Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label ulama nusantara. Show all posts
Showing posts with label ulama nusantara. Show all posts

BEGITULAH RASULULLAH MENDIDIK KAMI

BEGITULAH RASULULLAH MENDIDIK KAMI

Selepas mensholati jenazah, Sayyidina Zaid bin Tsabit hendak bergegas pulang dengan menaiki bighol, peranakan kuda dan keledai. Mengetahui hal ini, Sayyidina Abdullah Bin 'Abbas, lalu bergegas menyiapkan kendaraan Sayyidina Zaid, memegang tali kendali dan mendekatkan tunggangan tersebut. “Mohon lepaskan tali kendali itu wahai sepupu Rasulullah”, seru Beliau kepada Sayyidina Abdullah Ibn Abbas karena merasa sungkan diperlalukan seperti itu oleh Keluarga Rasul. Sayyidina Abdullah Bin abbas lantas menjawab, “Begitulah Rasulullah mendidik kami dalam memperlakukan para ulama dan sesepuh”.

Mendengar jawaban ini Sayyidina Zain Bin Tsabit lantas merebut tangan Sayyidina Abdullah Bin Abbas, memegang erat dan menciumi tangan Beliau. Karena malu dan merasa tidak pantas atas perlakuan ini maka Sayyidina Abdullah bin Abbas pun berusaha menarik tangan Beliau sembari menyatakan, “Mohon lepaskan tanganku wahai guru”. Sayyidina Zaid Bin Tsabit menjawab, “Begitulah RASULULLAH mendidik kami dalam memperlakukan keluarga Nabi Kami Shollallohu alaihi wa sallam”.  (Lihat Ihyaa Ulumiddin Juz I halaman 51).   

Subhaanalloh, sungguh potret akhlak luar biasa yang semestinya menjadi teladan bagi kita semua. Keduanya adalah sahabat RASULULLAH Shollallohu alaihi wa sallam yang istimewa. Sayyidina Zaid Bin Tsabit merupakan sahabat cerdas yang pada zaman RASULULLAH Shollallohu alaihi wa sallam dipercaya sebagai penulis wahyu. Ia juga merupakan sekretaris pribadi Nabi yang keulamaannya begitu diakui. Sayyidina Abdullah Bin 'Abbas pun tak kalah hebat. Putra Sayyidina 'Abbas bin Abdul Muthallib ini memiliki wawasan luas. Banyak hadits yang keluar melalui jalur riwayatnya. Di samping itu beliau juga merupakan sepupu RASULULLAH Shollallohu alaihi wa sallam.

Sebagaimana para sahabat lain, Sayyidina Zaid bin Tsabit al-Anshari dan Sayyidina Abdullah bin 'Abbas bukanlah dua orang yang selalu sepakat dalam pemikiran. Keduanya yang memang ahli fiqih tercatat pernah berselisih pendapat seputar bab warisan (faraidl). Hanya saja, kearifan dan akhlak terpuji mereka menjadikan perbedaan itu sebagai sesuatu yang wajar sehingga tidak menjadikan keduanya saling merendahkan.
Ilmu dan berbagai gelar penting yang disandang oleh Sayyidina Zaid Bin Tsabit tidak sedikitpun mengurangi akhlak dan penghormatan beliau terhadap keluarga NABI Shollallohu alaihi wa sallam. Pun demikian, kecerdasan dan status  Ahlu Baitin Nabi yang dimiliki Sayyidina Abdullah Bin Abbas tetap membuat Beliau menghormati para ulama dan sesepuh di zamannya. Rodiyallohu anhuma wa an jamiis shohabah.

Ibarat padi yang semakin berisi semakin merunduk, begitulah semestinya sikap seorang mukmin. Dalam berbagai kesempatan RASULULLAH shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan kita akan pentingnya akhlak yang mulia. Beliau bersabda,

أَكْمَلُ اْلـمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang yang paling sempurna imannya adalah Ia yang paling baik akhlaknya”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Juga hadits berikut ini,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إليَّ وَأَقْرَبُكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Orang yang paling Aku cintai dan yang paling dekat denganku kelak di hari kiamat adalah dia yang paling baik akhlaknya”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Semoga ALLAH subhaanahu wa ta’ala senantiasa melindungi dan memberkahi para ulama dan keluarga Nabi Shollallohu alaihi wa sallam, dan semoga ALLAH memberikan kekuatan kepada kita sehingga mampu menjadi pribadi yang berakhlakul kariimah dalam berbuat ataupun bertutur kata kepada semua orang wabil khusus kepada ulama dan para keluarga Rasulullah Shollallohu alaihi wa sallam.

أَلَّلهُمَّ اهْدِنَا لِصَالِحِ اْلأَعْمَالِ وَالأَخْلَاقِ لَا يَهْدِيْ لِصَالِـحِـهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَايَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّاأَنْتَ.
“Ya ALLAH, berilah kami petunjuk agar bisa memiliki amal dan akhlak yang baik. Sungguh tidak ada yang mampu menuntun kami selain Engkau. Dan hindarkanlah kami dari perbuatan dan akhlak yang tercela, sungguh tidak ada yang mampu menghindarkan kecuali Engkau”.

Amiin Ya Robbal Alamiin

0 comments

Sanad Keilmuan Ulama Nusantara (Kyai Mahfudz Tremas)

Islam Nusantara sebagai varian dari interpretasi Islam yang menggabungkan nilai-nilai ajaran agama Islam dengan budaya lokal mendapat ruang lebih dan simpati masyarakat Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari kecenderungan umat Islam di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam sejarah penyebaran Islam oleh wali songo, jalan hikmah ditempuh demi mengurangi resistensi masyarakat yang saat itu masih sangat kental dengan budaya Hindu dan Budha. 
Pasca dibentuknya jaringan ulama nusantara di Mekkah yang dipelopori oleh Syekh Yusuf al-Makasari pada abad ke 16 M, kemudian dikuatkan oleh Syekh Khatib al-Mingkabawi (Minangkabau) dan Syekh Khatib al-Sambasi (Sambas) menjadikan kiprah ulama nusantara semakin menjulang tinggi di bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam. Pada tulisan ini penulis tidak akan membahas satu persatu biografi ulama-ulama Nusantara yang ada, namun penulis akan fokus pada salah satu ulama yang berpengaruh di beberapa bidang disiplin pengetahuan Islam seperti, ilmu al-Qur’an, hadits, fiqih, dan ushul fiqih,  yaitu KH. Mahfudz Termas atau Syekh Mahfudz Termas.
Kecendrungan penulis dalam mengulas biografi Syekh Mahfudz Termas, berdasar pada dua alasan, yang pertama adalah alasan internal yaitu Islam Nusantara. Alasan kedua adalah alasan eksternal yaitu kepakaran beliau dalam bidang ilmu fiqih, sehingga menurut pandangan penulis, nama besar KH. Mahfudz Termas layak disejajarakan dengan Ibnu Hajar al-Haitami yang notebene anak ideologis dari Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari yang tidak lain Mujtahid Fatwa Madzhab Syafii. Pandangan di atas bukan tanpa berdasar pada rujukan ilmiah dan argumentasi logis, banyak rujukan-rujukan yang melarbelakangi penulis, salah satunya adalah karya fenomenal beliau yang berjudul “Hasyiah al-Tirmisi al-Musammah al-Manhal al-Amim bi Hasyiah al-Manhaj al-Qawim wa Mauhibah dzi al-fadl ala Syarhil Allamah Ibni Hajar al-Haitami”.
KH. Mahfudz Termas yang mempunyai nama lengkap al-Imam al-Allamah al-faqih al-Ushuli al-Muhaddits al-Muqri Muhammad Mahfudz bin Abdullah bin Abd. Mannan al-Termasi al-Jawi al-Indonesi  lahir di salah satu desa yang bernama Termas, Pacitan, Jawa Timur, Indonesia pada 12 J. Tsani 1285 H. Pada saat KH. Mahfudz Termas dilahirkan, beliau hanya dapat melihat sang bunda, karena ayahandanya, Syekh Abdullah tidak berada di sampingnya lantaran sedang berada di Makkah. Walaupun begitu, KH. Mahfudz Termas kecil tumbuh berkembang di bawah bimbingan ibu dan bibinya dalam lingkungan agamis. Berkat bimbingan sang ibu yang begitu peduli akan pendidikan anaknya tersebut tidak mengherankan jika dalam usia yang masih sangt belia, KH. Mahfudz Termas dengan mudah menghafal al-Qur’an. Tidak hanya itu, berkat ketekunannya dalam belajar, dalam masa yang relatif singkat, dasar-dasar ilmu agama ia pelajari dari beberapa guru sekitar tempat tinggalnya dapat dikuasainya dengan baik.
Pada tahun 1291 H. KH. Mahfudz Termas pergi ke Mekkah dan belajar beberapa disiplin ilmu pengetahuan kepada para masyayikh, namun hal itu tidak berlangsung lama, karena beberapa tahun kemudian beliau kembali lagi ke tanah Jawa dan berguru kepada KH. Shaleh Darat di Semarang. Menurut data sejarah, saat belajar ke KH. Shaleh Darat terebut, KH. Mahfudz Termas satu halaqah bersama salah seorang pahlawan nasional, yakni R.A Kartini dan beberapa tokoh lainnya. 
Setelah dirasa cukup belajar kepada KH. Shaleh Darat, KH. Mahfudz Termas kembali lagi ke Mekkah. Di sinilah kemudian beliau memantapkan pengembaraan intelektualnya dengan berguru kepada beberapa ulama terkemuka, seperti Syekh Abu Bakar Syatha al-Dhimyathi. Dalam pandangan penulis, dari Syekh Abu Bakar Syata al-Dhimyathi inilah ideologi KH.  Mahfudz Termas dibentuk. Karena bila dilihat dari corak pemikiran beliau tentang fiqih, maka Syekh Abu Bakar Syata merupakan ulama fiqih syafii yang sangat disegani. Karya-karya besarnya banyak dikaji di beberapa pesantren dan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Adapun karya yang dimaksud adalah I’anatut Thalibin Syarah Fathul Mu’in. 
Rupanya rasa dahaga KH. Mahfudz Termas akan ilmu pengetahun tidak hanya dalam wilayah fiqih saja. Dari sekian banyak karya-karya yang telah ditelurkan dalam bentuk kitab dan buku, kesemuanya bervariasi dan terdiri dari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Salah satu ilmu yang beliau tekuni adalah ilmu hadits. Hal itulah yang kemudian melatarbelakangi kesungguhan KH. Mahfudz Termas dalam menghimpun beberapa transmisi sanad.

KH. Mahfudz Termas Sebagai Pioner Ilmu Sanad 
Penulis mengambil kesimpulan walau masih dalam konteks aksiomatis bahwa pioner ilmu transmisi sanad adalah KH. Mahfudz Termas. Alasan penulis berdasar pada penelitian pada salah satu karya yang secara khusus beliau tulis dalam mengurai transmisi sanad, yaitu “Kifayah al-Mustafidz lima Ala Min al-Asanid”. Karya KH. Mahfudz Termas tersebut kemudian dita’liq (diberi catatan) oleh Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani, yang mana usaha dalam melestarikan ilmu sanad yang digagas oleh KH. Mahfudz Termas selanjutnya diteruskan oleh Syekh Yasin al-Fadani itu sendiri. Kesungguhan KH. Mahfudz Termas dalam mempelajari ilmu hadits ini dengan mempelajari prinsip-prinsipnya kepada beberapa guru-guru yang terkenal dan memang ekspert di dalamnya. Sebut saja semisal al-Muhaddits Sayyid Husein bin Muhammad al-Habsy dan Syakh Muhammad Said Babashil.
Dalam hierarki ilmu al-Qur’an, disiplin ilmu Qiraah menjadi bagian yang sangat fundamental, mengingat ada beberapa macam bentuk bacaan berdasar varian yang juga berbeda. Di bidang ilmu Qiraah ini, KH. Mahfudz Termas belajar kepada Syekh Muhammad al-Syirbini, serta mendapat ijazah sanad dalam empat  belas macam qiraah yang ada dan masyhur di kalangan umat Islam. Dengan demikian, Berkat ketekunannya dalam belajar ilmu agama, kemudian nama besar KH. Mahfudz Termas muncul ke permukaan dan disegani oleh para ulama haramain dari berbagai madzhab. Tidak hanya itu, kepakaran beliau dalam beberapa disiplin ilmu pengetahuan, menjadikannya sebagai mutafannin, yaitu menguasai dan menjadi pakar di berbagai macam ilmu. Menurut pandangan penulis, setidaknya ada empat disiplin ilmu yang dikuasai oleh syekh mahfudz, yaitu Ushul Fiqih, Fiqih, Hadits dan Ilmu Qiraah.
Keberhasilan KH Mahfudz Termas menjadi ulama besar yang disegani tidak lepas dari peran para guru yang membimbingnya di berbagai macam aspek. Bimbingan yang diterima dari sang guru tidak hanya dalam ranah intelektual saja, kecerdasan emosional, dan spritualnya pun menjadi bagian dari bimbingan yang setiap hari beliau terima di masa belajarnya. Di sini penulis ingin menguraikan secara singkat beberapa guru-guru KH. Mahfudz Termas yang penulis kutip dari karyanya yang berjudul “Kifayatul Mustafidz lima ala min al-Asanid”.
Adapun guru-guru beliau adalah (1) Syekh Musthafa bin Muhammad bin Sulaiman al-Afifi. Dari beliau Syekh Mahfudz termas mempelajari kitab “Syarah al-Mahalli ala Jam’il Jawami” dan kitab “Mughni al-Labib an Kutub al-A’arib”. kemudian (2) Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha al-Dhimyathi. Kepada beliau inilah Syekh Mahfudz mempelajari kitab “Hasyiah al-Syarqawi ala al-Tahrir” dan “Hasyiah Syinwani”. Catatan dari penulis terkait kitab Hasyiah al-Syinwani di sini lebih ke ilmu gramatikal bahasa Arab, mengingat transmisi sanad dalam bidang gramatikal bahasa Arab, KH. Mahfudz Termas banyak meriwayatkannya dari jalur Syekh Abu Bakar al-Syinwani.
Sebenarnya guru KH. Mahfudz Termas sangat banyak dan kalau dihitung berdasar periwayatan sanad keilmuan yang beliau tulis di dalam Kifayatul Mustafidz, maka jumlahnya mencapai ratusan orang, di antaranya adalah Syekh Umar Barakat, Syekh Muhammad al-Minsyawi, Sayyid Ahmad al-Zawawi, Syekh Muhammad al-Syirbini, Syekh Amin Ridwan al-Madani, dan lain sebagainya. Sedangkan guru KH. Mahfudz Termas yang lain dan berasal dari Indonesia adalah (1) Syekh Abdullah bin Abdul Mannan al-Tirmisi yang tidak lain ayah kandung beliau, dan (2) Syekh Shaleh Darat al-Samarani.
Sebagai seorang ulama yang berasal dari Indonesia serta mumpuni di berbagai disiplin ilmu agama, nama besar KH. Mahfudz Termas kemudian didengar oleh para pemuda Islam yang saat itu memang ingin belajar agama ke Mekkah. Rupanya  angin segar ini tidak disia-siakan oleh santri di Indonesia untuk belajar kepada beliau. Tidak sedikit murid KH. Mahfudz yang nantinya menjadi tokoh di berbagai bidang. Bahkan kalau boleh dikata, transmisi sanad keilmuan organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama bermuara pada pada sosok KH. Mahfudz Termas ini. Di antara murid-murid beliau yang berasal dari Indonesia adalah (1) Syekh Arsyad al-Banjari, (2) Syekh Baqir bin Muhammad Nur al-Jogjawi, (3) Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari al-Jumbani, (4) Syaikh Ihsan al-Jampesi, (5) Syaikh Abd. Muhith bin Ya’qub al-Surbawi (Surabaya), (6) Syaikh Baidhawi al-Lasemi, (7) Syaikh Abd. Wahhab bin Hasbullah al-Jumbani, dan lain sebagainya.
Aktivitas KH. Mahfudz Termas tidak hanya mengasuh dan membimbing para murid yang belajar kepadanya. Kemasyhuran beliau sebagai ulama yang produktif  dalam melahirkan karya juga bukan kabar angin. Tidak sedikit karya-karya besar dan monumental lahir dari buah pikirannya yang hampir mencapai ratusan buah. Namun dalam tulisan ini, penulis hanya menulis karya yang sudah ditahqiq dan diterbitkan serta menjadi diktat di berbagai madrasah, pondok pesantren atau universitas-universitas Islam, baik di Indonesia atau di Negara-negara Islam lainnya. Di antara karya karya KH. Mahfudz termas adalah : (1) Is’af al-Mathali’ bi Syarhi al-Badri al-Lami’ Nadzmu Jam’I al-Jawami’, (2) al-Badru al-Munir fi Qira’ati al-Imam Ibni Katsir, (3) Bughyah al-Atqiya’ (4) Bughyah al-Adzkiya fi al-Bahtsi an Karaamah al-Auliya, (5) Mauhibah dzi al-fadhl Hasyiah Ala Syarhi Mukhtashar Bafadhal, dan lain sebagainya.
KH. Mahfudz Termas Sebagai Neo Ibnu Hajar al-Haitami 
Sub judul di atas bukan langkah seorang marketing untuk menarik simpati dan minat pembaca sebanyak-banyaknya, walaupun memang harus diakui bahwa salah satu tujuan daripada tulisan adalah untuk dibaca. Alasan penulis memilih sub judul di atas adalah karena ada semacam keterkaitan batin antara KH. Mahfudz Termas dengan Ibnu Hajar al-Haitami. Keterkaitan tersebut hampir menyerupai keterikatan antara Jalaluddin al-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli walaupun mereka berdua hidup di tempat dan di waktu yang berbeda. Inilah salah satu alasan mengapa penulis memberikan nama pada sub judul di atas dengan KH. Mahfudz Termas merupakan neo Ibnu Hajar al-Haitami ala Islam Nusantara.
Jika mengkaji beberapa karya KH. Mahfudz Termas yang mempunyai hubungan erat dengan Ibnu Hajar al-Haitami, maka yang karya yang tepat untuk dijadikan fokus utama adalah Mauhibah dzi al-fadhl Hasyiah Ala Syarhi Mukhtashar Bafadhal yang tidak lain Syarah yang diulas oleh Ibnu Hajar, lalu diulas lagi secara luas dan lebih detail oleh KH Mahfudz Termas, dalam konteks kenusantaraan. Masyarakat Indonesia yang dalam pandangan fiqih mengikuti madzhab Syafii, menjadikan semua rujukan masalah keagamaan bersandar pada Kutub al-Syafiiyah. 
Tidak semua kitab fiqih Syafii tersebut berhasil menjadi jawaban permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia. Artinya adalah paradigma fiqih yang ada pada saat itu masih dalam konteks Timur Tengah sentris, dan tidak mengglobal sampai pada Asia Tenggara, terlebih Indonesia. Berangkat dari fenomena tersebut KH. Mahfudz Termas mencoba memperluas lagi ulasan Ibnu hajar al-Haitami dalam konteks kenusantaraan dan keindonesiaan.
Dalam pandangan penulis, kitab Mauhibah dzi al-fadhl Hasyiah Ala Syarhi Mukhtashar Bafadhal yang ditulis oleh KH. Mahfudz Termas merupakan salah satu ulasan tentang fiqih Imam Syafii yang paling detail, luas dan komprehensif. Dengan kata lain, nuansa fiqih di dalamnya tidak an sich terhadap teks-teks, namun disesuaikan dengan dinamika sosial yang ada pada masyarakat Indonesia. Hal ini juga diamini oleh sang pentahqiq, yaitu Dr. Muhammad Abdurrahman al-Ahdal dalam muqaddimahnya di kitab tersebut. 
Kitab setebal 6 jilid ini bukan hanya mengulas berbagai macam problematia umat  berdasar ruang lingkup fiqih, namun juga mengulas beberapa term yang dianggap penting dan itu dibutuhkan dalam  mengurai istilah kontemporer dalam konteks kebahasaan. Dengan merujuk kepada beberapa kamus besar seperti Muktar al-Shihhah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Abdul Qadir al-Razi, Tahdzib al-Lughah karya Syekh Abu Mansur Muhammad bin Ahmad al-Azhari, dan al-Qamus al-Muhith karya Syekh Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzzabadi, menjadkan kitab Hasyiah Tirmisi ini kaya akan defenisi Istilah, sehingga pembahasannya pun tidak keluar dari konteks yang telah digariskan pada awal bab dari masing-masing bab.
Yang menarik pada kitab ini adalah kemampuan KH. Mahfudz Termas dalam mengambil istinbat secara kontekstual dari berbagai pendapat para ulama sebelumnya setelah melakukan uji pendapat dan perbandingan di antara pendapat para mujtahid fatwa semisal IbnuHajar al-Haitami yang dlama hal ini lebih kontekstual daripada Imam Syihabuddin al-Ramli yang dalam banyak pandangannya selalu tekstual dan terkesan kaku. Tidak hanya itu, kemampuan KH. Mahfudz Termas dalam mengurai hadits dalam konteks fiqih dan kemudian mengambil istinbat dari pendapat ulama yang rajih, menjadikan kitab ini sehaluan dalam konteks dinamika sosial dan jauh dari kesan kaku dan konservatif pada nash.
Dengan demikian, tidak salah kiranya jika dalam konteks dinamika fiqih, Syekh Mahfudz Termas dianggap sebagai Neo Ibnu Hajar al-Haitami dalam konteks Islam Nusantara. Anggapan berdasar pada setiap pengamalan syariah berdiri dan konsisten atas dua metode yaitu tekstual dan kontekstual. Kontekstualisasi atas teks yang ada pada al-Qur’an, al-Hadits atau bahkan al-Ijma’ adalah keniscayaan, hal itu sesuai dengan kaidah ushul fiqih yang menyatakan: al-Hukmu Yaduuru ma’al Illah Wujuudan wa ‘Adaman”, artinya adalah suatu hukum berlaku dan diterapkan berdasar pada illah/Causa yang ada. Inilah kemudian yang melatar-belakangi KH. Mahfudz Termas untuk melakukan aktualisasi atas nilai-nilai Islam yang Shalihun Fi Kulli Makan Wa Zaman.
Berbicara fiqih, berkaitan erat dengan dinamika sosial suatu masyarakat pada bangsa dan Negara manapun. Nilai-nilai luhur Islam yang ajarannya menembus ruang dan waktu menjadikannya selalu relevan dalam setiap problematika yang ada, baik pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Syekh Mahfudz Termas salah seorang ulama Nusanntara yang secara khusus membahas problematika sosial kenusaantaraan menawarkan fiqih yang dinamis yang tidak melabrak budaya. karyanya “Mauhibah dzi al-fadhl Hasyiah Ala Syarhi Mukhtashar Bafadhal” adalah bukti kongkret betapa beliau di samping seorang ulama yang kaya akan khazanah keilmuan juga mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi sehingga dengan demikian beliau mendapat julukan Ibnu Hajar al-Haitami fi Zamanihi. Wallahu a’lam.

dalam artikel lain:
Selain membangun pesantren, ulama memiliki hubungan kuat dalam bidang spiritual maupun intelektual. Mereka mendefinisikan diri sebagai bagian dari komunitas ulama yang memiliki sanad bersambung kepada ulama-ulama Nusantara di Mekah. Salah satu ulama Nusantara yang berpengaruh adalah Syekh Mahfuzh Al-Termasi.
Ia adalah Ulama yang mempunyai pengaruh besar dalam khazanah keilmuan Timur Tengah dan Nusantara. Sanad keilmuan dan jaringan guru-murid dari Syekh mahfuzh berperan penting dalam memperkuat konsolidasi ulama-ulama Nusantara.
Karena itu Islam Nusantara Center (INC) mengangkat “Syekh Mahfuzh al-Termasi” sebagai tema dari kajian sejarah (Sabtu 25/02) bersama Zainul Milal Bizawie. Membaca kembali Sanad dan Jejaring Syekh Mahfuz Tremas serta pengaruhnya bagi perjuangan bangsa Indonesia.
Gus Milal Bizawie yang konsen dalam sejarah, menempatkan Syekh Mahfuz Tremas sebagai tokoh yang memiliki peran strategis, selain ulama besar lainnya seperti Syekh Nawawi Banten. Ia sebagai guru utama dalam komunitas al Jawi di Mekah, menjadi salah satu ulama paling penting yang berperan dalam proses transmisi Islam dan ketersambungan sanad ke Nusantara.
Beberapa murid Syekh Mahfuzh yang populer antara lain Kh. Dalhar Watucongol, Kh. R. Maskumambang Surabaya, Kh. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kiai Abbas dan Kh Anas Cirebon, Raden Dahlan As Samarani Semarang, Kiai Muhammad Dimyati Tremas, Kiai Khalil Lasem,, Kiai Muhammad Faqih bin Abdi al Jabbar al Maskumambang, Kiai Baidhawi Lasem, Kiai Abdul Mihaimin bin Abdul Aziz Lasem, Kiai Nawawi Pasuruan, Kiai Abdul Muhith Sidoharjo, Sykeh Ihsan Dahlan Jampes Kediri, Syekh Muhammad Yasin Padang. Yang terakhir ini merupakan guru besar hadits dan ushul fiqih di perguruan Dal al-Ulum Mekah.
Penulis Masterpiece Islam Nusantara ini juga menyebutkan bahwa salah satu murid dari Syekh Mahfuzh adalah adik kandungnya sendiri yang kemudian menjadi menantu dari Kh Sholeh Darat. “Syekh Ahmad Dahlan yang merupakan adik sekaligus muridnya dianjurkan belajar lagi ke KH. Sholeh Darat, hingga diangkat menjadi menantu. Dan nantinya putranya yang bernama Abdul Hadi merantau menyebarkan Islam ke Jembrana Bali.” jelasnya.
Hal itu menandakan bahwa selain sanad keilmuan yang melahirkan tokoh dan ulama besar, sanad secara nasab juga tercatat nama-nama besar. Ayahnya bernama Syekh Abdullah yang melahir ulama besar selain Syekh Mahfuz. Milal menjelaskan “Syekh Abdullah ini punya putra bernama Syekh Mahfuzh, Syekh Ahmad Dahlan dan ada dua lagi yang jadi ulama besar. Pertam adalah Syekh Dimyati yang menggantikan di Tremas”
Ia melanjutkan “terakhir yang jarang disebut adalah Syekh Abdurrozaq yang bergelut di dunia tariqat. Beliau adalah salah mursyid di tariqat syadziliyyah”.
“Sanad guru-murid tersebut yang memperkuat jejaring. Syekh Mahfuz yang melanjutkan perjuangannya Syekh Nawawi Banten dilanjutkan oleh Syekh Khotib as-Sambasy sampai kembali ke kakeknya, Syekh Abdul Manan” jelas Milal.
Syekh Abdul Manan Dipomenggolo adalah kakek dari Syekh Mahfuzh. Ia juga seorang ulama besar di Tremas Pacitan. Beliaulah yang mendirikan Pesantren Tremas. Syekh Abdul Manan adalah santri dari Pesantren Tegalsari Ponorogo, Pesantren besar di Jawa. Milal mengatakan “Jadi pada awal abad 1, pesantren terbesar di Jawa adalah Pesantren Tegalsari sebelum ada Tebu ireng dan Tambak Beras. Di Tegalsari juga, Pangeran Diponegoro pernah nyantri”
“Banyak santri dari pesantren ini, Pakubuwono, ronggowarsito. Mungkin Syekh Abdul Manan ini nyantrinya berbarengan dengan Ronggowarsito” lanjurnya.
Tidak ada keterputusan antara sanad keilmuan, sanad perjuangan/ harakah dan sanad teriqoh dan menciptakan kekuatan besar. “Sehingga Ketika Mbah Hasyim Asyari mendirikan Nahdlatul Ulama dan akhirnya membuat keputusan Resolusi Jihad, semua ulama langsung nyambung dan solid dalam melawan penjajah di tanah air”, pungkas Milal.
 http://pustakacompass.com/ngaji-sejarah-sanad-dan-jejaring-syekh-mahfuzh-tremas/
0 comments

Teori Tasawuf Memproduksi Ulama

*KH Abdul Qoyum (Lasem) :* pada acara Haul KH Abdul Fattah Hasyim, 9 Pebr 2017 Tema "Teori Tasawuf Memproduksi Ulama":
Cara-cara mencetak anak Soleh":
1. Teori ruang persalinan.  Yaitu memilih tempat yang mulia dan Islami untuk melahirkan. Contoh Rumah Sakit Islam baik RSNU/ Muhammadiyah. Bisa juga perkampungan muslim,  daerah yang pemimpin/ pejabatnya adil, atau rumah yang di dalamnya sering dibacakan Al Quran.

Contoh kasus
a. Sahabat nabi yang bernama Hakim al hisyam.  Lahir di dalam ka'bah.  Ibunya yaitu Fakhitah melahirkan Hakim didalam Ka'bah mulai dari proses pendarahan sampai persalinan. Ketika dewasa Hakim al Hisyam dikenal sebagai dermawan.  Saking dermawanya ia pernah menjual kantor pribadinya yang bernama Darun Nadwah kepada Sulthon Muawiyah seharga 1.000 Dirham, hasil penjualan itu seluruhnya disedekahkan.

b. Menurut riwayat yang kuat Sayiddina Ali juga dilahirkan di dalam ka'bah.  Kita mengenal Sayiddina Ali sebagai sahabat yang cerdas. Seorang peneliti India bernama Husyamuddin al Hindi,  menulis dalam kitabnya Kanzul Ummal bahwa Sayiddina Ali pernah berpidato secara spontan sebanyak 5 halaman tanpa huruf alif.

c. Cerita itu seperti kisah Kiai Maksum yang mengalami uqdah sehingga sulit melafadkan huruf ro'. Beliau pernah mengirim surat kepada Kiai Hamid Pasuruan tanpa menggunkan huruf ro'. Sebaliknya Kaia Hamid membalas surat tersebut dengan mengunakan lafat per lafadznya yang menggunakan e huruf ro'.

d. Orang Jepang kalau memiliki janin berusia 4 bulan biasanya dikenalkan lagu.  Teori psiologi menjelaskan anak lahir condong dari apa yang didengar sejak usia 4 bulan dikandungan. Kalau sering dibacakan Al Quran maka akan menjadi anak yang suka dengan Al Quran. 

e. Pengaruh Keluarga. Keluarga dalam bahasa arab sering disebut Aliy, Alu, Alla.  Didalam Al Quran keluarga disebut sebanyak 26x dengan perincian keluarga Ibrahim 2x "Alla Ibrahim". Keluarga Luth 4x.  Yang terbanyak disebutkan adalah tipologi keluarga firaun/ Allu Firaun, atau keluarga Firaun. Seorang ustadz pun bisa mempunyai tipologi keluarga seperti Fir'aun.

2. Teori Seks dalam Tasawuf.  Ali Al Khawas adalah ulama yang buta huruf.  Semua ilmunya ladduni.  Beliau memiliki teori imajinasi atau pengaruh khayalan.  Yaitu kalau mau mengumpuli istri (jima') siapa yang diimajinasikan. Kalau sebelum seks yang dibayangkan adalah Imam Syafii, nantinya putranya akan sholeh/ alim seperti Imam Syafii.  Kalau yang dikhayalkan adalah Imam Syuyuthi maka putranya akan Alim seperti Imam Syuyuthi. Suami dan Istri boleh membayangkan Mbah Hasyim,  Mbah Wahab,  Mbah Bisri.  Proses berkhayal mulai dari pra seks dan selama melakukan seks.

Rujukanya terori ini adala kisah Nabi Zakariya yang mengaggumi Siti Maryam. Setiap kali Nabi Zakariya menengok kamar Siti Maryam,  beliau melihat banyak buah-buahan.  Maka memori otak dari Nabi Zakariya adalah tentang Siti Maryam.  Sampai ketika beliau melakukan seks dengan istrinya yang terbayang adalah ke istimewaan istimewaan Siti Maryam.

Hasilnya Putra dari Nabi Zakariya yaitu Nabi Yahya memiliki kesamaan dengan Siti Maryam yaitu sama-sama tidak menikah.

Teori seks dalam tasawuf adalah mengkhayalkan orang-orang Soleh ketika pra sampai proses melakukan seks.  Teori Ali Al Khawas ini banyak ditiru.

Dr. Ali Fikri dalam kitab as samirul muhazim menceritakan tentang Napoleon Bonaparte pemimpin Prancis. Yang ketika bepergian dab berpapasan dengan nenek, maka dia akan turun. Setiap ada nenek ia turun.  Sampai suatu ketika ada nenek lewat dan dia turun sambil mengangkat topi tanda hormat. Ketika ditanya mengapa engkau melakukannya wahai Napoleon?.  Beliau menjawab: "Sebab aku membayangkan nenek itu seperti wajah ibuku. Apa yang dilakukan oleh Napoleon ini dinamakan dengan transformasi. Napoleon menjadi karakter yang memiliki Kasih sayang karena transformasi dari sifat kasih sayang ibunya. 

Teori transformasi tersebut jika diaplikasikan seperti ketika akan seks membayangkan karakter kiai,  maka jadinya akan ditransfer Alloh menjadi anak soleh seperti kiai. Kalau kita ingin mencintai Rasulluah maka yang harus kita bayangkan adalah karakter Rasulluah yang diangan-angan oleh otak dan direnungkan oleh jiwa.  Maka yang tumbul salam hati adalah cinta dan rindu terhadap Rasul sehingga bisa tertular sifat-sifat Rasulluah. 

Ada perempuan dihukum penjara dan tidak dikasih makan agar dia mati kelaparan. Suatu hari anaknya menjenguk. Ketika akan masuk anaknya dilarang membawa makanan. Putrinya terus menjenguk. Dan ibunya yang kelaparan belum juga mati. Karena penasaran petugas yang menjaga melihat apa yang dilakukan si anak kepada ibunya. Ternyata putri dari ibu yang dipenjara itu menyusui ibunya.  Anak menyusui ibu.  Kasih sayang anak kepada ibunya.  Dan Kasih sayang ibu kepada anaknya.  Karena menyaksikan itu berkali-kali sang penjaga tertular sifat welas-asih. Kemudian ibu tersebut dibebaskan. 

Kalau kita hanya mengetahui cerita saja tidak akan tertular oleh sifat-sifat baik kiai. Jika ingin memiki sifat seperti kiai harus tapi cinta kepada para wali.  Kalau sejarah tidak bisa Cinta.  Jika kita hanya mengetahui itu berarti kita hanya tahu ilmunya sebagai sejarawan. Cerita harus  dicerna oleh pikiran, diangab oleh hati sehingga timbul rasa Cinta. 

3. Tahniq:  Transformasi Ilmu melalui ludah.  Kalau punya anak kecil mintalah tahniq kepada kiai-kiai alim yang Soleh.  Contohnya tahniq dengan kurma. Yaitu kurma ditahniqkan kepada kiai (dikunyah) nanti di suruh makan putranya.

Ada ulama Yang bernama sa'dudin al sataftazani.  Beliau mondok tidak alim-alim. Sehari di datangi sesorang untuk diajak keluar.  Karena merasa belum alim maka menolak sampai 3x.  Orang yang mengajak pun berkata "kamu harus ikut karena ini yang mengundang adalah Rasulluah.  Ketika Iamam al Sataftazani bertemu rasul,  rasuk berkata "Aku iku Rasulluah, ngenteni awakmu kok gak teko-teko". Lalu Imam Sataftazani matur kepada Rasulluah: Saya ini mondok bertahun-tahun ndak bisa ngaji ya Rasulluah.  Akhirnya Rasuk menyuruh untuk membuka mulut. Kemudian di idoni. Setelah itu Imam Sataftazanu mendadak menjadi Alim. Sampai-sampai mengarang kitab yang sulit dimengerti orang.. Karena beliau pernah merasakan sulitnya mencari ilmu.

Syekh Yasin di ijazahi Mbah Wahab disaksikan oleh Mbah Bisri di madrasah Darul Ullum.  Mbah Wahab berpidato dan mengijazahi kitab-kitab kepada Syekh Yasin. Peristiwa ini terjadi berkali-kali ketika musim haji.  Cerita ini ditulis didalam kitab karangan Syekh Yasin. Padahal pada saat itu status beliau adalah salah satu musnid dunia. Syekh Yasin adlah contoh kiai yang Tawadlu'.

Imam Ahamad ibn Hambal di Bagdad suatu saat ingin pergi ke Basrah (kota terbesar kedua setelah Bagdad).  Ternyata keinginan beliau ke Basrah didorong-dorong istigfar seseorang yang dalam hidupnya bercita-cita bertemu Imam Hambali.  (Tentang keutamaan istigfar) 

Ada tulisan Imam Qurtubi (Kordoba) yang membahas tentang akhirat berjudul at tadzkirat fi umuri al akhirat.  Di kitab itu di jelaskan. Bahwa dikonstantinopel ada pejabat yang ketika akan dikuburkan selalu ada ular. Kejadian itu terulang samapai 30x.  Akhirnya mau tidak mau jenazah sang pejabat dikubur bersama ular.

Ibnu Ashir menulis bahwa di daerah itu juga ada makamnya Abu Ayub Al Ansori (sahabat nabi). Kalau daerah itu paceklik dan kemarau panjang tidak ada hujan, biasanya masyarakat cukup melubangi makam Abu Ayub. Maka turunlah hujan.

Ternyata salah satu tempat yang baik adalah daerah yang pejabatnya Soleh.  Yang berkuasa sebenarnya bukanlah kiai tapi penguasa dan Quran.  Kiai itu hanya bisa mengimami.  Puncak tasawuf yang tinggi adalah menjadi khalifah.
Kholifah yang dimaksud adalah Soleh bathinahnya serta memilki jabatan. 

Putra mahkota emir dubai punya orang kepercayaan namanya Abu Dzar. Abu Dzar adalah sahabat baik saya.  Pemyaksian dari Abu Dzar bahwa Putra mahkota tersebut sekolahnya di Kanada. Sekarang banyak dari orang yahudi yanh diislamkan oleh sang Putra mahkota.

Raja Katar sekarang juga sering mengajak dakwah. Artinya yang dimaksud dengan Khalifah itu adalah pejabat yang ulama. Kalau dipadukan keduanya itulah kesempurnaan. 

4. Syekh Rojab Dieb ulama penulis kitab tafsir Ar Rohim, bercerita di masjid Omamiah Syria ada kiai yang mengajar ngaji selama 40 tahun. Tapi kiai tersebut ketika BAB pintu wc nya dibiarkan terbuka.  Ditegur oleh para kiai lainya, dia hanya menjawab bahwa "apa yang aku keluarkan dan kamu keluarkan adalah sama.  Ternyata kiai tersebut adalah seorang yahudi. Terkadang yang tidak islam itu lebih alim dari orang Islam sendiri.  Yang Islam malah tidak tafaquh. 

Rasyid Bawazir saudara dari Fuad Bawazier pernah mendapat cerita dari Quraish Baharun. Bahwa Quraish Baharun pernah melakukan perjalanan dari afrika bersama seorang perempuan asal Kanada.  Ditanya namanya Nafisah.  Selama perjalanan mereka berdiskusi tentang tafsir-hadis dan perempuan itu mengaku pernah membaca kitab ikhyak sebanyak 50x.  Kemudian bulpenya jatuh. Ketika menunduk mengambil bulpen, ternyata kalung salibnya keluar.  Kamu nasrani?.  Bukan ibu saya yang nasrani, saya atheis. Lalu perempuan itu mengaku kalau pemgetahuanya tentang Islam dibayar oleh Kanada.  "Saya dibayar oleh kanada untuk mensetting perpecahan antara islam dengan islam."

Mbah Hasyim walaupun ke Wc tidak cepot songkok.  Kalau zaman sekarang Mbah Hasyim itu konservatif. Beliau plek meniru sunah Rasulluah. Tapi kenapa kita lebih tertarik yang liberal?.  Padahal kita memiliki ulama seperti Mbah Abdul Karim,  Mbah Wahab,  Mbah Hasyim?.  Saya menyebutnya ini adalah perang Neokortek.

Ijazah :
Doa mbah Hasyim:
ijazah Gus Qoyyum dr Abahnya dr Mbah Hasyim Asy'ari  :
Nek Meh turu ngrekso awak lan jiwa, ngucapo :
"Tahasshontu Bihisni Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasuulullah"

Pertama ngidu k kanan, kdua kkiri, ktiga kdepan keempat k belakang.

0 comments

SYEIKH ABDUL DJALIL MUSTAQIM

SYEIKH ABDUL DJALIL MUSTAQIM

Hadratusy Syaikh Abdul Djalil Mustaqim sangat sarat dengan kesejatian seorang Sufi. Beliau selalu akrab menyambut tamu- tamunya, tutur katanya halus dan santun, disertai senyum yang menyejukkan. Hampir setiap hari beliau menerima tamu, tak pernah tampak lelah pada raut mukanya. Setiap kali beliau memasuki ruangan yang terletak tak jauh dari rumahnya, puluhan tamu serentak berdiri menghormati sembari berebut ingin menyalaminya. "Jadi Sufi itu harus banyak senyum. Dan jangan merasa terbebani persoalan-persoalan berat." Katanya.

Beliau lahir di Tulungagung 20 juni 1943. Putra dari Syaikh Mustaqim bin Husain yang juga seorang mursyid dan seorang pejuang kemerdekaan. Sejak masa kanak-kanak, beliau belajar agama pada Ayahandanya sendiri. Begitu lulus Sekolah Rakyat, beliau merobek ijazahnya, dan membuangnya ke sungai. Ayahnya kaget, lalu menegurnya. "Bah, ijazah kan benda mati yang tidak bakal dibawa ke liang kubur." Kata Syaikh Djalil kecil saat itu.

Sejak itu, beliau bertekad menuntut ilmu agama dari pesantren ke pesantren. Beliau pernah nyantri di pondok Pesantren Mojosari, Desa Loceret, Nganjuk-Jatim (1959-1970), kemudian di Ponpes Ploso, Desa Mojo, Kediri-Jatim. Tekadnya yang besar untuk menuntut ilmu, mendorongnya mengembara dari pesantren ke pesantren di seluruh Jawa, walaupun hanya mampir satu dua hari atau sampai dua minggu. Bisa dipahami jika beliau punya banyak guru. Ada kejadian lucu ketika beliau suatu saat berguru kepada seorang Kyai. kawan- kawannya sering memanggilnya "Mbah" karena perilaku dan sikapnya sudah seperti orang tua. Pernah suatu ketika ada seorang pelacur menemuinya, minta doa agar 'Bisnis' nya laris. Dengan baik Syekh Djalil menerima tamu istimewa itu seperti beliau menerima tamu-tamu yang lain. "Dia datang minta doa penglaris, ya.. saya beri," Katanya enteng. Tapi tentu saja doa sang Sufi bukan sembarang doa, apa yang terjadi setelah itu? Beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi sambil menangis, perempuan itu bertobat.

Syeikh Djalil punya hobi bersedekah. "Ayah saya sangat memanjakan anak-anaknya (7 anak; 4 putra, 3 putri). Dulu beliau sangat sengsara mencari makan (profesi Mbah Mustaqim adalah tukang Sol sepatu). Karena itu beliau berpesan supaya anak-anaknya harus suka bersedekah, karena sedekah merupakan bagian salah satu cara untuk keluar dari kesengsaraan." Tuturnya. Maka, baginya bersedekah merupakan bagian dari Tirakat, sebuah upaya untuk memenangkan perang batin antara kehendak menyimpan benda (untuk diri sendiri) dan memberi benda yang kita miliki (untuk orang lain).

Dan sebagai Sufi, beliau tidak terlalu mementingkan uzlah atau menyepi untuk merenung. Menurutnya, mengamalkan tarekat sebagai seorang sufi bukan hanya memegang tasbeh, berdzikir di masjid, atau melakukan zawiyah/uzlah tanpa mempedulikan kehidupan duniawi dan kepentingan masyarakat. Menurutnya, shalat 5 waktu dengan disiplin, mencari nafkah dengan jujur, menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh, merupakan kehidupan bertarekat. "Tapi ingat, jangan sampai semua itu menyebabkan kita melupakan Allah SWT. Enggak ada larangan berbisnis bagi pengikut tarekat. Bisnis tidak menghalangi seseorang untuk masuk surga. Sebab ada berjuta jalan menuju Allah," Katanya.

Dan kini, Jumat 7 januari 2005, Syeikh Djalil yang penyabar telah menghadap Allah SWT. Pesan-pesan yang saya pernah dengar langsung dari beliau, antara lain:

Belajar tarekat itu wajib bagi manusia yang imannya tipis, karena sepersekian detik pun manusia tidak pernah lepas dari pikirannya akan dunia (istri, anak, finance, pekerjaan, studi, dll).Saya ini selalu sabar menjalani cobaan, meskipun disakiti orang-orang dekat dan teman sejawat. Tapi hati ini selalu saya tata untuk tetap tenang tanpa emosi walau berhadapan dengan model/karakter orang yang berbeda-beda, sekalipun yang menemuiku seorang penjahat.Tarekat itu anti maki-maki, tapi menyelesaikan masalah dengan musyawaroh, karena wong tarekat itu ahli dzikir bukan dengan akal pikiran yang selalu ditumpangi hawa nafsu.Wong Syadziliyyah itu kendel, harus berjuang untuk rakyat. Musti mendahulukan kepentingan-kepentingan umum seperti membuat madrasah, membuat masjid, atau dengan rajin puasa.Kondisi dan situasi negara ini sulit di prediksi oleh akal rasional, karena negeri ini adalah negeri yang paling banyak Waliyullahnya.Saya ini banyak mengkader murid, tapi tetap saja tidak resah meskipun tidak ada yang jadi. Dan lain-lain.

KISAH SYEIKH ABDUL DJALIL MUSTAQIM

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (01)
Tanpa diduga mbah Jalil lansung masuk ke pondok dan berbicara dihadapan santri senior yg barusan selesei dari makam.
"kowe penak, sisok ndek oro-oro mahsyar iso lansung budal (kumpul bersama rombongan) nek aku gak iso lansung budal.."
mbah Jalil melanjutkan dawuhnya lagi "gusti Allah nakoni aku, Jalil ...endi pertanggung jawabanmu nang santri-santrimu ..."
terlihat para santri senior mulai mandi keringat mendengar dawuh mbah Jalil, "aku ngereni, aku bakalan ngenteni kabeh santri-santriku kabeh,"
* masya Allah....ngapunte mbah Jalil, pangestune....

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (02)

Ditengah - tengah dzikir santri ini terlelap dan bermipi, dalam mimpinya ia didatangi seorang wanita yg mengaku sebagai nyai ratu roro kidul,
"kamu kepingin apa...?" tanya ratu
"aku gak minta apa2..." jawab santri
ratu nyai roro kidul lalu mengambil emas batangan dan diperlihatkan kepada santri
"mau ini...." rayu ratu
"tidak..." jawab santri
lalu ratu nyai roro kidul mengambil banyak sekali emas batangan berkarung-karung menawarkan kepada sisantri, tapi santri ini tetap tidak mau dan tidak goyah sedikitpun.
"apa kamu minta masjid dari emas?...itu lihatlah.."kata ratu sambil menunjukkan kpd santri. terlihatlah masjid besar terbuat dari emas berkilauan, santri ini takjub dan hatinya menjadi goyah. santri ini mulai mendekati masjid dan berkeinginan masuk, setelah dekat tiba-tiba santri ini mendengar orang bertepuk-tepuk sambil memanggilnya.
"ojok...ojok.... ojok gelem, iku mbujuk'i..."
santri ini menoleh melihat siapa yg memanggilnya dan melarangnya masuk masjid emas dilihatnya sosok gurunya mbah Jalil melambaikan tangan memanggilnya, ternyata mbah jalil yg telah menyelamatkannya dari godaan ratu nyai roro kidul. nyai ratu begitu ketakutan melihat kedatangan mbah Jalil,
"ngapunten mbah Jalil, kulo mboten semerap nek niki santri panjenengan.... " ucap nyai ratu sambil berjalan pergi.

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (03)
Diserambi pondok tampak mbah Jalil dan santri sepuh mbah soleh sedang duduk bersila sambil bercengkrama. Tidak begitu lama datang seorang tamu wanita yang tampak modis sekali. Dilihat dari cara memakai kerudungnya kelihatan kalau wanita ini tidak terbiasa berbusana muslimah,
"assalamu'alaikum...pak kiyai Jalil ada ?" sapa wanita itu.
"wa'alaikum salam...iya saya sendiri...." jawab mbah Jalil, rupanya wanita ini tidak pernah bertemu mbah jalil sehingga tidak tahu kalau prang didepanya ini mbah kiai jalil. Setelah duduk dihadapan mbah Jalil tanpa malu-malu wanita ini lansung berkata kpd mbah jalil.
"begini kiai, saya ini seorang pelacur, minta didoakan biar saya ini laris seperti dulu lagi, sudah beberapa minggu ini langganan saya sepi..."
Mbah Jalil tersenyum, beliau berkata :
"iya akan saya doakan" Mbah Jalil mengangkat tangannya dan berdoa, sedang wanita pelacur ini dg khusuk mengamini. Tampak mbah sholeh yang duduk disamping mbah jalil mengerutkan keningnya merasa penasaran melihat sikap mbah Jalil Setelah wanita itu pergi, mbah sholeh lansung bertanya kpd mbah jalil.
"ngapunten kyai, kok didoakan laris, itu kan pelacur kyai, semakin laris semakin banyak kemaksiatan yang terjadi.."
dengan santainya mbah jalil menjawab,
"aku jg ngerti leh...., biarpun wanita td minta doa penglaris aku tidak mendoakan itu..."
"Trus mbah kyai tadi doa bagaimana?" tanya mbah sholeh.
"aku doakan biar wanita td diberi hidayah oleh Allah dan diberi rizqi yang halal" jawab mbah Jalil.
Setelah dari mbah Jalil wanita pelacur ini lansung laris lagi, dulu sewaktu masih laris biasanya dia menerima langganan 5 orang tiap hari tapi sekarang bisa mencapai sepuluh 10 orang, orang jawa bilang "kebacut larise"
Pertama wanita ini tampak begitu senang karena sangat laris tapi lama-lama kewalahan karena begitu banyak pelanggan yang mengantri pada dirinya, wanita ini sangat tersiksa dg kondisi sangat larisnya ini, tubuhnya terasa capek dan tulangnya serasa copot semua.

Dimalam-malam berikutnya wanita ini mulai sering teringat dg mbah Jalil dg keampuhan doanya, wanita ini tetap mengira mbah Jalil mendoakan penglaris pd dirinya padahal tidak begitu. Wanita ini berhari-hari merenungi dirinya, wanita ini merasa bahwa Tuhan masih mengasihinya, dg bukti bahwa mbah jalil yang seorang kyai masih mau menerima dan mendoakan dirinya walau dirinya seorang pelacur. Wanita ini mulai malu kepada Allah, membalas kenikmatan Allah dg kemaksiatan, ia akhirnya bertekad untuk tobat dg nyantri kepada mbah jalil. Ketika mbah jalil melihat kedatangan wanita ini, cepat-cepat beliau memanggil mbah sholeh untuk mendampinginya Wanita pelacur ini akhirnya ikrar tobat dihadapan mbah Jalil dan nyantri kpd beliau, mbah Jalil lalu memberi aurod kpdnya. Setelah wanita ini berpamitan mbah Jalil berkata kpd mbah sholeh
"kamu kenal wanita tadi....?"
"mboten yi..." jawab mbah sholeh
"itu wanita yang dulu pernah kesini minta doa penglaris..." kata mbah Jalil
"masya Allah jd wanita td yang pelacur dulu, kok sekarang jd beda ..." kata mbah sholeh heran
"iya dia sekarang memangg sudah tobat..." jawab mbah jalil

*) mbah sholeh adalah santri sepuh PETA, disebut sepuh bkn berarti mondoknya sudah sangat lama tapi sewaktu masuk nyantri di pondok mmg sdh sepuh hehehe...

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (04)
Dulu sewaktu mbah Djalil pergi menghadap Allah banyak para murid yang tidak bisa serta merta menerima kenyataan tersebut. Seperti para sahabat yang ditinggal Nabi Muhammad kala itu, banyak para murid kyai Djalil yang tiba-tiba jadzab, ada juga murid kyai Djalil yang dalam jadzabnya berkata ingin sekali menyusul kyai Djalil krn ingin tetap berdekatan dg mbah Djalil, alhamdulillah murid tsb seminggu kemudian menyusul kyai Djalil. Ada peristiwa yang menurutku bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita, karena apa yang kita kita kira baik itu belum tentu menjadi benar karena sebab lain. Yaitu ketika ada salah satu murid kyai Djalil yang berdo’a :
"ya Allah ampunilah dosa-dosa kyai Djalil dan terimalah amal baik beliau"
Berhari-hari murid ini larut dalam dzikir dan selalu mendoakan kyai Djalil seprti doa tsb diatas Sewaktu murid ini pergi ke pondok PETA, dia bertemu ibu nyai Djalil, ibu nyai lansung menegur murid ini.
"kang nek ndungo ojok ngunu gak sopan, ojok ndungo dusone dingapuro amale diterimo, gak pantes, ndungoho njaluk pangestu ngunu ae...."
Murid ini kaget mendengar apa yang disampaikan ibu nyai, padahal selama ini ia berdoa sendirian tidak ada yang mendampingi dan itu dilakukan dirumahnya tidak dipondok PETA. Maksud ibu nyai Djalil mengatakan itu adalah apa yang dilakukan murid ini sama seperti orang miskin mendoakan orang yang kaya raya supaya bisa membeli makan pakaian dll, murid ini bagaikan si miskin dan mbah kyai Djalil orang yang kaya raya. Dan ini jg membuktikan ibu nyai Djalil jg bukan orang sembarangan, tidak bisa dibuat main-main dan di fitnah macam- macam.

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (05)
Di waktu haul PETA beberapa tahun yang lalu, yang kebetulan waktu itu yang ceramah adalah habib umar al muhtohar dari semarang. Ditengah2 ceramah ada santri yang disuruh keluarga ndalem untuk membagikan nasi kotak kepada para hadirin yang berada didepan pondok, serta merta habib umar merasa terganggu ceramahnya, beliau menegur santri tsb supaya membagi nasinya nanti saja
"weh...weh...la po iku..."
Tapi beberapa saat kemudia habib umar berkata lagi
"oh yo terusno wes gak po po....."
Usat punya usut ternyata ketika habib umar menegur santri tersebut, habib umar melihat mbah Djalil ikut membantu santri membagikan nasi (insya Allah mbah Djalil waktu itu sudah satu tahun berpindah tempat dari dunia ke akhirat) Dan setelah habib Umar melihat mbah Djalil yg ikut membantu membagikan nasi beliau mempersilahkan santri untuk terus membagikan nasi. Ini pelajaran yang berharga bagi kita semua didalam menghadiri haul nanti, kita harus bersikap sopan santun, berpakaian yang rapi, jangan bersikap urakan karena beliau mbah Djalil sendiri yang menyambut dan menjamu kedatangan kita, walau kita tidak bisa melihat kehadiran beliau.

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (06)
Tiba-tiba mbah Djalil mendatangi muridnya seorang santri senior sewaktu santri ini melakukan wirid.
"ayo ikut aku...." kata mbah Djalil "pegang tanganku, dan ikutilah apa yang aku baca" kata mbah Djalil lagi.
Santri ini memegang tangan mbah Djalil, dan mengikuti membaca dua kalimat Thoyyibah yang dibaca mbah Djalil.
"pejamkan matamu jangan kau buka sampai aku menyuruhmu..." pesan mbah djalil.
Tidak begitu lama mbah Djalil menyuruh santri ini membuka matanya, dan beliau berdua sudah berada dimakkah.
"mari kita thowaf...." ajak mbah Djalil.
Setelah melakukan thowaf mbah Djalil menyuruh santri ini memegang tangannya kembali dan berpesan seperti semula. Walau bagaimana santri ini jadi penasaran dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi, tanpa bisa dicegah beliau membuka matanya. Seketika itu juga beliau terpisah dg mbah Djalil, beliau celingak-celinguk berada disuatu daerah yang beliau tidak mengenalnya, setelah tanya kesana-kemari beliau tahu kalau dirinya berada didaerah sekitar Jakarta. Beliau berpikir bagaimana caranya pulang, karena beliau tidak membawa duit sama sekali, beliau memandangi dirinya yang bersarung, berpeci dan tidak memakai alas kaki, beliau tersenyum mengingat pengalamannya barusan, utunglah beliau teringat kalau mempunyai teman di daerah beliau terdampar. Setelah bertemu temannya beliau meminjam duit buat ongkos pulang, sejak itu sampai sekarang beliau selalu menyelipkan uang di peci / songkok hitamnya, buat jaga- jaga kalau peristiwa itu terulang kembali hehehehehe.....

( menyambut Haul PETA 181015 )
MBAH e (07)
Ketika kyai Saladin masih dalam kandungan, mbah Djalil sudah dawuh :
"inilah yang kelak jadi penggantiku (sesuai petunjuk)"
Dan sewaktu mas kyai Saladin masih kecil, mbah Djalil berkomentar :
"kelak Saladin ini kedudukannya melebihi kedudukanku, jauh berada diatasku..."
Sebelum mbah Djalil wafat beliau memberi gambaran dg jelas,
"besok di jaman Saladin banyak santri yang terkaget-kaget (dg kebijakannya), terjadi kegaduhan, dan banyak santri yang tidak percaya kepadanya..."

SELAMAT DATANG DI PONDOK PETA SEMOGA SELALU DIBERI KETETAPAN IMAN, HATI YG LAPANG DAN BERCAHAYA, SELAMAT DI DUNIA DAN DI AKHIRAT DAN DI BERI APA SAJA YANG HAROKAH DUNIA AKHIRAT.

Oleh: Damar Kasaenan
Sumber: http://sufiallusiy.blogspot.co.id/2016/05/syeikh-abdul-djalil-mustaqim.html?m=1

1 comments

MBAH KH.WAHAB CHASBULLOH PECINTA SEPAK BOLA JUGA PENDIRI KLUB SEPAK BOLA

SIAPA SANGKA JIKA MBAH KH.WAHAB CHASBULLOH PECINTA SEPAK BOLA JUGA PENDIRI KLUB SEPAK BOLA

(oleh : Farid Alfarisi)

Banyak yang mengetahui bahwa KH.Wahab Chasbulloh adalah salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul ulama' (NU). Mbah Wahb juga dikenal sebagai seorang pendekar tangguh. Seorang Kiai Khos dengan segudang ilmu, sepak terjang Mbah Wahab dalam kancah percaturan pegerakkan kemerdekaan Indonesia sudah tidak diragukan lagi.

Bahkan Mbah Wahab juga menjadi motor dalam pegerakkan kemerdekaan Indonesia melalui Resolusi Jihad Rais Akbar PBNU KH Hasyim 'Asy'ary. Soal ilmu agama dan Politik, sosok kiai ini sudah tidak ragukan lagi. Tapi siapa sangka jika Mbah Wahab juga penggemar olah raga, terutama sepak bola. Hal ini dibuktikan bahwa Mbah Wahab adalah pendiri dan pemilik Club sepakbola ternama di Kabupaten Jombang.

Saksi sejarah sepak terjang Mbah Wahab  ini diceritakan oleh Kang Rozi dan Dulmanan. Dua orang ini merupakan pemain sepakbola di club yang didirikan oleh KH Wahab Chasbulloh. Di era tahun 1950an, warga Desa Tambakberas dan Santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum diarahkan untuk giat dalam olahraga. Saat itu pertama kali nama club tersebut adalah Himpunan Muslimin (HM). Kemdian, oleh Mbah Wahab Club tersebut diganti dengan nama Harimau (HM). Kemudian Club ini berganti nama menjadi Harapan Muda (HM) dan sampai sekarang klub sepakbola tersebut masih eksis dengan nama Persatuan Sepakbola Harapa Muda yang berkantor di Lapangan Tambakberas, Kecamatan Jombang. Tepatnya, sebelah utara Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang.

Kang Rozi saat itu berada dalam posisi sebagai Pemain club Harapan Muda di era tahun 1963 dan Dulmanan di posisi Kiper. Ada lagi Mbah Romli dan Mbah Pagi yang merupakan pengurus club sepakbola bentukkan Mbah Wahab itu. Sayangnya, Mbah Romli dan Mbah Pagi sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Dari penuturan Kang Rozi, Klub HM sangat kuat dan sulit bagi lawan-lawannya untuk mengalahkannya. Ia masing ingat ketika pertandingan Club HM melawan Club HW (salah satu klub sepakbola milik Ormas Muhammadiyah).  Kedua Klub ini memang sering bertandig meski hanya untuk laga uji coba bahkan juga bertemu dalam pertandingan resmi.

Kembali ke cerita pertandingan antara HM dan HW. Pertandingan kedua klub ini digelar di Lapangan Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang yang notabene adalah kandang dari Klub HW. Hampir semua penonton menjagokan HW dalam pertandingan itu. Kata Kang Rozi, jalannya pertandingan berjalan alot karena kedua tim sama-sama kuat.

Rupanya dalam pertandingan itu, strategi tim, teknik pemain sama-sama kuat hingga pemian dan Official HM mulai gelisah. Kemudian,  sebelum pertandingan berakhir, salah satu offical bernama Mat Badal diminta pulang ke Tambakberas untuk menemui Mbah Wahab dan menceritakan pertandingan yang berlangsung saat itu. Sekembalinya dari bertemu Mbah Wahab, Mat Badal kembali ke Lapangan Pulo Lor. Saat itu, Mat Badal diberi oleh Mbah Wahab sebutir kerikil untuk dilemparkan ke Lapangan tempat pertandingan.

Singkat cerita, setelah kerikik dilempar, HM pun bisa membobol gawang HW. Keanehan pun terjadi, saat ditendang menjebol gawang HW, tiba-tiba bola tersebut meletus.Kejadian aneh itu, boleh percaya atau tidak. "Boleh ditanyakan kepada saksi dan kiper HM pada waktu itu yaitu Dul manna yang sampai sekarang masih hidup mudah-mudahan  tidak pikun(sakit ingatan karena usia) pertandingan begitu ketat dan hasil akhir pertandingan itu dimenangkan oleh HM dengan sekor 0-1 . Yg tidak kalah menarik dari pertandingan itu adalah begitu bersahabatnya kedua tim HW dan HM," tutur Kang Rozi.

Kedua tim sangat menjunjung tinggi sportifitas, begitu juga suporternya meskipun tuan rumah kalah tapi tetap menghargai dan menghotmati hasil dari pertandingan. Padahal di zaman itu bentrok pemain serta tawuran suporter sangat sering dilakukan oleh sejumlah club di Jombang. Namun tidak bagi HM dan HW.

Ini sejarah perjuangan KH. Wahab chasbullah dimasyarakat dan masih banyak perjuangan beliau yg belum kita ketahui semoga kita bisa menjaga dan meneruskan perjuangan beliau.

4 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger