Jangan di Klik

Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label khutbah hari raya. Show all posts
Showing posts with label khutbah hari raya. Show all posts

Khutbah Maulid Nabi (Tidak Semua Yang Bershalawat Akan Mendapat Syafaat)

Maulid Nabi (Tidak Semua Yang Bershalawat Akan Mendapat Syafaat)

Khutbah Jum’at Oleh KH. A. Musta’in Syafi’i

Ada dua kalam yang pembacaannya dianggap berpahala. Pertama, kalaamulloh Al Quran Al Karim sebagai kalam yang literat. Al Muta’abbadu bitilawatih, siapapun yang membaca Al Qur’an tanpa ngerti maksudnya maka pembacaan itu sudah dihitung ibadah. Dibawah itu (kedua) adalah pembacaan sholawat kepada hadroturrosul Nabiyulloh Muhammad ahollallohu’alaihi wasallam. Tidak perlu mengerti detail maknanya. Tidak perlu mengerti arti secara harfiah dari bahasa Arab sholawat itu. Cukup mengreti  bahwa dia sedang membaca sholawat. Sedang showan kehadirat Rosululloh dengan mengedepankan, menyajikan sholawat dan salam. Maka cukuplah itu dianggap membaca sholawat yang berpahala.

Saya yakin bahwa tidak semua orang-orang yang membaca sholawat, seperti kawan-kawan ISHARI (Ikatan Hadroh) mengerti artine kabeh, saya gak yakin. Sama dengan orang yang baca diba’ yang bahasanya sulit, berbahasa saatra. Saya yakin, tidak semua ngerti artine. Opo atfatayyaji rotal ‘lamin iku opo? Mungkin anda tidak mengerti tapi anda tahu kalau anda sedang membaca sholawat. Itu cukup sebagai pembacaan yang dihitung berpahala.

Terkait dengan hari ini sebagai maulidirrosul Nabiyyulloh Muhammad shollallohhu’alayhi wasallam. Ada catatan yang musti direnungkan. Belum pernah Alloh Subhanahu Wata’ala memerintahkan syariat apapun yang didahului dengan keteladanan. Dengan memberikan contoh diriNya sendiri selain perintah membaca sholawat.

Ketika Alloh memerintahkan manusia agar berzakat, atau sholat, haji dan lain-lain, tidak ada pernyataan bahwa Alloh melakukan itu. Namun, begitu memerintahkan membaca sholawat kepada Nabi maka Alloh mencontohkan diriNya sendiri. Apalagi pernyataan itu dilafalkan dengan bahasa yang sangat serius “innalloha wamalaikatahu  yusholluuna ‘alnnabi”. Sesungguhnya Alloh dan para malaikat aktif lebih dahulu membaca sholawat kepada nabi. Setelah Alloh memberi teladan baru memerintahkan kepada kita “Yaa ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi”.

Dari sisi dimensi takbir banyak yang bisa kita ungkap pada ayat ini. Itu artinya kalau kita mau membaca sholawat kepada Hadroturrosul Rosul maka ada etika, ada tata akhlaq dan ada kesopanan. Tata etik ini diperankan sendiri oleh Alloh beserta para malaikat. Alloh sudah membuat contoh, “Ngenelo carane moco sholawat.”

Siapapun tau bahwa Alloh itu Maha Sempurna. Bisa diterka bagaimana etika Alloh saat membaca sholawat kepada Hadroturrosul? Jawabannya, pasti dengan cara yang sangat sopan dan sangat bagus karena Alloh Maha Indah, Maha Berahlaq.

Itu artinya awa’e dewe lek moco sholawat yo nyonto ahlake gusti Alloh. Ketika Alloh itu bersholawat kepada nabi, apa penghormatan Alloh kepada Nabi? Tidak pernah Alloh itu memanggil Nabi Muhammad dengan menyebut nama aslinya. Di Al Qur’an iku gak ono”Ya Muhammad!” Pasti dipanggil dengan gelarnya “Ya ayyuhanNabi, ya ayyuharRosul !”.

Dari segi ini maka penghormatan kepada hadirat beliau itu mutlak barangkali hanya mulut-mulut yang fasik saja, jiwa-jiwa yang tidak bersih saja yang tega menyebut nama Nabi secara njangkat dengan cara mentah-mentah. Lalu diatur kalau memanggil Hadroturrosul maka tidak sama dengan memanggil antar sesama kawan.

Tolong, bagi orang-orang yang membaca sholawat kepada Rosul dengan iringan musik, terbang, dengan iringan apapun. Tidak ada agama itu melarang musik. Tapi tolong kalau sudah membaca sholawat beriringan musik maka bagi pembaca itu yang wajib dikedepankan adalah nilai khudurnya, nilai hadroh, nilai dihadapan rosululloh. Bukan nilai musiknya.! Sehingga orang kalau rumongso membaca sholawat, seakan-akan ada dihadapan Rosul. Jangan cengengesan!, gak sempat senyum-senyum.

Apapun group musiknya mengatas namakan kiyai sopoae. Kalau nampak membaca sholawat kok masih lebih dominan musiknya daripada nilai khudurnya, cengengesannya masih ada,  berarti dia hanya tampil dengan bermusik belum bersholawat secara haqiqi seperti yang dicontohkan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

Bisa saya buatkan sebuah analog. Kalau sampean bicara dihadapan kiyai, sedang nelpon kiyai, apakah anda berbicara dengan cengengesan?, apakah anda berbicara dengan senyum-senyum? Jawabannya tentu tidak. Pasti bicara dengan sopan.

Oleh karena itu para ulama’ menggubah kata-kata dalam sholawat itu ada dua. Pertama, sholawat yang digubah dengan bahasa nasab. Selanjutnya ada sholawat yang digubah dengan bahasa saja’ atau qosidah. Sholawat yang tidak dirancang untuk dilagukan, maka pasti kalau dilagukan itu akan rusak. Begitu pula dengan sholawat yang digubah dengan saja’ pelaguan, memang sudah ada patokannya sendiri.

Kita ambil contonh sholawat yang digubah dirancang untuk qosidah maka semua akan pas sesuai karena memang dirancang seperti itu. Sholawat “Burdah” dengan lagunya yang bagus huwalkhabibulladzi turja syafa’atuhu panjang pendeknya pasti tepat dan pas. Sedangkan sholawat yang oleh pengarangnya sengaja digubah bukan untuk dilagukan bukan untuk syair. Seperti sholawat “nariyah” allohumma sholli sholatan kaamilatan wa sallim salaman taamman digubah tidak untuk dilagukan. Jadi andaikan ada yang mau melagukan tidak akan cocok. Panjang pendeknya rusak. Untung didalam agama itu masih ada toleransi.

Untuk itu sesungguhnya dalam mimbar ini memang saya harus menyampaikan secara tegas sekaligus memberi peringatan. Bahwa belum tentu orang yang membaca sholawat dihadapan rosululloh itu mesti dijawab dengan syafa’at. Saya ingatkan sekali lagi, belum tentu orang yang membaca sholawat dihadapan Hadroturrosul itu mesti dijawab dengan sysafa’at. Barangkali karena rosul tersinggung, penyajian sholawat itu tidak etik.

Belum tentu orang yang menyajikan makanan dihadapan orang tua itu mesti dimakan. Terserah bagaimana caranya dan bahasanya. Kalau dia pakai bahasa yang sopan “mbah ini mbah, monggo dipun dahar mbah!” insya Alloh makanan yang tidak enak pun mbah ngerti “mugo-mugo dibales gusti Alloh” tapi kalau penyajiannya itu membentak “mbah ikilo mbah panganen, pangaen-pangaen!” seenak apapun makanan itu pati si mbah menolak dan tersinggung.

Dalam momen maulid ini saya sampaikan ayat yang mengerikan tentang orang-orang yang membaca sholawat atau berhubungan dengan Hadroturrosul dengan cara yang tidak baik. Seperti ditera dalam ujung suroh An Nur yang menunjukkan bahwa memanggil, berkonsultasi dengan Rosul itu harus bagus, tidak boleh terjadi tahallul yang liwadzah dan seterusnya.

Peringatan bagi orang yang membaca sholawat yang kurang etik sajiannya kurang etik dihadapan Rosululloh falyahdzat! hati-hatilah kalian antushibahum fitnah Anda bukan mendapat syafa’at tapi anda malah tertimpa fitnah. Tafsiran Ulama’ tentang fitnah salah satunya adalah sebuah kenegatifan, hambatan berbuat baik, hambatan ketaqwaan pada diri pembaca sholawat itu.

Kenapa banyak groub-groub musik membaca shoilawat, berjanzi. Tetapi kenapa para pelaku-pelaku itu, musisi-musisi itu tidak bertambah taqwa?padahal membaca sholawatnya sudah dikemas begini-begini. Jawabannya adalah ayat ini “Dia bukan mendapat syafa’at tapi malah mendapat fitnah yang menghambat prestasi taqwanya sendiri. Walaupun dipanggung beraction merem-merem.

Pait memang khutbah ini tapi kalau kita berfikir ingin sembuh maka perlu sesekali kita itu minum pil/obat. Sepait apapun. Mudah-mudahan kita besok bisa bersama Hadroturrosul Nabiyulloh Muhammad Roaululloh Shollallohu’alaihi wasallam.

Dikutib dari Khutbah Jum’at KH. A. Musta’in Syafi’i pada tanggal 26 Pebruari 2010 di Masjid Tebuireng.

0 comments

Khutbah Hari Raya Idul Adha 2016

Khutbah Idul Adha 2016
Oleh: Moh. Dliya'ul Chaq, M. HI.

أكبر الله أكبر الله أكبر -   الله أكبر الله أكبر الله أكبر   -الله أكبر الله أكبر الله أكبر   - لا إله إلا الله والله أكبر   -الله أكبر ولله الحمد . اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.
الحمد لله الذي شرع لِعِبَادِهِ التَّقَرُّبَ إِلَيْهِ بِذَبْحِ الْقُرْبَانِ ،وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ذُو الْفَضْلِ وَالْاِمْتِنَانْ ، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله المصطفى على كل إِنْسَانْ ،اللهم صل وسلم على سيدنا محمد سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانْ  ،وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان ، أما بعد : أيها الناس اتقوا الله تعالى حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون ، الله أكبر ولله الحمد
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم 
(إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ)

Jamaah yang dirahmatiAllah..
Pagi ini, bersama-sama saudara kita sesama muslim, di seluruh dunia, kembali kita mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Bersyukur memuji asma Allah, mengesakan dzat-Nya dan mengangungkan kebesaran-Nya dalam suasana idul adha. Di kesempatan yang mulia ini, kami mengajak kepada pribadi kami dan seluruh masyarakat muslim untuk selalu bertaqwa kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintahnya dan menjahui seluruh larangannya sebab kita di hadirkan ke dunia ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah
Mulia tidaknya kita di hadapan Allah, tidak ditentukan dengan banyaknya harta kita, banyaknya pengikut kita, banyaknya murid kita, tingginya pangkat kita, tetapi mulia tidaknya kita dihadapan Allah hanya ditentukan dengan kadar ketaqwaan kita kepada Allah

Ma'asyirol muslimin rohimakumulloh...
Setiap kali datangnya momentum hari raya idul adha, sosok yang pasti terlintas dalam benak kita adalah Nabi Ibrahim AS dan nabi Muhammad SAW. Karena keagungan dua nabi itu, hingga namanya selalu disebut dalam setiap shalat, tepatnya pada saat bacaan tahiyyat akhir. Hanya dua nabi itu, tidak ada yg lain. Hal ini menunjukkan bahwa agama islam mengajarkan:
1. Agar umat islam selalu mengenang para pendahulu yang telah merintis jalan menuju berbagai kebaikan.
2. Agar umat islam selalu mendoakan para pendahulu-pendahulu kita setiap waktu, termasuk orang tua kita
3. Agar umat Islam terus mentauladani para pendahulu kita
4. Agar umat islam berpegang teguh terhadap ajaran para pendahulu yang telah menunjukkan jalan terang menuju surga.

Hikmah dari ajaran itu adalah agar umat tidak pernah mengalami putusnya amal, walaupun telah mati. Manusia yang berbuat baik, kebaikannya akan terus dimanfaatkan oleh generasi selanjutnya. Orang tua yg mendidik anaknya menjadi anak shaleh, akan terus didoakan oleh anak shaleh itu walaupun telah mati. Begitupun generasi selanjutnya yg berbuat baik, kebaikannya akan terus dimanfaatkan oleh generasi-generasi selanjutnya. Inilah yang di sebut dengan amal jariyah. Amal yang tidak pahalanya tidak pernah terputus walaupun sudah mati. Generasi pertama menyinari generasi kedua. Generasi pertama dan kedua menyinari generasi ketiga. Dan begitu seterusnya. Ibaratnya, awalnya tidak ada lampu penerang. Lalu para pendahulu membuat lampu penerang. Dengan lampu penerang itulah kita menjadi tahu mana jalan yang lurus, dengan lampu penerang itulah kita menjadi terlihat oleh siapapun yang melihat kita. Maka, jika ada manusia yang telah bersinar di sisi Allah dan di sisi makhluk, seperti telah menjadi orang tua yg sukses mendidik anaknya, menjadi guru, ustadz, dosen, menjadi orang kaya yang suka bersedekah, menjadi manusia yg telah mampu beribadah kepada Allah, maka sejatinya hal itu merupakan jasa para pendahulu. Maka sangat tidak pantas jika ada manusia yang sombong dan ujub. Merasa lebih baik dari orang lain, merasa paling baik di antara yg lain, merasa bahwa apa yg dilakukannya adalah atas kepandainnya sendiri. Sebab sinar kemuliaan yang terlihat di sisi Allah dan makhluk sejatinya adalah sinar para pendahulu kita.

Sahabat Bilal, budak yang diangkat sebagai muadzdzin Rasulullah, menjadi mulia di sisi Allah dan di sisi makhluk karena sinar yang didapatnya dari Rasulullah. Setiap orang yang melihat Bilal yang terilihat adalah Rasulullah. Setiap Bilal mengumandangkan Adzan, yang terdengar adalah Rasulullah.
Dalam kisahnya, Sesaat setelah Rasulullah SAW mengembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah SAW masih belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Karena setiap kali adzan selalu menangis dan tidak dapatvmelanjutkan adzannya, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai khalifah, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi. Dan akhirnya Bilal juga meminta izin untuk hijrah ke Syam (Syiria) agar tidak larut dalam kesedihan sepeninggal Rasulullah. Namun awalnya Abu Bakar tidak mengabulkan permohonan Bilal. Tetapi Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, biarkanlah aku tidak akan pernah mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat. Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rosululloh saja. Rosululloh telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan yang dikirim oleh Abu Bakar menuju daerah Homs / Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus, Syiria.

Setelah tinggal lama di Syria, Bilal tidak pernah mengunjungi Madinah. Lalu sampai pada suatu malam, Rosululloh hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya:
"Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?". Bilal pun bangun terperanjat, air mata rindunya seketika tak terbendung lagi. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah kubur Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.

Setiba di Madinah, Bilal menangis di makam Rasulullah melepas rasa rindunya pada Nabi sang kekasih. Penduduk Madinah yang mengetahui kedatangannya, segera keluar dari rumah untuk menyambutnya seakan kembali pada masa Rasulullah. Ketika masuk waktu sholat, beberapa Sahabat meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. Akan tetapi Bilal terus menolak permintaan itu.

Saat itu, ada dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu baginda Rasulullah, Hasan dan Husein. Kali ini mereka berdua yang meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”

Sembari menangis, Bilal memeluk kedua cucu Nabi itu. “wahai cahaya mataku, wahai dua orang yang sangat dicintai Rasul, sungguh wajib bagiku untuk memenuhi keinginan kalian. Jika saja semua penduduk bumi memintaku mengumandangkan adzan, aku tetap akan menolaknya. Akan tetapi, setiap permintaan kalian berdua, adalah keharusan bagiku untuk melaksanakannya.”

Lalu Bilal menaiki tempat di mana dahulu dia adzan pada masa Rasulullah. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali, seakan kembali di masa hidup Rasulullah.

Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan pun keluar.

Dan saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan rindu pada baginda Rasulullah. Semua manusia menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Setelah itu ia jatuh pingsan bersama banyak orang yang lain karena kerinduan mereka akan sosok Rasulullah SAW.

Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama Bilal sekaligus adzan terakhirnya semenjak Rasulullah wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab tangis kerinduannya yang sangat mencabik-cabik hatinya mengenang sosok agung yang karenanya diri bilal derajatnya terangkat begitu tinggi.

SEJATINYA, bukan karena bilal semua masyarakat Madinah berlarian menuju masjid nabawi, tetapi karena masyarakat melihat Rasulullah saat melihat bilal, msyarakat mendengar Rasulullah saat mendengar adzan Bilal. Seakan Rasulullah hidup kembali.

Itulah bukti bahwa amal ibadah dan eksistensi kita di dunia ini terlihat terang hanya karena sinar Rasulullah SAW, sinar para pendahulu kita. Maka jangan sekali-kali melupakan para pendahulu kita, jangan sekali-kalk melupakan doa untuk orang tua dan pendahulu kita sebab kita dapat bersinar karena sinar para pendahulu kita. Barangsiapa yang mendekat pada sinar pendahulu, maka dia akan bersinar dan juga akan menjadi sinar bagi generasi selanjutnya. Allah berfirman dalam surat Yasin ayat:
(إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ)

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ وَأَبْيَنَ النِّظَامِ، كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ الْعَلاَّمِ، وَاللهُ يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِ الْمُهْتَدُوْنَ، مَنْ عَمِلَ صَالحِاً فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا، وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِىْ الْقُرْأَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنىِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرَّاءٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

الخطبة الثانية
اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ شكرا علي ما أنعم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ كَمَا أَمَرَ وَألزم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شهادة من أمن به وأسلم وحاد من كفر وأرغم ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ، اتَّقُوْا اللهَ إن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه ، وثنى بملائكته وأيه بالمؤمنين من عباده. وقال عز من قائل: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى مَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَأَنْبِيَائِكَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وارحمنا بِرَحْمَتِكَ يَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا مَا قَدَّمْنَاهُ، وَمَا أَخَّرْنَاهُ، وَمَا أَسْرَرْناَهُ، وَمَا أَعْلَناَّهُ، وَأَحْصَيْتَهُ وَنَسِيْناَهُ، وَعَلِمْتَهُ وَجَهِلْناَهُ، وَلاَتَدَعْ لَنَا أَمَلاً إِلاَّ بَلَّغْتَنَاهُ، وَلاَسُؤْلاً إِلاَّ سَوَّغْتَناَهُ، وَلاَخَيْرًا إِلاَّ أَعْطَيْتَنَاهُ، وَلاَ شَرًّا إِلاَّ كَفَّيْتَنَاهُ.رَبَّناَ اغْفِرْلَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، رَبَّناَ أَتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِىْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُواْ اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. EKSPLORIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger