Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Shalawat. Show all posts
Showing posts with label Shalawat. Show all posts

Tangisan Iblis

ﺃﻥ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﺭﻥ ﺃﺭﺑﻊ ﺭﻧﺎﺕ : ﺭﻧﺔ ﺣﻴﻦ ﻟﻌﻦ، ﻭﺭﻧﺔ ﺣﻴﻦ ﺃﻫﺒﻂ ﺍﻟﻰ ﺍﻷﺭﺽ، ﻭﺭﻧﺔ ﺣﻴﻦ ﻭﻟﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺭﻧﺔ ﺣﻴﻦ ﺃﻧﺰﻟﺖ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ “

Sesungguhnya Iblis berteriak sambil menangis pada empat kejadian:
  1. ketika ia dilaknat oleh Allah
  2. ketika ia diusir ke bumi
  3. ketika Rasulullah dilahirkan
  4. Ketika surat al-Fatihah diturunkan

“ (Disebutkan oleh Syaikh Ibnu Muflih dari Ibn Mukhlid yang mengisahkan kisah ini dari Hasan al-Bashri) Ketika umat Islam menyambut gembira hari kelahiran Nabi dgn memperingati Maulid Nabi dan mengisinya dg kegiatan yg hasanah; bersedekah, membaca sirah an-Nabawiyah, Ta'lim dan berbagai macam kegiatan lainya, namun ada sebagian orang yg risih dan hatinya terasa diiris iris sehingga dia beteriak "Maulid Nabi Haram, Bid'ah dan masuk neraka pelakunya".

0 comments

Khutbah Maulid Nabi (Tidak Semua Yang Bershalawat Akan Mendapat Syafaat)

Maulid Nabi (Tidak Semua Yang Bershalawat Akan Mendapat Syafaat)

Khutbah Jum’at Oleh KH. A. Musta’in Syafi’i

Ada dua kalam yang pembacaannya dianggap berpahala. Pertama, kalaamulloh Al Quran Al Karim sebagai kalam yang literat. Al Muta’abbadu bitilawatih, siapapun yang membaca Al Qur’an tanpa ngerti maksudnya maka pembacaan itu sudah dihitung ibadah. Dibawah itu (kedua) adalah pembacaan sholawat kepada hadroturrosul Nabiyulloh Muhammad ahollallohu’alaihi wasallam. Tidak perlu mengerti detail maknanya. Tidak perlu mengerti arti secara harfiah dari bahasa Arab sholawat itu. Cukup mengreti  bahwa dia sedang membaca sholawat. Sedang showan kehadirat Rosululloh dengan mengedepankan, menyajikan sholawat dan salam. Maka cukuplah itu dianggap membaca sholawat yang berpahala.

Saya yakin bahwa tidak semua orang-orang yang membaca sholawat, seperti kawan-kawan ISHARI (Ikatan Hadroh) mengerti artine kabeh, saya gak yakin. Sama dengan orang yang baca diba’ yang bahasanya sulit, berbahasa saatra. Saya yakin, tidak semua ngerti artine. Opo atfatayyaji rotal ‘lamin iku opo? Mungkin anda tidak mengerti tapi anda tahu kalau anda sedang membaca sholawat. Itu cukup sebagai pembacaan yang dihitung berpahala.

Terkait dengan hari ini sebagai maulidirrosul Nabiyyulloh Muhammad shollallohhu’alayhi wasallam. Ada catatan yang musti direnungkan. Belum pernah Alloh Subhanahu Wata’ala memerintahkan syariat apapun yang didahului dengan keteladanan. Dengan memberikan contoh diriNya sendiri selain perintah membaca sholawat.

Ketika Alloh memerintahkan manusia agar berzakat, atau sholat, haji dan lain-lain, tidak ada pernyataan bahwa Alloh melakukan itu. Namun, begitu memerintahkan membaca sholawat kepada Nabi maka Alloh mencontohkan diriNya sendiri. Apalagi pernyataan itu dilafalkan dengan bahasa yang sangat serius “innalloha wamalaikatahu  yusholluuna ‘alnnabi”. Sesungguhnya Alloh dan para malaikat aktif lebih dahulu membaca sholawat kepada nabi. Setelah Alloh memberi teladan baru memerintahkan kepada kita “Yaa ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi”.

Dari sisi dimensi takbir banyak yang bisa kita ungkap pada ayat ini. Itu artinya kalau kita mau membaca sholawat kepada Hadroturrosul Rosul maka ada etika, ada tata akhlaq dan ada kesopanan. Tata etik ini diperankan sendiri oleh Alloh beserta para malaikat. Alloh sudah membuat contoh, “Ngenelo carane moco sholawat.”

Siapapun tau bahwa Alloh itu Maha Sempurna. Bisa diterka bagaimana etika Alloh saat membaca sholawat kepada Hadroturrosul? Jawabannya, pasti dengan cara yang sangat sopan dan sangat bagus karena Alloh Maha Indah, Maha Berahlaq.

Itu artinya awa’e dewe lek moco sholawat yo nyonto ahlake gusti Alloh. Ketika Alloh itu bersholawat kepada nabi, apa penghormatan Alloh kepada Nabi? Tidak pernah Alloh itu memanggil Nabi Muhammad dengan menyebut nama aslinya. Di Al Qur’an iku gak ono”Ya Muhammad!” Pasti dipanggil dengan gelarnya “Ya ayyuhanNabi, ya ayyuharRosul !”.

Dari segi ini maka penghormatan kepada hadirat beliau itu mutlak barangkali hanya mulut-mulut yang fasik saja, jiwa-jiwa yang tidak bersih saja yang tega menyebut nama Nabi secara njangkat dengan cara mentah-mentah. Lalu diatur kalau memanggil Hadroturrosul maka tidak sama dengan memanggil antar sesama kawan.

Tolong, bagi orang-orang yang membaca sholawat kepada Rosul dengan iringan musik, terbang, dengan iringan apapun. Tidak ada agama itu melarang musik. Tapi tolong kalau sudah membaca sholawat beriringan musik maka bagi pembaca itu yang wajib dikedepankan adalah nilai khudurnya, nilai hadroh, nilai dihadapan rosululloh. Bukan nilai musiknya.! Sehingga orang kalau rumongso membaca sholawat, seakan-akan ada dihadapan Rosul. Jangan cengengesan!, gak sempat senyum-senyum.

Apapun group musiknya mengatas namakan kiyai sopoae. Kalau nampak membaca sholawat kok masih lebih dominan musiknya daripada nilai khudurnya, cengengesannya masih ada,  berarti dia hanya tampil dengan bermusik belum bersholawat secara haqiqi seperti yang dicontohkan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

Bisa saya buatkan sebuah analog. Kalau sampean bicara dihadapan kiyai, sedang nelpon kiyai, apakah anda berbicara dengan cengengesan?, apakah anda berbicara dengan senyum-senyum? Jawabannya tentu tidak. Pasti bicara dengan sopan.

Oleh karena itu para ulama’ menggubah kata-kata dalam sholawat itu ada dua. Pertama, sholawat yang digubah dengan bahasa nasab. Selanjutnya ada sholawat yang digubah dengan bahasa saja’ atau qosidah. Sholawat yang tidak dirancang untuk dilagukan, maka pasti kalau dilagukan itu akan rusak. Begitu pula dengan sholawat yang digubah dengan saja’ pelaguan, memang sudah ada patokannya sendiri.

Kita ambil contonh sholawat yang digubah dirancang untuk qosidah maka semua akan pas sesuai karena memang dirancang seperti itu. Sholawat “Burdah” dengan lagunya yang bagus huwalkhabibulladzi turja syafa’atuhu panjang pendeknya pasti tepat dan pas. Sedangkan sholawat yang oleh pengarangnya sengaja digubah bukan untuk dilagukan bukan untuk syair. Seperti sholawat “nariyah” allohumma sholli sholatan kaamilatan wa sallim salaman taamman digubah tidak untuk dilagukan. Jadi andaikan ada yang mau melagukan tidak akan cocok. Panjang pendeknya rusak. Untung didalam agama itu masih ada toleransi.

Untuk itu sesungguhnya dalam mimbar ini memang saya harus menyampaikan secara tegas sekaligus memberi peringatan. Bahwa belum tentu orang yang membaca sholawat dihadapan rosululloh itu mesti dijawab dengan syafa’at. Saya ingatkan sekali lagi, belum tentu orang yang membaca sholawat dihadapan Hadroturrosul itu mesti dijawab dengan sysafa’at. Barangkali karena rosul tersinggung, penyajian sholawat itu tidak etik.

Belum tentu orang yang menyajikan makanan dihadapan orang tua itu mesti dimakan. Terserah bagaimana caranya dan bahasanya. Kalau dia pakai bahasa yang sopan “mbah ini mbah, monggo dipun dahar mbah!” insya Alloh makanan yang tidak enak pun mbah ngerti “mugo-mugo dibales gusti Alloh” tapi kalau penyajiannya itu membentak “mbah ikilo mbah panganen, pangaen-pangaen!” seenak apapun makanan itu pati si mbah menolak dan tersinggung.

Dalam momen maulid ini saya sampaikan ayat yang mengerikan tentang orang-orang yang membaca sholawat atau berhubungan dengan Hadroturrosul dengan cara yang tidak baik. Seperti ditera dalam ujung suroh An Nur yang menunjukkan bahwa memanggil, berkonsultasi dengan Rosul itu harus bagus, tidak boleh terjadi tahallul yang liwadzah dan seterusnya.

Peringatan bagi orang yang membaca sholawat yang kurang etik sajiannya kurang etik dihadapan Rosululloh falyahdzat! hati-hatilah kalian antushibahum fitnah Anda bukan mendapat syafa’at tapi anda malah tertimpa fitnah. Tafsiran Ulama’ tentang fitnah salah satunya adalah sebuah kenegatifan, hambatan berbuat baik, hambatan ketaqwaan pada diri pembaca sholawat itu.

Kenapa banyak groub-groub musik membaca shoilawat, berjanzi. Tetapi kenapa para pelaku-pelaku itu, musisi-musisi itu tidak bertambah taqwa?padahal membaca sholawatnya sudah dikemas begini-begini. Jawabannya adalah ayat ini “Dia bukan mendapat syafa’at tapi malah mendapat fitnah yang menghambat prestasi taqwanya sendiri. Walaupun dipanggung beraction merem-merem.

Pait memang khutbah ini tapi kalau kita berfikir ingin sembuh maka perlu sesekali kita itu minum pil/obat. Sepait apapun. Mudah-mudahan kita besok bisa bersama Hadroturrosul Nabiyulloh Muhammad Roaululloh Shollallohu’alaihi wasallam.

Dikutib dari Khutbah Jum’at KH. A. Musta’in Syafi’i pada tanggal 26 Pebruari 2010 di Masjid Tebuireng.

0 comments

Shalawat Nariyah

Sholawat Nariyah

Mulanya, ia bernama Sholawat Tafrijiyah. Namun, nampaknya sejarawan mempunyai data yang berlainan. Karena di teks yang berbeda, ditemukan bahwa sholawat ini dahulu bernama Taziyah, yang bermula dari penisbatan muasal teks sholawat ini kepada syaikh Ibrahim at-Taziy. Namun pada perkembangannya, ia lebih dikenal dengan “Nariyah”. Mengapa? Di titik ini, perselisihan para sejarawan kembali mengemuka. Di satu kisah, Taziyah bertransformasi menjadi Nariyah hanya sebatas tahrif, memutar kata dengan perubahan pada ‘titik’nya. Di kisah lain, Nariyah muncul sebagai sesuatu yang lebih historis. segolongan Islam di Maroko, ketika ingin mendapatkan yang dikehendaki sekaligus menghindari yang dibenci, mereka segera berkumpul dalam satu majelis. Di dalamnya, mereka membaca shalawat ini sebanyak 4.444 kali. Dus, yang diharapkan akan terwujud segera, bagai api (an-nâr) ketika membakar. Dari kata an-nâr inilah nama Nariyah bermula.

Bacaan Sholawat Nariyah yang didapat oleh Sayyid Muhammad Haqqy an-Nazily dari beberapa gurunya sebagai berikut:

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِـــــــيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَ سَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِى تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَ تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَ تُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَ حُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَ عَلىٰ آلِهِ وِ صَحْبِهِ

Ketika kemudian syaikh an-Nazily menerima ijazah sholawat serupa dari Sayyid Muhammad as-Sanusi di gunung Abi Qubais, ada beberapa kalimat yang ditambahkan di akhir sholawat:

فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Sholawat yang telah ditambah inilah yang sampai turun temurun kepada kita.

Mengenai lafadz مُحَمَّدٍ, sebagian ulama menengara bahwa ada yang lebih indah pengungkapannya, yakni dengan menambah lafadz النبى setelah مُحَمَّدٍ.

Adapun terhadap faedah sholawat Nariyah, ulama memberi beberapa rumusan yang erat kaitannya dengan seberapa banyak sholawat itu diulang. Diantaranya:

Ketika dibaca setiap hari sebelas kali, rizki akan turun dari langit dan tumbuh dari bumi. (Syaikh Muhammad at-Tanusi)
Ketika dibaca setiap selepas shalat sebelas kali, rizki tidak akan terputus dan memperoleh derajat yang tinggi. (Imam Ad-Dainuri)
Ketika dibaca setelah salat subuh 41 kali, apa yang diinginkan akan terwujud.
Ketika dibaca sehari seratus kali, akan terwujud harapan, bahkan lebih dari yang diangankan.
Ketika dibaca sehari 313 kali dengan niat membuka tabir rahasia, ia akan melihat segala hal yang menjadi harapan-harapannya.
Ketika dibaca setiap hari 1.000 kali, maka baginya perkara yang tak bisa dibayangkan oleh siapapun (mâ lâ ain ra’at wa lâ udzun sami’at wa lâ khathr fi qalb basyar/yang tak terindera mata, tak terdengar telinga, dan tak terbesit di hati manusia).
Di lain kesempatan, Al-Qurthubi, sebagaimana yang juga ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, memberikan satu bilangan khusus untuk membaca sholawat ini, yakni 4.444. Ketika dibaca sebanyak bilangan itu dan disertai dengan tawasul kepada Nabi saw., maka segala harapan, bahkan yang besar pun akan terwujud. Juga, seluruh cobaan (bala’) akan dihindarkan. Wallahu a’lam.][

Pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah Untuk Keselamatan Bangsa dilaksanakan pada Jum’at malam Sabtu, 21 Muharram 1438 H./ 21 Oktober 2016 M. di sembilan titik.

0 comments

Bersinar Karena Rasulullah

Bersinar Karena Rasulullah SAW
(Oleh Moh. Dliya'ul Chaq)

Rasulullah SAW adalah lentera dunia. Dunia dan seisinya tidak akan terlihat jika bukan karena Rasulullah. Maka jika manusia ingin terlihat di dunia dan akhirat, mdendekatlah pada Rasulullah SAW. Ibarat kita berada dalam ruang yang gelap, maka pasti tidak akan yang bisa melihat keberadaan kita. Jika ingin terlihat, maka mendekatlah pada lampu yang bersinar agar bisa terlihat. Karena sejatinya kita hanyalah kegelapan yang berada dalam ruang yang gelap. Dengan lentera dunia, yaitu Rasulullah maka kita akan terlihat. Maka dunia menjadi terang. Maka berbagai kegelapan di dunia ini sirna. Artinya, amal ibadah kita sejatinya tidak ada artinya jika saja tidak ada Rasulullah karena Rasulullah dihadirkan ke dunia ini untuk memberikan petunjuk, tuntunan dan jalan terang bagi umat manusia. Kita tidak akan mampu sholat jika tidak ditunjukkan Rasulullah. Kita tidak akan mampu zakat dengam benar jika tidak dituntunkan oleh Rasulullah. Kita tidak akan tahu mana yang haq dan yang bathil jika tidak ditunjukan oleh Rasulullah. Bahkan doa kita sulit diijabahi jika tidak diawali dan diakhiri dengan menyebut nama Rasulullah., sebagaimana dalam sebuah hadits.

Maka tidak ada salahnya jika kita membaca sholawat. Bahkan kita dianjurkan untuk membaca shalawat, selain shalawat memiliki fadhilah yang luar biasa, juga karena membaca shalawat adalah bentuk ungkapan terima kasih kita kepada Rasulullah SAW yang telah menjadi petunjuk dan penerang bagi umat manusia. Selain itu, karena rasulullah adalah wasilah atau lantaran bagi ummat manusia untuk mengetahui jalan yang terang benderang. Maka tidak layak jika kebaikan yang kita lakukan menjadikan kita sombong, riya' dan 'ujub karena amal ibadah atau kebaikan yang kita lakukan sejatinya adalah hasil jerih payah yang telah dilakukan oleh Rasulullah.

Banyak cara untuk mendekat pada Rasulullah. Mendekat pada Rasulullah bisa dengan cara bershalawat, dengan mengamalkan tuntunannya, mengikuti sunnahnya. Mendekat pada Rasulullah bisa juga dengan cara mendekat secara fusik dengan Rasulullah seperti meladeni / khidmah (merawat) pada Rasulullah sebagaimana yang dilakukan banyak sahabat. Di antaranya adalah sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin 'Affan dan Ali bin Abi Thalib. Keempat sahabat itu tidak mungkin terpilih menjadi Khalifah jika bukan karena dekat dengan Rasulullah, jika bukan karena khidmahnya pada Rasulullah.

Sahabat bilal bin Rabbah, seorang budak kulit hitam, tidak mungkin namanya dikenang oleh umat muslim, tidak mungkin namanya sudah lebih dulu terkenal disurga sebelum kematiannya, tidak mungkin adzannya selalu dinanti-nantikan oleh para sahabat jika bukan karena dekat dengan Rasulullah, jika bukan karena menjalankan tuntunan Rasulullah, jika bukan karena khidmahnya pada Rasulullah. Bahkan ketika Rasulullah SAW wafat pun adzan bilal selalu dirindukan oleh para sahabat dan keluarga Rasulullah.

Dalam kisahnya, Sesaat setelah Rasulullah SAW mengembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal tak pernah sanggup mengumandangkan azan. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk hijrah ke Syam (Syiria). Namun awalnya Abu Bakar tidak mengabulkan permohonan Bilal. Tetapi Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, biarkanlah aku tidak akan pernah mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat. Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rosululloh saja. Rosululloh telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan yang dikirim oleh Abu Bakar menuju daerah Homs / Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus, Syiria.

Setelah tingga lama di Syria, Bilal tidak pernah mengunjungi Madinah. Lalu sampai pada suatu malam, Rosululloh hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya:
"Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?".

Bilal pun bangun terperanjat, air mata rindunya seketika tak terbendung lagi. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah kubur Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.

Setiba di Madinah, Bilal menangis di makam Rasulullah melepas rasa rindunya pada Nabi sang kekasih. Penduduk Madinah yang mengetahui kedatangannya, segera keluar dari rumah untuk menyambutnya. Ketika masuk waktunya sholat, beberapa Sahabat meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. Akan tetapi Bilal terus menolak permintaan itu.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi, Hasan dan Husein. Kali ini mereka berdua yang meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”

Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi itu. “wahai cahaya mataku, wahai dua orang yang sangat dicintai Rasul, sesungguhnya wajib bagiku untuk memenuhi keinginan kalian. Sesungguhnya apabila semua penduduk bumi memintaku mengumandangkan adzan, aku tetap tak akan mau melalukannya. Akan tetapi, setiap permintaan kalian berdua, adalah keharusan bagiku untuk melaksanakannya.”

Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu. Lalu dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah. Mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan pun keluar.

Dan saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan rindu. Semua manusia menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Setelah itu ia jatuh pingsan bersama banyak orang yang lain karena kerinduan mereka akan sosok Rasulullah SAW.

Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama Bilal sekaligus adzan terakhirnya semenjak Rasulullah wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab tangis kerinduannya yang sangat mencabik-cabik hatinya mengenang sosok agung yang karenanya diri bilal derajatnya terangkat begitu tinggi.

Beberapa hari kemudian Bilal bin Rabah jatuh sakit. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, “Oh, betapa sedihnya hati ini….”

Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, “Oh, betapa bahagianya hati ini…. ” Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,
“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya”

SEJATINYA, bukan karena bilal semua masyarakat Madinah berlarian menuju masjid nabawi, tetapi karena adzan itu adalah adzan yang yang selalu terdengar saat Rasulullah masih hidup. Karena muadzin itu adalah muadzin yang selalu mengumandangkan adzan saat Rasulullah masih hidup. Itulah bukti bahwa amal ibadah dan eksistensi kita di dunia ini terlihat terang hanya karena dekat dengan Rasulullah SAW.

Maka marilah kita selalu mendekat pada lentera dunia, yaitu Rasulullah agar diri kita, eksistensi kita, hidup kita dan ibadah kita menjadi terang di dunia maupun di akhirat.

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger