Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label NU. Show all posts
Showing posts with label NU. Show all posts

MBAH KH.WAHAB CHASBULLOH PECINTA SEPAK BOLA JUGA PENDIRI KLUB SEPAK BOLA

SIAPA SANGKA JIKA MBAH KH.WAHAB CHASBULLOH PECINTA SEPAK BOLA JUGA PENDIRI KLUB SEPAK BOLA

(oleh : Farid Alfarisi)

Banyak yang mengetahui bahwa KH.Wahab Chasbulloh adalah salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul ulama' (NU). Mbah Wahb juga dikenal sebagai seorang pendekar tangguh. Seorang Kiai Khos dengan segudang ilmu, sepak terjang Mbah Wahab dalam kancah percaturan pegerakkan kemerdekaan Indonesia sudah tidak diragukan lagi.

Bahkan Mbah Wahab juga menjadi motor dalam pegerakkan kemerdekaan Indonesia melalui Resolusi Jihad Rais Akbar PBNU KH Hasyim 'Asy'ary. Soal ilmu agama dan Politik, sosok kiai ini sudah tidak ragukan lagi. Tapi siapa sangka jika Mbah Wahab juga penggemar olah raga, terutama sepak bola. Hal ini dibuktikan bahwa Mbah Wahab adalah pendiri dan pemilik Club sepakbola ternama di Kabupaten Jombang.

Saksi sejarah sepak terjang Mbah Wahab  ini diceritakan oleh Kang Rozi dan Dulmanan. Dua orang ini merupakan pemain sepakbola di club yang didirikan oleh KH Wahab Chasbulloh. Di era tahun 1950an, warga Desa Tambakberas dan Santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum diarahkan untuk giat dalam olahraga. Saat itu pertama kali nama club tersebut adalah Himpunan Muslimin (HM). Kemdian, oleh Mbah Wahab Club tersebut diganti dengan nama Harimau (HM). Kemudian Club ini berganti nama menjadi Harapan Muda (HM) dan sampai sekarang klub sepakbola tersebut masih eksis dengan nama Persatuan Sepakbola Harapa Muda yang berkantor di Lapangan Tambakberas, Kecamatan Jombang. Tepatnya, sebelah utara Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang.

Kang Rozi saat itu berada dalam posisi sebagai Pemain club Harapan Muda di era tahun 1963 dan Dulmanan di posisi Kiper. Ada lagi Mbah Romli dan Mbah Pagi yang merupakan pengurus club sepakbola bentukkan Mbah Wahab itu. Sayangnya, Mbah Romli dan Mbah Pagi sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Dari penuturan Kang Rozi, Klub HM sangat kuat dan sulit bagi lawan-lawannya untuk mengalahkannya. Ia masing ingat ketika pertandingan Club HM melawan Club HW (salah satu klub sepakbola milik Ormas Muhammadiyah).  Kedua Klub ini memang sering bertandig meski hanya untuk laga uji coba bahkan juga bertemu dalam pertandingan resmi.

Kembali ke cerita pertandingan antara HM dan HW. Pertandingan kedua klub ini digelar di Lapangan Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang yang notabene adalah kandang dari Klub HW. Hampir semua penonton menjagokan HW dalam pertandingan itu. Kata Kang Rozi, jalannya pertandingan berjalan alot karena kedua tim sama-sama kuat.

Rupanya dalam pertandingan itu, strategi tim, teknik pemain sama-sama kuat hingga pemian dan Official HM mulai gelisah. Kemudian,  sebelum pertandingan berakhir, salah satu offical bernama Mat Badal diminta pulang ke Tambakberas untuk menemui Mbah Wahab dan menceritakan pertandingan yang berlangsung saat itu. Sekembalinya dari bertemu Mbah Wahab, Mat Badal kembali ke Lapangan Pulo Lor. Saat itu, Mat Badal diberi oleh Mbah Wahab sebutir kerikil untuk dilemparkan ke Lapangan tempat pertandingan.

Singkat cerita, setelah kerikik dilempar, HM pun bisa membobol gawang HW. Keanehan pun terjadi, saat ditendang menjebol gawang HW, tiba-tiba bola tersebut meletus.Kejadian aneh itu, boleh percaya atau tidak. "Boleh ditanyakan kepada saksi dan kiper HM pada waktu itu yaitu Dul manna yang sampai sekarang masih hidup mudah-mudahan  tidak pikun(sakit ingatan karena usia) pertandingan begitu ketat dan hasil akhir pertandingan itu dimenangkan oleh HM dengan sekor 0-1 . Yg tidak kalah menarik dari pertandingan itu adalah begitu bersahabatnya kedua tim HW dan HM," tutur Kang Rozi.

Kedua tim sangat menjunjung tinggi sportifitas, begitu juga suporternya meskipun tuan rumah kalah tapi tetap menghargai dan menghotmati hasil dari pertandingan. Padahal di zaman itu bentrok pemain serta tawuran suporter sangat sering dilakukan oleh sejumlah club di Jombang. Namun tidak bagi HM dan HW.

Ini sejarah perjuangan KH. Wahab chasbullah dimasyarakat dan masih banyak perjuangan beliau yg belum kita ketahui semoga kita bisa menjaga dan meneruskan perjuangan beliau.

4 comments

KH. M. Basuni Manaf (Ngelom Sepanjang Taman Sidoarjo)

0 comments

LEBARAN DUA VERSI SIAPA "BIANG KEKACAUAN" ?

LEBARAN DUA VERSI
SIAPA "BIANG KEKACAUAN" ?

Oleh : Ahmad Musta'in Syafi'ie

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150268506916712

Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy'ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli Hadis dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan islam menurut skil dan lingkungan masing-masing.

Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari kuto Ngayogyokarto. Sementara kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia. Allahumm ighfir lahum. 

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu.
Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain : Pertama, shalat tarawih, sama-sama dua puluh rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat tarawih dua puluh rakaat di masjid Syuhada Yogya. Kedua, talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan (?). Ketiga, baca doa qunut Shubuh. Keempat, sama-sama gemar membaca shalawat (diba'an).

Kelima, dua kali khutbah dalam shalat Id, Idul Ftri dan Idul Adha. Keenam, tiga kali takbir, "Allah Akbar", dalam takbiran. Ketujuh, kalimat Iqamah (qad qamat al-shalat) diulang dua kali, dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitaf Fikih Muhammadiayah yang terdiri dari tiga jilid, yang diterbitkan oleh : Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktik ibadah yang rupanya " harus beda " dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail, nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah Tesis yang meneliti Hadis-hadis yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah : bahwa mayoritas Hadis-Hadis yang pakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha'if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma'in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha'if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau Fadha'il al-a'mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Ygyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktik ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih depalan plus tiga witir, bagaimana praktiknya ?.

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi : 4,4,3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk tarawih. Dan tiga rakaat untuk witir. Model witir tiga sekaligus ini vrsi madzahab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu witir. Ini versi al-Syafi'ie.

Tapi pada tahun 1987, praktik shalat tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadis dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadis Muslim lebih shahih ketimbang Hadis empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan majlis tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushallah di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai deprtemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu pakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama mengunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai Hadis rukyah dan ikmal. 

Oleh karena itu, tahun 90an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh departemen agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode "wujud al-hilal". Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadis yang dulu dielu-elukan, ayat al-Qur'an berisikan seruan " taat kepada Allah, Rasul dan Ulil amr " dibuang dan arergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera. 

Populerkah metode "wujud al-hilal" dalam tradisi keilmuwan falak ?. Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupu sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus berajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya tak kan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat ?.

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain ?. 

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu' atau teropong moderen sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan majlis tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelamahan akademik pasti ada. Minal aidin al-faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Catatan:

Penulis adalah Direktur Madrasatul Qur’an Tebuireng KH. Musta’in Syafi’i, M.Ag.

Silahkan Kutip Isi Blog Dengan Mencantumkan Nama Penulisdan alamat Blog

0 comments

Biografi Singkat KH. Abdul Fattah Hasyim Tambakberas Jombang

Mengenang
KH. Abdul Fattah Hasyim Idris (Bapak Pendidikan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang)
(Wafat: Kamis Pon malam Jum’at Wage, 28 April 1977 M)

Disalin dari KH. Abdul Nashir bin Abdul Fattah. Beliau mendengar dari KH. Salim Azhar Paciran

Tauladan Bagi Kita Dalam Mahabbahnya Pada Al Quran

     Saya pada saat nyantri di PP Bahrul Ulum 1966 - 1973 setiap bulan Romadlon selalu mengaji puasaan di Pondok tersebut .
     Banyak kitab-kitab yang di khatamkan dengan dibaca lafadz dan ma'nanya oleh para Pembalah, antara Lain mbah KH Abd Wahab Hasbulloh, mbah KH Abd Fattah Hasyim, Yai Soleh Hamid, Yai Malik Hamid, Yai Jamaluddin Ahmad, Yai Amanulloh AR, Yai Asy'ari Muhsin, serta para Kiyai dan Ustadz Pembalah yang lain.
     Ada satu yang pernah menyentuh hati saya ketika saya memandang, sehingga menjadi perhatian saya dan selalu memperhatikannya pada setiap bulan Puasa, yaitu Khadlratul mukarrom mbah KH Abd Fattah Hasyim. Beliau selalu rutin / istiqomah pada setiap ba'da sholat Asar duduk di serambi muka rumah Beliau menghadap ke arah Pondok untuk membaca Al Qur'an, saya perhatikan kadang-kadang dari pintu majid sebelah selatan, kadang-kadang saya jenguk dari jerambah Khash Pangeran Diponegoro, kadang-kadang sambil agak sembunyi saya lihat dari jalan sebelah barat muka Madrasa MI BU, subhanalloh membacanya cepat betul (lanyah betul), saya tau hal itu bukan dari suara Beliau tetapi dari kepala Beliau yang bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti mata Beliau melihat tulisa mushaf serta komat kamit mulut yang tampak cepat / lanyah.
     Beliau tidak dikenal sebagai hafidz / hafal Al Qur'an tetapi lanyah betul dan selalu ingat. Jika ada bacaan Al Qur'an oleh qori' santri yang keliru, Beliau bisa mengikatkan dan membenarkan.
Walaupun tidak hafal secara urutan ayat-ayat tetapi karna mahabbah dan kelanyahan serta perhatian Beliau terhadap ma'na ayat yang dbaca maka setiap ada mas'alah apa saja Beliau mendahulukan membaca dalil ayat Al Qur'an selagi mas'alah tersebut terdapat Nash dalam Al Qur'an.
     Saya yaqin bahwa Beliau membaca Al Qur'an di bulan Romadlon maupun di luar bulan Romadlon tidak hanya pada waktu ba'da Asar saja sehingga mungkin dalam dua hari atau tiga hari Beliau menghatamkan Al Qur'an, cuma saya tidak melihat secara langsung.
     Semoga kita bisa meniru mahabbah Beliau terhadap Al Qur'an walaupun tidak dapat 100 % dan semoga Al Qur'an selalu menyertai Beliau di alam Barzakh serta memberi syafaat kepada Beliau dan kepada kita pula di alam akhirat nanti. (Oleh: KH. Salim Azhar Paciran)

     Rutinitas KH Abd Fattah Hasyim yang termasuk mahabbat Beliau pada Al Qur’an ialah mengaji Al Qur’an bil ma’na.
     Selama saya belajar di PP Bahrul Ulum belum pernah kosong dari jadwal pengajian tahunan (bukan Romadlonan) asuhan Hadlrotu Mukarrom Mbah KH Abd Fattah Hasyim berupa pengajian Al Qur’an bil ma’na yaitu Al Qur’an dima’nani (bukan Tafsirnya) setiap ba’da jama’ah sholat Asar.
Sistim Beliau dalam mengaji Al Qur’an bil ma’na adalah Beliau baca seluruhnya ayat-ayat yang akan diberi ma’na, setelah itu mulai dibaca per kalimat dan diberi ma’na sesuai dengan tafsir yang masyhur. Setiap ada ayat yang berhubungan dengan Asbabun Nuzul mesti Beliau menceritrakan Asbabun Nuzulnya. Para santri ada yang diam mendengarkan dan memperhatikan ceritra Asbabun Nuzul tersebut, ada pula yang mendengarkan, memperhatikan sambil mencatat ringkasan-ringkasannya untuk di catat dengan lengkap ketika sudah kembali ke kamar masing-masing . Beliau betul-betul menarik perhatian para santri, jika menceritrakan pertempuran antara para sohabat dengan orang-orang kafir seolah-olah kelihatan sungguhan gerak dan langkah mereka, sehingga semua terkesima dengan ceritra tersebut. Biasanya pengajian Al Qur’an bil ma’na itu di akhiri dengan membaca sholawat Badar yang dipimpin oleh Kang Ali Masri, santri tuhu dari Jawa tengah.
     Beliau sosok Kiai Pengasuh yang betul-betul mendalami arti serta sebab-sebab turunnya ayat sekaligus menghayati arti ayat-ayat yang dibaca. Jika kebetulan ayat-ayat ni’mat Beliau menerangkan dengan wajah yang berseri-seri menggembirakan para santri, kadang-kadang juga agak berkelakar, Jika kebetulan membaca ayat-ayat yang menerangkan adzab siksaan Beliau tampak sedih dan mencucurkan air mata, sehingga suasana masjid yang penuh dengan santri yang mengaji tersebut menjadi sunyi, sepi, mengharukan, walaupun jarang dari mereka yang meneteskan air mata, sehingga yang terdengar hanya suara Beliau yang walau tanpa loud speaker bisa didengar oleh santri yang ada di serambi masjid.
     Subhanalloh, Bukan hanya ketika mengaji dengan para santri, Beliau menangis ketika menerangkan ayat-ayat siksaan, bahkan hampir tidak pernah Beliau tidak menangis pada saat ber Khutbah Jum’ah ketika membaca dan menerangkan ayat-ayat atau hadits yang menceritrakan siksaan.
     Jika ada hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah kalau berkhutbah كأنّه منذر جيش, ya mbah Yai Fattah itulah yang mempraktikkan. Kami para santri sulit meneladani Beliau.
     Kita berdo’a mudah-mudahan ilmu yang telah Beliau berikan kepada kita bermanfaat dan barokan dan semoga kita nanti di hari akhir dikumpulkan oleh Alloh bersama para Kiai yang alim-alim, yang mukhlishiin, serta para anbiya’, syuhada’ dan sholihin, termasuk Hadlrotu Mukarrom Mbah KH Abd Fattah Hasyim. (Oleh: KH. Salim Azhar Paciran)

KH Abdul Fattah Hasyim Gemar Mengkaji Hadits

     Di antara amaliyah yang digemari oleh Hadlrotul Mukarrom Mbah KH Abd Fattah Hasyim adalah mengaji HADITS.
     Pada saat saya mencari ilmu di Bahrul Ulum , Beliau mempunyai wiridan setiap selesai jamaah solat Subuh mengaji Hadits Sohih Bukhori dan Ihya’ ulumiddin Al Ghozali diikuti oleh para santri yang besar- besar, umumnya yang sudah belajar di Madrasah Muallimin Muallimat. Saya sering mengikuti pengajian ini sebagai mustami’in ketika waktu itu saya belum mempunyai kitab yang dikaji tersebut. Beliau mengaji di serambi masjid yang muka, dan selalu menghadap qiblat sedang para santri yang mengaji kebanyakan berada di belakang Beliau juga menghadap qiblat di samping ada beberapa yang mengambil tempat di sebelah kanan dan kiri Beliau.
     Mbah KH Abd Fattah dalam memberi ma’na Kitab Hadits Bukhori dan Ihya’ ulumiddin memakai metode cepat tanggap. Biasanya Beliau menerangkan prihal yang penting-penting saja sekiranya agak sulit difahami, selebihnya Beliau hanya membaca dan memberi ma’na dengan metode cepat tanggap, namun saya merasakan bahwa Beliau setiap memberi ma’na kitab apapun kitabnya itu betul-betul memahamkan walaupun tanpa di jelaskan ulang. Jadi ketika Beliau membaca kitab Bukhori dan Ihya’, walaupun hanya dibacakan ma’nanya, para sntri telah faham apa lagi yang mengaji adalah santri yang sudah senior, sudah biasa dilatih memahami kitab di Madrasah Muallimin Muallimat.
     Termasuk kehebatan Beliau dalam mengaji Hadits , saya pernah ikut mengaji Romadlonan di ndalem, Beliau membaca kitab Hadits TAJRIDUS SHORIH (pethikan dari hadits shohih Bukhori). Kitab yang sekian tebalnya bisa khatam selama 17 hari dalam waktu yang tidak terlalu memayahkan para santri. Subhanalloh Beliau membacanya cepat betul tetapi jelas, tidak terkesan nerecel , bahkan kadang-kadang diselingi dengan intermezo yang membuat santri tertawa Gerrr sehingga tidak jenuh dan santri-santri masih bisa menulis ma’nanya dengan sempurna, Subhanalloh jarang kita bisa menemukan pembalah kitab seperti Beliau.
     Pada saat selesai mengkhatami kitab ini semua santri putra berjabat tangan dengan mencucup tangan kanan Beliau teriring rasa haru, puas dan cinta kepada Kiai . Sebagian mencucurkan air mata lantaran terbuai dengan suasana khataman yang dibacakan do’a oleh Beliau dengan penuh konsentrasi mendoakan para santri agar ilmunya bermanfaat dan barokah.
     Semoga Alloh menempatkan Beliau di haribaan sifat Rohman RohimNya, melimpahkan kasih sayang dan pengampunan kepada Beliau di alam Barzakh dan mengangkat derajat Beliau di hari akhir nanti bersama para Anbiya’, Auliya’, Syuhada’ dan Sholihin, juga menyertkan kita pada golongan mereka.

KH Abdul Fattah Hasyim Penyayang Para Santri

     Kasih sayang seseorang kepada anaknya itu ada yang diwujudkan dengan memanjakan anak, seperti halnya membelikan apa saja yang anak minta tanpa ada filter, atau meng iya kan apa saja yang dimaui oleh anaknya tanpa dibatasi, ada pula yang diwujudkan dengan mendidik anaknya untuk berbuat sesuatu yang manfaat untuk masa depan mereka, mungkin berupa pendidikan kedisiplinan, keberanian, tawadlu’, tirakat, dan sebagainya.
     Mbah KH Abd Fattah selalu memikirkan agar masa depan para santri itu cemerlang, Beliau sepertinya tidak rela kalau santri-santri sudah lama di pondok, sudah menghabiskan beberapa kendil nasi liwet, sudah banyak makan dan minum air intip, sudah menghabiskan beberapa ratus ribu uang bekal, sudah menghabiskan beberapa buku pelajaran yang diterima, kemudian mereka tidak bermanfaat bagi ummat, Beliau sepertinya tidak rela kalau ilmu para santri tidak manfaat dan barokah, maka kasih sayang Beliau kepada santri-santrinya diwujudkan dengan pendidikan kedisiplinan, keberanian, tawadlu’ dan tirakat agar mereka nanti pulang ke rumah, hidup bersama masyarakat menjadi orang yang berguna dan mulya.
     Beliau melatih para santri untuk disiplin sholat pada awwal waktu. Setiap hari membangunkan para santri pada waktu menjelang jamaah Subuh tanpa bosan, kendatipun kadantg-kadang ada santri yang menipu, bergaya seolah-olah sudah siap jamaah dengan pakaian sarung baju dan kopyah padahal belum wudlu, jika mbah Fattah telah lewat, dia tidur kembali, mbah Fattah juga mengetahui hal itu, tetapi tetap Beliau datangi tiap-tiap kamar untuk membangunkan mereka, kadang-kadang pada saat mengaji Al Qur’an bil ma’na Beliau intermezzo, menceritrakan ada santri yang bergaya seolah-olah sudah siap jamaah dengan pakaian sarung baju dan kopyah padahal belum wudlu, dia tidur kembali. Kadang-kadang Beliau menceritrakan pada saat mondok di Mojosari, kalau pagi mbah Yai membawa gombal dibasahi air lalu ditarik di atas wajah santri-santri yang masih tidur.
     Dorongan untuk berjamaah sholat setiap awal waktu adalah pelatihan kedisiplinan sekaligus model tirakat bagi santri Bahrul Ulum. Dimulai dari disiplin dan tirakat dengan melakukan jamaah sholat, lalu disiplin dan tirakat dengan melakukan kepatuhan terhadap peraturan pondok pesantren, Ro’an bersama, serta mengikuti kegiatan-kegiatan wajib yang lain.
     Beliau melatih para santri untuk berani dan lancar berbicara dalam menghadapi birokrasi di masyarakat dengan membiasakan mereka untuk berbahasa Indonesia. Mbah Fattah selalu menggunakan bahasa Indonesia kepada para santri. Saya berfikir, hal ini disamping melatih para santri untuk berani dan berjiwa nasionalisme serta berkebangsaan adalah juga wujud tawadlu’ Beliau, dimana dengan memakai bahasa tersebut menjadi tidak ada beda antara Beliau dan santrinya dalam drajat bahasa. Para santri tidak harus boso atau kromo inggil yang dapat membedakan drajat antara atasan dan bawahan.
     Semoga amal jariyah Beliau mendidik para santri diterima ole Alloh serta dikaruniai pahala yang agung oleh-Nya dan kita yang pernah diasuh bisa meniru perjalanan Beliau, kelak kemudian hari dikumpulkan bersama Beliau dan para alim ulama’ mendapat ridloNya.

KH Abdul Fattah Hasyim Sangat Peduli Terhadap Jam’iyah
Nahdlatul Ulama’ Dan Kemaslahatan Ummat

     Sebagian dari rutinitas Mbah KH Abdul Fattah adalah mengisi pengajian rutin yang dilakukan oleh warga NU Ranting Tambakberas pada setiap malam Ahad dengan sistim giliran, bepindah pindah dari satu musholla ke musholla yang lain.
     Saya kadang-kadang ikut gabung dan mendengarkan pengajian Beliau mana kala tempat pengajian tersebut dekat dari pondok (tidak di luar batas-batas yang ditentukan oleh peraturan).
     Pengajian Beliau yang banyak adalah menerangkan tentang keagamaan dan kemashlahatan ummat, tidak banyak menerangkan perkembangan Jam’iyah NU, (memang hal tersebut bukan tugas Beliau melainkan tugas Bagian Tanfidyiah). Beliau menerangkan ke NU an secara tuntas apa bila berhubungan dengan hal-hal yang rawan perpecahan bagi warga NU seperti masalah Aqidah, Syari’ah, Pemilu, dan ketika akan mu’tamar memohon do’a agar NU selamat dari pertengkaran antar tokoh-tokoh NU.
     Saya mendengarkan sebagian pengajian Beliau bahwa kita adalah ummat Islam. Nama-nama harinya adalah Ahad Senen Selasa dan seterusnya, maka kita jangan menyebut bahwa pengajian ini adalah pengajian Mingguan, tetapi istilahkan dengan nama pengajian rutin malam Ahad.
     Subhanalloh, menurut saya, itu adalah ke pekaan Beliau untuk membentengi masyarakat muslim terhadap budaya yang bukan produk Islam, walaupun sekecil ujung jarum.
     Seperti halnya Beliau sangat peduli berteman dan memayungi seorang Pastur yang berpindah agama dari Keristen menjadi Islam. Santri-santri menyebut Beliau adalah Kamus berjalan sebab sangat menguasai bahasa, ahli kesenian, ahli berfikir tentang kehidupan yang tenang, namanya M.Tasir. Saya juga sempat dituliskan oleh Beliau pada buku Kesan dan Kenangan detik-detik akan mengakhiri belajar di Bahrul Ulum , Beliau menulis: “Manusia yang baik adalah manusia yang bisa mengalahkan hawa nafsunya”, dengan bigron gambar sinar bintang.
     Subhanalloh, sampai pada detik-detik terakhir akan pulang ke Rahmatulloh, (kata istri saya yang dia juga masih ada di pondok Al Fathimiyyah Bahrul Ulum waktu itu) Mbah KH Abd. Fattah masih menanyakan Pak Tasir.
     Subhanalloh, sungguh lembut hati Mbah KH Abd. Fattah , di tengah-tengah men tarbiyah para santri, Beliau masih menyempatkan diri untuk membimbing ummat dan memelihara mereka menuju jalan yang benar agar tidak masuk pada golongan orang-orang yang dimurkai Alloh dan orang-orang yang sesat.
     Semoga kita semua dikumpulkan bersama Beliau, ditunjukkan jalan benar , jalan orang-orang yang diberi ni’mat oleh Alloh, bukan jalan orang-orang yang dimurkai Alloh dan orang-orang yang sesat. Amiiin.

KH Abdul Fattah Hasyim Berjasa Bagi NU Lamongan.
Beliau Marah Karena Ke “NU” an Santrinya Diusik Orang

     Kisah mbah Zubair Umar ketika mondok di Bahrul Ulum. Pada sa’at mbah Zubair Umar sekolah di Paciran Karangasem bersama 3 temannya dari Sendangduwur (mbah Syafi’i Ali, mbah Husnan Mansur, mbah Abdulloh Ihsan / Pak Dulah). Mereka semua bersekolah dengan pakaian seragam celana pendek (kathok biru baju kuning) yakni seragam pandu HW, tetapi boleh tidak sragam, termasuk Mbah Zubair tidak pernah sragam. Beliau selalu membawa sarung yang dilipat dan dimasukkan dalam celana pendek.
     Ketika ada rapat Masyumi di sebelah selatan pasar Blimbing, para murid diaja’ mendatangi rapat tersebut dan mampir sholat Asar di Dengok (masjid utara jalan), anak-anak disuruh sholat dengan pakaian seragam celana pendek. Selesai sholat mereka diceramahi oleh Pak Qur’ani Weru yang isinya antara lain: Kita tidak mamang sholat dengan pakaian celana pendek sebab menurut Imam Syafi’i aurat laki-laki itu: “ما بين السرّة والركبة“  Maka udel dan dengkul tidak aurat, apa lagi ada kata-kata “maa” maka hanya “maa” itu yang harus ditutup. Sama halnya dengan kata-kata “Dengok adalah desa antara Blimbing dan Paciran” Jika ada pemilihan Kades Dengok maka orang Paciran dan Blimbing tidak boleh ikut.
     Ketika itu Ustadz Fathur Rohman dari Sugihan dengan membawa kitab “Um” ia berkata bahwa Imam Syafi’i mengatakan وَيَكْرَهُ بِمُؤَذِّنٍ غَيْرِ وَاحِد ini diartikan: Imam Syafi’i tidak setuju jumatan dengan adzan dua, Kira-kira dia tidak faham bahwaمُؤَذِّنٍ  itu mestinya bukan pekerjaan adzan melainkan orang yang adzan, sebagaimana praktik di Masjidil Haram, dulu ada empat menara, setiap menara ada yang adzan (bergantian).
     Sejak itu Mbah Zuber tidak krasan bersekolah di Karangasem. Sering mbolos dan mengajak 3 orang temannya tersebut untuk mbolos. Kiai Ridlwan datang ke rumah orang tua Mbah Zubair dan bertanya “Mengapa mbolos” ?.
     Mbah Zuber lalu mengajak 3 temannya untuk mondok.
     Mbah Syafi’i Ali dan Mbah Abdulloh Ihsan ke Langitan, dan beliau bersama mbah Husnan Mansur ke Rejoso Peterongan, tidak lama kemudian Yai Baqir Adlan nyusul dan mengajak keduanya pindah ke Tambakberas.
     Di Sendang Masyumi dipimpin oleh orang-orang yang dipengaruhi oleh faham-faham yang tidak seperti dulu, mereka semua sudah tidak mau selamatan dan tahlilan.
     Pada suatu hari, Seorang pengurus Masyumi kirim surat kepada mbah Zubair yang masih mondok di Tambakbersa, isi suratnya berbunyi: KOWE POK MULIH, YU BIK (mbah Robi’ah kakak mbah Zuber, istri KH Muhtadi) KANDANI OJO GAWE SLAMETAN 1000 DINANE K. MUHTADI, MERGO WONG SENDANG WIS GELEM TAK JAK GAK SLAMETAN, SURAT IKI ATURNO NANG KIAIMU, TAKOKNO, KOYO OPO HUKUME NYLAMETI MAYIT. (Kamu pulanglah, Mbakyu Bik bilangi jangan membuat selamatan 1000 harinya K. Muhtadi, Sebab orang Sendang sudah mau saya aja’ tidak selamatan. Surat ini haturkan pada Kiaimu, Tanyakan, Bagimana hukum menyelamati orang mati).
     Surat dihaturkan kepada Mbah KH Abdul Fattah Hasyim. Beliau membacanya lalu menangis, marah, dan bilang: INI WAHABI, PULANGLAH DAN MAMPIR KE RUMAH KH ABD KARIM GERSIK. BILANGI BELIAU ! Sampai di Gersik, Mbah Zuber haturkan surat itu kepada Yai Abd Karim. Setelah membaca, KH ABD KARIM bilang: YO, AKU SISOK TAK NANG SENDANG KARO YAI SHOLEH (Ya , besuk saya ke Sendang dengan K. Soleh).
     Mbah Zubair pulang, disambut oleh mbah K. Hasan, dan tokoh-tokoh Masyumi. Mereka bertanya kabar lalu dibilangi bahwa besuk Yai Abd. Karim datang di Sendang. Mereka agak kecewa dan penuh tanda tanya.
     Betul sekali mbah Yai Sholeh dan Yai Abd. Karim hadir dengan 2 dokar yang dipenuhi dengan beras dan lauk pauk serta ikan bandeng untuk acara slamatan 1000 harinya mbah KH Muhtadi bin Mushthofa.
     Mbah Zubair kembali ke Tambakberas dan tokoh-tokoh Sendang bergolak mendirikan Jam’iyah NU Ranting Sendang, lalu tokoh-tokoh kota Lamongan bergolak pula mendirikan Jam’iyah NU Cabang Lamongan. Subhanalloh. Semoga Riwayat-riwayat ini semogaa bermanfaat.

0 comments

AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH AL-NAHDLIYYAH SEBAGAI SUBTANSI PENDIDIKAN TOLERANSI DI INDONESIA


AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH AL-NAHDLIYYAH
SEBAGAI SUBTANSI PENDIDIKAN TOLERANSI DI INDONESIA*[1]
Oleh Moh. Dliya’ul Chaq
Mukaddimah
Secara historis NU memiliki kontribusi yang sangat besar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. NU telah mewarnai sejarah pergerakan bangsa Indonesia semenjak awal kemerdekaan Indonesia hingga dekade akhir-akhir ini. Dan salah satu aspek penting dalam kontribusi NU tersebut adalah bagaimana NU dengan konsepsi tentang Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sebagai sesuatu yang final bagi bangsa Indonesia. Dan yang lebih penting adalah NU dengan konsepsinya tentang  Pancasila telah mengarahkan pergerakannya untuk menjadi civil religion atau masyarakat madani.
Saat ini, Islam di dunia mulai mengalami gejolak keberagamaan yang berakibat pada terkontruksinya pandangan bahwa Islam adalah agama yang kaku, keras, radikal dan bahkan tergolong agama yang melahirkan teroris. Hal ini karena banyak Islam di wilayah Timur Tengah pada umumnya yang cenderung memperlihatkan varian keberagamaan yang kaku, intoleran, dan eksklusif. Di Arab Saudi, misalnya, wajah Islam lebih banyak menampilkan wataknya yang intoleran terhadap budaya-budaya lokal dan atau internasional, sehingga ikon-ikon sejarah dan budaya di Negara tersebut dihancurkan oleh rezim agama yang berkolaborasi dengan pemerintah (Wahabisme). Berbeda dengan dengan Islam Indonesia yang telah dikenal luas di kalangan masyarakat internasional sebagai varian keberaagamaan yang ramah, toleran, dan inklusif. Hal ini tidak lepas dari campur tangan NU yang oleh founding father-nya dikonstruksi sebagai sebuah varian keberagamaan yang ramah terhadap budaya, terbiasa dengan perbedaan pandangan, dan tidak mengedepankan pendekatan legal-formal melainkan lebih mengedepankan reseptifitas dan adaptasi terhadap nilai-nilai lokal keindonesiaan. Namun demikian, watak islam yang beradab, ramah, toleran dan inklusif serta menerima perbedaan ini mulai memudar di Indonesia. Bahkan di kalangan Nahdliyin. Asumsi yang teramati bahwa hal ini dikarenakan akibat virus-virus radikalisme dan liberalisme mulai menyebar di dunia pendidikan di Indonesia, termasuk di NU bahkan di pesantren.

ASWAJA NU dan Khittah
Nahdlatul Ulama disingkat NU, didirikan di Surabaya pada tanggal 16 rajab 1344 H. bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M. Latar belakang kelahiran NU tidak lepas dari (1) kondisi politik internasional dunia Islam dan (2) perkembangan pemikiran keagamaan. Munculnya Komite Hijaz merupakan cikal bakal lahirnya NU. Komite Hijaz melalui utusannya KH. A. Wahab Hasbullah menemui Raja Saudi (Abdul Aziz bin Saud) untuk menjamin kebebasan beramaliah dalam madzhab empat menuai hasil gemilang. Sepulang dari Saudi inilah NU berdiri yang semula KH. A. Wahab Hasbullah berkeinginan untuk membubarkan Komite Hijaz karena tugasnya selesai, malah diperintah KH. Hasyim Asyari untuk melakukan tugas baru yakni membentuk Jamiyyah NU.
Dari Qanun Asasi (pidato KH. Hasyim Asyari pada pendirian NU), AD-ART NU, Munas Alim Ulama’ 1983 (Deklarasi Hubungan Pancasila dan Islam) dan Khittah NU (keputusan muktamar Situbondo 1984) dapat disimpulkan beberapa pokok pikiran dasar ASWAJA NU:
1.      Paham Keagamaan NU
a.    Sumber ajarannya adalah al-Quran, hadits, Ijma’ dan qiyas.
b.    Mengikuti faham ahlusunnah wal jamaah dengan menggunakan jalan (madzhab):
-        Bidang Fiqih: Bermadzhab pada salah satu empat madzhab.
-        Bidang Aqidah: Bermadzhab pada Abu al-Hasan al-Asyari dan Abu Mansur al-Maturidi
-        Bidang Tasawuf: Bermadzhab Imam Junaid al-Baghdadi, Imam al-Ghazali dan imam lainnya.


2.      Sikap Kemasyarakatan NU
Menumbuhkan sikap kemasyarakatan yang bercirikan:
-     Tawasuth wa I’tidal (Moderat dan berpijak pada Sikap adil sehingga menghindar dari sikap tatharruf (ekstrim)
-     Tasamuh (Toleran terhadap kemajemukan)
-     Tawazun (seimbang dalam sikap hubungan dengan masyarakat dan dengan Allah)
-     Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Peka untuk berbuat baik dan menolak segala bentuk hal yang merendahkan kehidupan)

3.      Pandangan NU Tentang Bernegara dan Berbangsa
a.   Menjunjung Tinggi pancasila dan UUD 1945
b.   Menunjunjung Tinggi Tasamuh (Toleran) dan Ukhuwwah dalam hidup berdampingan dengan sesama muslim atau yang beragama lain (pluralitas) untuk mewujudkan persatuan bangsa
Ukhuwah menurut NU: Ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan sesame muslim), Ukhuwwah Wtahniyyah (persaudaraan atas ikatan kebangsaan dan kenegaraan), dan ukhuwwah Basyariyah (persaudaraan atas dasar rasa kemanusiaan).
c.   Tidak terkat dengan organisasi politik manapun
d.   Pancasila adalah prinsip fundamental namun bukan agama dan tidak bias menggantikan agama
e.   Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid menurut penegertian keimanan dalam Islam.
f.    Penerimaan dan Pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan kewajiban agamanya.
g.   NU wajib mengamankan pengertian yang benar tentang pancasila

Penerapan Faham ASWAJA NU
Indonesia, sebagai negara yang menggunakan pilar agama sebagai landasan perjuangan dan cita-cita bangsa sebagaimana tertuang di dalam pembukaan UUD 45 yaitu ”atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”, maka sesungguhnya agama dan negara  memiliki relasi dalam coraknya  yang simbiosis. Tujuannya adalah menciptakan semangat kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, permusyawaratan serta keadilan social sehingga menjamin warga negara dapat hidup sejahtera dan dapat menjalankan ibadah sesuai agamanya masing-masing.
NU dikenal sebagai organisasi yang toleran dan ramah serta menghormati perbedaan. Dalam faham keagamaannya baik di bidang aqidah, tasawuf maupun fiqih, NU cenderung tidak memilih pada satu faham melainkan berusaha untuk mengakomodir beberapa faham yang diyakini memiliki kebenaran secara ilmiah.
Dalam faham berkebangsaan dan bernegara, NU menjunjung tinggi pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar Negara melalui doktrin tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), i‘tidal (moderat), amar ma’ruf nahi munkar dan semangat ukhuwwah, baik ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wthaniyyah dan ukhuwah basyariyah. Bagi NU, Pancasila adalah harga mati. Oleh karenanya, NU dikenal sebagai organisasi yang toleran dan bahkan mampu menyelesaikan permasalahan bangsa.
Strategi implementasi faham Aswaja NU yang bermuatan norma praktis dalam kondisi pluralitas agama dan masyarakat, bisa mencontoh kebijakan Rasulullah Saw ketika mensinergikan masyarakat lintas agama melalui Piagam Madinah (watsiqah Madinah). Komunitas ahlu al-kitab tetap diberi kebebasan mengamalkan ajaran agama masing-masing, tetapi dalam kepentingan kebersamaan seperti bela negara dan menjaga stabilitas wilayah berlaku ikatan kesamaan kewajiban. Prinsip kerukunan antar umat beragama dikondisikan dengan baik.
Namun demikian, demokratisasi seringkali memunculkan suasana konfliktual antara masyarakat, agama dan negara. Hubungan antara agama dan Negara menajdi poros inti timbulnya konflik, baik konflik pemikiran atau bahkan konflik fisik. Kekhawatiran terkoyak-koyaknya bangsa sama sekali bukan hal yang mustahil. Fenomena yang berkembang memperlihatkan kemungkinan tersebut. Namun jika ditelaah lebih lanjut, bahwa faktor utamanya adalah perbedaan keberagamaan (bukan agama), antara keberagamaan formalistik kaku yang mengabaikan nilai-nilai moral agama dan keberagamaan yang lebih menitikberatkan nilai-nilai universal agama dalam kehidupan.
Fenomena bernegara dan beragama di Indonesia seharusnya mengedepankan semangat persatuan dan kedamaian mengingat di Indonesia terdapat pluralitas masyarakat dan agama. Dalam kondisi yang demikia, pola bernegara dan beragama ala ASWAJA NU sangat efektif dan efisien. Terbukti bahwa NU sampai detik ini tidak pernah menjadi masalah di Negara RI. Bahkan, dalam keadaan tertentu NU malah menjadi jalan keluar bagi bangsa Indonesia.
Oleh karenanya, upaya NU dalam menciptakan kehidupan beragama berjalan bersama proses transformasi social dengan garis perjuangan Islam kultural. Dalam masyarakatnya yang majemuk, maka agama mendapat tempat untuk diekspresikan dalam bentuk simbol-simbol yang tidak formal. Ia  diekspressikan dalam wujudnya yang substansial.

Kontruksi Pendidikan ASWAJA NU: Sebuah Usulan
Tujuan Negara adalah menciptakan keteraturan hidup. Bagaimanapun tujuan mulia itu tidak akan mungkin tercapai jika pengetahuan masyarakat tentang agama dan Negara minim. Kondisi di Indonesia, bahkan di Negara Muslim lainnya gejolak kekerasan fisik atas nama agama telah menelan banyak korban. Intoleransi merupakan sumber kekerasan fisik. Pemahaman agama yang kaku telah menimbulkan intoleransi itu.
Kontruksi faham ASWAJA NU berupa sikap Tasamuh (Toleran), Tawazun, I’tidal, semangat Ukhuwwah, keterbukaan terhadap faham (madzhab), dan bahtsul masail telah menunjukkan bahwa agama diekspressikan dalam wujudnya yang substansial. Konsep ini dipastikan mampu mengajarkan bahwa kesadaran diri dan rumusan cita-cita manusia harus diperoleh dengan cara yang beradab, inklusif, dan pluralis, bukan komunal, sektarian dan eksklusif. Dengan faham seperti ini, Islam yang ramah, Indonesia yang santun dan Indonesia yang Islam akan terus menempel sebagai identitasnya.
Faham seperti ini sudah seharusnya diikuti oleh pemerintah dengan menanamkan faham NU sejak dini. Betapapun pendidikan NU distigmakan kumuh dan tak terurus / asal-asalan, namun hasilnya telah nyata-nyata telah membentuk manusia yang sempurna. Dalam praktek pendidikan model pesantren, NU memosisikan anak didik sebagai subjek yang mencari pengetahuan dan membentuk dirinya melalui kreasi dan potensi intelegensinya. Santri tidak ditempatkan sebagai tabungan pengetahuan/teknologi yang hanya menjadi lintasan transfer pengetahuan, melainkan sebagai aktor yang senantiasa berproses secara kognitif, afektif, atau psikomotorik menuju insan kamil yang diidealkan oleh ajaran Islam sehingga akan mampu menempatkan fitrah manusia sebagai makhluk dan bagian dari masyarakat yang peka budaya dan memahami kehadirannya sebagai khalifah Tuhan. Pendidikan seperti layak disebut high education  yang akan melahirkan sosok manusia yang mempunyai komitmen social tinggi. Dengan pengalaman bahtsul masail, para santri telah terbiasa dengan perbedaan pendapat yang tetap mempertahankan sikap menghormati. Kebiasaan ritual di pesantren akan menanamkan wilayah afektif yang sangat mengutamakan 'makna batin'. Santri juga memiliki kepekaan dan tanggung jawab yang tinggi terhadap segala aktifitas pribadi dan masyarakatnya.
Menjadikan faham aswaja al-Nahdliyyah sebagai tujuan pendidikan adalah hal yang luar biasa dalam dunia pendidikan. Sebab mengimplementasikan ajaran dan faham NU sama halnya dengan mewujudkan Islam yang beradab, ramah, toleran, inklusif, reseptif, adaptif dan menghormati perbedaan serta Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin.
Wallohu A’lam Bishshowab. Infa’ wa barik Ulumana….


[1]*Makalah disusun oleh Moh. Dliya’ul Chaq (Dosen IAIBAFA Jombang) dan disampaikan pada forum pelatihan kader di kampus IAIBAFA pada Ahad, 9 November 2014. Makalah ini dipublikasikan penulis di
http://eksplorasiilmupengetahuan.blogspot.com/2014/11/ahlusunnah-wal-jamaah-al-nahdliyyah.html
0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger