Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post

Khutbah Akhir Ramadlan



Khutbah Akhir Ramadlan 
إنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِناَ مَنْ يَهْدِاللهَ فَهُوَ اْلمُهْتَدُ وَمَنْ يُظْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِياًّ مُرْشِدًا أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا  مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ. (إِتَّقُوْا اللهَ)2 حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم ﴿يٰاۤ أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ﴾ (البقرة: 183)

Telah beberapa hari kita dipertemukan dengan Ramadlan. Maka, kami mengajak ummat muslimin, khususnya kepada pribadi kami untuk selalu menambah ketaqwaan kepada Allah SWT karena Ramadlan adalah media untuk bertaqwa kepada Allah (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ).
Ma’asyrol Muslimin…
Seorang lelaki Arab badui (Arab pedalaman/desa) datang menghadap kepada Nabi SAW dan bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang mengurus hisabnya seluruh mahluk?" Nabi menjawab, “ALLAH”. "Apakah hanya sendirian?," Tanya si badui lagi. Rasul menjawab, "Ya". Orang badui tersebut tersenyum, sepertinya ia senang sekali. Melihat senyumannya, Nabi SAW bertanya, "Mengapa engkau tersenyum, hai Orang Badui?"  Badui itu menjawab, "Dzat yang pemurah, jika menghisab pasti akan banyak memaafkan…!!". Jawaban membuat Nabi SAW ganti tersenyum, dan berkata, "Engkau benar, tidak ada yang lebih pemurah dibanding Allah SWT, Dialah Dzat yang Paling Pemurah dan dan Paling Pemaaf…." . Setelah mengucap terima kasih kepada Nabi SAW, orang badui tersebut berlalu dengan riangnya. Nabi SAW berkata tentang dirinya, "Ia sungguh pandai…!!"
Ma’asyirol Muslimin….
Kemurahan dan kasih sayang Allah tidak hanya pada saat hari perhitungan amal, tidak hanya di hari qiyamat, tetapi kemurahan Allah telah ditunjukkan kepada kita sejak kita berada di Dunia saat ini. Bulan Ramadlan yang kita hadapi saat ini adalah salah satu bentuk kemurahan Allah SWT kepada kita semua. Betapa Allah menunjukkan kemurahan dan kasih sayangnya melalui bulan ramadlan dengan menjanjikan ampunan bagi orang yang orang berpuasa di bulan Ramadlan:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Betapa Allah menjanjikan kasih sayangnya dalam bentuk pengampunan bagi mereka yang melakukan ibadah apapun di bulan ramadlan:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Ma’asyirol Muslimin…. Betapa kemurahan dan kasih sayang Allah, pada hari ini, pada bulan ini benar-benar diberikan kepada orang yang melaksanakan ibadah di Bulan Ramadlan dalam bentuka ampunan dari Allah SWT. Dengan ampunan itulah kita semua benar-benar akan kembali fitrah selama ibadah yang kita lakukan di bulan ramadlan memenuhi kriteria “إِيمَانًا” dan “احْتِسَابًا”. Maka, marilah kita benar-benar memanfaatkan momentum Ramadlan kali ini sebagai media untuk menggapai maghfiroh dari Allah SWT, dengan melaksnakan shalat fardlu, puasa, shalat tarwaih, shalat tahajjud, zakat, shodaqoh, berbuat baik pada orang lain, menjaga hati dari buruk sangka dan lain sebagainya. Semua ibadah layak kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, karena manusia tidak tahu mana ibadahnya yang terpilih sebagai media ampunan dari Allah. Sebab tidak sedikit dari ibadah kita yang tidak memenuhi syarat Ikhtisaban. artinya tujuan amal kita hanya karena mengharap balasan dari allah. Itulah amal yang akan terpilih menjadi media untuk menggapai maghfiroh Allah. Namun, tidak sedikit ibadah kita yang tujuannya tidak karena Allah, tetapi karena ingin disebut sebagai orang shaleh, karena ingin di sebut sebagai orang baik, karena ingin disebut orang yang pandai dan karena tujuan-tujuan duniawiyah yang lainnya. Maka kita tidak layak bangga terhadap amal yang telah kita lakukan, tapi seharusnya kita selalu mengharap agar amal kita menjadi amal yang dapat diterima oleh Allah dengan tetap menjalankan berbagai amal ibadah sebanyak-banyaknya disertai usaha ikhlas. Serta selalu bersyukur karena Allah masih memberikan hidayah kepada kita sehingga kita mau beramal ibadah kepada Allah.
Diriwayatkan oleh Abu Harayrah dalam hadits Qudsi yang panjang,  Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Orang yang pertama di hisab di hari kiamat adalah Orang yang mati syahid. Lalu Allah bertanya kepadanya, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?’, lelaki itu menjawab, ‘Aku berperang untuk-Mu hingga aku syahid’; Allah menjawab, “Kamu berdusta, (akan tetapi sesungguhnya) engkau berperang agar orang menyebutmu pemberani, dan (orang – orang) telah menyebutkamu demikian, kemudian orang itu dimasukkan ke neraka”. Dan (selanjutnya adalah) Orang alim yang mengamalkan ilmunya serta membaca al-Quran, kemudian Allah bertanya, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat – nikmat itu?’ lelaki itu menjawab, ‘Aku mencari ilmu dan mengamalkannya/mengajarkannya, dan aku membaca al-Quran karena-Mu’. Allah berfirman, “kamu berdusta, (akan tetapi) kamu mencari ilmu itu agar disebut sebagai orang ‘alim (orang yang berilmu), dan kamu membaca al-Quran agar orang menyebutmu qari’, dan kamu telah disebut demikian itu di dunia” kemudian orang itui di bawah ke neraka” Dan (selanjutnya) adalah orang yang diluaskan (rizkinya) oleh Allah. Dan dikaruniai berbagai harta kekayaan. Kemudian Allah bertanya, “Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat – nikmat itu?”, lelaki itu menjawab, “Aku hanya menginfakkan hartaku untuk-Mu”; Allah berfirman, “Kamu berdusta, tetapi kamu melakukan itu semua agar orang menyebutmu dermawan, dan kamu telah disebut demikian”. Kemudian orang itu di bawa ke neraka. (HR. Muslim dan begitu juga at-Tirmidzi dan an-Nasai)
Ma’asyirol Muslimin….
Ada orang yang setelah mendengar hadits ini kemudian mengurangi atau bahkan tidak beramal karena sulitnya ikhlas. Itu adalah pemahaman yang salah. Hadits ini mengajak kita untuk selalu berusaha ikhlas dalam setiap amal ibadah kita. Hadits ini mengajak kita agar tujuan amal itu murni mengharap imbalan Allah, bukan imbalan dari makhluk berupa pujian dan junjungan. Dengan hadits ini, maka kita seharusnya malah menambah banyak amal ibadah karena berharap agar di antara sekian amal ibadah kita, terdapat amal yang memiliki kualitas yang memenuhi persyaratan sebagai media menggapai ampunan dari Allah SWT.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ وَأَبْيَنَ النِّظَامِ، كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ الْعَلاَّمِ، وَاللهُ يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِ الْمُهْتَدُوْنَ، مَنْ عَمِلَ صَالحِاً فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا، وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِىْ الْقُرْأَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنىِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرَّاءٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الخطبة الثانية
اَلْحَمْدُ ِللهِ شكرا علي ما أنعم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ كَمَا أَمَرَ وَألزم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شهادة من أمن به وأسلم وحاد من كفر وأرغم ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ، اتَّقُوْا اللهَ إن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه ، وثنى بملائكته وأيه بالمؤمنين من عباده. وقال عز من قائل: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى مَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَأَنْبِيَائِكَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وارحمنا بِرَحْمَتِكَ يَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا مَا قَدَّمْنَاهُ، وَمَا أَخَّرْنَاهُ، وَمَا أَسْرَرْناَهُ، وَمَا أَعْلَناَّهُ، وَأَحْصَيْتَهُ وَنَسِيْناَهُ، وَعَلِمْتَهُ وَجَهِلْناَهُ، وَلاَتَدَعْ لَنَا أَمَلاً إِلاَّ بَلَّغْتَنَاهُ، وَلاَسُؤْلاً إِلاَّ سَوَّغْتَناَهُ، وَلاَخَيْرًا إِلاَّ أَعْطَيْتَنَاهُ، وَلاَ شَرًّا إِلاَّ كَفَّيْتَنَاهُ.رَبَّناَ اغْفِرْلَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، رَبَّناَ أَتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِىْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُواْ اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

0 comments

Khutbah Akhir Ramadlan Dalam Mempersiapkan Idul Fitri



Khutbah
Akhir Ramadlan di Masjid Babul Jannah sememi Benowo
(30 juni 2016)
Oleh Moh. Dliya’ul Chaq, M. HI.

إنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِناَ مَنْ يَهْدِاللهَ فَهُوَ اْلمُهْتَدُ وَمَنْ يُظْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِياًّ مُرْشِدًا أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا  مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ. (إِتَّقُوْا اللهَ)2 حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم ﴿يٰاۤ أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ﴾ (البقرة: 183)

Telah beberapa hari kita dipertemukan dengan Ramadlan. Maka, kami mengajak ummat muslimin, khususnya kepada pribadi kami untuk selalu menambah ketaqwaan kepada Allah SWT karena Ramadlan adalah media untuk bertaqwa kepada Allah (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ).
Ma’asyrol Muslimin…
Dalam riwayat Abu Hurayrah dikatakan bahwa suatu saat Rasulullah keluar untuk shalat di bulan Ramadlan. Lalu banyak dari sahabat yang mengikuti Rasulullah. Ulama’ mengatakan itu adalah shalat tarawih. Setelah shalat, Rasulullah bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Sabda Rasulullah ini menunjukan kemurahan dan kasih saying Allah di bulan Ramadlan dalam bentuk pengampunan dosa bagi mereka yang beribadah di bulan Ramadlan yang memenuhi kriteria “إِيمَانًا” dan “احْتِسَابًا”. Imanan artinya meyakini tentang adanya Allah dan kebenaran ibadah. Sedangkan ikhtisaban artinya mengharap Allah atau mengharap balasan ukhrowi dari Allah SWT.
Maka, marilah kita benar-benar memanfaatkan momentum Ramadlan ini sebagai media untuk menggapai maghfiroh dari Allah SWT, dengan melaksnakan shalat fardlu, puasa, shalat tarwaih, shalat tahajjud, zakat, shodaqoh, berbuat baik pada orang lain, menjaga hati dari buruk sangka dan lain sebagainya. Semua ibadah layak kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, karena manusia tidak tahu mana ibadahnya yang terpilih sebagai media ampunan dari Allah. Sebab tidak sedikit dari ibadah kita yang tidak memenuhi syarat “إِيمَانًا” dan “احْتِسَابًا”.  Semoga ibadah kita di bulan Ramadlan benar-benar terpilih sebagai media ampunan Allah kepada Kita. Karena dengan ampunan itulah kita semua benar-benar akan kembali fitri. Oleh karenanya seremonial berakhirnya bulan suci ramadlan disebut dengan Idul Fitri.
Ma’asyirol Muslimin….
Idul Fitri terkadang ada yang menyambutnya dengan duka cita karena terasa berat berpisah dengan Ramadlan. Ada yang merasa telah lulus ujian selama Ramadlan sehingga menyambutnya dengan suka cita, seperti membeli baju baru, takbir keliling, menabuh bedug untuk memeriahkan bulan Ramadlan, memberikan sodaqoh pada orang lain dan anak-anak. Apapun bentuknya, semua itu adalah ajaran Islam. Terdapat beberapa hadits dan hikmah ulama’ tentang tuntunan menyambut idul fitri walaupun sebagian hadits tuntunan idul fitri tergolong dloif. Namun menurut kesepakatan ulama’, hadits dloif tetap dapat dijadikan pedoman selama berhubungan dengan fadloilul a’mal (keutamaan amal).
1.        Dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di malam idul fitri, sebagaimana hadits dalam Sunan Ibnu Majah, Syuabul Iman karya Imam al-Bayhaqi, al-Adzkar karya Imam Nawawi, dan Jamiul Ahadits karya Imam Suyuti:
عن أبي أمامة  : - عن النبي صلى الله عليه و سلم قال (مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدِ لِلَّهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ حِينَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ)
“Barang siapa yang beribadah pada malam hari raya idul fitri dan idul adha dengan ikhlas maka hatinya tidak akan mati di saat banyak hati yang mati”.
Menurut beberapa ulama’, pada malam hari raya dianjurkan untuk menghidupkannya dengan diisi beragam ibadah kepada Allah SWT, Abdullah bin Umar bin Khattab selalu melakukan ini. Walaupun haditsnya dloif tapi menurut akal, hal ini sangat logis mengingat malam itu adalah malam perpisahan dengan bulan Ramadlan. Maka layak jika dipenuhi dengan ibadah. Bahkan Imam Syafi’I mengatakan, bahwa pada malam itu doa-doa akan diijabahi oleh Allah sebagaimana keterangan dalam kitab Syuabul Iman karya Imam al-Bayhaqi:
قَالَ الشَّافِعِىُّ : وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ : إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِى خَمْسِ لَيَالٍ فِى لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةِ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
2.        Dianjurkan membaca tahlil dan takbir dengan suara lantang. Sebagaimana hadits dalam sunan al-bayhaqi, shahih Ibnu Huzaymah,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَخْرُجُ فِى الْعِيدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ ، وَعَبْدِ اللَّهِ ، وَالْعَبَّاسِ ، وَعَلِىٍّ ، وَجَعْفَرٍ ، وَالْحَسَنِ ، وَالْحُسَيْنِ ، وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، وَزِيدِ بْنِ حَارِثَةَ ، وَأَيْمَنَ ابْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ فَيَأْخُذُ طَرِيقَ الْجَدَّادِينَ حَتَّى يَأْتِىَ الْمُصَلَّى. وَإِذَا فَرَغَ رَجَعَ عَلَى الْحَذَّائِينَ حَتَّى يَأْتِىَ مَنْزِلَهُ.
“Rasulullah keluar rumah saat hari raya idul fitri dan idul adha bersama fadhal bin Abbas, Abdullah, Abbas, Ali bin Abi Thalib, Sayyid Hasan, Sayyid Husain, Usamah bin Zayd, Zaid bin Haritsah dan Ayman bin Umi Ayman. Mereka melantangkan suara membaca tahlil dan takbir menuju masjid / tempat shalat”.
Selain dengan takbir yang lantang, Rasulullah memperbolehkan Memeriahkan idul fitri dengan menabuh alat music yang halal. Seperti rebana dan bedug. Sebagaimana hadits dalam Shahih Bukhari dan Muslim, riwayat Siti Aishah bahwa pada malam hari raya dirinya bersama dua budak wanita di mana dua budak itu menabuh rebana. Lalu Rasulullah datang dan tidur disampingku. Lalu Abu Bakar masuk dan marah kepada budak-budak itu. Lalu Rasuulullah berkata pada Abu Bakar: Tinggalkanlah mereka hai Abu Bakar karena hari ini adalah hari raya.
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِى أَيَّامِ مِنًى تُغَنِّيَانِ وَتَضْرِبَانِ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُسَجًّى بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْهُ وَقَالَ « دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ ».
3.        Pada pagi harinya dan saat berkumpul dengan masyarakat, dianjurkan memakai pakaian yang bagus dan wangi walaupun tidak baru. Sebagaimana hadits dalam Mustadrok Imam al-Hakim dan Syuabul Iman karya al-Bayhaqi:
عن الحسن بن علي قال : « أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نلبس أجود ما نجد ، وأن نضحي بأسمن ما نجد ، البقرة عن سبعة ، والجزور عن عشرة ، وأن نظهر التكبير ، وعلينا السكينة والوقار »
“Dari Sayyid Hasan bin Ali bin Abi Thalib, berkata: Kami diperintah Rasulullah SAW untuk memakai pakaian yang paling bagus, menyembelih qurban yang gemuk ketika idul adha, melantangkan takbir, bersikap tenang dan berwibawa”
Dalam hadits Imam Bukhari dan Muslim dinyatakan bahwa suatu saat Umar bin Khattab membeli jubbah tenunan dari sutera di pasar. Lalu membawanya pada Rasulullah SAW dan berkata “Wahai Rasulullah belilah jubbah ini untuk hari raya dan menerima utusan raja”. Lalu Rasul bersabda, “Ini adalah jubbah orang yang tidak mendapat bagian di akhirat (karena terbuat dari sutera)”.
حَدَّثَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ وَجَدَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ حُلَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ بِالسُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ فَتَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَلِلْوَفْدِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ ». قَالَ فَلَبِثَ عُمَرُ مَا شَاءَ اللَّهُ. ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِجُبَّةِ دِيبَاجٍ فَأَقْبَلَ بِهَا عُمَرُ حَتَّى أَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ « إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ ». أَوْ « إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ ». ثُمَّ أَرْسَلْتَ إِلَىَّ بِهَذِهِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَبِيعُهَا وَتُصِيبُ بِهَا حَاجَتَكَ ».
Hadits ini menunjukkan bahwa tradisi memakai baju yang baik saat hari raya adalah tradisi sejak masa Rasulullah SAW.
4.        Diwajibkan mengeluarkan zakat sebelum shalat idul fitri sebagaimana hadits shahih yang diriwayatkan Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam al-Hakim:
عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: - فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - زَكَاةَ اَلْفِطْرِ; طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اَللَّغْوِ, وَالرَّفَثِ, وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ, فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ, وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ اَلصَّدَقَاتِ. - رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم
Rasulullah bersabda: Zakat fitri bagi orang yang berpuasa adalah pembersihan dari perilaku sis-sia, perkataan kotor serta suguhan bagi orang miskin. Barang siapa yang memberi makanan pada orang miskin maka akan diberi Allah buah-buahan dari Surga, sebagaimana hadits dalam Sunan Abu Daud:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ, عَنِ اَلنَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: - أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ كَسَاهُ اَللَّهُ مِنْ خُضْرِ اَلْجَنَّةِ, وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اَللَّهُ مِنْ ثِمَارِ اَلْجَنَّةِ, وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اَللَّهُ مِنْ اَلرَّحِيقِ اَلْمَخْتُومِ
Dalam firman Allah, orang yang zakat pasti akan menemui kebahagiaan dan keberuntungan. “قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى”.
5.        Disunnahkan memakan makanan ringan sebelum berangkat shalat idul Fitri, sebagaimana hadits hasan dalam sahih bukhari, bahwa Rasulullah pada pagi hari idul fitri memakan beberapa kurma.
عَنْ أَنَسٍ - رضي الله عنه - قَالَ: - كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - لَا يَغْدُو يَوْمَ اَلْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ
Kesunnahan ini untuk memperjelas bahwa pada hari raya puasa diharamkan. Dalam hadits lain yang sahih riwayat Imam Ahmad, Imam Turmudzi dan Ibnu Hibban:
عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ, عَنْ أَبِيهِ قَالَ: - كَانَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - لَا يَخْرُجُ يَوْمَ اَلْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ, وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ اَلْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ
6.        Dianjurkan mengajak seluruh ummat untuk hadir ditempat shalat hari raya, walaupun gadis-gadis belia, wanita yang sedang haid serta wanita yang menutup seluruh auratnya. Wanita yang sedang haid tidak ikut shalat melainkan ikut mendengarkan khutbah.
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ».
7.        Diwajibkan atau difardlukan secara fardlu kifayah untuk Shalat idul Fitri.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ
Shalat idul fitri memiliki keutamaan sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud dalam kitab Nashoihul Ibad, bahwa ketika umat Muhammad puasa Ramadlan lalu keluar untuk shalat idul fitri. Maka Allah berfirman “Wahai para malaikatku, semua orang yang beramal menginginkan balasan dariKu. Dan hamba-hambaku yang berpuasa sebulan Ramadlan lalu keluar menuju Shalat idul Fitri untuk mengharap imbalan dariKu, maka saksikanlah bahwa aku telah mengampuninya. Lalu ada suara berkata, “Wahai Umat Muhammad, kembalilah ke rumah kalian karena aku telah mengganti kesalahanmu dengan kabikan. Lalu Allah berfirman, “Wahai hamba-hambaku, kalian berpuasa dan berbuka karenaKu, maka berdirilah dalam keadaan dosa-dosa terampuni”.
عن أَبن مسعود رضي الله عنه عن النبي عليه الصلا ة وَلسلام أَنه قال اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى يَا مَلَـئِكَتِىْ كُلُ عَامِلٍ يَطْلُبُ اَجْرَهُ وَعِبَادِىَ اللَذِيْنَ صَامُوْا شَهْرَهُمْ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَطْلُبُوْنَ اُجُوْرَهُمْ اِشْهَدُوْا أَنىِ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ ، فَيُنَادِىْ مُنَادٍ يَا اُمَةَ مُحَمَدٍ اِرْجِعُوْا اِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِئَاتِكُمْ بِالْحَسَنَاتِ، فَيَقُوْلُ اللهُ تعالى يَا عِبَادِىْ صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas
عَنْ إِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا يَرْفَعُهُ:  إِذَا كاَنَ يَوْمَ عِيْدِ اْلفِطْرِ هَبَطَتِ اْلمَلاَئِكَةِ إِلَى اْلأَرْضِ فِى كُلِّ بَلَدٍ فَيَقِفُوْنَ عَلَى أَفْوَاهٍ السِّكَكِ يُنَادُوْنَ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ جَمِيْعُ مَنْ خَلَقَ اللهُ إِلاَّ اْلجِنَّ وَاْلإِنْس. ياَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ أَخْرَجُوْا اِلَى رَبٍّ كَرِيْمٍ يُعْطِى اْلجَزِيْلَ وَيَغْفِرُ الذَّنْبَ اْلعَظِيْم فَإِذَا بَرَزُوْا إِلَى مُصَلاَّهُمْ قاَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ  : يَا مَلاَئِكَتِىْ مَا جَزَاءَ اْلأَجِيْرِ إِذاَ عَمَلَ عَمَلَهُ فَيَقُوْلُوْنَ إِلَهَناَ وَسَيِّدِناَ أَنْ تُوَفِّيَهُ أَجْرَهُ
Riwayat lain dalam kitab Kanzul Ummal dan
عن سعيد بن أوس الأنصاري عن أبيه إذا كان يوم الفطر وقفت الملائكة في أفواه الطريق فنادوا يا معشر المسلمين اغدوا إلى رب كريم رحيم يمن بالخير ويثيب عليه الجزيل لقد أمرتم بقيام الليل فقمتم، وأمرتم بصيام النهار فصمتم، وأطعتم ربكم فاقبضوا جوائزكم، فإذا صلوا العيد نادى مناد من السماء: ارجعوا إلى منازلكم راشدين فقد غفر لكم ذنوبكم كلها، ويسمى ذلك اليوم في السماء يوم الجوائز
8.        Dianjurkan bersedekah setelah shalat idul fitri sebagaimana hadits sahih bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah melaksanakan shalat Hari Raya 'Idul Fitri dua rakaat dan tidak shalat sebelum atau sesudahnya. Lalu beliau mendatangi para wanita dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka para wanita memberikan sedekah hingga ada seorang wanita yang memberikan anting dan kalungnya:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَجَعَلَتِ الْمَرْأَةُ تُلْقِى خُرْصَهَا وَتُلْقِى سِخَابَهَا.


إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ وَأَبْيَنَ النِّظَامِ، كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ الْعَلاَّمِ، وَاللهُ يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِ الْمُهْتَدُوْنَ، مَنْ عَمِلَ صَالحِاً فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا، وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِىْ الْقُرْأَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنىِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرَّاءٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الخطبة الثانية
اَلْحَمْدُ ِللهِ شكرا علي ما أنعم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ كَمَا أَمَرَ وَألزم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شهادة من أمن به وأسلم وحاد من كفر وأرغم ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ، اتَّقُوْا اللهَ إن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه ، وثنى بملائكته وأيه بالمؤمنين من عباده. وقال عز من قائل: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى مَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَأَنْبِيَائِكَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وارحمنا بِرَحْمَتِكَ يَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا مَا قَدَّمْنَاهُ، وَمَا أَخَّرْنَاهُ، وَمَا أَسْرَرْناَهُ، وَمَا أَعْلَناَّهُ، وَأَحْصَيْتَهُ وَنَسِيْناَهُ، وَعَلِمْتَهُ وَجَهِلْناَهُ، وَلاَتَدَعْ لَنَا أَمَلاً إِلاَّ بَلَّغْتَنَاهُ، وَلاَسُؤْلاً إِلاَّ سَوَّغْتَناَهُ، وَلاَخَيْرًا إِلاَّ أَعْطَيْتَنَاهُ، وَلاَ شَرًّا إِلاَّ كَفَّيْتَنَاهُ.رَبَّناَ اغْفِرْلَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، رَبَّناَ أَتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِىْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُواْ اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

0 comments

Tsumamah bin Utsal (Raja Yamamah Yang Mengislamkan Penduduk Yamamah Sebelum Musailamah Al-Kadzdzab Merusak Yamamah)

Tsumamah bin Utsal
(Raja Yamamah Yang Mengislamkan Penduduk Yamamah Sebelum Musailamah Al-Kadzdzab Merusak Yamamah)

Oleh: Moh. Diya'ul Chaq
(Disarikan dari Kitab Syarah Shahih al-Bukhari Karya Ibnu Hajar Al- Asqalani)

Tsumamah bin Utsal al Hanafi adalah pemuka dari Bani Hanifah dan salah seorang Raja Yamamah yang diakui kepemimpinanya oleh masyarakat jahiliah. Pada tahun 6 hijriah, Nabi SAW mengirim surat kepadanya untuk diseru kepada Islam. Tsumamah menerimasurat Nabi SAW dengan sombong dan menghinakan, bahkan ia sesumbar akan membunuh beliau untuk menghentikan dakwah Islamiyah. Ia selalu mencari peluang dan kesempatan untuk bisa membunuh Nabi SAW dan para sahabatnya, karena itu beliau menghalalkan darahnya (yakni, kaum muslimin diperbolehkan membunuhnya) dan beliau mengumumkan hal itu secara luas.

Suatu ketika Tsumamah berniat umrah ke Makkah, di perjalanan di dekat Madinah ia bertemu serombongan sahabat yang memang ditugaskan Nabi SAW untuk berjaga-jaga. Kedua pasukan terjadi bentrok, dan para sahabat tidak tahu kalau mereka adalah rombongan Tsumamah dari Yamamah. Pasukan Tsumamah dapat dikalahkan dan ditawan, kemudian diikat di tiang-tiang masjid untuk menunggu keputusan dari Nabi SAW.

Ketika beliau datang ke masjid, beliau mengamati para tawanan, beliau bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian, siapakah para tawanan ini?"

Para sahabat menjawab kalau mereka tidak tahu. Maka Nabi SAW berkata, "Dia adalah Tsumamah bin Utsal al Hanafi, Raja Yamamah. Layanilah dia dengan baik…!"

Walaupun sebelumnya Nabi SAW telah menghalalkan darah Tsumamah, tetapi beliau tidak memerintahkan para sahabat membunuhnya,   bahkan memerintahkan untuk melayani diri dan pasukannya dengan baik. Sungguh cerminan akhlak yang mulia dan sifat Rahmatan lil ‘Alamin. Sepulang dari Masjid, Nabi SAW menemui para istrinya dan memerintahkan untuk mengumpulkan makanan yang dimiliki untuk melayani Tsumamah dan tawanan lainnya. Beliau juga memerintahkan beberapa sahabat untuk memerah susu untuk minuman mereka.

Setelah para tawanan selesai menikmati suguhan yang diberikan, Rasulullah SAW mendatangi Tsumamah, dan beliau menanyakan keadaannya. Tsumamah berkata, "Keadaanku baik saja, wahai Muhammad, sekiranya engkau ingin membunuh, bunuhlah mereka yang telah melukai dan membunuh orang-orangmu. Dan sekiranya engkau ingin mengampuni, maka ampunilah orang yang tahu bersyukur. Dan sekiranya engkau ingin harta, kami akan memberikan sebanyak apa yang kau minta."

Nabi SAW hanya tersenyum mendengar jawaban itu tanpa berkata apapun, kemudian meninggalkannya. Beliau membiarkannya dalam keadaan seperti itu selama dua hari, tetapi tetap memberikan hidangan dan minuman yang mereka butuhkan.

Setelah dua hari itu, Nabi SAW menemui Tsumamah lagi dan bertanya, “Hai Tsumamah, bagaimana keadaanmu?"

"Wahai Muhammad," Kata Tsumamah, "Aku tidak mempunyai keputusan lain, selain apa yang kusampaikan padamu tempo hari."

Kemudian ia mengulang apa yang ia ucapkan sebelumnya, dan Nabi SAW meninggalkannya. Keesokan harinya, beliau mendatanginya lagi dan menanyakan keadaan dan keputusannya, tetapi Tsumamah tetap teguh dengan apa yang disampaikannya sebelumnya. Nabi SAW bersabda pada para sahabatnya, "Bebaskanlah Tsumamah dan berikanlah tunggangannya..!"

Tsumamah-pun dilepaskan, ia berjalan ke luar kota Madinah. Di suatu tempat dekat Baqi’ dimana banyak ditanami pohon kurma dan terdapat mata air, ia beristirahat dan membersihkan diri di mata air tersebut. Ia duduk merenung. Masih jelas tergambar di fikirannya, bagaimana aktivitas Nabi SAW dan para sahabat dalam tiga hari tersebut. Ia juga menyadari bagaimana beliau tidak membunuh atau menyuruh membunuhnya walaupun sebelumnya telah menghalalkan darahnya. Bahkan walaupun tertawan, beliau masih melayani kebutuhan makan minumnya dengan baik. Terbukalah pintu hatinya, dan hidayahpun menghampirinya.

Ia kembali ke masjid, di depan para sahabat yang sedang berkumpul, ia dengan lantang mengucapkan dua kalimah syahadat untuk menyatakan keislamannya. Kemudian ia menghadap Nabi SAW dan berkata, "Ya Muhammad, Demi Allah, dahulu tidak ada wajah yang paling aku benci kecuali wajahmu, tetapi hari ini, wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu tidak ada agama yang paling aku benci kecuali agamamu, tetapi hari ini, agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada tempat yang paling aku benci kecuali tempatmu, tetapi hari ini, tempatmu adalah menjadi tempat yang paling aku cintai."

Nabi SAW menyambut gembira keislaman Tsumamah. Ketika ia menanyakan tentang apa yang harus dilakukannya untuk menebus dosa-dosanya karena menyebabkan banyak musibah yang menimpa sahabat-sahabat Nabi SAW, beliau bersabda, "Tidak ada cercaan bagimu, hai Tsumamah, keislamanmu telah menghapuskan dosa-dosamu yang kau lakukan dalam masa jahiliah."

Kemudian Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya membebaskan tawanan lainnya, yang merupakan anggota pasukan dan kawan-kawan Tsumamah. Mereka semua akhirnya mengikuti jejak Tsumamah memeluk Islam. Tsumamah berkata, "Demi Allah, wahai Rasulullah, selama ini aku banyak memberikan kesusahan kepada sahabat-sahabatmu, jauh lebih hebat daripada yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy, karena itu sejak saat ini, aku akan menyerahkan diriku, pedangku, dan orang-orang yang bersamaku untuk membantumu dan membantu agamamu."

Nabi SAW menerima ikrar (ba’iat) yang disampaikan oleh Tsumamah dan pasukannya tersebut, dan beliau mendoakan mereka dengan kebaikan.

Kemudian Tsumamah berkata lagi, "Wahai Rasulullah, aku dan pasukanku berniat untuk umrah ke Makkah ketika pasukanmu menangkapku, apakah aku harus mengurungkan niatku itu?"

Nabi SAW melarangnya untuk membatalkan niat pelaksanaan umrah tersebut,  hanya saja mereka harus melakukannya dengan tata cara yang sesuai tuntunan Allah dan RasulNya, dan Nabi SAW mengajarkan tata cara umrah menurut syariat Islam.

Segera setelah itu Tsumamah dan pasukannya bertolak ke Makkah, dengan niat yang sama tetapi dengan jiwa dan semangat yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Sampai di Makkah, rombongan umrah Tsumamah melantunkan talbiah sebagaimana diajarkan Nabi SAW dengan gegap gempita, dengan pedang dan persenjataan tersandang siap digunakan. Inilah pertama kalinya talbiah bergema menggetarkan kota Makkah.

Tentu saja hal itu menarik perhatian rombongan umrah lainnya, dan kaum Quraisypun sebagai pengelola tanah suci menjadi marah. Mereka datang dengan pedang terhunus dan panah menghambur ke rombongan Tsumamah. Ketika hampir saja Tsumamah dan pasukannya yang siap siaga itu diserang dan ditangkap, tiba-tiba terdengar teriakan salah seorang Quraisy, "Celaka kalian! Tahukah kalian siapa dia? Dia adalah Tsumamah bin Utsal, Raja Yamamah. Demi Allah, jika kalian menangkap dan membunuhnya, kaumnya akan menghentikan bantuan makanan kepada kita, dan kita akan mati kelaparan."

Mendengar peringatan tersebut, mereka batal menyerang, dan menghampiri Tsumamah dengan pedang masih terhunus, kemudian bertanya, "Apa yang terjadi denganmu, wahai Tsumamah, apakah engkau murtad dari agama nenek moyangmu?"

"Tidak, aku tidak murtad, tetapi aku telah mengikuti sebaik-baiknya agama, yakni agama Muhammad," Kata Tsumamah dengan tegas, lalu melanjutkan, "Aku bersumpah Demi Tuhannya Ka'bah, setelah aku pulang ke Yamamah, tidak akan ada satu butir gandum yang sampai ke Makkah, sebelum kalian mengikuti agama Muhammad."

Kaum Quraisy tak berkutik dengan ancaman tersebut, dan mereka membiarkan rombongan Tsumamah berumrah secara Islami.

Ancaman Tsumamah ternyata bukan hanya gertak sambal, ia melakukan embargo makanan untuk kaum Quraisy, sehingga mengakibatkan penderitaan dan kesulitan makanan di Makkah, bahkan bencana kelaparan mulai menjadi-jadi. Tentu mereka amat berat untuk memeluk Islam seperti “persyaratan” yang diminta Tsumamah. Tetapi mereka menemukan pilihan lain, para pimpinan Quraisy datang ke Madinah, meminta tolong kepada Nabi SAW agar Tsumamah menghentikan embargo makanannya ke Makkah. Mereka meminta atas nama kekerabatan dan kemuliaan akhlak beliau, yang suka menolong dan menyambung silaturahmi. Nabi SAW pun menulis surat kepada Tsumamah untuk mengirimkan bantuan makanan lagi bagi penduduk Makkah.

Setelah menerima surat Nabi SAW, Tsumamahpun langsung mematuhinya. Padahal sebenarnya ia menginginkan agar mereka memeluk Islam dahulu baru ia memberikan bantuan makanan itu. Tetapi kecintaan dan ketaatannya kepada Rasulullah SAW mengalahkan keinginannya sendiri. Makkahpun selamat dari bencana kelaparan.

Ketika Musailamah al Kadzdzab mendakwahkan dirinya sebagai nabi di Yamamah, saat itu Nabi SAW masih hidup, Tsumamah menentangnya dengan keras. Musailamah yang juga pembesar Bani Hanifah itu akhirnya menjadi pemimpin dari orang-orang yang murtad sekaligus menjadi nabinya.

Ketika Nabi SAW wafat, semakin banyak orang menjadi pengikutnya dan kekuatannya makin besar, Tsumamah-pun berseru lantang kepada kaumnya, "Hai Bani Hanifah, ini adalah perbuatan orang-orang yang dzalim. Kecelakaan besar dari Allah bagi orang-orang yang mengikuti Musailamah, dan ujian bagi orang yang tidak mengikutinya. Hai Bani Hanifah, tidak akan ada dua nabi dalam masa yang sama, dan tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW."       

Kemudian Tsumamah bersama orang-orang yang masih teguh dengan keislamannya memerangi pasukan Musailamah, sehingga akhirnya ia syahid dalam memerangi nabi palsu yang masih kerabatnya tersebut. 

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger