Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Ushul Fikih. Show all posts
Showing posts with label Ushul Fikih. Show all posts

Relasi Kaidah Fiqih dengan Konsep Maslahah sebagai ‘Illat Hukum


Relasi Kaidah Fiqih dengan Konsep Mas{lahah sebagai ‘Illat Hukum
Oleh: Moh. Dliya’ul Chaq*[1]

Artikel ini telah dipublikasikan di Jurnal Ilmiah dengan nama Jurnal Tafaqquh. Untuk Download Versi Pdf. Klik
atau lihat di link berikut: http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/tafaqquh/article/view/86


Abstract
Pattern formulation of rules of jurisprudence to find points of unity in jurisprudence existing products together with qiyâs pattern, a pattern similar to the pattern even qiyâs position and function yet still debated scholars. Become more attractive especially when some scholars claim that the whole issue of jurisprudence back on one thing rather than on, the rule was interesting maṣlaḥah, while the maṣlaḥah beneficiaries according to some scholars can be used as a source or illat law. Through content analysis models interactif and with literature data found; was maṣlaḥah has a strong relationship with the rules of fiqh concretely; the rules of fiqh is equivalent to illat law because the rules of fiqh is the point of unity of a cross section of various products in the form of jurisprudence meaning kullî of some legal juz’i, in which juz’i law derived from the Qur’an, hadîth, ijmâ’, and qiyâs order to maintain the benefit of the people in the world and the hereafter, and because of the rules of fiqh is the one maṣlaḥah itself where maṣlaḥah the one can be used as a illat if established, supported and demonstrated by naṣṣ and do not contradict naṣṣ.

Keywords: Rule Fiqh, Maṣlaḥah, Illat Law.


A.    Pendahuluan
Al-Qawâid al-fiqhîyah yang lazim di sebut kaidah fiqih merupakan salah satu bidang ilmu dalam Islam. Melalui kaidah fiqih, studi terhadap fiqih dapat ditempuh dengan mudah dan tidak memakan waktu relatif lama sebab kaidah fiqih merupakan titik kesatuan (al-jâmi’) di antara berbagai cabang produk fiqih lintas bab yang telah ada, yang kemudian dirumuskan dalam sebuah kalimat yang maknanya dapat mencakup dan menyatukan berbagai cabang produk fiqih tersebut.[2] Pola perumusan kaidah fiqih dengan mencari titik kesatuan pada produk fiqih yang telah ada sama dengan pola qiyâs, hanya saja titik temu dalam qiyâs di sebut sebagai ‘illat. Sekalipun pola kaidah fiqih sama dengan pola qiyâs namun kedudukan dan fungsi kaidah fiqih sebagai dasar istidlâl hukum masih diperdebatkan ulama’. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa kaidah fiqih tidak dapat dijadikan dasar istidlâl.[3]
Padahal, inisiatif ulama’ mencari titik kesatuan produk fiqih akhirnya terumuskan dalam berbagai kaidah fiqih yang jumlahnya menurut Tâj al-Dîn al-Subkî melebihi 200 kaidah.[4] Berbeda dengan al-Dabbâs yang merumuskan kaidah fiqih menjadi 17 Kaidah.[5] Sementara menurut Izz al-Dîn bin Abd al-Salâm bahwa seluruh produk fiqih kembali pada satu kaidah yaitu menarik mas}lah}ah dan menolak bahaya.[6] Hal ini mengasumsikan bahwa inti dari kaidah fiqih adalah mas}lah}at. Sementara itu, beberapa ulama’ berpendapat bahwa mas}lah}at tidak dapat dijadikan sumber ataupun ‘illat hukum, sementara ada yang menyatakan bahwa mas}lah}at (hikmah) dapat dijadikan sebagai ‘illat hukum atau sumber hukum.[7] Oleh karenanya, fokus kajian ini adalah mencari jawaban atas pertanyaan, apakah konsepsi mas}lahat dapat dijadikan sebagai ‘illat hukum memiliki relasi kuat dengan keberadaan kaidah fiqih, dan apakah kaidah fiqih setara dengan ‘illat hukum yang layak dijadikan sebagai dasar penentuan hukum.

B.    Pengertian dan Cakupan Kaidah Fiqih
Al-Subkî, sebagaimana dikutip Mukhtar Yahya, mendefinisikan kaidah fiqih dengan kaidah-kaidah umum (al-amr al-kullî) yang meliputi (menampung) seluruh cabang masalah fiqih yang menjadi pedoman untuk menetapkan hukum setiap peristiwa fiqhiyah.[8]
Mus}t}afâ Ah}mad Zarqâ sebagaimana dikuti al-Burnû, mendefiniskan kaidah fiqih dengan pokok (us}ûl) fiqih yang umum (kullî) yang tertulis dalam peraturan yang menampung hukum-hukum tasyr>‘î yang luas/umum yang permasalahan fiqih baru dapat masuk dalam tema kaidah tersebut.[9]
Sedangkan Muhammad Anîs ‘Ubâdah mendefiniskannya dengan kesimpulan (qad}îyah) yang global (kullîyah) yang dapat menampung berbagai masalah cabang hukum yang berada pada lingkup kesimpulan tersebut.[10]
Sekalipun kaidah fiqih sifatnya umum (kullîyah) dan dapat mencakup berbagai permasalahan fiqih yang ada, namun faktanya banyak sekali kaidah fiqih yang memuat eksepsi (mustathnayat) masalah. Hal inilah yang kemudian memunculkan pendapat ulama bahwa kaidah fiqih bersifat mayoritas (aghlabîyah), artinya hanya mencakup sebagian besar masalah fiqih, bukan keseluruhan (kullîyah). Oleh karenanya, kaidah fiqih dibedakan menjadi dua, yaitu kaidah sentral (kullîyah) dan marginal (juz’îyah). Disebut kaidah fiqih yang berperan sentral, karena kaidah tersebut memiliki cakupan-cakupan yang begitu luas. Kaidah ini dikenal sebagai al-Qawâid al-Kubrâ al-Asasîyat. Sementara kaidah marginal memiliki cakupan yang lebih sempit dan memiliki berbagai eksepsi hukum.[11]
Namun demikian, menurut al-Burnû bahwa jika sekalipun kaidah fiqih yang bersifat aghlabîyah banyak memuat eksepsi/pengecualian sehingga bertentangan dengan kaidah qiyâs. Tetapi qiyâs juga terdapat pengecualian yang tidak merusak aturan qiyâs. Seperti, hukum diperbolehkannya jual beli pesanan (salam) atau persewaan (ijârah) yang merupakan eksepsi dari qiyâs sebab ‘illat hukumnya tidak sesuai dengan aturan qiyâs.[12] Oleh karenanya, logika seperti ini seperti dijadikan sebagai salah satu alasan penguat bahwa sifat aghlabîyah yang menempel pada kaidah fiqih tidak merusak sifat umum (kullîyah) yang menempel pada kaidah fiqih. Selain itu menurut al-Burnû, bahwa  masalah fiqih yang dikecualikan dari satu kaidah fiqih hakekatnya masuk pada kaidah fiqih yang lain. Oleh karenanya sifat aghlabîyah kaidah fiqh atau adanya eksepsi dalam kaidah fiqih tidak merusak makna bahwa kaidah fiqih sifatnya umum (kullîyah) dan dapat mencakup berbagai permasalahan fiqih yang ada.[13]
Dengan demikian, sifat umum (kullîyah) pada kaidah fiqih menunjukkan bahwa kaidah fiqih dapat mencakup dan diterapkan pada berbagai permasalahan fiqih yang ada yang memiliki kesamaan pokok dengan masalah yang sudah terselesaikan dengan kaidah fiqih.

C.    Perumusan Kaidah Fiqih
Abû al –H{asan Ubaydillah bin al-Husain al-Karkhî (w. 340 H) adalah ulama’ h{anafîyah yang dikenal sebagai ulama’ pertama yang menulis kitab kaidah fiqih madhhab hanafî dalam karyanya Risalah al-Karkhi. Kitab ini berisi 17 kaidah milik Abû T{âhir al-Dabbâs dan ditambah kaidah-kaidah lain milik al-Karkhî hingga jumlahnya mencapai 39 kaidah. Menurut Muhammad al-Burnû kitab ini sebenarnya tidak berisi kaidah saja, sebab di dalamnya juga memuat beragam d}âbit}, rumusan hukum dan pedoman ber-madhhab bagi ulama’ hanafîyah. Selain itu istilah kaidah belum digunakan oleh al-Karakhî sehingga tidak ada pemilahan antara kaidah dan d}âbit}. Al Karakhi ini dalam kitabnya hanya memakai satu istilah, yakni al-as}l (pedoman asal/pokok), baik untuk menunjukkan d}âbit}, kaidah atau pedoman madhhab.[14]
Langkah al-Karakhi menuliskan kaidah-kaidah fiqih dalam kitab tersendiri mendorong para ulama’ dari berbagai madhhab untuk melakukan hal yang sama. Terlebih ketika ramai kabar bahwa di sebuah daerah yang di sebut Harah terdapat seorang sorang alim ber-madhhab h{anafîyah bernama Abu T{âhir al-Dabbâs,[15] yang merumuskan kesimpulan fiqih madhhab h}anafîyah menjadi 17 kaidah dan selalu mengulang-ulang bacaan kaidah tersebut setiap selesai shalat isya’ di sebuah masjid di daerah yang di sebut mâ wara’ al-nahar setelah semua jama’ah keluar dari masjid. Ketika al-Harawi ber-madhhab shâfi’îyah mendengar kabar tersebut, ia berusaha menyelinap ke dalam masjid dan berhasil mendengarkan al-Dabbâs mengulangi bacaan kaidah tersebut. Namun sampai pada kaidah yang ke tujuh, al-Harawi batuk sehingga al-Dabbâs mengeluarkan al-Harawî dari masjid itu. Sejak saat itulah kaidah fiqih mulai di kenal masyarakat.[16]
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa inisiatif merumuskan kaidah fiqih muncul dari Abu T{âhir al-Dabbâs. Teori perumusan kaidah fiqih diciptakan oleh al-Dabbâs dengan cara mencari kesimpulan atau titik temu yang dapat menyatukan / mencakup (al-jâmi’) berbagai produk fiqih yang telah ada pada saat itu. Kesimpulan atau titik temu tersebut disusun dalam sebuah kalimat yang kemudian di sebut sebagai kaidah fiqih. Di lihat dari proses perumusannya pada saat itu, tujuan awal dari inisiatif perumusan kaidah fiqih adalah untuk memudahkan belajar dan menghafal fiqih.

D.    Fungsi dan Kedudukan Kaidah Fiqih
Ketika pada mula perumusan kaidah fiqih berfungsi untuk memudahkan belajar dan menghafal fiqih sebab pola perumusannya berawal dari pencarian titik kesamaan di antara berbagai produk fiqih yang ada, namun dalam perkembangannya fungsi tersebut diperdebatkan.
Mus}t}afâ Ahmad Zarqâ berpendapat bahwa sedikit sekali kaidah fiqih yang tidak memiliki eksepsi, dan jika menerapkan kaidah fiqih dalam kondisi demikian, sama halnya dengan menetapkan hukum berdasarkan istih}sân murni. Oleh karenanya kaidah fiqih tidak dapat dijadikan sebagai dasar istinbât} hukum.[17] Ibnu Nujaym juga senada dengan menyatakan bahwa kaidah fiqih tidak dapat dijadikan sandaran hukum sebab sifat dari kaidah fiqih bukanlah kullîyah (umum mencakup seluruh bab) tetapi aghlabîyah (mayoritas). Selain itu, alasan lainnya adalah bahwa tidak logis menjadikan sesuatu yang merupakan himpunan dari sejumlah persoalan furû’ (fiqih) sebagai dalil shara’.[18]
Sementara itu, al-Burnû berpendapat bahwa kesimpulan para ulama’ tersebut tidak dapat diberlakukan secara umum, mengingat sebagian kaidah fiqih ada yang langsung didasarkan dan disandarkan pada dalil-dalil dari Qur’an dan Sunnah, ada pula yang awalnya dirumuskan dari produk fiqih yang memiliki dalil dari Qur’an dan Sunnah.  Oleh karena itu, menetapkan hukum dengan kaidah fiqih diperbolehkan karena sama halnya dengan menetapkan hukum berdasarkan nas}s}, kecuali jika kaidah fiqih tersebut tidak memiliki dasar sama sekali dari nas}s} maka tidak diperbolehkan. Hanya saja jika terdapat masalah kontemporer yang tidak ditemukan dalam nas}s} atau dalil us}ûl, maka diperbolehkan menggunakan kaidah fiqih.[19]



E.    Mas}lah}at dan Kedudukannya Sebagai ‘Illat atau Sumber Hukum
Secara etimologis, mas}lah}ah dapat berarti kebaikan, kebermanfaatan, kepantasan, kelayakan, keselarasan, kepatutan. Kata al-mas}lah}ah adakalanya dilawankan dengan kata al-mafsadah dan adakalanya dilawankan dengan kata al-mad}arrah, yang mengandung arti kerusakan.[20]
Secara terminologis, mas}lah}ah telah diberi muatan makna oleh beberapa ulama us}ûl al-fiqh.  Al-Ghazâlî, mengatakan bahwa makna genuine dari mas}lah}ah adalah menarik/mewujudkan kemanfaatan atau menyingkirkan/menghindari kemudaratan (jalb al-manfa’ah atau daf’ al-mad}arrah). Menurut al-Gazâlî, yang dimaksud mas}lah}ah, dalam arti terminologi adalah memelihara dan mewujudkan tujuan hukum Islam (sharî’ah) yang berupa memelihara agama, jiwa, akal budi, keturunan, dan harta kekayaan. Ditegaskan oleh al-Gazâlî bahwa setiap sesuatu yang dapat menjamin dan melindungi eksistensi salah satu dari kelima hal tersebut dikualifikasi sebagai mas}lah}ah. Sebaliknya, setiap sesuatu yang dapat mengganggu dan merusak salah satu dari kelima hal tersebut dinilai sebagai al-mafsadah. Maka, mencegah dan menghilangkan sesuatu yang dapat mengganggu dan merusak salah satu dari kelima hal tersebut dikualifikasi sebagai mas}lah}ah.[21]
Menurut al-Shât}ibî pada dasarnya sharî’at ditetapkan untuk mewujudkan kemaslahatan hamba (mas}âlih al-’ibâd) baik di dunia maupun di akhirat. Kemaslahatan inilah dalam pandangan beliau menjadi maqâshid al-syarî’ah (tujuan-tujuan syariat).[22] Selanjutnya al-Shât}ibi mengkalsifikasi maqâs}id menjadi tiga, yaitu d}arûriyat, h}âjiyat dan tah}sînat. D{arûriyat artinya harus ada demi kemaslahatan hamba yang jika tidak ada akan menimbulkan kerusakan misalnya rukun Islam. H}âjiyat maksudnya sesuatu yang di perlukan untuk menghilangkan kesempitan seperti rukhs}ah (keringanan) tidak berpuasa bagi orang sakit. Tah}sînat artinya sesuatu yang diambil untuk kebaikan kehidupan dan menghindarkan keburukan misalnya akhlak yang mulia, menghilangkan najis dan menutup aurat dalam keadaan sendirian dan tidak akan mengerjakan shalat. Sedangkan d}arûriyat beliau jelaskan lebih rinci dengn merangkum lima tujuan, yaitu menjaga agama (hifz} al-dîn), menjaga jiwa (hifz} al-nafs), menjaga akal (hifz} al-’aql), menjaga keturunan (hifz} al-nasl), dan menjaga harta (hifz}  al-mâl).[23]
Mewujudkan mas}lah{ah merupakan tujuan utama hukum Islam (maqâs}id sharîah). Setiap hukum yang ditentukan oleh Shâri’ (pencipta hukum) pasti bertujuan pada terealisasinya kemakmuran dan kesejahteraan di dunia maupun akhirat. Norma hukum yang dikandung teks-teks suci sharîah (nus}ûs} al-sharîah) pasti dapat mewujudkan mas}lah}ah, sehingga tidak ada mas}lah}ah di luar petunjuk teks sharî’ah. Oleh karenanya, tidaklah tepat pemikiran yang menyatakan mas}lah}ah harus diprioritaskan bila berlawanan dengan teks-teks suci sharîah.[24] Sebab, mas}lah}ah itu sesungguhnya adalah memelihara dan memperhatikan tujuan-tujuan sharîah berupa kebaikan dan kemanfaatan yang dikehendaki oleh sharî’ah, bukan oleh hawa nafsu manusia.[25] Dalam arti lain, mas}lah}at sejatinya adalah inti sari dari teks shara’ sehingga tdak mungkin dipertentangkan dengan teks shara’ yang lain. Begitupun sebaliknya, interpretasi terhadap teks shara’ dapat bahkan harus bertumpu pada mas}lah}at. Maka, sejatinya mas}lah}ah adalah sumbu peredaran dan perubahan hukum Islam.
Bahkan, dalam tataran aplikasi, maslahah termanifestasikan pada metode-metode/dalil-dalil ijtihad untuk menetapkan hukum shara’, seperti al-qiyâs, al-mas}lah}ah al-mursalah, al-istih}sân, sadd al-dharî’ah, dan al-’urf. Oleh karena itu, setiap metode/dalil ijtihad yang bertumpu pada prinsip mas}lah}ah dapat dikualifikasi sebagai upaya menggali kandungan makna teks suci sharî’ah (istidlâl bi al-nus}ûs} al-shar’îyah).[26]
Dengan demikian, oprasional mas}lah}at sebagai sumber atau ‘illat hukum harus mempertimbangkan nas}s} shara’. Jika mas}lah}at memiliki dasar khusus sebuah dalil nas}s} yang mengesahkan atau memiliki sandaran dalil yang makna umumnya (ma’nâ kulîy) / dilâlah-nya mendukung mas}lah}at tersebut walaupun bertentangan dengan makna nas}s} lainnya sekalipun makna kulli tersebut dibentuk berdasarkan makna juz’î (parsial) yang didasarkan pada nas}s} shara’ maka mas}lah}at model ini dinyatakan sebagai mas}lah}at mu’tabarah yang dapat dijadikan sumber ataupun ‘illat hukum. Begitupun sebaliknya, jika mas}lah}at tersebut bertentangan dengan dengan nas}s} shara’ baik secara eksplisit maupun implisit dan tidak ditemukan nas}s} lain yang makna atau dilâlah-nya mendukung keberadaan mas}lah}at tersebut maka mas}lah}at model ini di sebut mas}lah}at mulghâ yang tidak dapat dijadikan sumber ataupun ‘illat hukum. Sedangkan jika mas}lah}at tersebut keberadaannya tidak didukung dan tidak bertentangan dengan nas}s} shara’, maka mas}lah}at yang demikian ini disebut mas}lah}at mursalat yang dapat dijadikan sumber ataupun ‘illat hukum.
Oleh karenanya, sesuai dengan pendapat al-Shât}ibî, bahwa salah besar jikalau akal memiliki otoritas melebihi nas}s} shara’ yang berkonsekuensi sharî’at dapat dibatalkan oleh akal.[27] Artinya segala mas}lah}at yang akan dijadikan sebagai sumber atau ‘illat hukum haruslah dicarikan sandaran nas}s} shara’ sehingga mas}lah}ah yang mulanya bersifat relatif, subjektif dan tergantung individu akan dapat dinafikan dengan adanya nas}s} shara’ tersebut.
Penelitian atas nas}s} al-Qur’an dan Hadits memang menghasilkan kesimpulan yang meyakinkan bahwa doktrin sharîah senantiasa dilekati h}ikmah dan ‘illah yang bermuara kepada mas}lah}ah, baik bagi masyarakat maupun bagi orang perorangan.[28] Bahkan, doktrin hukum Islam (sharî’ah) dimaksud bukan saja di bidang muâmalat umum tetapi juga ibadah mah}d}ah. Jadi, semua bidang hukum dengan aneka norma hukum yang telah digariskan oleh al-Qur’an dan Hadith berhulu dari, sekaligus bermuara kepada mas}lah}ah bagi kehidupan umat manusia. Hal ini karena Allah tidak butuh kepada sesuatupun, sekalipun itu ibadah mah}dah. Tegasnya, manusialah yang diuntungkan dengan adanya kenyataan bahwa mas}lah}ah menjadi alas tumpu hukum Islam (sharî’ah) itu.[29]
Sekalipun jelas terdapat rumusan mas}lah}at mu’tabarah, namun para ulama’ masih memperdebatkan mas}lah}at dijadikan sebagai ‘illat hukum. Muhammad Husain Abdillah menyatakan bahwa para ulama dalam masalah ini terbagi menjadi 3 (tiga) pendapat. Pertama, pendapat ulama Ash’arîyah dan Z}âhirîyah yang menolak bahwa sharî’at didasarkan pada ‘illat mas}lah}at. Artinya, mas}lah}at bukanlah ‘illat (motif) penetapan suatu hukum sharî’at karena mungkin saja Allah menetapkan hukum sahrî’at yang tidak mengandung mas}lah}at. Namun mereka tetap mengakui bahwa hasil istiqrâ’ yang menyimpulkan seluruh hukum shara’ bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan menjaga agama, akal, keturunan, jiwa, dan harta. Kedua, pendapat Shâfi’îyah dan H}anafîyah yang menyatakan bahwa mas}lah}at layak menjadi ‘illat hukum. Akan tetapi mas}lah}at ini lebih difahami sebagai pertanda hukum (amârat al-h}ukm) bukan sebagai latar belakang/motif penetapan hukum (bâ’ith ‘ala al-h}ukm). Jadi, mas}lah}at dipahami lebih dekat pada sebab (al-sabab) daripada ‘illat. Ketiga, pendapat Muktazilah, Mâturidîyah, Mâlikîyah, dan sebagian ulama H{anâbilah yang memandang bahwa hukum-hukum sharîa’t didasarkan pada ‘illat mas}lah}at tanpa ada taqyîd (pembatasan). Namun mereka mensyaratkan penetapan mas}lah}at sebagai ‘illat tidak boleh bertentangan dengan nas}s} shara’.[30]
Taqy al-Dîn al-Nabhanî merupakan bagian dari yang menyatakan bahwa mas}lah}at tidak dapat dijadikan ‘illat sebab mas}lah}at merupakan hikmah penerapan sharî’at. Jadi, pada dasarnya al-Nabhanî mengakui adanya hubungan mas}lah}at dengan sharî’at. Menurut al-Nabhanî bahwa maqâs}id al-sharîah (yaitu mewujudkan kemaslahatan) merupakan tujuan dari sharî’at secara keseluruhan (kullî) bukan tujuan sharî’at sebagai satu persatu hukum (li kulli h}ukmin bi ‘aynihi).[31] Artinya, terwujudnya kemaslahatan merupakan hasil penerapan sharî’at secara keseluruhan bukan hasil penerapan dari masing-masing hukum. Setiap ayat tidak selalu menyebutkan hikmah walaupun terdapat ayat yang menyebutkan hikmahnya. Oleh karenanya jika setiap ayat memiliki hikmah (mas}lah}at) independen maka pastinya penentuan hikmah (mas}lah}at) tersebut berdasarkan akal. Padahal penentuan hukum tidak dapat berdasarkan akal, oleh karenanya hikmah (mas}lah}at tidak dapat dijadikan ‘illat.[32]
Jika dinalisa, pendapat al-Nabhânî tentang larangan menjadikan mas}lah}at sebagai ‘illat bertumpu pada satu alasan, yakni kekhawatiran al-Nabhânî jika penentuan hukum akan didasarkan pada akal sebab menurutnya tidak semua hukum/sharî’at/nas}s} tidak menjelaskan hikmah secara khusus dan tegas. Hal ini telah dijawab oleh para ulamâ’ sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa penemuan mas}lah}at haruslah didasarkan atau didukung nas}s} shara’ (mas}lah}at mu’tabarah) kecuali mas}lah}at yang tidak bertentangan dengan nas}s} dan tidak ada nas}s} yang mendukungnya (mas}lah}at mursalah) seperti mas}lah}at tidur di malam hari agar tubuh sehat, mencatatkan kelahiran anak agar mendapat legalitas kejelasan hak anak dan lainnya.
Pendapat al-Nabhânî memang berbeda dengan hasil penelitian al-Shât}ibî dan Ibnu ‘Ashûr atas nas}s} al-Qur’an dan Hadits memang menghasilkan kesimpulan yang meyakinkan bahwa doktrin sharîah senantiasa dilekati h}ikmah dan ‘illah yang bermuara kepada mas}lah}ah, baik bagi masyarakat maupun bagi orang perorangan.[33] Hadirnya  hikmah dan ‘illah  dalam norma hukum Allah (baik berupa al-amr maupun al-nahy) itu pada gilirannya menjamin eksisnya mas}lah}ah. Pada sisi lain, formulasi sejumlah legal maxim (al-qawâ’id al-fiqhîyah) bertumpu pada penemuan hikmah dan ‘illah yang nota bene menjadi garansi eksisnya mas}lahah. Dengan demikian, mas}lah}ah merupakan poros dan titik beranjak bagi formulasi al-ah}kâm al-shar’îyah dan al-qawâ’id al-shar’îyah.[34]



F.     Kaidah Fiqih Sebagai ‘Illat Hukum
Inisiatif ulama’ mencari titik kesamaan produk fiqih akhirnya terumuskan dalam berbagai kaidah fiqih yang jumlahnya menurut Tâj al-Dîn al-Subkî melebihi 200 kaidah.[35] Adapun  al-Dabbâs merumuskan kaidah fiqih menjadi 17 Kaidah.[36] Sementara menurut Izz al-Dîn bin Abd al-Salâm menyatakan bahwa seluruh produk fiqih kembali pada satu kaidah yaitu menarik mas}lah}ah dan menolak bahaya.[37] Bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa produk fiqih hanya kembali pada satu kaidah yakni menarik mas}lah}ah.[38]
Hal ini mengasumsikan bahwa inti dari kaidah fiqih adalah mas}lah}at. Hal ini bisa dibuktikan dengan berbagai macam kaidah fiqih yang ada, misalnya kaidah “al-mashaqqah tajlîb al-taysîr” yang artinya kesulitan/keberatan itu menarik kemudahan. Aplikasi kaidah ini adalah terkait dengan jama’ dan qashar shalat. Mashaqqah yang ada berupa safar yang jaraknya telah ditentukan oleh fiqih. Dengan adanya mashaqqah maka hukum menjadi lebih ringan dengan diperbolehkannya jama’ dan qas}ar shalat.[39] Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa kaidah fiqih memiliki relasi kuat dengan mas}lah}at. Bahkan, kaidah fiqih adalah implementasi konkrit mas}lah}at.
Ketika kaidah fiqih merupakan makna kullî (makna umum) yang terumuskan berdasarkan hukum-hukum juz’î (parsial), yang mana hukum juz’î tersebut telah bersumber dari Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas dengan tujuan menjaga kemaslahatan umat di dunia dan akherat, maka sebenarnya makna kullî tersebut terkadang secara tidak langsung telah merujuk pada dasar-dasar hukum juz’î, sehingga kaidah fiqih yang merupakan mas}lah}at pun pada dasarnya bersumber dari dalil shara’ dan dapat dijadikan sumber atau ‘illat hukum.
  
G.    Kesimpulan
Hasil kajian ini dapat disimpulkan dalam dua poin. Pertama, mas}lah}ah yang merupakan reprsentasi dari maqâs}id sharî’ah memiliki relasi kuat dengan kaidah fiqih karena kaidah fiqih adalah implementasi mas}lah}at yang konkrit.
Kedua, kaidah fiqih setara dengan ‘illat hukum (1) karena kaidah fiqih merupakan titik kesatuan (al-jâmi’) dari berbagai produk fiqih lintas bab yang berupa makna kullî (makna umum) dari beberapa hukum juz’î (parsial), yang mana hukum juz’î bersumber tersebut dari Qur’an, hadîth, ijmâ’, dan qiyâs demi menjaga kemaslahatan umat di dunia dan akherat, dan (2)_karena kaidah fiqih adalah mas}lah}at itu sendiri di mana mas}lah}at dapat dijadikan sebagai ‘illat jika ditetapkan, didukung dan ditunjukkan oleh nas}s} shara’ serta tidak bertentangan dengan nas}s} shara’.




Daftar Pustaka

‘Abdillâh, Muḥammad Ḥusain. Al-Wadhîh fî Ushûl al-Fiqh. Beirut: Dâr al-Bayariq, 1995.
‘Ashûr, Ṭâhir Ibn. Maqâṣid al-Sharî’ah al-Islâmîyah. Kairo: Dâr al-Salâm, 2006.
Ahmad, Moh. Djamaluddin. Al-Inâyah Sharh al-Farâid al-Bahîyah. Jombang: Pustaka al-Muhibbin, 2010.
Ashshidieqi, M. Hasbi. Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Burnû (al), Muḥammad Ṣidqî bin Aḥmad. Al-Wajîz Fî Îḍâḥ al-Qawâ’id al-Fiqh al-Kullîyah. Riyâḍ: Maktabat al-Tawbah, 1994..
Fâsiy (al), Allâl. Maqâsid al-Sharî’ah al-Islâmiyyah wa Makârimuha. Rabat: Maktabah al-Wihdah al-’Arabîyah, t.th.
Gazâlî (al), Abû Ḥâmid Muḥammad. al-Mustaṣfâ min ‘Ilm al-Usûl. Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, 1997. Vol. I.
Ḥakîm, Abd al-Ḥamîd. Al-Sulam. Jakarta: al-Sa’adiyah Putera, t.th. Vol. II
Hisân, Husayn Hâmid. Naẓarîyat al-Maṣlaḥah fi al-Fiqh al-Islâmîy. Beirut: Dâr al-Nahḍah al-’Arabîyah.
Manẓûr, Jamâl al-Dîn Muhammad bin Mukarram al-Ifrîqi Ibn. Lisân al-’Arab. Riyad: Dâr Alam al-Kutub, 2003. Vol. II.
Nabhani (al), Taqiyuddîn. Al-Syakhṣîyah al-Islâmîyah. Quds: Manshûrat Hizb al-Taḥrîr, 1953. Vol. III.
Nadwî (al), Ali Ahmad. Al-Qawâid al-Fiqhîyah. Beirut: Dar al-Kalam, 1998.
Qarḍâwî (al), Yûsuf. Madkhal li Dirâsat al-Sharî’ah al-Islâmîyah. Kairo: Maktabah Wahbah, 2001.
Shâṭibî (al), Abû Isḥâq. Al-Muwâfaqât Fi Ushûl al-Sharî’at. Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmîyah, 2003. Vol. I.
Suyûṭî (al), Jalâl al-Dîn Abd al-Rahman bin Abû Bakr. Al-Ashbah wa al-Naẓâir. Surabaya: al-Hidayah, t.th.
Yahya, Mukhtar. Dasar-Dasar Pembinaan Fiqh Islam. Bandung: Al-Ma’arif, 1986.
Zarqâ (al), Al-Madkhal al-Fiqhî. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. Vol. II.






[1] Fakultas Syari’ah Program Studi Akhwal al-Syakhsiyyah Institut Agama Islam Bani Fatah Jombang. email: yayakrafi@gmail.com
0 comments

Pemimpin Non Muslim

Pemimpin Non Muslim
Oleh Moh. Dliya'ul Chaq

Saat ditulis artikel ini, ramai perbincangan tentang pemimpin non muslim karena saat ini (Oktober 2016) sedang ramai-ramainya bursa calon Gubernur DKI yang salah satu kandidatnya adalah Non Muslim. Politik yang berbau primordial mulai bermunculan. Kondisi yang lebih meresahkan lagi ketika hukum Islam, ayat al-Qur'an dan Hadits mulai dimunculkan oleh beberapa tokoh agama Islam, entah benar-benar objektif atau sebuah justifikasi politis. Keresahan inilah yang melatarbelakangi artikel ini dimunculkan. Sadar bahwa mungkin artikel ini tidak akan dilihat oleh banyak orang. Namun sebuah harapan mmungkin suatu saat akan berguna bagi siapapun yang membutuhkan.
Berdasarkan penulusaran penulis, para ahli hukum Islam (Fuqaha'), para ahli hadits (muhaddits) dan para ahli tafsir al-Qur'an (mufassir) baik salaf maupun khalaf nyatanya telah berbeda pendapat tentang hukum Non Muslim sebagai pemimpin bagi masyarakat Muslim (Refrensi dan Redaksinya dari para fuqaha' akan disajikan di akhir artikel ini). Sebenarnya jika melihat legalitas hukum (Islam) yang ada, masyarakat muslim tidak perlu "bertikai" terkait masalah hukum pemimpin non Muslim karena telah terdapat pilihan hukum hasil ijtihad ulama', yaitu boleh dan tidak boleh. Jadi fiqh telah sepakat menyatakan tidak sepakat. Mengapa harus bertikai dan beradu dalil ketika telah ada jawaban.
Dengan demikian, otoritas memilih telah berada di tangan rakyat. Dan apapun pilihannya, tidak ada yang berdosa dalam kacamata hukum Islam. Hanya saja menurut hemat penulis, para pemilih harus benar-benar selektif, jernih dan penuh pertimbangan dalam menentukan pilihannya. Pertimbangan tentang kredibiltas dan prediksi dampak positif-negatif secara umum atau khusus (maslahah 'ammah maupun maslahah khashshah) jika pemimpin non muslim terpilih harus menjadi acuan utama dalam menentukan pilihannya. Inilah yang paling penting bagi masyarakat muslim Indonesia.
Namun demikian, penulis sangat yakin bahwa perbedaan umat Islam Indonesia dalam menentukan pilihannya pasti akan berdampak positif bagi umat Islam secara umum. Betapa bisa dibayangkan jika tidak ada orang Islam yang "dekat" atau "mendekat" terhadap calon pemimpin non muslim yang ternyata calon non mslim tersebut terpilih. Siapa yang akan "mengawal" Islam dalam pemerintahan pimpinan non muslim itu. Oleh karenanya, tak perlu lagi bertikai dalam makna yang sebenarnya. jadikanlah "pertikaian" ini sebagai panggung sandiwara politik umat Islam. Hingga kita akan tahu, siapa lawan dan siapa kawan, siapa yang benar-benar atas nama Islam dan siapa yang mengatasnamakan Islam.

Berikut Redaksi dari Refrensi Tentang Pemimpin Non Muslim

-          Tuhfah al-Muhtaj dan Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 72
(ولا يستعان عليهم بكافر ) ذمي أو غيره إلا إن اضطررنا لذلك
قول المتن: ولا يستعان إلخ) أي يحرم ذلك اه. سم, عبارة المغني والنهاية: (تنبيه) ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة
-          Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 73
نعم ان قتضت المصلحة توليته في شىء لا يقوم به غيره من المسلمين او ظهر من المسلمين خيانة و امنت في ذمي فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه، و مع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته و منعه من التعرض لاحد من المسلمين
-          Kanz al-Raghibin dan Hasyiyah al-Qulyubi, Jilid IV, h. 156
(ولا يستعان عليهم بكافر) لأنه يحرم تسليطه على المسلمين (قوله: ولا يستعان) فيحرم إلا لضرورة
-          Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 22-23
والوزارة على ضربين وزارة تـفويض ووزارة تـنـفيذ. اما وزارةالتـفويض فهى ان يستوزر الإسلام من يفوض اليه تدبـير الأمور برأيه وإمـضاء ها على اجتـهاده
-          Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 43
(فَصْلٌ) وَأَمَّا وَزَارَةُ التَّنْفِيذِ فَحُكْمُهَا أَضْعَفُ وَشُرُوطُهَا أَقَلُّ، لِأَنَّ النَّظَرَ فِيهَا مَقْصُورٌ عَلَى رَأْيِ الْإِمَامِ وَتَدْبِيرِهِ. وَهَذَا الْوَزِيرُ وَسَطٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الرَّعَايَا وَالْوُلَاةِ يُؤَدِّي عَنْهُ مَا أَمَرَ وَيَنْفُذُ عَنْهُ مَا ذَكَرَ وَيُمْضِي مَا حَكَمَ وَيُخْبِرُ بِتَقْلِيدِ الْوُلَاةِ وَتَجْهِيزِ الْجُيُوشِ وَيَعْرِضُ عَلَيْهِ مَا وَرَدَ مِنْ مُهِمٍّ وَتَجَدَّدَ مِنْ حَدَثٍ مُلِمٍّ، لِيَعْمَلَ فِيهِ مَا يُؤْمَرُ بِهِ. فَهُوَ مُعِينٌ فِي تَنْفِيذِ الْأُمُورِ وَلَيْسَ بِوَالٍ عَلَيْهَا وَلَا مُتَقَلِّدًا لَهَا. وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَقُومَ بِذَلِكَ امْرَأَةٌ وَإِنْ كَانَ خَبَرُهَا مَقْبُولًا لِمَا تَضَمَّنَهُ مَعْنَى الْوِلَايَاتِ الْمَصْرُوفَةِ عَنْ النِّسَاءِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ: مَا أَفْلَحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إلَى امْرَأَةٍ. وَلِأَنَّ فِيهَا مِنْ طَلَبِ الرَّأْيِ وَثَبَاتِ الْعَزْمِ مَا تَضْعُفُ عَنْهُ النِّسَاءُ، وَمِنَ الظُّهُورِ فِي مُبَاشَرَةِ الْأُمُورِ مَا هُوَ عَلَيْهِنَّ مَحْظُورٌ. وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هَذَا الْوَزِيرُ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وَزِيرُ التَّفْوِيضِ مِنْهُمْ.
-          Tafsir Ayat Ahkam I/403
الحكم الثالث : هل يجوز تولية الكافر واستعماله في شؤون المسلمين ؟
استدل بعض العلماء هذه الأيات الكريمة على أنه لا يجوز تولية الكافر شيئا من أمور المسلمين ولا جعلهم عمالا ولا خداما كما لا يجوز تعظيمهم وتوقيرهم في المجلس والقيام عند قدومهم فإن دلالته على التعظيم واضحة وقد أمرنا باحتقارهم (إنما المشركون نجس). اهـ.
-          Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu 6/693
أما اشتراط الإسلام فلأنه يقوم بحراسة الدين والدنيا. وإذا كان الإسلام شرطا في جواز الشهادة فهو شرط في كل ولاية عامة لقوله تعالى (ولن يجعل الله الكافرين على المؤمنين سبيلا)
-          Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu 8/342
الفرق بين الوزارتين: ذكر الماوردي فروقا ثمانية بين الوزارتين، أربعة منها تتعلق بالشروط، والأربعة الأخرى بالصلاحيات. أما الفروق العائدة للشروط والمؤهلات فهي: 1 – الحرية: مطلوبة في وزارة التفويض، وغير مطلوبة في وزارة التنفيذ. 2 – الإسلام: مطلوب في وزارة التفويض، دون التنفيذ. 3 – العلم بالأحكام الشرعية (الاجتهاد): مطلوب في وزارة التفويض لا التنفيذ. 4المعرفة بشؤون الحرب والاقتصاد كالخراج: مطلوبة في وزارة التفويض لا التنفيذ.
-          Hasyiyah al-Jamal 4/188
وكذا يحرم نصه في شيئ من أمور المسلمين نعم إن اقتضت المصلحة توليته شيئا لا يقوم به غيره من المسلمين أو ظهر ممن يقوم به من المسلمين خيانة وأمنت في ذمي ولو لخوفه من الحكم مثلا فلا يبعد توليته فيه لضرورة والقيام بمصلحة ما ولى فيه ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استيلاء على المسلمين. اهـ
-          Al-Talkhish libni Hajar
ولايسـتـعان عليهم بكافر ذمي او غيره إلا إن اضطررنا لذلك. ظاهر كلامهم ان ذلك لا يجـوز ولو دعت الضرورة. لكنه فى التتمة صرح بجواز الإستعانة به اى الكافر عند الضرورة
أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج إلى بدر ، فتبعه رجل من المشركين ، فقال : تؤمن بالله ورسوله ؟ قال : لا ، قال : فارجع فلن نستعين بمشرك
خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى إذا خلف ثنية الوداع ، إذا كتيبة قال : من هؤلاء ؟ قالوا : بني قينقاع رهط عبد الله بن سلام ، قال : وأسلموا ؟
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم استعان بناس من اليهود في حربه ، وأسهم لهم
أنه صلى الله عليه وسلم استعان بيهود بني قينقاع في بعض الغزوات ، ووضع لهم
ويجمع بينه وبين الذي قبله بأوجه ذكرها المصنف ، منها : وذكرها البيهقي عن نص الشافعي : { أن النبي صلى الله عليه وسلم تفرس فيه الرغبة في الإسلام ، فرده رجاء أن يسلم فصدق ظنه } وفيه نظر من جهة التنكير في سياق النفي ، ومنها : أن الأمر فيه إلى رأي الإمام ، وفيه النظر بعينه ، ومنها : أن الاستعانة كانت ممنوعة ، ثم رخص فيها وهذا أقربها ، وعليه نص الشافعي .
-          Al-Mughni al-Muhtaj 408
عبارة المغني والنهاية ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة وقال الأذرعي وغيره أنه المتجه اهـ. قول المتن بكافر أي لأنه يحرم تسليطه على المسلم نهاية ومنهج زاد المغني ولذا لا يجوز لمستحق القصاص من مسلم أن يوكل كافرا في استيفائه ولا للإمام أن يتخذ جلادا كافرا لإقامة الحدود على المسلمين اهـ. وقال ع ش بعد نقل ما ذكر عن الزيادي أقول وكذا يحرم نصبه في شيء من أمور المسلمين نعم إن اقتضت المصلحة توليته في شيء لا يقوم به غيره من المسلمين أو ظهر فيمن يقوم به من المسلمين خيانة وأمنت في ذمي ولو لخوفه من الحاكم مثلا فلا يبعد جواز توليته فيه لضرورة القيام بمصلحة ما ولي فيه ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استعلاء على المسلمين اهـ
ولا يستعان عليهم بكافر ) ولو ذميا ؛ لأنه يحرم تسليطه على المسلم ، ولأن القصد ردهم للطاعة ، والكفار يتدينون بقتلهم ، نعم يجوز الاستعانة بهم عند الضرورة كما نقله الأذرعي وغيره عن المتولي وقالوا : إنه متجه ، وعلم أنه لا يجوز له أن يحاصرهم ويمنعهم الطعام والشراب ( ولا بمن يرى قتلهم مدبرين)   لعداوة أو اعتقاد كالحنفي والإمام لا يرى ذلك إبقاء عليهم ، فلو احتجنا للاستعانة به جاز إن كان فيه جراءة وحسن إقدام وتمكنا من منعه لو اتبع منهزما ، والأوجه أن ما ذهب إليه الإمام زيادة على ذلك من أن نشترط ذلك عليهم ونثق بوفائهم به ليس بشرط ؛ إذ في قدرتنا على دفعهم غنية عن ذلك
-          Tuhfatul Muhtaj wa Hawasyi al-Syarwani 9/298-299
وَيُمْنَعُونَ مِنْ حَمْلِ السِّلَاحِ ، وَتَخَتُّمٍ ، وَلَوْ بِفِضَّةٍ ، وَاسْتِخْدَامِ مَمْلُوكٍ فَارِهٍ كَتُرْكِيٍّ ، وَمِنْ خِدْمَةِ الْأُمَرَاءِ كَمَا ذَكَرَهُمَا ابْنُ الصَّلَاحِ وَاسْتَحْسَنَهُ فِي الْأُولَى الزَّرْكَشِيُّ ، وَمِثْلُهَا الثَّانِيَةُ ، بَلْ أَوْلَى. (قَوْلُهُ: وَمِنْ خِدْمَةِ الْأُمَرَاءِ) مَصْدَرٌ مُضَافٌ لِمَفْعُولِهِ، وَالْمُرَادُ بِخِدْمَتِهِمْ إيَّاهُمْ الْخِدْمَةُ بِالْمُبَاشَرَةِ ، وَالْكِتَابَةِ ، وَتَوْلِيَةِ الْمَنَاصِبِ ، وَنَحْوِ ذَلِكَ كَمَا هُوَ ، وَاقِعٌ وَلِلسُّيُوطِيِّ فِي ذَلِكَ تَصْنِيفٌ حَافِلٌ ا هـ . رَشِيدِيٌّ عِبَارَةُ ع ش أَيْ : خِدْمَةٍ تُؤَدِّي إلَى تَعْظِيمِهِمْ كَاسْتِخْدَامِهِمْ فِي الْمَنَاصِبِ الْمُحْوِجَةِ إلَى تَرَدُّدِ النَّاسِ إلَيْهِمْ ، وَيَنْبَغِي أَنَّ الْمُرَادَ بِالْأُمَرَاءِ كُلُّ مَنْ لَهُ تَصَرُّفٌ فِي أَمْرٍ عَامٍّ يَقْتَضِي تَرَدُّدَ النَّاسِ عَلَيْهِ كَنُظَّارِ الْأَوْقَافِ الْكَبِيرَةِ ، وَكَمَشَايِخِ الْأَسْوَاقِ ، وَنَحْوِهِمَا ، وَأَنَّ مَحَلَّ الِامْتِنَاعِ مَا لَمْ تَدْعُ ضَرُورَةٌ إلَى اسْتِخْدَامِهِ بِأَنْ لَا يَقُومَ غَيْرُهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ مَقَامَهُ فِي حِفْظِ الْمَالِ ا هـ .
-          Al-Faruq 4/257
الشرط في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر (المسئلة السادسة) قولنا في شرط الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ما لم يؤدي إلى مفسدة هي أعظم. وهذه المفسدة قسمان تارة تكون إذا نهاه من منكر فعلى ما هو أعظم منه غير الناهي وتارة يفعل في الناهي بأن ينهاه عن الزنا فيقتله أعني الناهي يقتله الملابس للمنكر. اهـ
-          Al-Siyâsah Al-Syar’iyyah 10:
فإن الولاية لها ركنان : القوة والأمانة . كما قال تعالى : { إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ } (سورة القصص : من الآية 26) . وقال صاحب مصر ليوسف عليه السلام : { إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ } (سورة يوسف : من الآية 54) . وقال تعالى في صفة جبريل : { إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ }{ ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ }{ مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ } (سورة التكوير : الآيات 19-21) . . .
فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً
-          Lubabbut Ta’wil
والمعنى لا تتخذوا أولياء ولا أصفياء من غير أهل ملتكم ثم بين سبحانه وتعالى علة النهي عن مباطنتهم فقال تعالى: لا يَأْلُونَكُمْ خَبالًا
-          Tahrir al-Ahkam Fi Tadbir aHli al-Islam Libni Jama’ah (syafi’iyah)  146-147
ولا يجوز تولية الذمي في شيء من ولايات المسلمين إلا في جباية الجزية من أهل الذمة أو جباية ما يؤخذ من تجارات المشركين . فأما ما يجبى من المسلمين من خراج أو عشر أو غير ذلك فلا يجوز تولية الذمي فيه، ولا تولية شيء من أمور المسلمين. قال تعالى : ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا. ومن ولى ذميًا على مسلم فقد جعل له سبيلًا عليه. وقال تعالى: ولا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعضٍ ومن يتولهّم منكم فإنّه منهم، ولأن تولية الكافر على المسلم تتضمن إعلاءه عليه وإعزازه بالولاية، وذلك مخالف للشريعة وقواعدها.
-          Ma’alim al-Qarabah Fi Thalabil Hisbah (syafi’iyah) 43
وَلَمَّا وُلِّيَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ الْبَصْرَةَ وَقَدِمَ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ t فَوَجَدَهُ فِي الْمَسْجِدِ فَاسْتَأْذَنَ عَلَيْهِ فَأَذِنَ لَهُ، وَاسْتَأْذَنَ لِكَاتِبِهِ، وَكَانَ نَصْرَانِيًّا. فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى عُمَرَ وَرَآهُ، فَقَالَ: قَاتَلَكَ اللهُ يَا أَبَا مُوسَى، وَلَّيْتَ نَصْرَانِيًّا عَلَى الْمَالِ. وَكَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إلَى بَعْضِ عُمَّالِهِ وَقَدْ اتَّصَلَ بِهِ أَنَّهُ اتَّخَذَ كَاتِبًا يُقَالُ لَهُ حَسَّانُ. بَلَغَنِي أَنَّكَ اسْتَعْمَلَتْ حَسَّانَ وَهُوَ عَلَى غَيْرِ دِينِ الْإِسْلَامِ، وَاللهُ تَعَالَى يَقُولُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ. وَقَالَ تَعَالَى: لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا، وَلَعِبًا مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ، وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ، وَاتَّقُوا اللهَ إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. وَإِذَا أَتَاك كِتَابِي هَذَا فَادْعُ حَسَّانَ إلَى الْإِسْلَامِ فَإِنْ أَسْلَمَ فَهُوَ مِنَّا، وَنَحْنُ مِنْهُ، وَإِنْ أَبَى فَلَا تَسْتَعِنْ بِهِ. فَلَمَّا جَاءَهُ الْكِتَابُ قَرَأَهُ عَلَى حَسَّانَ فَأَسْلَمَ وَعَلَّمَهُ الطَّهَارَةَ وَالصَّلَاةَ. وَهَذَا أَصْلٌ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ فِي تَرْكِ الِاسْتِعَانَةِ بِالْكَافِرِ فَكَيْفَ اسْتِعْمَالُهُمْ عَلَى رِقَابِ الْمُسْلِمِينَ.
-          Siraj al-Muluk li al-Tarablisi (Malikiyah) 111
ولما استقدم عمر بن الخطاب رضي الله عنه أبا موسى الأشعري من البصرة وكان عاملاً عليها للحساب، دخل على عمر وهو في المسجد فاستأذن لكاتبه وكان نصرانياً فقال له عمر رضي الله عنه: قاتلك الله! وضرب بيده على فخذه، وليت ذمياً على المسلمين أما سمعت الله تعالى يقول: ” يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم؟ ” المائدة: 51 ألا اتخذت حنيفاً؟ قال: يا أمير المؤمنين لي كتابته وله دينه. فقال: لا أكرمهم إذ أهانهم الله ولا أعزهم إذ أذلهم الله ولا أدنيهم إذ أقصاهم الله. … وقال عمر بن أسد: أتانا كتاب عمر بن عبد العزيز t إلى محمد بن المنتشر: أما بعد فإنه بلغني أن في عملك رجلاً يقال له حسان بن بردا على غير دين الإسلام، والله تعالى يقول: ” يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا الذين اتخذوا دينكم هزواً ولعباً من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم والكفار أولياء واتقوا الله إن كنتم مؤمنين ” المائدة: 57 فإذا أتاك كتابي هذا فادع حسان إلى الإسلام فإن أسلم فهو منا ونحن منه وإن أبى فلا تستعن به ولا تأخذ من غير أهل الإسلام على شيء من أعمال المسلمين، فقرأ الكتاب عليه فأسلم.
-          Radd al-Mukhtar 4/211
وَلَا يَخْفَى أَنَّ اسْتِعْلَاءَهُ فِي الْبِنَاءِ عَلَى جِيرَانِهِ الْمُسْلِمِينَ خِلَافُ الصَّغَارِ …  وَلَا يَخْفَى أَنَّ لَفْظَ اسْتَعْلَى يَشْمَلُ مَا بِالْقَوْلِ وَمَا بِالْفِعْلِ.
-          Ghayat al-Umam 114
وذكر مصنف الكتاب المترجم بالأحكام السلطانية إن صاحب هذا المنصب يجوز أن يكون ذميا وهذه عثرة ليس لها مقيل وهي مشعرة بخلو صاحب الكتاب عن التحصيل فإن الثقة لا بد من رعايتها وليس الذمي موثوقا به في أفعاله وأقواله وتصاريف أحواله وروايته مردودة وكذلك شهادته على المسلمين فكيف يقبل قوله فيما يسنده ويعزيه إلى إمام المسلمين.
-          Rawdlat al-Thalibin 6/367
وأما تولية الذمي فإن كانت جباية من أهل الذمة كالجزية وعشر التجار جازت، وإن كانت من المسلمين ففي جوازها وجهان. قلت:  الأصح المنع. والله أعلم.
-          Khusn al-Suluk 161
الفصل الثالث عشر عدم تولية اليهود والنصارى على المسلمين. لا يجوز تولية اليهود والنصارى على المسلمين ولا استكتابهم على بيت مال المسلمين. عمر بن الخطاب وكاتب أبي موسى الأشعري: وقد أنكر ذلك من السلف عمر بن الخطاب t. فإن عمر كان قد ولى أبا موسى الأشعري على البصرة فجاء إليه فقال: اكتب لي الحساب. فانطلق فكتب: أنفقت في كذا كذا ثم جاء به إلى عمر r. فلما رآه أعجبه. قال: من كتب لك هذا؟ قال: كاتب لي. قال: فادعه حتى يقرأ كتبا جاءتنا من الشام. فقال: يا أمير المؤمنين لا يدخل المسجد. فقال: لم أجنب هو؟ قال: لا ولكنه نصراني. قال: فضرب عمر فخذي ضربة كاد يكسرها، ثم قال: أما سمعت الله تعالى يقول: يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض. أفلا اتخذت كاتبا حنيفا يكتب لك؟ قال يا أمير المؤمنين، مالي وله، له دينه ولي كتابته. فقال عمر r لا نأمنهم إذ خونهم الله ولا نكرمهم إذ أهانهم الله ولا ندنيهم إذ أقصاهم الله. ويروى أن خالد بن الوليد كتب إلى عمر بن الخطاب أن بالشام كاتبا لا يصلح خراج الشام إلا به. فكتب إليه: لا تستعمله. فراجعه وأخبر أنه لا يستغني عنه. فكتب إليه ينهاه عن استعماله. فعاوده وذكر أن المال يضيع إذا لم نستعمله، فكتب إليه عمر: مات النصراني والسلام. يريد بذلك أنه لو مات لكنت تستغني عنه، فقدر موته. … وكتب عمر بن عبد العزيز إلى عماله: ألا تولوا على أعمالنا إلا أهل القرآن. فكتبوا إليه: إنا وجدنا فيهم خيانة. فكتب إليهم: إن لم يكن في أهل القرآن خير فأجدر ألا يكون في غيرهم خير. الاستعانة بأهل الذمة في القتال. وعن ابن عباس أن النبي r استعان بيهود بني قينقاع ورضخ لهم واستعان بصفوان بن أمية في قتال هوزان يوم حنين أخرجه الحازمي. فإن صح هذا فيكون تألفا لقلب من علم منه حسن رأي في الإسلام وليس في قتالهم معه r نوع ولاية ولا استئمان لهم، بخلاف استكتابهم لا يجوز لما فيه من استئمانهم وقد خونهم الله. موقف الأئمة منه. قال الشافعي وآخرون: إن كان الكافر حسن الرأي بالمسلمين ودعت حاجة إلى الإستعانة به استعين به وإلا فيكره، وحمل الحديثين على هذين الحالتين. وقال مالك وأحمد وداود الظاهري: لا يستعان بهم ولا يعانون على الإطلاق، واستثنى مالك فقال: إلا أن يكونوا خدما للمسلمين، فيجوز. وقال أبو حنيفة t: يستعان بهم ويعاونون على الإطلاق. والشافعي إنما يجوز الاستعانة بهم في الحرب إذا أمنت خيانتهم ويكونون بحيث لو انضمت فرقتا الكفر لقدر المسلمون على مقاومة الفرقتين. وبهذا يظهر لك تحريم استعمالهم على بيت المال، لأن خيانتهم فيه لا تؤمن وهي ولاية يشترط فيها الأمانة، والله تعالى قد شهد عليهم بالخيانة، فكيف يجوز استعمالهم عمالا على بيوت الله تعالى واستئمانهم عليها؟ وهل ذلك إلا بمثابة من دفع السيف إلى قاتله وأجهز على نفسه وأعان العدو على هلاكه؟
-          Qurrat al-‘Ayn 199
إِنَّ بِلَادَكُمُ اسْتَقَلَّتْ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَكِنْ لَا يَزَالُ فِيْهَا الْكَثِيْرُ مِنَ الْكُفَّارِ وَأَكْثَرُ أَهْلِهَا مُسْلِمُوْنَ وَلَكِنِ الْحُكُوْمَةُ اعْتَبَرَتْ جَمِيْعَ أَهْلِهَا مُسْلِمُهُمْ وَكَافِرُهُمْ عَلَى السَّوَاءِ وَقُلْتُمْ إِنَّ شُرُوْطَ الذِّمَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ أَكْثَرُهَا مَفْقُوْدَةٌ مِنَ الْكَافِرِيْنَ، فَهَلْ يُعْتَبَرُ ذِمِّيِّيْنَ أَوْ حَرْبِيِّيْنَ؟ وَهَلْ لَنَا نَتَعَرَّضُ لِإِيْذَائِهِمْ أَذًى ظَاهِرًا إِلَى أَخِرِ السُّؤَالِ؟ فَاعْلَمْ أَنَّ الْكُفَّارَ الْمَوْجُوْدِيْنَ فِيْ بِلَادِكُمْ وَفِيْ بِلَادِ غَيْرِكُمْ مِنْ أَقْطَارِ الْمُسْلِمِيْنَ كاَلْبَاكِسْتَانِ وَالْهِنْدِ وَالشَّامِ وَالْعِرَاقِ وَالسُّوْدَانِ وَالْمَغْرِبِ وَغَيْرِهَا لَيْسُوْا ذِمِّيِّيْنَ وَلَا مُعَاهَدِيْنَ وَلَا مُسْتَأْمَنِيْنَ بَلْ حَرْبِيُّوْنَ حِرَابَةً مَحْضَةً … لَكِنِ التَّصَدَّى لِإِيْذَائِهِمْ أَذًى ظَاهِرًا كَمَا ذَكَرْتُمْ فِي السُّؤَالِ يُنْظَرُ فِيْهِ إِلَى قَاعِدَةِ جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَدَرْءِ الْمَفَاسِدِ وَيُرجَّحُ دَرْءُ الْمَفَاسِدِ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَلَاسِيَّمَا وَأَحَادُ النَّاسِ وَأَفْرَادُهُمْ لَيْسَ فِيْ مُسْتَطَاعِهِمْ ذَلِكَ كَمَا هُوَ الْوَاقِعُ وَالْمُشَاهَدُ اهـ
-          Al-Tibr al-Masbuk Fi Nashihat al-Muluk Lil Ghazali 1/16-17
إعلم وتيقّن أن الله سبحانه وتعالى اختار من بني آدم طائفتين وهم الأنبياء عليهم الصلاة والسلام ليبينوا للعباد على عبادته الدليل، ويوضحوا لهم إلى معرفته السبيل، واختار الملوك لفظ العباد من اعتداء بعضهم على بعض، وملكهم أزمة الإبرام والنقض، فربط بهم مصالح خلقه في معايشهم بحكمته، وأحَلّهم أشرف محل بقدرته، كما يسمع في الأخبار السلطان ظل الله في أرضه …   والسلطان العادل من عدل بين العباد، وحذر من الجور والفساد، والسلطان الظالم شؤم لا يبقى ملكه ولا يدوم، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم) . وفي التواريخ أن المجوس ملكوا العالم أربعة آلاف سنة وكانت المملكة فيهم وإنما دامت المملكة بعدلهم في الرعية، وحفظهم بالسوية، وإنهم ما كانوا يرون الظلم والجور في دينهم وملتهم جائز وعمروا بعدلهم البلاد، وأنصفوا العباد. وقد جاء في الخبر أن الله جلّ ذكره أوحى إلى داود عليه السلام أن آنْهِ قومك عن سب ملوك العجم فإنهم عمروا الدنيا وأوطنوها عبادي. فينبغي أن تعلم أن عمارة الدنيا وخرابها من الملوك فإذا كان السلطان عادلاً عمرت الدنيا وأمنت الرعايا كما كانت عليه في عهد أزدشير وأفريدون وبهرام كور وكسرى أنو شروان. وإذا كان السلطان جائراً خربت الدنيا كما كانت في عهد الضحاك وافراسيان وبرزدكنها الخاطىء وأمثال هؤلاء … وكان الملك في ذلك الزمان كسرى أنو شروان. وهو الذي فاق ملوك إيران، بعدله ونصفته، وتدبيره وسياسته، وذلك جميعه ببركات نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، لأنه ولد في زمانه، ووجد في أوانه. وعاش أنو شروان بعد مولده صلى الله عليه وسلم سنتين، والنبي صلى الله عليه وسلم افتخر بأيامه فقال: ولدت في زمن الملك العادل كسرى. والإسم الجيد خير الأشياء. والملوك الذين كانوا قبله كانت همتهم في عمارة الدنيا والعدل بين الرعية وحفظ الجسم بالسياسة وحسن الإنالة وآثار عمارتهم التي أثروها إلى اليوم ظاهرة في العالم وكل بلد يعرف بإسم ملكه لأنهم عمروا المواضع، وبنوا الضياع والمزارع، واستخرجوا القنوات والمصانع واظهروا ما كان خافياً من مياه العيون وجميع ما ذكرناه كان أنو شروان يعمره بعدله وإنصافه، مع تجنبه الإسراف في عفافه.
واعلم: أن أولئك الملوك القدماء همتهم واجتهادهم في عمارة ولاياتهم بعدهم. روي أنه كلما كانت الولاية أعمر، كانت الرعية أوفى وأشكر. وكانوا يعلمون أن الذي قالته العلماء، ونطقت به الحكماء، صحيح لا ريب فيه وهو قولهم: إن الدين بالملك، والملك بالجند، والجند بالمال والمال بعمارة البلاد، وعمارة البلاد بالعدل في العباد. فما كانوا يوافقون أحداً على الجور والظلم، ولا يرضون لحشمهم بالخرق والغشم، علماً منهم أن الرعية لا تثبت على الجور وأن الأماكن تخرب إذا استولى عليها الظالمون، ويتفرق أهل الولايات ويهربون في ولايات غيرها ويقع النقص في الملك ويقل في البلاد الدخل وتخلو الخزائن من الأموال ويتكدر عيش الرعايا لأنهم لا يحبون جائراً، ولا يزال دعاؤهم عليه متواتراً، فلا يتمتع بمملكته، وتسرع إليه دواعي هلكته
نكتة: الدين والملك توأمان مثل أخوين ولدا من بطن واحد فيجب أن يهتم ويجتنب الهوى، والبدعة والمنكر والشبهة وكل ما يرجع بنقصان الشرع وإن علم أن في ولايته من يتهم بدينه ومذهبه أمر بإحضاره وتهديده، وزجره ووعيده، فإن تاب، وإلا أوقع عليه العقاب، ونفاه عن ولايته ليطهر الولاية من إغوائه وبدعته، وتخلو من أهل الأهواء.
-          Mafatih al-Ghayb 18/61
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ. (هود: 117).
اعلم أنه تعالى بين أنه ما أهلك أهل القرى إلا بظلم وفيه وجوه. الوجه الأول: أن المراد من الظلم ههنا الشرك. قال تعالى: إِنَّ الشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان: 13). والمعنى أنه تعالى لا يهلك أهل القرى بمجرد كونهم مشركين إذا كانوا مصلحين في المعاملات فيما بينهم. والحاصل أن عذاب الاستئصال لا ينزل لأجل كون القوم معتقدين للشرك والكفر بل إنما ينزل ذلك العذاب إذا أساؤا في المعاملات وسعوا في الإيذاء والظلم ولهذا قال الفقهاء إن حقوق الله تعالى مبناها على المسامحة والمساهلة وحقوق العباد مبناها على الضيق والشح ويقال في الأثر الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم فمعنى الآية وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ أي لا يهلكهم بمجرد شركهم إذا كانوا مصلحين يعامل بعضهم بعضاً على الصلاح والسداد وهذا تأويل أهل السنة لهذه الآية. قالوا: والدليل عليه، أن قوم نوح وهود وصالح ولوط وشعيب إنما نزل عليهم عذاب الاستئصال لما حكى الله تعالى عنهم من إيذاء الناس وظلم الخلق.
-          Mafatih al-Ghayb 8/10-11

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ. (آل عمران: 28)
واعلم أن كون المؤمن مواليًا للكافر يحتمل ثلاثة أوجه. أحدها: أن يكون راضيًا بكفره ويتولاه لأجله، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوِّبًا له في ذلك الدين وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر، فيستحيل أن يبقى مؤمنًا مع كونه بهذه الصفة. فإن قيل أليس أنه تعالى قال: وَمَن يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيء؟ وهذا لا يوجب الكفر فلا يكون داخلًا تحت هذه الآية. لأنه تعالى قال: ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ، فلا بد وأن يكون خطابًا في شيء يبقى المؤمن معه مؤمناً. وثانيها: المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر وذلك غير ممنوع منه. والقسم الثالث: وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة والمظاهرة والنصرة إما بسبب القرابة أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه، وذلك يخرجه عن الإسلام.

إذا كنتم ثلاثة فأمروا أحدكم
تغير الفتوى و اختلافها بحسب تغير الأزمنة و الأمكنة و الأحوال و النيات و العوائد
بعثت بالحنيفية السمحة
قال ابن المنذر: “أجمع كل من يحفظ عنه من أهل العلم أن الكافر لا ولاية له على مسلم بحال
و قال القاضي عياض: “أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر، و على أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل
-          Siraj al-Muluk li al-Tarablisi 1/41-43
العدل ينقسم قسمين: قسم إلهي جاءت به الأنبياء والرسل عليهم السلام عن الله تعالى، والثاني ما يشبه العدل والسياسة الإصلاحية التي هرم عليها الكبير ونشأ عليها الصغير، وبعيد أن يبقى سلطان أو تستقيم رعيته في حال إيمان أو كفر بلا عدل قائم ولا ترتيب للأمور ثابت، فذلك مما لا يمكن ولا يجوز. وقد ذكرنا في أول الكتاب أن سليمان بن داود سلب ملكه حين جلي الخصمان بين يديه، وكان لأحدهما خاصة بسليمان فقال في نفسه: وددت أن يكون الحق لخاصتي فأقضي له، فسلبه الله تعالى ملكه وقعد الشيطان على كرسيه. فاجعل العدل سياستك تسقط عنك جميع الآفات المفسدة للسياسة، وتقوم لك جميع الشرائط التي تقوم بها للمملكة. قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه: إمام عادل خير من مطر وابل، وأسد حطوم خير من سلطان ظلوم، وسلطان ظلوم خير من فتنة تدوم. … وأما العدل النبوي فأن يجمع السلطان إلى نفسه حملة العلم الذين هم حفاظه ورعاته وفقهاؤه، وهم الأدلاء على الله والقائمون بأمر الله، والحافظون لحدود الله والناصحون لعباد الله. وروى أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الدين النصيحة! إن الدين النصيحة! إن الدين النصيحة! قالوا: لمن يا رسول الله؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم. … وأما القسم الثاني من العدل وهو السياسة الاصطلاحية، وإن كان أصلها على الجور فيقوم بها أمر الدنيا، وكأنها تشاكل مراتب الإنصاف على نحو ما كانت عليه ملوك الطوائف في أيام الفرس. وكانوا كفاراً بالله تعالى يعبدون النيران ويتبعون هواجس الشيطان، فتواضعوا بينهم سنناً وأسسوا لهم أحكاماً، وأقاموا لهم مراتب في النصفة بين الرعايا واستجباء الخراجات، وتوظيف المكوس على التجار. كل ذلك بعقولهم على وجوه ما أنزل الله بها من سلطان ولا نصب عليها من برهان. بيد أنه لما جاءت الشريعة من عند الله تعالى على لسان نبيه صاحب المعجزة محمد r، فمنها ما أقرته في نصابه، ومنها نسخته وأبطلت حكمه. فعادت الحكمة البالغة أمر الله تعالى والحكم بما أنزل الله وبطل ما سواه. وكان ملكهم محفوظاً برعايتهم للقوانين المألوفة بينهم، فانقطع بذلك حبل الهمل، فكانوا يقيمون بها واجب الحقوق ويتعاطون بها ما لهم وعليهم. وعن هذا كان يقال: إن السلطان الكافر الحافظ لشرائط السياسة الاصطلاحية أبقى وأقوى من السلطان المؤمن العدل في نفسه المضيع للسياسة النبوية العدلية، والجور المرتب أبقى من العدل المهمل. إذ لا شيء أصلح للسلطان من ترتيب الأمور ولا شيء أفسد له من إهمالها.
-          Khawasyi al-Syarwani 9/72-73
وَقَالَ ع ش بَعْدَ نَقْلِ مَا ذُكِرَ عَنْ الزِّيَادِيِّ: أَقُولُ وَكَذَا يَحْرُمُ نَصْبُهُ فِي شَيْءٍ مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ. نَعَمْ، إِنْ اقْتَضَتِ الْمَصْلَحَةُ تَوْلِيَتَهُ فِي شَيْءٍ لَا يَقُومُ بِهِ غَيْرُهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَوْ ظَهَرَ فِيمَنْ يَقُومُ بِهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خِيَانَةٌ وَأُمِنَتْ فِي ذِمِّيٍّ وَلَوْ لِخَوْفِهِ مِنِ الْحَاكِمِ مَثَلًا، فَلَا يَبْعُدُ جَوَازُ تَوْلِيَتِهِ فِيهِ لِضَرُورَةِ الْقِيَامِ بِمَصْلَحَةِ مَا وُلِّيَ فِيهِ. وَمَعَ ذَلِكَ يَجِبُ عَلَى مَنْ يُنَصِّبُهُ مُرَاقَبَتُهُ وَمَنْعُهُ مِنَ التَّعَرُّضِ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بِمَا فِيهِ اسْتِعْلَاءٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ اه
-          Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an 6/46
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (المائدة: 2)
الثالثة عشرة قوله تعالى: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. قال الأخفش: هو مقطوع من أول الكلام، وهو أمر لجميع الخلق بالتعاون على البر والتقوى؛ أي ليعن بعضكم بعضا ، وتحاثوا على ما أمر الله تعالى وأعملوا به، وانتهوا عما نهى الله عنه وامتنعوا منه … ويجب الإعراض عن المتعدي وترك النصرة له ورده عما هو عليه.
-          Bariqah Mahmudiyah Fi Syarh Thariqah Muhammadiyah Wa Syariah Nabawiyah 5/198
(التَّاسِعُ وَالْخَمْسُونَ) (الدَّلَالَةُ) بِاللِّسَانِ (عَلَى الطَّرِيقِ وَنَحْوِهِ لِمَنْ يُرِيدُ الْمَعْصِيَةَ) (فَإِنَّهَا لَا تَجُوزُ) لِأَنَّ لِلْوَسَائِلِ حُكْمَ الْمَقَاصِدِ وَأَنَّ مَا يُفْضِي إلَى الْمَعْصِيَةِ مَعْصِيَةٌ (لِأَنَّهَا إعَانَةٌ عَلَى الْمَعْصِيَةِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. قِيلَ هُنَا خَبَرُ الدَّيْلَمِيِّ: الظَّلَمَةُ وَأَعْوَانُهُمْ فِي النَّارِ. (وَفِي الْخُلَاصَةِ) (ذِمِّيٌّ سَأَلَ مُسْلِمًا عَنْ طَرِيقِ الْبَيْعَةِ) (لَا يَنْبَغِي لَهُ) أَيْ لَا يَجُوزُ (أَنْ يَدُلَّهُ عَلَيْهَا انْتَهَى) لَكِنْ قَالُوا لَا ضَمَانَ بِالدَّلَالَةِ وَإِنْ قَالُوا بِهِ بِالْغَمْزِ وَالسِّعَايَةُ فِيهِ إشَارَةٌ إلَى أَنَّ طَاعَةَ الْكَافِرِ مَعْصِيَةٌ.
-          Qawaid al-Ahkam Fi Mashalih al-Anam 1/133
ولحقوق بعض المكلفين على بعض أمثلة كثيرة: منها التسليم عند القدوم، وتشميت العاطس، وعيادة المرضى، ومنها الإعانة على البر والتقوى وعلى كل مباح، ومنها ما يجب على الإنسان من حقوق المعاملات، ومنها الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر؛ لأن الأمر بالمعروف سعي في جلب مصالح المأمور به، والنهي عن المنكر، سعي في درء مفاسد المنهى عنه، وهذا هو النصح لكل مسلم، وقد بايع صلى الله عليه وسلم على النصح لكل مسلم.
-          Al-Maidah 51
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
-          Al-Maidah 57
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ. وَاتَّقُوا اللهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
-          Ali Imran 28:
لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
-          An-Nisaa 141
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
-          Mumtahanan 1
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء

-          Hadits Riwayat Imam Muslim
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَفَعَ إِلَى يَهُوْدِ خَيْبَرَ نَخْلَ خَيْبَرَ وَأَرْضَهَا ، عَلَى أَنْ يَعْتَمِلُوهَا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَلَهُمْ شَطْرُ ثَمَرِهَا. رواه مسلم

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger