Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post

MBAH KH.WAHAB CHASBULLOH PECINTA SEPAK BOLA JUGA PENDIRI KLUB SEPAK BOLA

SIAPA SANGKA JIKA MBAH KH.WAHAB CHASBULLOH PECINTA SEPAK BOLA JUGA PENDIRI KLUB SEPAK BOLA

(oleh : Farid Alfarisi)

Banyak yang mengetahui bahwa KH.Wahab Chasbulloh adalah salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul ulama' (NU). Mbah Wahb juga dikenal sebagai seorang pendekar tangguh. Seorang Kiai Khos dengan segudang ilmu, sepak terjang Mbah Wahab dalam kancah percaturan pegerakkan kemerdekaan Indonesia sudah tidak diragukan lagi.

Bahkan Mbah Wahab juga menjadi motor dalam pegerakkan kemerdekaan Indonesia melalui Resolusi Jihad Rais Akbar PBNU KH Hasyim 'Asy'ary. Soal ilmu agama dan Politik, sosok kiai ini sudah tidak ragukan lagi. Tapi siapa sangka jika Mbah Wahab juga penggemar olah raga, terutama sepak bola. Hal ini dibuktikan bahwa Mbah Wahab adalah pendiri dan pemilik Club sepakbola ternama di Kabupaten Jombang.

Saksi sejarah sepak terjang Mbah Wahab  ini diceritakan oleh Kang Rozi dan Dulmanan. Dua orang ini merupakan pemain sepakbola di club yang didirikan oleh KH Wahab Chasbulloh. Di era tahun 1950an, warga Desa Tambakberas dan Santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum diarahkan untuk giat dalam olahraga. Saat itu pertama kali nama club tersebut adalah Himpunan Muslimin (HM). Kemdian, oleh Mbah Wahab Club tersebut diganti dengan nama Harimau (HM). Kemudian Club ini berganti nama menjadi Harapan Muda (HM) dan sampai sekarang klub sepakbola tersebut masih eksis dengan nama Persatuan Sepakbola Harapa Muda yang berkantor di Lapangan Tambakberas, Kecamatan Jombang. Tepatnya, sebelah utara Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang.

Kang Rozi saat itu berada dalam posisi sebagai Pemain club Harapan Muda di era tahun 1963 dan Dulmanan di posisi Kiper. Ada lagi Mbah Romli dan Mbah Pagi yang merupakan pengurus club sepakbola bentukkan Mbah Wahab itu. Sayangnya, Mbah Romli dan Mbah Pagi sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Dari penuturan Kang Rozi, Klub HM sangat kuat dan sulit bagi lawan-lawannya untuk mengalahkannya. Ia masing ingat ketika pertandingan Club HM melawan Club HW (salah satu klub sepakbola milik Ormas Muhammadiyah).  Kedua Klub ini memang sering bertandig meski hanya untuk laga uji coba bahkan juga bertemu dalam pertandingan resmi.

Kembali ke cerita pertandingan antara HM dan HW. Pertandingan kedua klub ini digelar di Lapangan Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang yang notabene adalah kandang dari Klub HW. Hampir semua penonton menjagokan HW dalam pertandingan itu. Kata Kang Rozi, jalannya pertandingan berjalan alot karena kedua tim sama-sama kuat.

Rupanya dalam pertandingan itu, strategi tim, teknik pemain sama-sama kuat hingga pemian dan Official HM mulai gelisah. Kemudian,  sebelum pertandingan berakhir, salah satu offical bernama Mat Badal diminta pulang ke Tambakberas untuk menemui Mbah Wahab dan menceritakan pertandingan yang berlangsung saat itu. Sekembalinya dari bertemu Mbah Wahab, Mat Badal kembali ke Lapangan Pulo Lor. Saat itu, Mat Badal diberi oleh Mbah Wahab sebutir kerikil untuk dilemparkan ke Lapangan tempat pertandingan.

Singkat cerita, setelah kerikik dilempar, HM pun bisa membobol gawang HW. Keanehan pun terjadi, saat ditendang menjebol gawang HW, tiba-tiba bola tersebut meletus.Kejadian aneh itu, boleh percaya atau tidak. "Boleh ditanyakan kepada saksi dan kiper HM pada waktu itu yaitu Dul manna yang sampai sekarang masih hidup mudah-mudahan  tidak pikun(sakit ingatan karena usia) pertandingan begitu ketat dan hasil akhir pertandingan itu dimenangkan oleh HM dengan sekor 0-1 . Yg tidak kalah menarik dari pertandingan itu adalah begitu bersahabatnya kedua tim HW dan HM," tutur Kang Rozi.

Kedua tim sangat menjunjung tinggi sportifitas, begitu juga suporternya meskipun tuan rumah kalah tapi tetap menghargai dan menghotmati hasil dari pertandingan. Padahal di zaman itu bentrok pemain serta tawuran suporter sangat sering dilakukan oleh sejumlah club di Jombang. Namun tidak bagi HM dan HW.

Ini sejarah perjuangan KH. Wahab chasbullah dimasyarakat dan masih banyak perjuangan beliau yg belum kita ketahui semoga kita bisa menjaga dan meneruskan perjuangan beliau.

4 comments

Tangisan Iblis

ﺃﻥ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﺭﻥ ﺃﺭﺑﻊ ﺭﻧﺎﺕ : ﺭﻧﺔ ﺣﻴﻦ ﻟﻌﻦ، ﻭﺭﻧﺔ ﺣﻴﻦ ﺃﻫﺒﻂ ﺍﻟﻰ ﺍﻷﺭﺽ، ﻭﺭﻧﺔ ﺣﻴﻦ ﻭﻟﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺭﻧﺔ ﺣﻴﻦ ﺃﻧﺰﻟﺖ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ “

Sesungguhnya Iblis berteriak sambil menangis pada empat kejadian:
  1. ketika ia dilaknat oleh Allah
  2. ketika ia diusir ke bumi
  3. ketika Rasulullah dilahirkan
  4. Ketika surat al-Fatihah diturunkan

“ (Disebutkan oleh Syaikh Ibnu Muflih dari Ibn Mukhlid yang mengisahkan kisah ini dari Hasan al-Bashri) Ketika umat Islam menyambut gembira hari kelahiran Nabi dgn memperingati Maulid Nabi dan mengisinya dg kegiatan yg hasanah; bersedekah, membaca sirah an-Nabawiyah, Ta'lim dan berbagai macam kegiatan lainya, namun ada sebagian orang yg risih dan hatinya terasa diiris iris sehingga dia beteriak "Maulid Nabi Haram, Bid'ah dan masuk neraka pelakunya".

0 comments

Sejarah Syekh Siti Jenar

==========
Menengok Sejarah Asli Stelh Siti Jenar
==========

Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.

Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.

Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. Kesultanan Malaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani.

Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.

Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:

1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya

2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,

3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara

4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.

Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.

KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:

1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yang masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.

3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.

4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun. Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.

5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama.” Tidak bisa diterima akal sehat.

Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:

1. Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]

2. Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]

3. Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]

Wahai kaum muslimin...melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemansory yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati....jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.

Sumber dari akun FB berbama Guz Ud

0 comments

Khutbah Maulid Nabi (Tidak Semua Yang Bershalawat Akan Mendapat Syafaat)

Maulid Nabi (Tidak Semua Yang Bershalawat Akan Mendapat Syafaat)

Khutbah Jum’at Oleh KH. A. Musta’in Syafi’i

Ada dua kalam yang pembacaannya dianggap berpahala. Pertama, kalaamulloh Al Quran Al Karim sebagai kalam yang literat. Al Muta’abbadu bitilawatih, siapapun yang membaca Al Qur’an tanpa ngerti maksudnya maka pembacaan itu sudah dihitung ibadah. Dibawah itu (kedua) adalah pembacaan sholawat kepada hadroturrosul Nabiyulloh Muhammad ahollallohu’alaihi wasallam. Tidak perlu mengerti detail maknanya. Tidak perlu mengerti arti secara harfiah dari bahasa Arab sholawat itu. Cukup mengreti  bahwa dia sedang membaca sholawat. Sedang showan kehadirat Rosululloh dengan mengedepankan, menyajikan sholawat dan salam. Maka cukuplah itu dianggap membaca sholawat yang berpahala.

Saya yakin bahwa tidak semua orang-orang yang membaca sholawat, seperti kawan-kawan ISHARI (Ikatan Hadroh) mengerti artine kabeh, saya gak yakin. Sama dengan orang yang baca diba’ yang bahasanya sulit, berbahasa saatra. Saya yakin, tidak semua ngerti artine. Opo atfatayyaji rotal ‘lamin iku opo? Mungkin anda tidak mengerti tapi anda tahu kalau anda sedang membaca sholawat. Itu cukup sebagai pembacaan yang dihitung berpahala.

Terkait dengan hari ini sebagai maulidirrosul Nabiyyulloh Muhammad shollallohhu’alayhi wasallam. Ada catatan yang musti direnungkan. Belum pernah Alloh Subhanahu Wata’ala memerintahkan syariat apapun yang didahului dengan keteladanan. Dengan memberikan contoh diriNya sendiri selain perintah membaca sholawat.

Ketika Alloh memerintahkan manusia agar berzakat, atau sholat, haji dan lain-lain, tidak ada pernyataan bahwa Alloh melakukan itu. Namun, begitu memerintahkan membaca sholawat kepada Nabi maka Alloh mencontohkan diriNya sendiri. Apalagi pernyataan itu dilafalkan dengan bahasa yang sangat serius “innalloha wamalaikatahu  yusholluuna ‘alnnabi”. Sesungguhnya Alloh dan para malaikat aktif lebih dahulu membaca sholawat kepada nabi. Setelah Alloh memberi teladan baru memerintahkan kepada kita “Yaa ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi”.

Dari sisi dimensi takbir banyak yang bisa kita ungkap pada ayat ini. Itu artinya kalau kita mau membaca sholawat kepada Hadroturrosul Rosul maka ada etika, ada tata akhlaq dan ada kesopanan. Tata etik ini diperankan sendiri oleh Alloh beserta para malaikat. Alloh sudah membuat contoh, “Ngenelo carane moco sholawat.”

Siapapun tau bahwa Alloh itu Maha Sempurna. Bisa diterka bagaimana etika Alloh saat membaca sholawat kepada Hadroturrosul? Jawabannya, pasti dengan cara yang sangat sopan dan sangat bagus karena Alloh Maha Indah, Maha Berahlaq.

Itu artinya awa’e dewe lek moco sholawat yo nyonto ahlake gusti Alloh. Ketika Alloh itu bersholawat kepada nabi, apa penghormatan Alloh kepada Nabi? Tidak pernah Alloh itu memanggil Nabi Muhammad dengan menyebut nama aslinya. Di Al Qur’an iku gak ono”Ya Muhammad!” Pasti dipanggil dengan gelarnya “Ya ayyuhanNabi, ya ayyuharRosul !”.

Dari segi ini maka penghormatan kepada hadirat beliau itu mutlak barangkali hanya mulut-mulut yang fasik saja, jiwa-jiwa yang tidak bersih saja yang tega menyebut nama Nabi secara njangkat dengan cara mentah-mentah. Lalu diatur kalau memanggil Hadroturrosul maka tidak sama dengan memanggil antar sesama kawan.

Tolong, bagi orang-orang yang membaca sholawat kepada Rosul dengan iringan musik, terbang, dengan iringan apapun. Tidak ada agama itu melarang musik. Tapi tolong kalau sudah membaca sholawat beriringan musik maka bagi pembaca itu yang wajib dikedepankan adalah nilai khudurnya, nilai hadroh, nilai dihadapan rosululloh. Bukan nilai musiknya.! Sehingga orang kalau rumongso membaca sholawat, seakan-akan ada dihadapan Rosul. Jangan cengengesan!, gak sempat senyum-senyum.

Apapun group musiknya mengatas namakan kiyai sopoae. Kalau nampak membaca sholawat kok masih lebih dominan musiknya daripada nilai khudurnya, cengengesannya masih ada,  berarti dia hanya tampil dengan bermusik belum bersholawat secara haqiqi seperti yang dicontohkan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

Bisa saya buatkan sebuah analog. Kalau sampean bicara dihadapan kiyai, sedang nelpon kiyai, apakah anda berbicara dengan cengengesan?, apakah anda berbicara dengan senyum-senyum? Jawabannya tentu tidak. Pasti bicara dengan sopan.

Oleh karena itu para ulama’ menggubah kata-kata dalam sholawat itu ada dua. Pertama, sholawat yang digubah dengan bahasa nasab. Selanjutnya ada sholawat yang digubah dengan bahasa saja’ atau qosidah. Sholawat yang tidak dirancang untuk dilagukan, maka pasti kalau dilagukan itu akan rusak. Begitu pula dengan sholawat yang digubah dengan saja’ pelaguan, memang sudah ada patokannya sendiri.

Kita ambil contonh sholawat yang digubah dirancang untuk qosidah maka semua akan pas sesuai karena memang dirancang seperti itu. Sholawat “Burdah” dengan lagunya yang bagus huwalkhabibulladzi turja syafa’atuhu panjang pendeknya pasti tepat dan pas. Sedangkan sholawat yang oleh pengarangnya sengaja digubah bukan untuk dilagukan bukan untuk syair. Seperti sholawat “nariyah” allohumma sholli sholatan kaamilatan wa sallim salaman taamman digubah tidak untuk dilagukan. Jadi andaikan ada yang mau melagukan tidak akan cocok. Panjang pendeknya rusak. Untung didalam agama itu masih ada toleransi.

Untuk itu sesungguhnya dalam mimbar ini memang saya harus menyampaikan secara tegas sekaligus memberi peringatan. Bahwa belum tentu orang yang membaca sholawat dihadapan rosululloh itu mesti dijawab dengan syafa’at. Saya ingatkan sekali lagi, belum tentu orang yang membaca sholawat dihadapan Hadroturrosul itu mesti dijawab dengan sysafa’at. Barangkali karena rosul tersinggung, penyajian sholawat itu tidak etik.

Belum tentu orang yang menyajikan makanan dihadapan orang tua itu mesti dimakan. Terserah bagaimana caranya dan bahasanya. Kalau dia pakai bahasa yang sopan “mbah ini mbah, monggo dipun dahar mbah!” insya Alloh makanan yang tidak enak pun mbah ngerti “mugo-mugo dibales gusti Alloh” tapi kalau penyajiannya itu membentak “mbah ikilo mbah panganen, pangaen-pangaen!” seenak apapun makanan itu pati si mbah menolak dan tersinggung.

Dalam momen maulid ini saya sampaikan ayat yang mengerikan tentang orang-orang yang membaca sholawat atau berhubungan dengan Hadroturrosul dengan cara yang tidak baik. Seperti ditera dalam ujung suroh An Nur yang menunjukkan bahwa memanggil, berkonsultasi dengan Rosul itu harus bagus, tidak boleh terjadi tahallul yang liwadzah dan seterusnya.

Peringatan bagi orang yang membaca sholawat yang kurang etik sajiannya kurang etik dihadapan Rosululloh falyahdzat! hati-hatilah kalian antushibahum fitnah Anda bukan mendapat syafa’at tapi anda malah tertimpa fitnah. Tafsiran Ulama’ tentang fitnah salah satunya adalah sebuah kenegatifan, hambatan berbuat baik, hambatan ketaqwaan pada diri pembaca sholawat itu.

Kenapa banyak groub-groub musik membaca shoilawat, berjanzi. Tetapi kenapa para pelaku-pelaku itu, musisi-musisi itu tidak bertambah taqwa?padahal membaca sholawatnya sudah dikemas begini-begini. Jawabannya adalah ayat ini “Dia bukan mendapat syafa’at tapi malah mendapat fitnah yang menghambat prestasi taqwanya sendiri. Walaupun dipanggung beraction merem-merem.

Pait memang khutbah ini tapi kalau kita berfikir ingin sembuh maka perlu sesekali kita itu minum pil/obat. Sepait apapun. Mudah-mudahan kita besok bisa bersama Hadroturrosul Nabiyulloh Muhammad Roaululloh Shollallohu’alaihi wasallam.

Dikutib dari Khutbah Jum’at KH. A. Musta’in Syafi’i pada tanggal 26 Pebruari 2010 di Masjid Tebuireng.

0 comments

Syeh Ibrohim Bin Adham dan Doa Mustajabah

Syekh Ibrahim bin Adham saat melewati pasar kota Bashrah, tiba-tiba dikerumuni masyarakat. Di antara mereka ada yang bertanya, "Ya Wali Allah, Apa yang menyebabkan Doa Kita Tidak Diijabahi?"
Syekh Ibrahim Bin Adham pun menjawab, bahwa hal itu disebabkan sepuluh perkara:
1. Kau Tahu Allah tapi kau tidak melaksanakan hak-hak Allah yang wajib bagimu
2. Kau mengaku cinta Rasulullah SAW tapi kau tidak mengikuti sunnahnya
3. Kau baca Al-Qur'an tapi tidak melaksanakan isi al-Qur'an
4. Kau telah merasakan nikmat pemberian Allah tapi kau melupakan syukur dan lupa menambah ketaatan
5. Engkau sadar akan adanya Setan tapi lau setujui ajakannya
6. Engkau yakini bahwa surga benar adanya tapi amalmu bukan ingin masuk surga
7. Engkau yakini neraka benar adanya tapi tidak takut masuk neraka
8. Engkau yakin pasti akan mati tapi kau tidak mempersiapkannya
9. Engkau selalu mecari kesalahan orang lain sejak bangun tidur tapi lupa kesalahan diri sendiri
10. Engkau sering mengikuti dan melihat mayit yang dikubur tapi kau tidak sadar dan mengambil pelajaran

Alih: Moh. Dliya'ul Chaq
Sumber: Mutiara Doa-doa Pinilih

0 comments

Shalat Di Jalan Raya

Bagaimana Hukum Shalat Di Jalan Raya, yaitu jalan raya yang tidak biasa digunakan untuk shalat?

Dalam al-Maushu'ah Al-Fiqhiyah dinyatakan bahwa shalat di jalan raya (jalan yang biasa digunakan masyarakat untuk jalan/lalu lintas) hukumnya makruh menurut jumhur. Illat dimakruhkan adalah karena "menggunakan" hak masyarakat, membuat kondisi jalan sempit sehingga sulit dilewati. Yang kesrmusnya juga akan berdampak pada kemungkinan tidak khusyu'.
Namun jika karena hajat (masjid sempit atau tidak ada tempat lain untuk sholat) maka diperbolehkan.

أن الشرع قد نهى عن الصلاة في قارعة الطريق ، ولكن إذا امتلأ المسجد ، واحتجنا للصلاة في قارعة الطريق فهل يصح ذلك ؟

تكره الصلاة عند جمهور الفقهاء في قارعة الطريق ، وهو المكان الذي يمشي فيه الناس من الطريق .
والعلة في النهي عن الصلاة فيها : أنه يعتدي على حق الناس ، ويضيق عليهم الطريق ، ولأنه يشغل نفسه بالمارين من الناس ، فيقل خشوعه في الصلاة .
ولكن ... إذا احتاج المسلمون للصلاة في قارعة الطريق ، لضيق المسجد ، ولعدم مكان آخر يصلون فيه ، فلا حرج من الصلاة في قارعة الطريق حينئذ .
انظر : "الموسوعة الفقهية" (27 /114) ، (38 /367) .
وقد سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :
إذا ضاق المسجد فما حكم الصلاة في السوق وما يحيط بالمسجد ؟
فأجاب :
" لا بأس بذلك إذا اضطر الإنسان إلى الصلاة في السوق أو في الساحات التي حول المسجد فإن هذا لا بأس به ، حتى الذين يقولون : إن الصلاة لا تصح في الطريق يستثنون من ذلك صلاة الجمعة وصلاة العيد إذا امتلأ المسجد وخرج الناس إلى الأسواق ، والصحيح أنه يستثنى من ذلك كل ما دعت الحاجة إليه ، فإذا امتلأ المسجد فإنه لا بأس أن يصلوا في الأسواق " انتهى من"مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين" (12 /331) .

0 comments

Tak ada Yang Salah Dalam Shodaqoh

Suatu ketika, Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau berkata kepada mereka,

“Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!’ Dan benar, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.
“Akhirnya, kabar tersebut sampai juga kepada pria itu. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

“Maka, pria itu kemudian mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah orang kaya. Sehingga, kejadian itu lagi-lagi menjadi perbincangan khalayak ramai, lalu sampai juga kepada pria yang bersedekah itu.

“Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam,’Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

Maka, dia kemudian, dengan cermat, mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri. Tak lama berselang, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu sampai kepada pria yang bersedekah itu.

Mendengar kabar demikian, pria itu pun mengeluh, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!’

Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu.”

(sebuah hadis yang dituturkan oleh Muslim dan Abu Hurairah)

0 comments

Keadilan Dan Islamnya Yahudi

Amr bin al-'Ash, salah seorang gubernur di daerah mesir pada masa kekhilafahan khalifah Umar Bin Khattab. Abdulloh bin Amr bib Ash terus melakukan perbaikan2 sana sini, termasuk pembangunan rumah dinas gubernur mesir. Design lokasi dan bangunan pun telah final. Dan akhirnya terlaksana dengan baik. Istana megah nan indah milik gubernur Mesir.

Namun, disalah satu sisi depan istana (rumah dinas) itu, ada satu bangunan kecil reot berada di atas tanah luas. Tanah itupun tidak terawat layaknya rumah dan tanah tak bertuan. Pandangan istana gubernur pun menjadi kurang menarik. Selidik punya selidik, tanah dan bangunan itu milik laki2 yahudi tua yang hidup sebatangkara.

Gubernur berkeinginan untuk membeli tanah dan rumh itu. Selain untuk mempercantik pemandangan, sepertinya bahwa si empunya tanah dan rumah itu adalah yahudi merupakan motiv pembelian rumah dan tanah itu. Ternyata, yahudi tua itu tak berkenan tanahnya di beli. Akhirnya negoisasi dan pelipatgandaan harga pun terjadi. Bahkan sampai 15 kali pun, lelaki tua itu tetap bersikukuh karena hanya rumah dan tanah itulah peninggalan orang tua yang tersisa. Kondisi seperti ini membuat gubernur geram, akhirnya gubernur secara paksa merebut tanah dan rumah itu dengan ganti rugi 15 kali lipat walaupun si yahudi tua itu sama sekali tidak mau.

Merasa dirinya didzolimi oleh gubernur Mesir, maka ia pun berinisiatif untuk menemui khalifah Umar Bin Khattab yang dikenal adil. Berharap ia mendapat keadilan. Dengan jalan kaki dari Mesir menuju Madinah, akhirnya ia menemui seorang laki-laki yg tidur-tiduran di depan bangunan yang katanya kantor khalifah di bawah pohon kurma tanpa alas apapun. Laki2 tua itu pun bertnya, "Wahai kisanak, aku ingin menemui Umar Bin Khattab".
Laki2 yg tidur tadi sambil sedikit tertawa, "Ya , Engkau telah menemuinya."
Yahudi tua terdiam kagum, betapa khalifah Islam yang terkenal adil itu hidupnya sangat sederhana.
"Ada apa wahai pak tua?" Sang Khalifah melanjutkan..
Orang tua itu menjawab, "Aku adalah yahudi yang telah didzolimi oleh gubernur Mesir." Lelaki tua itu menceritakan secara detail kejadian itu. Lalu Khalifah Umar meminta kepada yahudi tua itu untuk mencarikan tulang onta di tempat sampah. Walaupun terheran, lelaki tua iti tetape mencari tulang unta. Dan diberikanlah pada khalifah Umar. Lalu sang khalifah menggaris tulang itu dengan pedang. Garis lurus atas bawah dan garis lurus menyamping. Setelah itu khalifah berkata, "Berikanlah ini pada gubernur itu. Sampaikan bahwa ini dari Umar Bin khattab". Sambil heran karena jauh2 mesir hanya diberi tulang onta, yahudi tua itu berjalan kembali ke mesir menemyi gubernur mesir.

Saat gubernur Amr Bin Ash dengan beberapa tenaga sedang asyik membangun masjid di atas tanah milik yahudi tua itu, yahudi itu memberikan tulang itu pada sang gubernur dan menyampaikan bhwa ini dari Khalifah Umar Bin Khttab. Seketika itu, sang gubernur gemetar tubuhnya sambil berteriak, "Robohkanlah bangunan ini. Karena kita harus bertindak adil sebagaimana perintah sang Khalifah. Dan kita telah bertindak tidak adil. Kembalikanlah pada bentuk semula."

Yahudi tua benar2 takjub dengan keadilan dalam Islam. Takjub dengan keadilan Sang Khalifah Umar Bib Khttab. Betapa keadilan benar2 mampu merubah segalanya. Lalu yahudi itu berteriak, "Berhentikah kalian!! Hari ini aku benar2 melihat keadilan Islam dan keadilan sang Khalifah. Maka lanjutkanlah pembangunan masjid ini, karena saksikanlah bahwa detik ini aku menyatakan Asyhadu An Laailaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrosulullah".

Sebhanalloh. Betapa keadilan dapat membuat orang takjub pada Islam dan menyatakan keislamanny.

0 comments

KEUTAMAAN SHALAT JAMAAH DAN KEHEBATAN ULAMA'

KEUTAMAAN SHALAT JAMAAH DAN KEHEBATAN ULAMA'
(Ngaji Malam Minggu NU Tambakberas Jombang)

Itulah ulama'. Mereka yang benar2 memahami, melaksanakan dan meyakini betul ajaran Islam bahkan dalam tataran hikmahnya. Hingga dg beribu cara santun mampu merubah keadaan manusia atas izin Alllah.

Alkisah, ada preman yg jatuh hati pada wanita cantik istri dari seorang ulama' muda. Dalam hatinya, ia sangat berharap agar ulama' itu segera meninggal dunia hingga kelak ia dapat menikahi bekas istri ulama' itu. Bertahun-tahun menunggu taqdir kematian ulama', namun Allah menentukan lain. Tak tahan menahan keinginannya, akhirnya preman itu mendatangi ulama' itu dan mengatakan keinginannya untuk menikahi istri ulama' itu.

Sama sekali tidak ada kemarahan dalam diri ulama' muda itu. Dengan santun ulama' itu memberikan syarat pada sang preman, "jika kamu benar2 ingin menikahi istriku, maka kamu harus hidup bersamaku dan mengikuti aktifitasku selama 40 hari". Tentu saja syarat itu langsung disetujui sang preman.

Sampai di hari ke 40, sang ulama' menanyakan ulang tentang keinginan menikahi istrinya pada  preman itu. Dan trnyata sudah tidak ada lagi nafsu liar itu dalam diri sang preman. Sifat2 buruk telah hilang berganti sifat2 terpuji. Benar2 terpuji! Bukan sebuah kemunafikan yg dibungkus dengan "keterpujian". Karena selama 40 hari bersama ulama' itu, ia telah beraktifitas layaknya ulama muda itu. Yaitu SHALAT ber-JAMA'AH tanpa pernah tertinggal sekalipun dan BERSABAR dalam menjalani kehidupan. Maka pertolongan Allah pun datang.

(وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ)
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.

عن أنس بن مالك ـ رضي الله عنه ـ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ   النِّفَاقِ
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbir pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).

مَنْ وَاظَبَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لا تَفُوْتُهُ رَكْعَةٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا بَرَاءَتَيْنِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ
”Siapa yang menekuni (menjaga dengan teratur) shalat-shalat wajib selama 40 malam, tidak pernah tertinggal satu raka’atpun maka Allah akan mencatat untuknya dua kebebasan; yaitu terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan.” (HR. Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman, no. 2746).

----------------------------------------------------------------------

Ah...
Betapa sayangnya Guru Kami (KH. Moh. Djamaluddin Ahmad Jombang) pada kami semua hingga tidak henti2nya beliau mengingatkan bahkan "ngobraki" agar kami bisa selalu shalat jama'ah. Teringat saat usia 9 th, itulah saat pertama dan terakhir mendapatkan marah dan cubitan ayah saat aq tidak shalat jamaah ashar di masjid. Terimakasih Tuhan.... kau pertemukan kami dengan beliau-beliau.

Ampuni kami yang telah sering meninggalkan shalat jama'ah. Bahkan kami telah melupakanMu saat kami harus mengingatMu. Ya Allah... Ridloilah Kami..... Taqdirkanlah kami dan anak turun kami sebagai ahli shalat jama'ah sebagaiamana kau taqdirkan orang tuaku dan guru kami..... AMIIN.

0 comments

Shalawat Nariyah

Sholawat Nariyah

Mulanya, ia bernama Sholawat Tafrijiyah. Namun, nampaknya sejarawan mempunyai data yang berlainan. Karena di teks yang berbeda, ditemukan bahwa sholawat ini dahulu bernama Taziyah, yang bermula dari penisbatan muasal teks sholawat ini kepada syaikh Ibrahim at-Taziy. Namun pada perkembangannya, ia lebih dikenal dengan “Nariyah”. Mengapa? Di titik ini, perselisihan para sejarawan kembali mengemuka. Di satu kisah, Taziyah bertransformasi menjadi Nariyah hanya sebatas tahrif, memutar kata dengan perubahan pada ‘titik’nya. Di kisah lain, Nariyah muncul sebagai sesuatu yang lebih historis. segolongan Islam di Maroko, ketika ingin mendapatkan yang dikehendaki sekaligus menghindari yang dibenci, mereka segera berkumpul dalam satu majelis. Di dalamnya, mereka membaca shalawat ini sebanyak 4.444 kali. Dus, yang diharapkan akan terwujud segera, bagai api (an-nâr) ketika membakar. Dari kata an-nâr inilah nama Nariyah bermula.

Bacaan Sholawat Nariyah yang didapat oleh Sayyid Muhammad Haqqy an-Nazily dari beberapa gurunya sebagai berikut:

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِـــــــيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَ سَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِى تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَ تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَ تُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَ حُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَ عَلىٰ آلِهِ وِ صَحْبِهِ

Ketika kemudian syaikh an-Nazily menerima ijazah sholawat serupa dari Sayyid Muhammad as-Sanusi di gunung Abi Qubais, ada beberapa kalimat yang ditambahkan di akhir sholawat:

فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Sholawat yang telah ditambah inilah yang sampai turun temurun kepada kita.

Mengenai lafadz مُحَمَّدٍ, sebagian ulama menengara bahwa ada yang lebih indah pengungkapannya, yakni dengan menambah lafadz النبى setelah مُحَمَّدٍ.

Adapun terhadap faedah sholawat Nariyah, ulama memberi beberapa rumusan yang erat kaitannya dengan seberapa banyak sholawat itu diulang. Diantaranya:

Ketika dibaca setiap hari sebelas kali, rizki akan turun dari langit dan tumbuh dari bumi. (Syaikh Muhammad at-Tanusi)
Ketika dibaca setiap selepas shalat sebelas kali, rizki tidak akan terputus dan memperoleh derajat yang tinggi. (Imam Ad-Dainuri)
Ketika dibaca setelah salat subuh 41 kali, apa yang diinginkan akan terwujud.
Ketika dibaca sehari seratus kali, akan terwujud harapan, bahkan lebih dari yang diangankan.
Ketika dibaca sehari 313 kali dengan niat membuka tabir rahasia, ia akan melihat segala hal yang menjadi harapan-harapannya.
Ketika dibaca setiap hari 1.000 kali, maka baginya perkara yang tak bisa dibayangkan oleh siapapun (mâ lâ ain ra’at wa lâ udzun sami’at wa lâ khathr fi qalb basyar/yang tak terindera mata, tak terdengar telinga, dan tak terbesit di hati manusia).
Di lain kesempatan, Al-Qurthubi, sebagaimana yang juga ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, memberikan satu bilangan khusus untuk membaca sholawat ini, yakni 4.444. Ketika dibaca sebanyak bilangan itu dan disertai dengan tawasul kepada Nabi saw., maka segala harapan, bahkan yang besar pun akan terwujud. Juga, seluruh cobaan (bala’) akan dihindarkan. Wallahu a’lam.][

Pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah Untuk Keselamatan Bangsa dilaksanakan pada Jum’at malam Sabtu, 21 Muharram 1438 H./ 21 Oktober 2016 M. di sembilan titik.

0 comments

Durhaka Kepada Guru

DURHAKA KEPADA GURU

Dikisahkan belasan tahun lalu seorang santri yang sedang nyantri di rubat tarim yang saat itu diasuh habib abdulloh assyatiri, dia dikenal sangat Alim hingga mampu menghafal kitab tuhfatul muhtaj 4 jilid. siapa tak kenal dia?? Semua tau bahwa ia sangat Alim bahkan diprediksi sebagai calon ulama besar.

Nah, Suatu hari disaat habib abdulloh mengisi pengajian rutin santri, tiba tiba habib bertanya tentang santri yang sangat terkenal Alim itu. "Kemana si fulan???" Semua santri bingung menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata santri yang dimaksud tidak ada di pondok melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota mukalla tanpa izin.

Akhirnya habib abdulloh assyatiri yg sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata :"baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap disini!!!".

Di kota mukalla, santri yang sudah terkenal Alim tersebut sudah di nanti nantikan para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di masjid omar mukalla.

Singkat cerita si santri ini pun maju kedepan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Allohu akbar !!! Ternyata, setelah membaca amma ba'du si Alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan kitab paling kecil sekelas Safinah pun tak mampu ia ingat sedikitpun....

Sontak dia tertunduk dan menangis.. para hadirin pun heran, "Ada apa ini???",, akhirnya Salah satu Ulama kota mukalla pun menghapirinya dan bertanya; "Saudara mengapa begini??? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?".

Dia menjawab : "aku keluar tanpa izin habib dari pesantren." Dia terus menangis , dan Beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf kepada Habib..

Parahnya dia dengan sombong tidak mau meminta maaf!!. Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang perduli padanya, bahkan hidupnya setelah itu sangat miskin dan terlunta lunta dengan menjual daging ikan kering.

Dan disaat ia meninggal,dia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirx diberi oleh seseorang.

"Santri Yang Manfaat...Bukanlah Yang Paling Banyak Hafalannya, Yg Paling Bagus Penjelasan Kitabnya, Yang Selalu Juara Kelas.....Tapi Santri Yang BerManfaat Yang Paling Hormat dan Taat Kepada Gurunya...Dan Menganggap Dirinya Bkn Siapa-siapa Di Hadapan Gurunya..."

Semga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah diatas di beri hati yang tawaddu' patuh terhadap guru guru kita sehingga kita mendapat berkahnya.... Amiin

*SELAMAT MENYAMBUT HARI SANTRI 22 OCTOBER 2016*

0 comments
Pemimpin Non Muslim
Oleh Moh. Dliya'ul Chaq

Saat ditulis artikel ini, ramai perbincangan tentang pemimpin non muslim karena saat ini (Oktober 2016) sedang ramai-ramainya bursa calon Gubernur DKI yang salah satu kandidatnya adalah Non Muslim. Politik yang berbau primordial mulai bermunculan. Kondisi yang lebih meresahkan lagi ketika hukum Islam, ayat al-Qur'an dan Hadits mulai dimunculkan oleh beberapa tokoh agama Islam, entah benar-benar objektif atau sebuah justifikasi politis. Keresahan inilah yang melatarbelakangi artikel ini dimunculkan. Sadar bahwa mungkin artikel ini tidak akan dilihat oleh banyak orang. Namun sebuah harapan mmungkin suatu saat akan berguna bagi siapapun yang membutuhkan.
Berdasarkan penulusaran penulis, para ahli hukum Islam (Fuqaha'), para ahli hadits (muhaddits) dan para ahli tafsir al-Qur'an (mufassir) baik salaf maupun khalaf nyatanya telah berbeda pendapat tentang hukum Non Muslim sebagai pemimpin bagi masyarakat Muslim (Refrensi dan Redaksinya dari para fuqaha' akan disajikan di akhir artikel ini). Sebenarnya jika melihat legalitas hukum (Islam) yang ada, masyarakat muslim tidak perlu "bertikai" terkait masalah hukum pemimpin non Muslim karena telah terdapat pilihan hukum hasil ijtihad ulama', yaitu boleh dan tidak boleh. Jadi fiqh telah sepakat menyatakan tidak sepakat. Mengapa harus bertikai dan beradu dalil ketika telah ada jawaban.
Dengan demikian, otoritas memilih telah berada di tangan rakyat. Dan apapun pilihannya, tidak ada yang berdosa dalam kacamata hukum Islam. Hanya saja menurut hemat penulis, para pemilih harus benar-benar selektif, jernih dan penuh pertimbangan dalam menentukan pilihannya. Pertimbangan tentang kredibiltas dan prediksi dampak positif-negatif secara umum atau khusus (maslahah 'ammah maupun maslahah khashshah) jika pemimpin non muslim terpilih harus menjadi acuan utama dalam menentukan pilihannya. Inilah yang paling penting bagi masyarakat muslim Indonesia.
Namun demikian, penulis sangat yakin bahwa perbedaan umat Islam Indonesia dalam menentukan pilihannya pasti akan berdampak positif bagi umat Islam secara umum. Betapa bisa dibayangkan jika tidak ada orang Islam yang "dekat" atau "mendekat" terhadap calon pemimpin non muslim yang ternyata calon non mslim tersebut terpilih. Siapa yang akan "mengawal" Islam dalam pemerintahan pimpinan non muslim itu. Oleh karenanya, tak perlu lagi bertikai dalam makna yang sebenarnya. jadikanlah "pertikaian" ini sebagai panggung sandiwara politik umat Islam. Hingga kita akan tahu, siapa lawan dan siapa kawan, siapa yang benar-benar atas nama Islam dan siapa yang mengatasnamakan Islam.

Lihat hasil bahtsul masail PCNU Surabaya 2016 Tentang Pemimpin Non Muslim:
http://eksplorasiilmupengetahuan.blogspot.co.id/2016/10/hasil-bahtsul-masail-pcnu-surabaya.html?m=1

Berikut Redaksi dari Refrensi Tentang Pemimpin Non Muslim

-          Tuhfah al-Muhtaj dan Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 72
(ولا يستعان عليهم بكافر ) ذمي أو غيره إلا إن اضطررنا لذلك
قول المتن: ولا يستعان إلخ) أي يحرم ذلك اه. سم, عبارة المغني والنهاية: (تنبيه) ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة
-          Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 73
نعم ان قتضت المصلحة توليته في شىء لا يقوم به غيره من المسلمين او ظهر من المسلمين خيانة و امنت في ذمي فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه، و مع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته و منعه من التعرض لاحد من المسلمين
-          Kanz al-Raghibin dan Hasyiyah al-Qulyubi, Jilid IV, h. 156
(ولا يستعان عليهم بكافر) لأنه يحرم تسليطه على المسلمين (قوله: ولا يستعان) فيحرم إلا لضرورة
-          Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 22-23
والوزارة على ضربين وزارة تـفويض ووزارة تـنـفيذ. اما وزارةالتـفويض فهى ان يستوزر الإسلام من يفوض اليه تدبـير الأمور برأيه وإمـضاء ها على اجتـهاده
-          Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 43
(فَصْلٌ) وَأَمَّا وَزَارَةُ التَّنْفِيذِ فَحُكْمُهَا أَضْعَفُ وَشُرُوطُهَا أَقَلُّ، لِأَنَّ النَّظَرَ فِيهَا مَقْصُورٌ عَلَى رَأْيِ الْإِمَامِ وَتَدْبِيرِهِ. وَهَذَا الْوَزِيرُ وَسَطٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الرَّعَايَا وَالْوُلَاةِ يُؤَدِّي عَنْهُ مَا أَمَرَ وَيَنْفُذُ عَنْهُ مَا ذَكَرَ وَيُمْضِي مَا حَكَمَ وَيُخْبِرُ بِتَقْلِيدِ الْوُلَاةِ وَتَجْهِيزِ الْجُيُوشِ وَيَعْرِضُ عَلَيْهِ مَا وَرَدَ مِنْ مُهِمٍّ وَتَجَدَّدَ مِنْ حَدَثٍ مُلِمٍّ، لِيَعْمَلَ فِيهِ مَا يُؤْمَرُ بِهِ. فَهُوَ مُعِينٌ فِي تَنْفِيذِ الْأُمُورِ وَلَيْسَ بِوَالٍ عَلَيْهَا وَلَا مُتَقَلِّدًا لَهَا. وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَقُومَ بِذَلِكَ امْرَأَةٌ وَإِنْ كَانَ خَبَرُهَا مَقْبُولًا لِمَا تَضَمَّنَهُ مَعْنَى الْوِلَايَاتِ الْمَصْرُوفَةِ عَنْ النِّسَاءِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ: مَا أَفْلَحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إلَى امْرَأَةٍ. وَلِأَنَّ فِيهَا مِنْ طَلَبِ الرَّأْيِ وَثَبَاتِ الْعَزْمِ مَا تَضْعُفُ عَنْهُ النِّسَاءُ، وَمِنَ الظُّهُورِ فِي مُبَاشَرَةِ الْأُمُورِ مَا هُوَ عَلَيْهِنَّ مَحْظُورٌ. وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هَذَا الْوَزِيرُ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وَزِيرُ التَّفْوِيضِ مِنْهُمْ.
-          Tafsir Ayat Ahkam I/403
الحكم الثالث : هل يجوز تولية الكافر واستعماله في شؤون المسلمين ؟
استدل بعض العلماء هذه الأيات الكريمة على أنه لا يجوز تولية الكافر شيئا من أمور المسلمين ولا جعلهم عمالا ولا خداما كما لا يجوز تعظيمهم وتوقيرهم في المجلس والقيام عند قدومهم فإن دلالته على التعظيم واضحة وقد أمرنا باحتقارهم (إنما المشركون نجس). اهـ.
-          Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu 6/693
أما اشتراط الإسلام فلأنه يقوم بحراسة الدين والدنيا. وإذا كان الإسلام شرطا في جواز الشهادة فهو شرط في كل ولاية عامة لقوله تعالى (ولن يجعل الله الكافرين على المؤمنين سبيلا)
-          Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu 8/342
الفرق بين الوزارتين: ذكر الماوردي فروقا ثمانية بين الوزارتين، أربعة منها تتعلق بالشروط، والأربعة الأخرى بالصلاحيات. أما الفروق العائدة للشروط والمؤهلات فهي: 1 – الحرية: مطلوبة في وزارة التفويض، وغير مطلوبة في وزارة التنفيذ. 2 – الإسلام: مطلوب في وزارة التفويض، دون التنفيذ. 3 – العلم بالأحكام الشرعية (الاجتهاد): مطلوب في وزارة التفويض لا التنفيذ. 4المعرفة بشؤون الحرب والاقتصاد كالخراج: مطلوبة في وزارة التفويض لا التنفيذ.
-          Hasyiyah al-Jamal 4/188
وكذا يحرم نصه في شيئ من أمور المسلمين نعم إن اقتضت المصلحة توليته شيئا لا يقوم به غيره من المسلمين أو ظهر ممن يقوم به من المسلمين خيانة وأمنت في ذمي ولو لخوفه من الحكم مثلا فلا يبعد توليته فيه لضرورة والقيام بمصلحة ما ولى فيه ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استيلاء على المسلمين. اهـ
-          Al-Talkhish libni Hajar
ولايسـتـعان عليهم بكافر ذمي او غيره إلا إن اضطررنا لذلك. ظاهر كلامهم ان ذلك لا يجـوز ولو دعت الضرورة. لكنه فى التتمة صرح بجواز الإستعانة به اى الكافر عند الضرورة
أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج إلى بدر ، فتبعه رجل من المشركين ، فقال : تؤمن بالله ورسوله ؟ قال : لا ، قال : فارجع فلن نستعين بمشرك
خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى إذا خلف ثنية الوداع ، إذا كتيبة قال : من هؤلاء ؟ قالوا : بني قينقاع رهط عبد الله بن سلام ، قال : وأسلموا ؟
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم استعان بناس من اليهود في حربه ، وأسهم لهم
أنه صلى الله عليه وسلم استعان بيهود بني قينقاع في بعض الغزوات ، ووضع لهم
ويجمع بينه وبين الذي قبله بأوجه ذكرها المصنف ، منها : وذكرها البيهقي عن نص الشافعي : { أن النبي صلى الله عليه وسلم تفرس فيه الرغبة في الإسلام ، فرده رجاء أن يسلم فصدق ظنه } وفيه نظر من جهة التنكير في سياق النفي ، ومنها : أن الأمر فيه إلى رأي الإمام ، وفيه النظر بعينه ، ومنها : أن الاستعانة كانت ممنوعة ، ثم رخص فيها وهذا أقربها ، وعليه نص الشافعي .
-          Al-Mughni al-Muhtaj 408
عبارة المغني والنهاية ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة وقال الأذرعي وغيره أنه المتجه اهـ. قول المتن بكافر أي لأنه يحرم تسليطه على المسلم نهاية ومنهج زاد المغني ولذا لا يجوز لمستحق القصاص من مسلم أن يوكل كافرا في استيفائه ولا للإمام أن يتخذ جلادا كافرا لإقامة الحدود على المسلمين اهـ. وقال ع ش بعد نقل ما ذكر عن الزيادي أقول وكذا يحرم نصبه في شيء من أمور المسلمين نعم إن اقتضت المصلحة توليته في شيء لا يقوم به غيره من المسلمين أو ظهر فيمن يقوم به من المسلمين خيانة وأمنت في ذمي ولو لخوفه من الحاكم مثلا فلا يبعد جواز توليته فيه لضرورة القيام بمصلحة ما ولي فيه ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استعلاء على المسلمين اهـ
ولا يستعان عليهم بكافر ) ولو ذميا ؛ لأنه يحرم تسليطه على المسلم ، ولأن القصد ردهم للطاعة ، والكفار يتدينون بقتلهم ، نعم يجوز الاستعانة بهم عند الضرورة كما نقله الأذرعي وغيره عن المتولي وقالوا : إنه متجه ، وعلم أنه لا يجوز له أن يحاصرهم ويمنعهم الطعام والشراب ( ولا بمن يرى قتلهم مدبرين)   لعداوة أو اعتقاد كالحنفي والإمام لا يرى ذلك إبقاء عليهم ، فلو احتجنا للاستعانة به جاز إن كان فيه جراءة وحسن إقدام وتمكنا من منعه لو اتبع منهزما ، والأوجه أن ما ذهب إليه الإمام زيادة على ذلك من أن نشترط ذلك عليهم ونثق بوفائهم به ليس بشرط ؛ إذ في قدرتنا على دفعهم غنية عن ذلك
-          Tuhfatul Muhtaj wa Hawasyi al-Syarwani 9/298-299
وَيُمْنَعُونَ مِنْ حَمْلِ السِّلَاحِ ، وَتَخَتُّمٍ ، وَلَوْ بِفِضَّةٍ ، وَاسْتِخْدَامِ مَمْلُوكٍ فَارِهٍ كَتُرْكِيٍّ ، وَمِنْ خِدْمَةِ الْأُمَرَاءِ كَمَا ذَكَرَهُمَا ابْنُ الصَّلَاحِ وَاسْتَحْسَنَهُ فِي الْأُولَى الزَّرْكَشِيُّ ، وَمِثْلُهَا الثَّانِيَةُ ، بَلْ أَوْلَى. (قَوْلُهُ: وَمِنْ خِدْمَةِ الْأُمَرَاءِ) مَصْدَرٌ مُضَافٌ لِمَفْعُولِهِ، وَالْمُرَادُ بِخِدْمَتِهِمْ إيَّاهُمْ الْخِدْمَةُ بِالْمُبَاشَرَةِ ، وَالْكِتَابَةِ ، وَتَوْلِيَةِ الْمَنَاصِبِ ، وَنَحْوِ ذَلِكَ كَمَا هُوَ ، وَاقِعٌ وَلِلسُّيُوطِيِّ فِي ذَلِكَ تَصْنِيفٌ حَافِلٌ ا هـ . رَشِيدِيٌّ عِبَارَةُ ع ش أَيْ : خِدْمَةٍ تُؤَدِّي إلَى تَعْظِيمِهِمْ كَاسْتِخْدَامِهِمْ فِي الْمَنَاصِبِ الْمُحْوِجَةِ إلَى تَرَدُّدِ النَّاسِ إلَيْهِمْ ، وَيَنْبَغِي أَنَّ الْمُرَادَ بِالْأُمَرَاءِ كُلُّ مَنْ لَهُ تَصَرُّفٌ فِي أَمْرٍ عَامٍّ يَقْتَضِي تَرَدُّدَ النَّاسِ عَلَيْهِ كَنُظَّارِ الْأَوْقَافِ الْكَبِيرَةِ ، وَكَمَشَايِخِ الْأَسْوَاقِ ، وَنَحْوِهِمَا ، وَأَنَّ مَحَلَّ الِامْتِنَاعِ مَا لَمْ تَدْعُ ضَرُورَةٌ إلَى اسْتِخْدَامِهِ بِأَنْ لَا يَقُومَ غَيْرُهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ مَقَامَهُ فِي حِفْظِ الْمَالِ ا هـ .
-          Al-Faruq 4/257
الشرط في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر (المسئلة السادسة) قولنا في شرط الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ما لم يؤدي إلى مفسدة هي أعظم. وهذه المفسدة قسمان تارة تكون إذا نهاه من منكر فعلى ما هو أعظم منه غير الناهي وتارة يفعل في الناهي بأن ينهاه عن الزنا فيقتله أعني الناهي يقتله الملابس للمنكر. اهـ
-          Al-Siyâsah Al-Syar’iyyah 10:
فإن الولاية لها ركنان : القوة والأمانة . كما قال تعالى : { إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ } (سورة القصص : من الآية 26) . وقال صاحب مصر ليوسف عليه السلام : { إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ } (سورة يوسف : من الآية 54) . وقال تعالى في صفة جبريل : { إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ }{ ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ }{ مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ } (سورة التكوير : الآيات 19-21) . . .
فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً
-          Lubabbut Ta’wil
والمعنى لا تتخذوا أولياء ولا أصفياء من غير أهل ملتكم ثم بين سبحانه وتعالى علة النهي عن مباطنتهم فقال تعالى: لا يَأْلُونَكُمْ خَبالًا
-          Tahrir al-Ahkam Fi Tadbir aHli al-Islam Libni Jama’ah (syafi’iyah)  146-147
ولا يجوز تولية الذمي في شيء من ولايات المسلمين إلا في جباية الجزية من أهل الذمة أو جباية ما يؤخذ من تجارات المشركين . فأما ما يجبى من المسلمين من خراج أو عشر أو غير ذلك فلا يجوز تولية الذمي فيه، ولا تولية شيء من أمور المسلمين. قال تعالى : ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا. ومن ولى ذميًا على مسلم فقد جعل له سبيلًا عليه. وقال تعالى: ولا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعضٍ ومن يتولهّم منكم فإنّه منهم، ولأن تولية الكافر على المسلم تتضمن إعلاءه عليه وإعزازه بالولاية، وذلك مخالف للشريعة وقواعدها.
-          Ma’alim al-Qarabah Fi Thalabil Hisbah (syafi’iyah) 43
وَلَمَّا وُلِّيَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ الْبَصْرَةَ وَقَدِمَ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ t فَوَجَدَهُ فِي الْمَسْجِدِ فَاسْتَأْذَنَ عَلَيْهِ فَأَذِنَ لَهُ، وَاسْتَأْذَنَ لِكَاتِبِهِ، وَكَانَ نَصْرَانِيًّا. فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى عُمَرَ وَرَآهُ، فَقَالَ: قَاتَلَكَ اللهُ يَا أَبَا مُوسَى، وَلَّيْتَ نَصْرَانِيًّا عَلَى الْمَالِ. وَكَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إلَى بَعْضِ عُمَّالِهِ وَقَدْ اتَّصَلَ بِهِ أَنَّهُ اتَّخَذَ كَاتِبًا يُقَالُ لَهُ حَسَّانُ. بَلَغَنِي أَنَّكَ اسْتَعْمَلَتْ حَسَّانَ وَهُوَ عَلَى غَيْرِ دِينِ الْإِسْلَامِ، وَاللهُ تَعَالَى يَقُولُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ. وَقَالَ تَعَالَى: لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا، وَلَعِبًا مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ، وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ، وَاتَّقُوا اللهَ إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. وَإِذَا أَتَاك كِتَابِي هَذَا فَادْعُ حَسَّانَ إلَى الْإِسْلَامِ فَإِنْ أَسْلَمَ فَهُوَ مِنَّا، وَنَحْنُ مِنْهُ، وَإِنْ أَبَى فَلَا تَسْتَعِنْ بِهِ. فَلَمَّا جَاءَهُ الْكِتَابُ قَرَأَهُ عَلَى حَسَّانَ فَأَسْلَمَ وَعَلَّمَهُ الطَّهَارَةَ وَالصَّلَاةَ. وَهَذَا أَصْلٌ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ فِي تَرْكِ الِاسْتِعَانَةِ بِالْكَافِرِ فَكَيْفَ اسْتِعْمَالُهُمْ عَلَى رِقَابِ الْمُسْلِمِينَ.
-          Siraj al-Muluk li al-Tarablisi (Malikiyah) 111
ولما استقدم عمر بن الخطاب رضي الله عنه أبا موسى الأشعري من البصرة وكان عاملاً عليها للحساب، دخل على عمر وهو في المسجد فاستأذن لكاتبه وكان نصرانياً فقال له عمر رضي الله عنه: قاتلك الله! وضرب بيده على فخذه، وليت ذمياً على المسلمين أما سمعت الله تعالى يقول: ” يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم؟ ” المائدة: 51 ألا اتخذت حنيفاً؟ قال: يا أمير المؤمنين لي كتابته وله دينه. فقال: لا أكرمهم إذ أهانهم الله ولا أعزهم إذ أذلهم الله ولا أدنيهم إذ أقصاهم الله. … وقال عمر بن أسد: أتانا كتاب عمر بن عبد العزيز t إلى محمد بن المنتشر: أما بعد فإنه بلغني أن في عملك رجلاً يقال له حسان بن بردا على غير دين الإسلام، والله تعالى يقول: ” يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا الذين اتخذوا دينكم هزواً ولعباً من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم والكفار أولياء واتقوا الله إن كنتم مؤمنين ” المائدة: 57 فإذا أتاك كتابي هذا فادع حسان إلى الإسلام فإن أسلم فهو منا ونحن منه وإن أبى فلا تستعن به ولا تأخذ من غير أهل الإسلام على شيء من أعمال المسلمين، فقرأ الكتاب عليه فأسلم.
-          Radd al-Mukhtar 4/211
وَلَا يَخْفَى أَنَّ اسْتِعْلَاءَهُ فِي الْبِنَاءِ عَلَى جِيرَانِهِ الْمُسْلِمِينَ خِلَافُ الصَّغَارِ …  وَلَا يَخْفَى أَنَّ لَفْظَ اسْتَعْلَى يَشْمَلُ مَا بِالْقَوْلِ وَمَا بِالْفِعْلِ.
-          Ghayat al-Umam 114
وذكر مصنف الكتاب المترجم بالأحكام السلطانية إن صاحب هذا المنصب يجوز أن يكون ذميا وهذه عثرة ليس لها مقيل وهي مشعرة بخلو صاحب الكتاب عن التحصيل فإن الثقة لا بد من رعايتها وليس الذمي موثوقا به في أفعاله وأقواله وتصاريف أحواله وروايته مردودة وكذلك شهادته على المسلمين فكيف يقبل قوله فيما يسنده ويعزيه إلى إمام المسلمين.
-          Rawdlat al-Thalibin 6/367
وأما تولية الذمي فإن كانت جباية من أهل الذمة كالجزية وعشر التجار جازت، وإن كانت من المسلمين ففي جوازها وجهان. قلت:  الأصح المنع. والله أعلم.
-          Khusn al-Suluk 161
الفصل الثالث عشر عدم تولية اليهود والنصارى على المسلمين. لا يجوز تولية اليهود والنصارى على المسلمين ولا استكتابهم على بيت مال المسلمين. عمر بن الخطاب وكاتب أبي موسى الأشعري: وقد أنكر ذلك من السلف عمر بن الخطاب t. فإن عمر كان قد ولى أبا موسى الأشعري على البصرة فجاء إليه فقال: اكتب لي الحساب. فانطلق فكتب: أنفقت في كذا كذا ثم جاء به إلى عمر r. فلما رآه أعجبه. قال: من كتب لك هذا؟ قال: كاتب لي. قال: فادعه حتى يقرأ كتبا جاءتنا من الشام. فقال: يا أمير المؤمنين لا يدخل المسجد. فقال: لم أجنب هو؟ قال: لا ولكنه نصراني. قال: فضرب عمر فخذي ضربة كاد يكسرها، ثم قال: أما سمعت الله تعالى يقول: يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض. أفلا اتخذت كاتبا حنيفا يكتب لك؟ قال يا أمير المؤمنين، مالي وله، له دينه ولي كتابته. فقال عمر r لا نأمنهم إذ خونهم الله ولا نكرمهم إذ أهانهم الله ولا ندنيهم إذ أقصاهم الله. ويروى أن خالد بن الوليد كتب إلى عمر بن الخطاب أن بالشام كاتبا لا يصلح خراج الشام إلا به. فكتب إليه: لا تستعمله. فراجعه وأخبر أنه لا يستغني عنه. فكتب إليه ينهاه عن استعماله. فعاوده وذكر أن المال يضيع إذا لم نستعمله، فكتب إليه عمر: مات النصراني والسلام. يريد بذلك أنه لو مات لكنت تستغني عنه، فقدر موته. … وكتب عمر بن عبد العزيز إلى عماله: ألا تولوا على أعمالنا إلا أهل القرآن. فكتبوا إليه: إنا وجدنا فيهم خيانة. فكتب إليهم: إن لم يكن في أهل القرآن خير فأجدر ألا يكون في غيرهم خير. الاستعانة بأهل الذمة في القتال. وعن ابن عباس أن النبي r استعان بيهود بني قينقاع ورضخ لهم واستعان بصفوان بن أمية في قتال هوزان يوم حنين أخرجه الحازمي. فإن صح هذا فيكون تألفا لقلب من علم منه حسن رأي في الإسلام وليس في قتالهم معه r نوع ولاية ولا استئمان لهم، بخلاف استكتابهم لا يجوز لما فيه من استئمانهم وقد خونهم الله. موقف الأئمة منه. قال الشافعي وآخرون: إن كان الكافر حسن الرأي بالمسلمين ودعت حاجة إلى الإستعانة به استعين به وإلا فيكره، وحمل الحديثين على هذين الحالتين. وقال مالك وأحمد وداود الظاهري: لا يستعان بهم ولا يعانون على الإطلاق، واستثنى مالك فقال: إلا أن يكونوا خدما للمسلمين، فيجوز. وقال أبو حنيفة t: يستعان بهم ويعاونون على الإطلاق. والشافعي إنما يجوز الاستعانة بهم في الحرب إذا أمنت خيانتهم ويكونون بحيث لو انضمت فرقتا الكفر لقدر المسلمون على مقاومة الفرقتين. وبهذا يظهر لك تحريم استعمالهم على بيت المال، لأن خيانتهم فيه لا تؤمن وهي ولاية يشترط فيها الأمانة، والله تعالى قد شهد عليهم بالخيانة، فكيف يجوز استعمالهم عمالا على بيوت الله تعالى واستئمانهم عليها؟ وهل ذلك إلا بمثابة من دفع السيف إلى قاتله وأجهز على نفسه وأعان العدو على هلاكه؟
-          Qurrat al-‘Ayn 199
إِنَّ بِلَادَكُمُ اسْتَقَلَّتْ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَكِنْ لَا يَزَالُ فِيْهَا الْكَثِيْرُ مِنَ الْكُفَّارِ وَأَكْثَرُ أَهْلِهَا مُسْلِمُوْنَ وَلَكِنِ الْحُكُوْمَةُ اعْتَبَرَتْ جَمِيْعَ أَهْلِهَا مُسْلِمُهُمْ وَكَافِرُهُمْ عَلَى السَّوَاءِ وَقُلْتُمْ إِنَّ شُرُوْطَ الذِّمَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ أَكْثَرُهَا مَفْقُوْدَةٌ مِنَ الْكَافِرِيْنَ، فَهَلْ يُعْتَبَرُ ذِمِّيِّيْنَ أَوْ حَرْبِيِّيْنَ؟ وَهَلْ لَنَا نَتَعَرَّضُ لِإِيْذَائِهِمْ أَذًى ظَاهِرًا إِلَى أَخِرِ السُّؤَالِ؟ فَاعْلَمْ أَنَّ الْكُفَّارَ الْمَوْجُوْدِيْنَ فِيْ بِلَادِكُمْ وَفِيْ بِلَادِ غَيْرِكُمْ مِنْ أَقْطَارِ الْمُسْلِمِيْنَ كاَلْبَاكِسْتَانِ وَالْهِنْدِ وَالشَّامِ وَالْعِرَاقِ وَالسُّوْدَانِ وَالْمَغْرِبِ وَغَيْرِهَا لَيْسُوْا ذِمِّيِّيْنَ وَلَا مُعَاهَدِيْنَ وَلَا مُسْتَأْمَنِيْنَ بَلْ حَرْبِيُّوْنَ حِرَابَةً مَحْضَةً … لَكِنِ التَّصَدَّى لِإِيْذَائِهِمْ أَذًى ظَاهِرًا كَمَا ذَكَرْتُمْ فِي السُّؤَالِ يُنْظَرُ فِيْهِ إِلَى قَاعِدَةِ جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَدَرْءِ الْمَفَاسِدِ وَيُرجَّحُ دَرْءُ الْمَفَاسِدِ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَلَاسِيَّمَا وَأَحَادُ النَّاسِ وَأَفْرَادُهُمْ لَيْسَ فِيْ مُسْتَطَاعِهِمْ ذَلِكَ كَمَا هُوَ الْوَاقِعُ وَالْمُشَاهَدُ اهـ
-          Al-Tibr al-Masbuk Fi Nashihat al-Muluk Lil Ghazali 1/16-17
إعلم وتيقّن أن الله سبحانه وتعالى اختار من بني آدم طائفتين وهم الأنبياء عليهم الصلاة والسلام ليبينوا للعباد على عبادته الدليل، ويوضحوا لهم إلى معرفته السبيل، واختار الملوك لفظ العباد من اعتداء بعضهم على بعض، وملكهم أزمة الإبرام والنقض، فربط بهم مصالح خلقه في معايشهم بحكمته، وأحَلّهم أشرف محل بقدرته، كما يسمع في الأخبار السلطان ظل الله في أرضه …   والسلطان العادل من عدل بين العباد، وحذر من الجور والفساد، والسلطان الظالم شؤم لا يبقى ملكه ولا يدوم، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم) . وفي التواريخ أن المجوس ملكوا العالم أربعة آلاف سنة وكانت المملكة فيهم وإنما دامت المملكة بعدلهم في الرعية، وحفظهم بالسوية، وإنهم ما كانوا يرون الظلم والجور في دينهم وملتهم جائز وعمروا بعدلهم البلاد، وأنصفوا العباد. وقد جاء في الخبر أن الله جلّ ذكره أوحى إلى داود عليه السلام أن آنْهِ قومك عن سب ملوك العجم فإنهم عمروا الدنيا وأوطنوها عبادي. فينبغي أن تعلم أن عمارة الدنيا وخرابها من الملوك فإذا كان السلطان عادلاً عمرت الدنيا وأمنت الرعايا كما كانت عليه في عهد أزدشير وأفريدون وبهرام كور وكسرى أنو شروان. وإذا كان السلطان جائراً خربت الدنيا كما كانت في عهد الضحاك وافراسيان وبرزدكنها الخاطىء وأمثال هؤلاء … وكان الملك في ذلك الزمان كسرى أنو شروان. وهو الذي فاق ملوك إيران، بعدله ونصفته، وتدبيره وسياسته، وذلك جميعه ببركات نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، لأنه ولد في زمانه، ووجد في أوانه. وعاش أنو شروان بعد مولده صلى الله عليه وسلم سنتين، والنبي صلى الله عليه وسلم افتخر بأيامه فقال: ولدت في زمن الملك العادل كسرى. والإسم الجيد خير الأشياء. والملوك الذين كانوا قبله كانت همتهم في عمارة الدنيا والعدل بين الرعية وحفظ الجسم بالسياسة وحسن الإنالة وآثار عمارتهم التي أثروها إلى اليوم ظاهرة في العالم وكل بلد يعرف بإسم ملكه لأنهم عمروا المواضع، وبنوا الضياع والمزارع، واستخرجوا القنوات والمصانع واظهروا ما كان خافياً من مياه العيون وجميع ما ذكرناه كان أنو شروان يعمره بعدله وإنصافه، مع تجنبه الإسراف في عفافه.
واعلم: أن أولئك الملوك القدماء همتهم واجتهادهم في عمارة ولاياتهم بعدهم. روي أنه كلما كانت الولاية أعمر، كانت الرعية أوفى وأشكر. وكانوا يعلمون أن الذي قالته العلماء، ونطقت به الحكماء، صحيح لا ريب فيه وهو قولهم: إن الدين بالملك، والملك بالجند، والجند بالمال والمال بعمارة البلاد، وعمارة البلاد بالعدل في العباد. فما كانوا يوافقون أحداً على الجور والظلم، ولا يرضون لحشمهم بالخرق والغشم، علماً منهم أن الرعية لا تثبت على الجور وأن الأماكن تخرب إذا استولى عليها الظالمون، ويتفرق أهل الولايات ويهربون في ولايات غيرها ويقع النقص في الملك ويقل في البلاد الدخل وتخلو الخزائن من الأموال ويتكدر عيش الرعايا لأنهم لا يحبون جائراً، ولا يزال دعاؤهم عليه متواتراً، فلا يتمتع بمملكته، وتسرع إليه دواعي هلكته
نكتة: الدين والملك توأمان مثل أخوين ولدا من بطن واحد فيجب أن يهتم ويجتنب الهوى، والبدعة والمنكر والشبهة وكل ما يرجع بنقصان الشرع وإن علم أن في ولايته من يتهم بدينه ومذهبه أمر بإحضاره وتهديده، وزجره ووعيده، فإن تاب، وإلا أوقع عليه العقاب، ونفاه عن ولايته ليطهر الولاية من إغوائه وبدعته، وتخلو من أهل الأهواء.
-          Mafatih al-Ghayb 18/61
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ. (هود: 117).
اعلم أنه تعالى بين أنه ما أهلك أهل القرى إلا بظلم وفيه وجوه. الوجه الأول: أن المراد من الظلم ههنا الشرك. قال تعالى: إِنَّ الشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان: 13). والمعنى أنه تعالى لا يهلك أهل القرى بمجرد كونهم مشركين إذا كانوا مصلحين في المعاملات فيما بينهم. والحاصل أن عذاب الاستئصال لا ينزل لأجل كون القوم معتقدين للشرك والكفر بل إنما ينزل ذلك العذاب إذا أساؤا في المعاملات وسعوا في الإيذاء والظلم ولهذا قال الفقهاء إن حقوق الله تعالى مبناها على المسامحة والمساهلة وحقوق العباد مبناها على الضيق والشح ويقال في الأثر الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم فمعنى الآية وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ أي لا يهلكهم بمجرد شركهم إذا كانوا مصلحين يعامل بعضهم بعضاً على الصلاح والسداد وهذا تأويل أهل السنة لهذه الآية. قالوا: والدليل عليه، أن قوم نوح وهود وصالح ولوط وشعيب إنما نزل عليهم عذاب الاستئصال لما حكى الله تعالى عنهم من إيذاء الناس وظلم الخلق.
-          Mafatih al-Ghayb 8/10-11

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ. (آل عمران: 28)
واعلم أن كون المؤمن مواليًا للكافر يحتمل ثلاثة أوجه. أحدها: أن يكون راضيًا بكفره ويتولاه لأجله، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوِّبًا له في ذلك الدين وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر، فيستحيل أن يبقى مؤمنًا مع كونه بهذه الصفة. فإن قيل أليس أنه تعالى قال: وَمَن يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيء؟ وهذا لا يوجب الكفر فلا يكون داخلًا تحت هذه الآية. لأنه تعالى قال: ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ، فلا بد وأن يكون خطابًا في شيء يبقى المؤمن معه مؤمناً. وثانيها: المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر وذلك غير ممنوع منه. والقسم الثالث: وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة والمظاهرة والنصرة إما بسبب القرابة أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه، وذلك يخرجه عن الإسلام.

إذا كنتم ثلاثة فأمروا أحدكم
تغير الفتوى و اختلافها بحسب تغير الأزمنة و الأمكنة و الأحوال و النيات و العوائد
بعثت بالحنيفية السمحة
قال ابن المنذر: “أجمع كل من يحفظ عنه من أهل العلم أن الكافر لا ولاية له على مسلم بحال
و قال القاضي عياض: “أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر، و على أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل
-          Siraj al-Muluk li al-Tarablisi 1/41-43
العدل ينقسم قسمين: قسم إلهي جاءت به الأنبياء والرسل عليهم السلام عن الله تعالى، والثاني ما يشبه العدل والسياسة الإصلاحية التي هرم عليها الكبير ونشأ عليها الصغير، وبعيد أن يبقى سلطان أو تستقيم رعيته في حال إيمان أو كفر بلا عدل قائم ولا ترتيب للأمور ثابت، فذلك مما لا يمكن ولا يجوز. وقد ذكرنا في أول الكتاب أن سليمان بن داود سلب ملكه حين جلي الخصمان بين يديه، وكان لأحدهما خاصة بسليمان فقال في نفسه: وددت أن يكون الحق لخاصتي فأقضي له، فسلبه الله تعالى ملكه وقعد الشيطان على كرسيه. فاجعل العدل سياستك تسقط عنك جميع الآفات المفسدة للسياسة، وتقوم لك جميع الشرائط التي تقوم بها للمملكة. قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه: إمام عادل خير من مطر وابل، وأسد حطوم خير من سلطان ظلوم، وسلطان ظلوم خير من فتنة تدوم. … وأما العدل النبوي فأن يجمع السلطان إلى نفسه حملة العلم الذين هم حفاظه ورعاته وفقهاؤه، وهم الأدلاء على الله والقائمون بأمر الله، والحافظون لحدود الله والناصحون لعباد الله. وروى أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الدين النصيحة! إن الدين النصيحة! إن الدين النصيحة! قالوا: لمن يا رسول الله؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم. … وأما القسم الثاني من العدل وهو السياسة الاصطلاحية، وإن كان أصلها على الجور فيقوم بها أمر الدنيا، وكأنها تشاكل مراتب الإنصاف على نحو ما كانت عليه ملوك الطوائف في أيام الفرس. وكانوا كفاراً بالله تعالى يعبدون النيران ويتبعون هواجس الشيطان، فتواضعوا بينهم سنناً وأسسوا لهم أحكاماً، وأقاموا لهم مراتب في النصفة بين الرعايا واستجباء الخراجات، وتوظيف المكوس على التجار. كل ذلك بعقولهم على وجوه ما أنزل الله بها من سلطان ولا نصب عليها من برهان. بيد أنه لما جاءت الشريعة من عند الله تعالى على لسان نبيه صاحب المعجزة محمد r، فمنها ما أقرته في نصابه، ومنها نسخته وأبطلت حكمه. فعادت الحكمة البالغة أمر الله تعالى والحكم بما أنزل الله وبطل ما سواه. وكان ملكهم محفوظاً برعايتهم للقوانين المألوفة بينهم، فانقطع بذلك حبل الهمل، فكانوا يقيمون بها واجب الحقوق ويتعاطون بها ما لهم وعليهم. وعن هذا كان يقال: إن السلطان الكافر الحافظ لشرائط السياسة الاصطلاحية أبقى وأقوى من السلطان المؤمن العدل في نفسه المضيع للسياسة النبوية العدلية، والجور المرتب أبقى من العدل المهمل. إذ لا شيء أصلح للسلطان من ترتيب الأمور ولا شيء أفسد له من إهمالها.
-          Khawasyi al-Syarwani 9/72-73
وَقَالَ ع ش بَعْدَ نَقْلِ مَا ذُكِرَ عَنْ الزِّيَادِيِّ: أَقُولُ وَكَذَا يَحْرُمُ نَصْبُهُ فِي شَيْءٍ مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ. نَعَمْ، إِنْ اقْتَضَتِ الْمَصْلَحَةُ تَوْلِيَتَهُ فِي شَيْءٍ لَا يَقُومُ بِهِ غَيْرُهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَوْ ظَهَرَ فِيمَنْ يَقُومُ بِهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خِيَانَةٌ وَأُمِنَتْ فِي ذِمِّيٍّ وَلَوْ لِخَوْفِهِ مِنِ الْحَاكِمِ مَثَلًا، فَلَا يَبْعُدُ جَوَازُ تَوْلِيَتِهِ فِيهِ لِضَرُورَةِ الْقِيَامِ بِمَصْلَحَةِ مَا وُلِّيَ فِيهِ. وَمَعَ ذَلِكَ يَجِبُ عَلَى مَنْ يُنَصِّبُهُ مُرَاقَبَتُهُ وَمَنْعُهُ مِنَ التَّعَرُّضِ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بِمَا فِيهِ اسْتِعْلَاءٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ اه
-          Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an 6/46
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (المائدة: 2)
الثالثة عشرة قوله تعالى: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. قال الأخفش: هو مقطوع من أول الكلام، وهو أمر لجميع الخلق بالتعاون على البر والتقوى؛ أي ليعن بعضكم بعضا ، وتحاثوا على ما أمر الله تعالى وأعملوا به، وانتهوا عما نهى الله عنه وامتنعوا منه … ويجب الإعراض عن المتعدي وترك النصرة له ورده عما هو عليه.
-          Bariqah Mahmudiyah Fi Syarh Thariqah Muhammadiyah Wa Syariah Nabawiyah 5/198
(التَّاسِعُ وَالْخَمْسُونَ) (الدَّلَالَةُ) بِاللِّسَانِ (عَلَى الطَّرِيقِ وَنَحْوِهِ لِمَنْ يُرِيدُ الْمَعْصِيَةَ) (فَإِنَّهَا لَا تَجُوزُ) لِأَنَّ لِلْوَسَائِلِ حُكْمَ الْمَقَاصِدِ وَأَنَّ مَا يُفْضِي إلَى الْمَعْصِيَةِ مَعْصِيَةٌ (لِأَنَّهَا إعَانَةٌ عَلَى الْمَعْصِيَةِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. قِيلَ هُنَا خَبَرُ الدَّيْلَمِيِّ: الظَّلَمَةُ وَأَعْوَانُهُمْ فِي النَّارِ. (وَفِي الْخُلَاصَةِ) (ذِمِّيٌّ سَأَلَ مُسْلِمًا عَنْ طَرِيقِ الْبَيْعَةِ) (لَا يَنْبَغِي لَهُ) أَيْ لَا يَجُوزُ (أَنْ يَدُلَّهُ عَلَيْهَا انْتَهَى) لَكِنْ قَالُوا لَا ضَمَانَ بِالدَّلَالَةِ وَإِنْ قَالُوا بِهِ بِالْغَمْزِ وَالسِّعَايَةُ فِيهِ إشَارَةٌ إلَى أَنَّ طَاعَةَ الْكَافِرِ مَعْصِيَةٌ.
-          Qawaid al-Ahkam Fi Mashalih al-Anam 1/133
ولحقوق بعض المكلفين على بعض أمثلة كثيرة: منها التسليم عند القدوم، وتشميت العاطس، وعيادة المرضى، ومنها الإعانة على البر والتقوى وعلى كل مباح، ومنها ما يجب على الإنسان من حقوق المعاملات، ومنها الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر؛ لأن الأمر بالمعروف سعي في جلب مصالح المأمور به، والنهي عن المنكر، سعي في درء مفاسد المنهى عنه، وهذا هو النصح لكل مسلم، وقد بايع صلى الله عليه وسلم على النصح لكل مسلم.
-          Al-Maidah 51
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
-          Al-Maidah 57
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ. وَاتَّقُوا اللهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
-          Ali Imran 28:
لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
-          An-Nisaa 141
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
-          Mumtahanan 1
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء

-          Hadits Riwayat Imam Muslim
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَفَعَ إِلَى يَهُوْدِ خَيْبَرَ نَخْلَ خَيْبَرَ وَأَرْضَهَا ، عَلَى أَنْ يَعْتَمِلُوهَا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَلَهُمْ شَطْرُ ثَمَرِهَا. رواه مسلم

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger