir ini berkata kepada istri Sam’un, karena istri Sam’un ini seorang kafir, “Kami akan memberi uang banyak, jika kamu dapat membunuh suamimu” Sang istri menjawab “Aku tidak sanggup membunuhnya”

فَقاَلُوْا نُعْطِيْكِ حَبْلاً شَدِيْداً فَشَدِّى بِهِ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فىِ نَوْمِهِ وَنَحْنُ نَقْتُلُهُ , فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ فىِ نَوْمِهِ فاَسْتَيْقَظَ فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ فَقاَلَتْ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ الحَبَلُ , ثُمَّ جاَءَ الكُفاَرُ بِسِلْسِلَةٍ فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ بِهاَ فاَسْتَيْقَظَ , فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ قاَلَتْ أَناَ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ السِّلْسِلَةُ

Kaum kafir memberikan saran, kami memberimu tali tambang yang kuat, ikatlah kedua kaki dan tangan Sam’un di saat ia tidur, dan kami akan membunuhnya. Singkat cerita, Sam’un diikat istrinya di saat tidur, ia terbangun dan berkata “Siapa yang mengikatku ?” istrinya menjawab “Aku mengikatmu karena ingin mengujimu.” Kemudian Sam’un menggerakkan tangannya, sekali gerakan terputuslah ikat tambang itu.

Keesokan harinya kaum kafir datang lagi kepada istri Sam’un membawa rantai, Sam’un diikat saat tidur, Sam’un terbangun dan berkata “Siapa yang mengikatku?” istrinya menjawab “Aku mengikatmu karena ingin mengujimu.” Kemudian Sam’un menggerakkan tangannya, sekali gerakan terputuslah rantai itu.

فَقاَلَ ياَإِمْرَأَتِى أَناَ وَلِىٌّ مِنْ أَوْلِياَءِ اللهِ تَعاَلىَ لاَيَغْلِبُ عَلَىَّ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ الدُّنْياَ إِلاَّ شَعْرِى هَذاَ , وَكاَنَ لَهُ شِعْرٌ طَوِيْلٌ , فَسَمِعَتْ امْرَأَتُهُ

Sang super power Sam’un berkata “Wahai istriku aku wali diantara wali kekasih Allah, segala perkara dunia ini tidak ada yang sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut ini, ia memang berambut panjang. Dan ucapan itu terdengar istrinya.

فَلَمَّا ناَمَ قَطَعَتْ ذَواَئِبَهُ فىِ حاَلِ نَوْمِهِ , وَكاَنَتْ ثَماَنِىُ قَطْعٍ مِنْ شَعْرِ رَأْسِهِ وَكُلُّهاَ تَجِرُّ عَلَى الأَرْضِ , فَشَدَّتْ بِأَرْبَعَ ذَوَائِبَ , مِنْهاَ يَدَيْهِ وَبِالأَرْبَعِ الأُخْرَى رَجْلَيْهِ فىِ نَوْمِهِ , فاَسْتَيْقَظَ فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ قاَلَتْ أَناَ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَلَمْ يَقْدِرُ عَلَى قَطْعِهاَ

Ketika Sam’un tertidur, istrinya mengunting rambut panjang Sam’un, guntingan rambutnya menjadi 8 potong, semua jatuh ke tanah, sang istri mengikat Sam’un dengan 4 potongan rambut, 4 potong pertama mengikat kedua tangannya, 4 potong kedua mengikat kedua kakinya. Sam’un terbangun dan berkata “Siapa yang mengikatku ?” istrinya menjawab “Aku, aku mengikat karena ingin mengujimu.” Kali ini Sam’un tidak mampu melepaskan ikatan itu.

فَأَخْبَرَتْ امْرَأَتُهُ الكُفاَرَ , فَجاَؤُا وَذَهَبُوْا بِهِ إِلىَ مَذْبَحِهِمْ وَكاَنَ فِيْهِ عُمُوْدٌ فَأَوْثَقُوْهُ عَلَى ذَلِكَ العُمُوْدِ , فَقَطَعُوْا أُذُنَيْهِ وَعَيْنَيْهِ وَشَفَتَيْهِ وَلِساَنَهُ وَيَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ وَكُلُّهُمْ يَجْتَمِعُوْنَ فىِ ذَلِكَ البَيْتِ

Kemudian sang istri memberitahukannya kepada kaum kafir, mereka beramai-ramai membawa Sam’un ke sebuah rumah, tempat mereka menghukum mati seseorang dengan memenggal lehernya, di tengah rumah itu terdapat tiang, mereka mengikat Sam’un di tiang itu, mereka memotong kedua telinga Sam’un, mencongkel kedua mata Sam’un, menggunting bibir dan lidah Sam’un, kedua tangan dan kedua kakinya pun di potong, semua orang berkumpul menyaksikan Sam’un di mutilasi di rumah tersebut.

فَاَوْحَى اللهُ تَعاَلىَ إِلَيْهِ ؛ أَىُّ شَيْءٍ تُرِيْدُ بِهِمْ أَصْنَعُهُ ؟ فَقاَلَ أَنْ تُعْطِيَنِى مِنَ القُوَّةِ حَتَّى أَحْرَكَ عُمُوْدَ هَذاَ البَيْتِ فَيَنْهَدِمَ عَلَيْهِمْ , فَقَواَهُ اللهُ وَحَرَّكَ نَفْسَهُ فَوَقَعَ السَّقَفُ عَلَيْهِمْ وَأَهْلَكُوْا جَمِيْعاً وَامْرَأَتُهُ مَعَهُمْ , فَأَنْجاَهُ اللهُ تَعاَلىَ مِنْهُمْ وَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ أَعْضاَءَهُ

Disaat kritis seperti itu Allah memberi wahyu (kasih sayang) kepada Sam’un dan menawarkan “Apa yang kamu inginkan pada kaum kafir ini, Aku akan melakukannya wahai Sam’un ?” Sam’un menjawab “Berilah aku kekuatan, aku ingin menghancurkan tiang ini, sehingga rubuh dan menimpa mereka. Allah Swt pun memberinya kekuatan dan Sam’un menggerakkan dirinya, dan hancurlah tiang rumah itu, atapnya menimpa semua orang sehingga tewas, termasuk istrinya. Allah selamatkan Sam’un dan Allah kembalikan keadaan tubuh Sam’un seperti sedia kala.

فَبَعْدَ ذَلِكَ عَبَدَ اللهَ أَلْفَ شَهْرٍ مَعَ قِياَمِ لَيْلِهاَ وَصِياَمِ نَهاَرِهاَ , فَضَرَبَ بِالسَّيْفِ فىِ سَبِيْلِ اللهِ

Setelah peristiwa itu Sam’un melakukan ibadah selama 1000 bulan, malamnya tahajud siangnya berpuasa. Ia juga berperang membela Agama Allah.

فَبَكَى أَصْحاَبُ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِشْتِياَقاً لِذَلِكَ , فَقاَلُوْا ياَرَسُوْلَ اللهِ هَلْ تَدْرِى ثَواَبَهُ ؟ فَقاَلَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ السَّلاَمُ لآَأَدْرِى

Mendengar kisah Sam’un itu, para sahabat Nabi Saw terharu, mereka bertanya “Wahai Rasulullah apa tuan tahu, berapa besar pahala Sam’un ibadah seperti itu ?” Nabi menjawab “Aku tidak mengetahuinya”

فَأَنْزَلَ اللهُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ (القَدْرِ) وَقاَلَ ياَمُحَمَّدْ أَعْتَيْطُكَ وَأُمَّتَكَ لَيْلَةَ القَدْرِ العِباَدَةُ فِيْهاَ أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةِ سَبْعِيْنَ أَلْفِ شَهْرٍ

Maka Allah turunkan malaikat Jibril membawa surat Al-Qodr, dan berkata “Wahai Muhammad aku berikan kamu dan ummatmu Lailatulqodr, melakukan ibadah di malam itu lebih baik dari ibadah 70 ribu bulan”.

قاَلَ الإِماَمُ الرَّازِى فَإِذاَ طَلَعَ الفَجْرُ فىِ لَيْلَةِ القَدْرِ ناَدَى جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ياَمَعْشَرَ المَلاَئِكَةِ الرَّحِيْلَ الرَّحِيْلَ , فَيَقُوْلُوْنَ ياَجَبْرَئِيْلُ ماَصَنَعَ اللهُ بِالمُسْلِمِيْنَ فىِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ أُمَةِ  مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ السَّلاَمُ فَيَقُوْلُ لَهُمْ ؛ إِنَّ اللهَ تَعاَلىَ نَظَرَ إِلَيْهِمْ بِالرَّحْمَةِ وَعَفاَ عَنْهُمْ وَغَفَرَ لَهُمْ إِلاَّ أَرْبَعَةَ نَفَرٍ , قاَلُوْا مَنْ هَؤُلاَءِ الأَرْبَعَة ؟ قاَلَ مُدَمِنُ الخَمْرِ وَعاَقُ الواَلِدَيْنِ وَقاَطِعُ الرَّحْمِ وَالمَشاَحِنُ , يَعْنِى المُصاَرِمُ وَهُوَ الَّذِى لاَيُكَلِّمُ أَخاَهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيّاَمٍ

Imam Ar-Rozi berkata ; Apabila fajar telah terbit di malam qodar, maka malaikat Jibril berkata (jumpa pers)

Jibril                            Wahai para malaikat, kumpul kemari dan kumpul kemari..,
Para malaikat           Ya Jibril apa yang Allah perbuat untuk kaum muslimin di malam mini dari ummat Nabi Muhammad SAW?
Jibril                            Sesungguhnya Allah memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang, Allah memaafkan serta ngampuni dosa-dosa mereka, kecuali empat kelompok.
Para malaikat           Siapa empat kelompok itu ?
Jibril                           Pertama, orang yang membiasakan diri minum arak, mabuk-mabukan. Kedua, Orang yang durhaka kepada orang tua. Ketiga, orang yang memutus silaturrahmi. Keempat, orang yang bertengkar, yaitu pertengkaran dengan sesama yang belum damai dalam jangka waktu tiga hari.

Pustaka : Durratun-Nasihin - Syekh Ustman bin Hasan bin Ahmad, hal. 284-285

0 comments

Memaafkan (Halal Bi Halal)

Memaafkan (Halal Bi Halal)

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya.
Di tengah perbincangan dengan para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi beliau yang putih dan rapih.
Umar r.a. yang berada di di situ, bertanya,  _"Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?"_

Rasulullah SAW menjawab,
_"Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’._

Allah SWT berfirman, _"Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya?"_

Orang itu berkata,  _"Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya."_

Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Beliau Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis...
Lalu, beliau Rasulullah berkata,
_"Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."_

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berfirman kepada orang yang mengadu tadi,
_"Angkat kepalamu..!"_

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata,
_"Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana2 sangat megah yang terbuat dari emas, dan di dalamnya terdapat singgasana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan berlian, intan dan permata._
_Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb?_
_Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb?_
_Untuk syuhada yang mana, ya Rabb?’_

Allah berfirman,
_"Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."_

Orang itu berkata,
_"Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?"_

Allah berfirman,
_"Engkau juga mampu membayar harganya._

Orang itu terheran-heran, sambil berkata,
_"Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?"_

Allah berfirman,
_"Caranya, engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku."_

Orang itu berkata,
_"Ya Rabb, kini aku memaafkannya."_

Allah berfirman,
_"Kalau begitu, pegang tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu."_

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. bersabda,
_"Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin."_

(Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad sohih)

0 comments

Khutbah Jumat Menyambut Ramadlan Dengan Qalbun Salim dan Bahagia



Khutbah Jumat
Menyambut Ramadlan Dengan Qalbun Salim

إنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِناَ مَنْ يَهْدِاللهَ فَهُوَ اْلمُهْتَدُ وَمَنْ يُظْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِياًّ مُرْشِدًا أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا  مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ. (إِتَّقُوْا اللهَ)2 حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Pada kesempatan kali ini, marilah kita berhenti sejenak meninggalkan aktifitas duniawi menuju aktifitas ukhrowi. Berhenti sejenak untuk muroqobah dan muhasabah atas apa yang telah kita lalui agar kita bisa menjadi lebih baik. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini kami mengajak pada kaum muslimin umumnya dan pribadi kami khususnya untuk selalu berusaha menjadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan selalu memantapkan hati untuk menjahui segala larangannya dan memantapkan keinginan untuk selalu menjalankan segala perintahnya sehingga aktifitas kita selalu bernilai ibadah. Karena kita dihadirkan ke dunia ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. (wa maa kholaqtul jinn wal insa illa liya’budun)
Mulia tidaknya kita di hadapan Allah, tidak ditentukan dengan banyaknya harta kita, banyaknya pengikut kita, banyaknya murid kita, tingginya pangkat kita, tetapi mulia tidaknya kita dihadapan Allah hanya ditentukan dengan kadar ketaqwaan kita kepada Allah. (inna akromakum indallohi atqokum)
Ma’asyirol Muslimin Rohimakumulloh…
Ada salah satu sahabat Rasul bernama Abu Dujanah. Nama ini menjadi fenomenal Bahkan oleh kelompok Teroris dijadikan sebagai nama alias pemimpin mereka. Abu Dujanah adalah sahabat Rasul yang pemberani dan gigih membela Islam. Hal ini terlihat dalam perang Uhud dan perang Yamamah. Dalam perang Udud, ia berhasil mendapatkan pedang penghargaan dari Rasulullah. Sebelum perang Uhud dimulai, Nabi Muhammad SAW mengobarkan semangat pasukannya dengan mengangkat pedang tinggi-tinggi, seraya bersabda, "Siapakah di antara kalian yang ingin memegang pedang ini, dan memberikan sesuatu yang pantas baginya?" Kontan beberapa sahabat segera ke depan Rasul. Di antaranya adalah Abu Dujanah dan Dia bertanya, "Ya Rasul, apa yang pantas bagi pedang ini, dan bagaimana kami dapat memberikan kepantasan itu?". Rasul menjawab, "memanfaatkan pedang ini untuk bertempur sampai pedang ini melengkung." Abu Dujanah dengan sigap berkata, "Saya bersedia membayarkan yang pantas baginya." Dan ia pun sangat gembira menyambut perang dan mendapat kehormatan menggenggam pedang "kepercayaan" Rasulullah SAW. Dan pada saat perang Uhud, ia menjadi perisai untuk melindungi Rasulullah.
Dan Setelah wafatnnya Rasulullah, Abu Dujanah bersama Wahsyi berhasil membunuh Nabi palsu bernama Musailamah al-Kadzdzab dalam perang Yamamah.
Ma’asyirol Muslimin Rohimakumulloh…
Saat menjelang ajalnya Abu Dujanah sakit keras. Para sahabat yang lain pun berkunjung kepadanya. Menakjubkan, walaupun wajahnya pucat pasi, Abu Dujanah tetap memancarkan cahayanya, bahkan hingga akhir hayatnya. Para sahabat sempat bertanya, “Apa yang menyebabkan wajah anda bercahaya?”Abu Dujanah menjawab, “Pertama, aku tidak pernah berbicara tentang sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Kedua, aku selalu menghadapi sesama kaum muslimin dengan hati yang bersih.”
Ma’asyirol Muslimin Rohimakumulloh…
Kisah tentang Abu Dujanah ini, memberikan pelajaran pada kita bahwa menjadi muslim yang sejati haruslah disertai dengan hati yang bersih (qobun Salim), hati yang selamat dari sifat-sifat tercela dan hati yang dipenuhi dengan sifat-sifat terpuji. Sebab hati yang bersih tidak akan menimbulkan keburukan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Memiliki hati yang bersih memang tidak mudah, tapi kita harus optimis dan semangat menjadi penghuni surga hingga harus memiliki tekad yang kuat dan memohon kepada sang pemilik hati agar diberikan hati yang bersih disamping berusaha dan berlatih membersihkan hati kita. Berlatih tidak mudah marah, berlatih menjadi pemaaf, berlatih untuk tidak mendengki orang lain, dan lain sebagainya. Termasuk berlatih untuk tidak menebar benih-benih kebencian mengingat saat ini betapa mudahnya tangan-tangan manusia menulis dan menyebarkan benih-benih kebencian melalui media elektronik. Padahal mereka yang menebar keburukan akan mendapatkan keburukannya itu, dan mereka yang menebar kebaikan akan mendapatkan kebaikan itu pula. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Zalzalah ayat 7-8:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil biji dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya, dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sekecil biji dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya”
Semoga kita dijadikan Allah menjadi pribadi yang memiliki hati yang bersih. Dan semoga dengan kebersihan hati kita, Allah mentaqdirkan kita untuk menghuni SurgaNya, sebagaimana janji Allah dalam suart as-Syu’aro ayat 88-89 bahwa yang akan menyelamatkan manusia di akhirat kelak adalah mereka yang hatinya bersih:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
Maka, dalam masa-masa menyambut Bulan Ramadlan yang akan dating beberapa hari lagi, marilah marilah kita sama-sama berusaha untuk melatih hati kita agar menjadi hati yang bersih dari sifat-sifat tercela dan melatih hati kita agar menjadi hati yang penuh dengan sifat-sifat kebaikan. Sebab puasa yang sejati adalah puasa lahir dan batin. Puasa lahir adalah dengan menahan makan dan minum. Sedangkan puasa batin adalah menjaga diri dari perbuatan yang dapat menghilangkan pahala-pahala dan keistimewaan puasa ramadlan. Dalam kitab Durrotun Nasihin dikatakan:
«خَمْسَةُ أَشْيَآءَ تُحْبِطُ الصَّوْمَ اَيْ تُبْطِلُ ثَوَابُهُ: اَلْكَذِبُ، وَالْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالْيَمِيْنُ الغُمُوْسُ، وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ» (درة الناصحين)
“Lima hal yang dapat menghilangkan pahala puasa, yaitu; dusta, ghîbah (bergunjing), adu domba, sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat.” (Durratu an-Nâshihîn)
Ma’asyirol Muslimin Rohimakumulloh… Kelima hal tersebut bersumber dari hati yang jelek, hati yang tidak salim. Oleh karenanya, marilah kita mulai berusaha menata hati termasuk juga dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadlan.
Pelajaran yang kedua yang dapat diambil dari kisah Abu Dujanah adalah bahagia dalam menyambut ibadah di jalan Allah. Sebab ketika bahagia telah ada dalam hati, maka sang pemilik hati akan beribadah dengan semangat dan sepenuh hati. Orang yang bersedih dengan datangnya ibadah maka ia akan malas untyk beribadah. Dalam kaitannya dengan Ramadlan, maka marilah kita sambut ramadlan kali ini dengan penuh kebahagiaan agar kelak kita ditaqdirkan beribadah dalam bulan Ramadlan dengan semangat dan sepenuh hati. Rasul pun bersabda:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ
“Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka”

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ وَأَبْيَنَ النِّظَامِ، كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ الْعَلاَّمِ، وَاللهُ يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِ الْمُهْتَدُوْنَ، مَنْ عَمِلَ صَالحِاً فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا، وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِىْ الْقُرْأَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنىِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرَّاءٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الخطبة الثانية
اَلْحَمْدُ للهِ شكرا علي ما أنعم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ كَمَا أَمَرَ وَألزم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شهادة من أمن به وأسلم وحاد من كفر وأرغم ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ، اتَّقُوْا اللهَ إن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه ، وثنى بملائكته وأيه بالمؤمنين من عباده. وقال عز من قائل: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى مَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَأَنْبِيَائِكَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وارحمنا بِرَحْمَتِكَ يَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا مَا قَدَّمْنَاهُ، وَمَا أَخَّرْنَاهُ، وَمَا أَسْرَرْناَهُ، وَمَا أَعْلَناَّهُ، وَأَحْصَيْتَهُ وَنَسِيْناَهُ، وَعَلِمْتَهُ وَجَهِلْناَهُ، وَلاَتَدَعْ لَنَا أَمَلاً إِلاَّ بَلَّغْتَنَاهُ، وَلاَسُؤْلاً إِلاَّ سَوَّغْتَناَهُ، وَلاَخَيْرًا إِلاَّ أَعْطَيْتَنَاهُ، وَلاَ شَرًّا إِلاَّ كَفَّيْتَنَاهُ.رَبَّناَ اغْفِرْلَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، رَبَّناَ أَتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِىْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُواْ اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
0 comments

Download Kitab Kitab Tentang Hukum dan Fadhilah Puasa Romadlon

Empat Belas Kitab Tentang Bulan Romadlon dan Fadhilahnya Beserta Hukum dan Fadhilah Puasa

💚 *أربعة عشر ( 14 ) كتاباً في (شهر رمضان وفضائله ، والصوم وأحكامه وأسراره وفضائله، وصلاة التراويح)*

1- [الصيامُ في المذاهب الأربعة من الفقه الإسلامي : فلسفتُه - فقهُه - أحكامهُ - أسرارهُ] للشيخ الدكتور عبد اللطيف صالح الفرفور
رابط التحميل:
https://archive.org/download/rsmrsm/smafi.pdf

2- [الصومُ : فقهُه - أسرارهُ] للشيخ الدكتور محيي الدين ديب مستو
رابط التحميل:
http://www.archive.org/download/rsmrsm/sfa.pdf

3- [الصومُ] لفضيلة الشيخ أسعد محمد سعيد الصاغرجي الحنفي (رحمه الله تعالى)

رابط التحميل:
https://archive.org/download/rsmrsm/saums.pdf

4- [التراويح أكثر مِن ألفِ عامٍ في مسجدِ النبي ] للشيخ عطية محمد سالم (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/FP56164/56164.pdf

5- [إتحافُ أهلِ الإسلام بخصوصياتِ الصيام] للإمام الحافظ أحمد بن علي ابن حجر الهيتمي الشافعي (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/FPiaiks/iaiks.pdf

6- [فقهُ الصيامِ] للشيخ الدكتور محمد حسن هيتو
رابط التحميل:
https://archive.org/download/FP71648/71648.pdf

7- [إسعافُ أهلِ الإيمان بوظائف شهر رمضان] للعلامة الشيخ حسن محمد المشاط (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/FP97286/97286.pdf

8- [مَقاصدُ الصومِ] للإمام شيخ الإسلام سلطان العلماء عز الدين بن عبدالسلام الشافعي (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/sesasesa/mksa.pdf

9- [إتحافُ الأنام بأحكام الصيام] للدكتور زين بن محمد بن حسين العيدروس
( دراسة فقهية مقارَنة - مع ذكر المسائل المعاصرة بالدليل والتعليل وأسلوب معاصر )
ومعه أربع رسائل:
1- تأملات في آيات الصيام
2- الدرر الحسان من فوائد ختم القرآن
3- الدعاء في رمضان
4- أسماء شهر رمضان

رابط التحميل:
http://archive.org/download/Ithaf-Alanam/%20الأنام%20بأحكام%20الصيام.pdf

رابط بديل:
https://www.mrkzgulf.com/do.php?id=530291

10- [مِن أحوالِ رَمضانَ وليلتهِ المبارَكة] للشيخ السيد عباس السيد فاضل الحسني السامرائي (حفظه الله)
رابط التحميل:
http://www.mediafire.com/download/uw1wr3tgl82w4o3

11- [البضائعُ الغاليةُ الأثمانِ فى التزودِ لشهر رمضان] جمع وترتيب وتعليق الشيخ سقاف بن علي العيدروس
رابط التحميل:
https://archive.org/download/10908/10908.pdf

12- [كتابُ الصيامِ] إعداد: دار الإفتاء المصرية
رابط التحميل:
http://www.mediafire.com/download/w8nlul84aj1v3h2

13- [شهرُ رمضان] للشيخ الدكتور عبدالحليم محمود الأزهري (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/abdelhalimmahmoud/ramadane.pdf

14- [الصيامُ : آدابهُ - مطالبهُ - فوائدهُ - فضائلهُ] للمحدث الشيخ الإمام عبدِالله سراج الدين الدين الحسيني (رحمه الله تعالى)
رابط التحميل:
https://archive.org/download/sirajeddine/siyam.pdf

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger